
๐น๐น๐น๐น๐น
Hari yang mulai beranjak sore, membuat Qiara mengajak yang lainnya pulang ke kediaman Rafindra.
Gadis itu meminta pelayan di rumah menyiapkan banyak makanan untuk makan malam nanti.
Awalnya semua di luar ekspetasi, mengingat putri kesayangan Rafindra tersebut sejak habis menangis tidak lagi berbicara apa-apa, membuat pikiran orang-orang di sekitarnya beranggapan Qiara dalam suasana hati yang buruk.
Nyatanya apa yang mereka lihat sangat jauh berbeda, gadis cantik itu tampak ceria seolah baik-baik saja.
.
.
.
Perjalanan ke Mansion Rafindra memakan waktu kurang lebih satu jam. Hari yang semakin gelap dan jalanan mulai ramai kendaraan berlalu lalang, sedikit menghambat waktu karena macet di beberapa titik.
Mereka akhirnya bisa bernafas lega setelah memasuki area kawasan elit yang hanya terdapat beberapa unit bangunan mewah termasuk kediaman Rafindra.
Rombongan mobil masuk ke dalam kawasan istana milik Tuan besar Rafindra kemudian berhenti tepat di depan rumah yang memiliki halaman lumayan besar.
Ketiga Tuan muda Rafindra keluar lebih dulu dari mobil langsung menuju pintu utama saking lelahnya ingin segera membersihkan diri lalu istirahat sejenak.
Neta ikut menyusul bersama Qiara masuk ke dalam rumah, dengan langkah kaki beriringan sembari menggandneg tangan Erzhan.
Sementara Faraz masih berdebat di dalam mobil dengan Tara, selalu ada yang membuat keduanya tidak sependapat.
"Gue mau turun, lo kenapa sih?" kesal Tara berusaha keluar dari mobil namun pintunya sengaja di kunci oleh Faraz.
Entah apa alasannya, yang jelas mereka tengah berdebat dan pastinya tidak ada yang mau mengalah.
"Kita langsung pulang ajah, Tar." Ucap Faraz sekuat tenaga menahan diri agar tidak emosi
"Lo ajah yang pulang sana! Gue masih mau di sini kenapa lo yang sewot?"
Bukan Tara namanya jika tidak membantah.
"Gue tahu lo masih belum berani nunjukin wajah sok ganteng lo itu ke mereka kan?" cebiknya berbicara asal.
"Bilang ajah kalau lo tuh malu ketemu Paman Rafin sama Tante Ayshila."
__ADS_1
Tara sengaja memaksa Faraz ikut pulang ke kediaman Rafindra bukan hanya untuk makan malam bersama, tetapi rencananya ia ingin membicarakan sesuatu yang penting bersama Tuan dan Nyonya besar Rafindra.
Faraz tidak tahu akan hal itu, makanya bersikeras ingin segera pulang ke rumah tanpa harus menunggu waktu makan malam tiba.
"Pulang ajah napa sih?" kesalnya masih pada keputusan awal.
"Lagian hanya makan malam doang, kan?" tanya Faraz mulai kehabisan cara merayu sahabatnya tersebut.
Ia tentu lelah dan ingin segera istirahat, tetapi pria tampan yang masih bersamanya itu sangat keras kepala dan sulit bila di ajak kerjasama.
Lamanya mereka di luar rumah sampai membuat Tuan putri Rafindra bingung dan mencari tahu sendiri apa yang sebenarnya terjadi.
Dengan langkah cepat gadis cantik itu keluar rumah langsung menuju deretan mobil mewah yang salah satunya terdapat dua pria tampan masih sibuk berdebat.
Kedatangan Qiara tentunya membuat Faraz terkejut, belum lagi sahabatnya yang berhasil keluar dari dalam mobil semakin menambah kekesalannya menjadi berlipat ganda.
Tara menghampiri Qiara dengan perasaan canggung dan malu sudah membuat keributan, padahal tidak ada orang lain yang melihat termasuk gadis cantik itu.
"Kenapa ngga masuk ke dalam?" tanya Qiara menatap penuh selidik ke arah Faraz yang akhirnya keluar dari dalam mobil setelah berpikir sejenak.
Ia yang mendapatkan pertanyaan tentu bingung harus seperti apa menjelaskannya.
"Ada sedikit masalah kantor mengharuskan Faraz menghubungi sekertaris pribadinya tadi, makanya kita bedua tidak langsung ikut masuk bersama kalian."
.
.
.
Menjelang waktu makan malam, semua anggota keluarga Rafindra beserta yang lainnya sudah berkumpul di ruang makan.
Qiara, Neta dan Nyonya Ayshila membantu para pelayan menyiapkan makanan di atas meja. Sudah menjadi kebiasaan bila ada tamu yang datang mengharuskan ketiganya ikut turun tangan meski Tuan besar Rafindra melarang.
Bukankah larangan adalah perintah mutlak yang harus di laksanakan?
Kurang lebih sepuluh menit kemudian, makan malam pun tiba.
Semua berlangsung dengan tenang, tanpa adanya obrolan. Hanya terdengar dentingan alat makan sampai acara makan malam bersama selesai.
Tuan besar Rafindra meminta semuanya berkumpul di ruang keluarga guna membahas beberapa hal penting, termasuk acara pernikahan yang katanya tinggal menghitung hari tersebut.
__ADS_1
Jangan tanyakan bagaimana perasaan Qiara, sebab Neta yang teman dekatnya pun hanya bisa membuang napas kasar menyaksikan penolakan keras dari gadis cantik itu, saking tidak inginnya keluar kamar untuk berkumpul bersama.
"Aku ngga mau, Taa." Ucap Qiara entah sudah yang keberapa kalinya
"Jangan aneh-aneh, Qiara." Sahut Neta mendadak kesal
"Kamu pastinya ngga mau dengar mereka ambil keputusan sepihak soal pernikahan mu bukan?" tanyanya mulai gemas sendiri.
Qiara terdiam sejenak, ada banyak pertimbangan yang membuatnya enggan menemui sosok pria tampan yang menjadi calon suaminya tersebut.
"Aku ngga mau jadi luka baru buat Sandra," ucapnya lirih dengan kedua mata sudah berkaca-kaca.
"Aku cuma niat bantuin dia jagain Erzhan, itu ajah ngga lebih apalagi sampai memiliki niat yang terselubung."
"Memangnya kamu berbuat salah apa sama dia, hmm?" cebik Neta rasanya bosan mendengar alasan yang sama tiap kali gadis itu bersedih.
Qiara bukan orang ketiga atau semacamnya, jelas dia merupakan Tuan putri dari keluarga Rafindra yang terhormat.
Siapa yang berani menyinggung anggota keluarga pengusaha ternama kedua tersebut, jika masih sayang dengan hidupnya.
๐น
Drama rayu merayu terus Neta lakukan sampai rasanya gadis bermata biru air itu pusing sendiri di buat Qiara.
Sebuah ide jahil seketika melintas di kepala Neta yang berencana akan menggunakan Erzhan sebagai umpan, berharap Qiara tidak lagi menolak keluar dari kamar sebelum malam semakin larut.
Dering ponsel di atas nakas samping tempat tidur bagai angin segar menghampiri Neta yang kelimpungan, tertera satu nama paling dia tunggu balasan pesannya.
"Hallo, Abang ganteng." Sapanya tersenyum lebar
[Aunty Tata kenapa belum keluar juga dari kamar bareng Mommy?]
Terdengar nada protes dari anak tampan itu saking bosannya sudah di buat menunggu lama.
"Ngga tahu nih, Aunty tuh udah mau turun dari tadi. Cuma ketahan sama Mommy kesayangan Abang," jawab Neta sengaja mengeraskan volume suara ponselnya agar Qiara ikut mendengarkan.
[Bilang sama Mommy, kalau dalam waktu lima menit ngga turun juga. Mulai besok ngga usah ketemu Abang sekalian]
Belum sempat Neta membalas, nyatanya sambungan telefon sudah di putus sepihak oleh Erzhan.
Tampak raut wajah panik Qiara begitu jelas sewaktu mendengar kalimat ancaman dari Erzhan.
__ADS_1
"Eh, mau kemana?" teriak Neta tertawa pada akhirnya berhasil membuat teman dekatnya keluar dari persembunyian.
๐๐๐๐๐