Istri Kedua Sang CEO

Istri Kedua Sang CEO
IKSC Bab 164


__ADS_3

Mobil Faraz akhirnya tiba di kediaman utama Rafindra.


Beberapa pelayan sudah menunggu di depan pintu masuk, tidak sabar menyambut kedatangan mereka.


Qiara turun dari mobil setelah Faraz membukakan pintu, ada Erzhan dalam gendongannya yang merengek tidak mau sampai telat pergi ke sekolah.


"Kenapa ngga antar Abang dulu sih, baru kesini?" tanya anak tampan itu dengan persaan jengkel.


"Abang ngga mau ya sampai telat masuk kelas," imbuhnya.


Faraz menghela nafas panjang, ingin memberi pengertian pada sang putra. Tetapi, perasaannya sudah di buat gelisah karena gagal merayu Qiara.


Jajanan pinggir jalan terus berputar di otaknya, ingin segera menuju sekolah Erzhan. Tidak peduli istrinya bisa saja marah karena hanya itu lah isi pikirannya sekarang.


Mereka langsung masuk ke dalam rumah, bersamaan dengan bebepa pelayan ikut mengekor di belakang sembari memberi tahu kejadian menghebohkan yang si kembar lakukan.


Qiara mendengarnya dengan perasaan sulit di artikan, terlalu penasaran ingin lebih tahu jelas seperti apa keadaan para Tuan muda Rafindra.


Berbeda dengan Faraz yang sedari masuk rumah fokusnya langsung tertuju ke ruang makan, berharap ada sesuatu yang bisa memgganjal perutnya.


"Mommy sama Abang duluan ajah ya," bisik pria itu pelan dengan senyum lebar menghiasi wajah tampannya.


Qiara tahu kemana arah langkah kaki suaminya tersebut.


"Mau belok kemana lagi sayang?" tanyanya di barengi kekehan.


"Ruang makan, Mom." Jawab Faraz tertawa


"Ya ampun." Cebik Qiara tidak habis pikir dengan kelakuan suaminya


Pria itu berlari pelan menuju tempat yang di maksud, meninggalkan anak dan istrinya masih berada di ruang tamu.


"Daddy ngga capek apa, perasaan waktu sarapan di rumah banyak loh, Mom." Heran Erzhan seraya menatap penuh tanya sang Mommy


"Mana habis dari antar Abang, katanya mau beli jajanan pinggir jalan dekat sekolah."


"Daddy lagi kesurupan mungkin," sahut Qiara tertawa pelan.


Pasangan ibu dan anak tersebut sudah berada di ruang tengah, mendadak lupa sedang berada dimana mereka sekarang. Melihat betapa hebohnya Tuan besar Rafindra meminta ketiga putranya agar melepaskan istrinya.


Nyonya Ayshila hanya bisa pasrah menjadi rebutan ke empat pria kesayangannya, hanya karena tidak mau di tinggal pergi ke kamar.


Mengetahui ada orang lain disana, tanpa pikir panjang wanita itu berlari kearah sang putri yang tertawa bersama Erzhan.

__ADS_1


Sungguh pemandangan yang membuat otak Qiara juga sang putra mendadak aktif, ingin menjahili para Tuan muda Rafindra sebelum kembali melanjutkan perjalanan menuju sekolah lalu selanjutnya perusahaan.


Tetapi, kedatangan Neta dari arah dapur sembari membawa nampan berisi minuman dan kue, membuat semua yang ada di ruang tengah menatapnya secara bersamaan.


Zizi yang semula menahan mual dan muntah langsung segar melihat adanya minuman kesukaan si bungsu, segera di minumnya sampai habis tanpa sisa.


Zaidan membawa kabur sepiring kue menuju kamar dengan berlari pelan, tidak peduli rengekan Erzhan yang merenggut kesal cemilannya di bawah pergi.


Berbeda dengan Zafir, masih saja anteng memeluk Qiara dari arah samping. Mengabaikan aura mencekam yang keluar dari tubuh Faraz, saking tidak rela istrinya di peluk oleh pria lain.


"Pulang yuk, Mom?" ajaknya sembari menatap tajam kearah Zafir.


"Jangan main asal peluk istri orang bisa kan?"


Faraz langsung meraih tubuh langsing istrinya agar menjauh dari si tengah yang kembali merengek pada Nyonya Ayshila.


Susah payah Tuan Rafin berhasil menjauhkan wanita itu dari sang putra, tetapi kini justru ia kembali di buat kesal.


Melihat semua gelagat aneh yang di perlihatkan Zaidan, Zafir, Zizi serta Faraz yang membuat semua anggota keluarga pusing tujuh keliling.


Hanya satu yang terlintas di otak Neta sekarang, berharap tebakannya benar. Agar tidak lagi meladeni sikap calon suaminya yang seperti wanita.


Terlebih dia melihat bagaimana Zizi yang mual dan muntah, Faraz yang pola makannya semakin besar, Zaidan yang mengomel bak seorang wanita serta Zafir yang maunya terus menempel pada Nyonya Asyhila dan berakhir hampir membuat Faraz juga Tuan besar Rafindra mati kesal.


Neta sangat yakin ada sesuatu yang tidak beres, sebab dia pun pernah mengalami situasi yang sama persis sewaktu menemani anggota keluarganya ketika mengalami apa itu ngidam.


"Qia, ikut aku yuk?" ajak Neta sembari menarik paksa lengan Qiara.


"Kalian berdua mohon kerja samanya, ok?" pintanya kearah pasangan ayah dan anak tersebut yang mengangguk patuh.


Neta sungguh tidak sabar ingin segera tiba di lantai atas, salah satu tangannya bahkan masih erat menggandeng lengan Qiara.


Beruntung tidak ada yang mengikuti kemana mereka pergi, jika tidak. Sudah pasti gadis cantik bermata biru air tersebut akan mengalami kesulitan memberi penjelasan.


.


.


Ceklek


Sesampainya di dalam kamar yang pintunya langsung di kunci oleh Neta.


Qiara hanya bisa pasrah saat tangannya kembali di tarik menuju arah kamar mandi.

__ADS_1


"Kamu mau ngapain sih, Taa?" gemasnya ingin sekali menggigit tangan Neta.


"Diam! Aku mau ambil sesuatu dulu," sahut calon kakak iparnya tersebut.


Neta keluar dari kamar mandi guna mengambil alat taspack yang kebetulan masih tersimpan di dalam laci samping tempat tidur.


Jangan tanya benda itu milik siapa, karena dari awal Qiara sudah menyerahkan mahkotanya pada suaminya. Mulai saat itu juga, dia sengaja membelinya untuk berjaga-jaga dengan Neta sebagai satu-satunya orang yang tahu dimana letaknya sewaktu di simpan.


"Untung masih ada," Neta bernafas lega.


"Taa, kalau lama aku keluar ya?"


Qiara sangat bosan berada di dalam kamar mandi, tanpa tahu apa yang sebenarnya ingin mereka lakukan.


"Sabar Qia, nih aku barusan ambil benda ini dulu." Seru Neta dari arah pintu kamar mandi


"Ini buat apa?" tanya Qiara meraih taspack dari tangan calon kakak iparnya tersebut.


"Kamu bawa aku kemari cuma buat kasih lihat ini?" ulangnya masih belum sadar akan maksud dan tujuan Neta.


Pletak


"Aw, sakit Neta."


"Kamu tuh kapan otaknya dewasa sih?" kesal Neta hendak memukul kembali Qiara namun tidak jadi.


"Ini benaran sakit loh," adu wanita itu berkata jujur.


"Tapi sumpah deh, mau di apakan benda ini?"


Qiara mendadak otaknya lama merespon.


"Kamu buang air kecil dulu bisa kan?" tanya Neta langsung pada intinya.


"Apa hubungannya buang air kecil dengan benda ini, Taa?"


"OMG, Qiara Rafindra."


"Hehe, becanda doang napa seriua amat sih."


Qiara mendengarkan apa yang Neta arahkan tanpa ada yang terlewati.


"Kalau udah, panggil aku ya."

__ADS_1


Neta keluar dari kamar mandi sengaja menunggu di depan pintu, khawatir jangan sampai calon adik iparnya itu meminta bantuan karena belum paham sepenuhnya.


๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ


__ADS_2