Istri Kedua Sang CEO

Istri Kedua Sang CEO
NEW BAB 20


__ADS_3

Seorang wanita paruh baya turun dari mobil dengan tergesa-gesa dan melangkah masuk  ke dalam toko. Napas wanita itu memburu membayangkan apa yang akan terjadi padanya nanti.


Wanita yang tak lain adalah Bu Hasna tidak pernah menyangka jika pemilik toko yang sebenarnya akan datang dan melakukan sidak  ke cabang toko milik beliau. Pasalnya, selama ini Nia tidak pernah hadir ke toko.


Ibu Hasna sudah melakukan kenaikan pada harga yang sudah ditentukan oleh pemilik toko. Harganya pun berkali lipat dari yang awal. Bu Hasna berani melakukan ini karena berpikir Toko Mami Nia Collection sudah terkenal baik dari kalangan bawah sampai ke atas. Terlebih lagi pemilik toko memang cukup dikenal banyak orang. Konsumen pasti akan datang ke toko untuk membeli pakaian karena sudah menjamin kualitas ditambah dengan nama Mami Nia.


Bu Hasna mengusap kening yang tertutup oleh lapisan keringat dingin. Wanita itu langsung masuk ke dalam ruangan yang terdapat 1 meja dan satu kursi. Tatapan Bu Hasna kemudian terpaku pada  seorang wanita yang duduk di kursi yang biasa ia duduki.


Bu Hasna melangkah maju berdiri di seberang meja. Sementara 5 orang karyawannya berdiri tak jauh dengan kepala menunduk.


"Bu Nia. Maaf, saya enggak tahu kalau ibu datang hari ini," ujar Bu Hasna tersenyum manis.  "Kalian enggak bikinin Bu Nia minuman? Cepat, buat Bu Nia minuman," ujar Bu Hasna pada karyawannya.


"Enggak perlu repot-repot. Saya di sini bukan untuk nge-teh bareng kalian.  Tapi, memantau secara langsung apa yang terjadi sama toko saya setelah mendapat banyak keluhan." Tangan Nia bersandar pada meja sambil menatap malas sosok Bu Hasna yang tersenyum canggung. "Jadi, apa ada penjelasan kenapa banyak keluhan dari pelanggan?"


"I-itu-- mungkin karena mereka hanya mencari gara-gara, Bu. Bisa saja orang yang mengeluh itu karena ingin menjatuhkan usaha ibu," jelas bu Hasna.


Wanita itu tidak memikirkan alasan yang lain karena saat ini ia sedang didesak oleh keadaan. Andai saja saat ini keadaannya santai dan tenang, Bu Hasna pasti akan memberikan alasan yang sedikit lebih logis.


"Orang-orang itu, atau kamu yang ingin menghancurkan usaha saya?" Nia kemudian  bertepuk tangan tiga kali hingga tak lama 3 orang masuk membawa setumpuk pakaian yang langsung diletakkan mereka di atas meja.


Wajah Bu Hasna terlihat pucat saat melihat tumpukan baju di atas meja. Wanita itu bergumam 'mati aku' di dalam hatinya.


"Hal pertama yang harus saya bahas di sini dengan Bu Hasna adalah, kenapa label harga di setiap pakaian yang sudah saya buat, sangat berbeda jauh dengan label harga di sini." Nia kemudian menunjuk sebuah label yang terpasang pada celana jeans. "547 ribu, Bu Hasna. Sementara celana ini saya tahu harganya hanya 149 ribu. Berapa keuntungan yang ibu raup kalau celana ini laku terjual dalam 100 pcs perbulan?" Nia menatap tajam Bu Hasna yang terlihat bergetar ketakutan.


Tak mau melihat Bu Hasna yang mirip dengan ayam potong, Nia kemudian menarik salah satu baju kaos yang pertama kali ia sentuh saat masuk toko dan menunjukkannya langsung pada Bu Hasna. Tidak sampai di situ saja, Nia bahkan menunjukkan beberapa tag label yang tidak sesuai dengan apa yang sudah ia tentukan.


"Jadi, kenapa harga barang-barang di toko ini lebih mahal dari harga yang saya kasih?" Nia berdiri dan menatap Bu Hasna dengan mata tajamnya. "Bisa Ibu jelaskan pada saya, ke mana uang-uang itu? Dicuri tuyul, diambil orang,  atau masuk ke kantong pribadi ibu?"


Nia melipat tangannya di dada kemudian keluar dari meja dan mengelilingi Bu Hasna yang sudah pucat bergetar ketakutan.


"S-saya."

__ADS_1


"S-saya anu."


"Hm? Saya anu apa, Bu? Kenapa enggak ada penjelasan di sini?" Nia menatap tajam pada Bu Hasna. Wanita itu tidak pernah menyangka jika korupsi bisa terjadi di tokonya.


"Terus saya juga di sini akan membahas soal pelayanan toko yang sangat-sangat memuaskan." Nia mencoba menekan kata 'sangat memuaskan' agar orang-orang di dalam ruangan ini tahu jika saat ini ia sedang berada di ambang kemarahan.


"Dimulai dari kasir sampai pegawai toko, attitude-nya nol besar. Sudah merasa sebagai pemilik toko ini?" Tatapan Nia kemudian beralih pada lima orang karyawan yang saat ini sedang menundukkan kepala mereka, tidak berani untuk membalas ucapan Nia.


"Saya minta kalian ber-enam segera mengurus surat pengunduran diri. Kalian tidak hanya merugikan saya secara materil tapi juga non-materil." Nia berujar dengan tegas. Wanita itu tidak mengizinkan siapa pun untuk memohon padanya agar tidak dipecat. Keputusan yang sudah dibuat bulat tidak boleh diganggu.


Nia kemudian menatap 3 karyawan senior yang ia bawa dari toko lain. "Kalian urus harga tag label di semua pakaian. Saya mau semuanya berubah hari ini. Toko sekarang tutup sampai besok. Kalian bisa merekrut karyawan dan tolong cari yang kompeten. Saya enggak mau punya karyawan yang kurang ajar dengan konsumen. Mengerti?"


Tiga orang yang dibawa Nia dari toko lain mengangguk tegas.


"Mengerti, Bu."


Awalnya mereka cukup bingung saat Nia menghubungi atasan mereka dan meminta mereka untuk datang ke toko cabang. Mereka mengira mereka membuat masalah, namun kejutan justru datang di toko ini. Tidak ada yang menyangka jika pelayanan dan harga setiap produk di dalam toko sudah di luar dari rencana tim manajemen Nia sendiri.


Meskipun Nia sendiri memiliki banyak jenis pakaian yang dijual di toko, entah mengapa ia cukup hafal dengan harga-harganya. Jangankan untuk harga setiap baju, orang lain yang meminjam uang dengannya dan tidak dikembalikan saja Nia masih ingat sampai sekarang.


Wanita itu kemudian melajukan kendaraannya ke toko emas miliknya yang sudah dikelola oleh anak tetangga Nia dahulu. Gadis bernama Tasya adalah gadis pekerja keras dan juga jujur terbukti sudah hampir dua tahun Tasya bekerja dan tidak pernah mendapat masalah.


Tasya sendiri hanya lulusan SMA dan tidak bisa melanjutkan kuliah karena ketidakmampuan orang tuanya. Meskipun dia sudah bekerja, Tasya tidak pernah mau untuk kuliah meski sudah dibujuk oleh Nia. Gadis berusia 19 tahun itu sudah menjadi tulang punggung keluarga semenjak ayahnya mengalami stroke dan tidak bisa bekerja lagi 1 tahun yang lalu.


Sementara karyawan toko Nia sebelumnya yakni Jinar sudah lama mengundurkan diri setelah menikah dengan seorang aktor ternama.


"Mbak Nia." Tasya tersenyum saat melihat Nia memasuki toko. Toko emas milik Nia masih tetap seperti 3 tahun yang lalu dan tidak diperluas. Nia berencana untuk membeli bangunan di samping agar bisa memperluas toko miliknya. Namun, Nia harus bersabar menunggu sampai pemilik tidak lagi ingin berjualan di toko sebelah.


"Gimana hari ini, ramai?" Nia masuk ke dalam dan duduk di sebelah Tasya.  Mereka duduk di balik etalase yang saat ini sedang tidak ada pengunjung.


"Biasa, Mbak, kadang ramai kadang sepi," jawab Tasya sambil tersenyum. "Mbak Nia sendiri dari mana?"

__ADS_1


"Dari toko baju. Biasa sidak dadakan."


"Apa yang Mbak temukan hari ini?" Tasya menatap Nia penasaran. Pasalnya, jika atasan mengadakan sidak dadakan akan menemukan hal-hal yang baru diketahui.


"Harga tag label enggak sama dengan yang Mbak kasih. Pelayanan toko jauh dari kata attitude. Pokoknya Mbak dibuat emosi hari ini." Nia memang kadang menceritakan apa yang ia alami pada Tasya karena gadis ini meski umurnya jauh dibawah Nia, pemikirannya sudah cukup matang.


"Lain kali mbak juga harus melakukan sidak di toko lain. Siapa tahu ada hal yang kayak gini juga terjadi," ujar Tasya. "Kalau hal kayak gini sering terjadi, takutnya toko Mbak lama-lama bakalan sepi."


"Mbak setuju dengan ucapan kamu. Lain kali mereka harus sering-sering dikasih setrum."


Tasya tertawa mendengar ucapan Nia.  Setelah memeriksa keadaan tokonya, Nia kemudian pulang ke rumah karena Bu Yuni sudah menghubunginya dan mengatakan jika ada Helia di rumah.


Nia masuk ke dalam rumah dan menemukan seorang wanita dengan pakaian seksi duduk dengan anggun di ruang tamu rumahnya. 


Dia adalah Helia yang merupakan mantan adik ipar dari suaminya. Helia sendiri sudah lama tidak terlihat. Bahkan, Nia jarang melihatnya muncul di televisi setelah menikah dengan seorang pengusaha kaya raya.


"Ada perlu apa kamu?" Nia duduk di hadapan Helia dengan meja sebagai pembatas. Wanita itu melipat tangannya di dada menatap Helia yang memasang ekspresi angkuh.


"Saya di sini cuma mau mengundang kamu, Mas Bima, dan keponakan saya untuk datang ke acara resepsi pernikahan saya." Helia dengan tenang mengeluarkan undangan  dengan corak emas dan diserahkan pada Nia.


"Resepsi pernikahan? Kalian menikah sudah 3 tahun dan baru mengadakan resepsi pernikahan sekarang?" Nia mengambil undangan tersebut dan menatap  Helia dengan sebelah alis terangkat.


"Kenapa memangnya? Suka-suka saya mau resepsi kapan saja. Kalau kamu enggak mau datang juga enggak masalah. Tapi Mas Bima dan keponakan saya harus datang. Jangan lupa kalau saya ini adalah tante satu-satunya mereka." Helia tersenyum puas dengan fakta ini.


Wanita yang sudah menjadi ibu itu masih tetap mempertahankan penampilan cantiknya. Helia tetaplah Helia yang angkuh dan sombong. Tidak ada yang berubah dari wanita itu selain saat ia berada di depan suaminya. Di depan suaminya pun terkadang Helia bersikap liar.


"Kami usahakan untuk datang." Nia menganggukkan kepalanya.


Tak mau berlama-lama di rumah ini, Helia segera pulang tentu saja ditemani oleh tiga orang pengawalnya yang sudah menunggu di depan. Suami dari Helia yang tak lain adalah Gunawan memang tidak pernah membiarkan Helia pergi seorang diri.  Semenjak Helia melahirkan diri, Gunawan semakin protektif pada wanita itu. Maka tidak heran kemanapun Helia pergi pasti akan ada pengawal yang mengikutinya.


____

__ADS_1


NABUNG GAES. BIMANIA SEASON 2 RENCANA BAKAL NAIK CETAK BULAN INI.


__ADS_2