
Tidak sampai dua puluh menit, mobil yang membawa keluarga kecil tersebut memasuki area parkiran bandara.
Dimana sudah ada beberapa mobil milik anggota keluarga yang kebetulan juga belum ada lima menit sampai, tetapi semuanya memilih menunggu di dalam ruangan yang sengaja di sediakan untuk mereka.
Paman Sopir tidak ikut turun, karena Faraz sendiri yang akan membukakan pintu untuk Qiara dan Erzhan.
"Makasih Daddy," seru pasangan ibu dan anak itu berbarengan sembari tersenyum sangat manis kearah Faraz yang tertawa.
"Ayo, kasihan yang lain udah pada nungguin kita." Ajak pria itu seraya merangkul istrinya dengan Erzhan berada dalam gendongan
Saat berjalan menyusuri lorong, beberapa pasang mata tampak memperhatikan pasangan suami istri itu. Terdengar bisik-bisik yang pastinya tengah membicarakan mereka.
Ketiganya memilih acuh tidak menghiraukan perkataan beberapa orang yang masih belum tahu cerita yang sebenarnya.
Erzhan mengoceh tidak terima Daddy dan Mommy nya jadi bahan perbincangan orang-orang kurang kerjaan, rasanya ia ingin sekali merobek mulut mereka yang sudah lancang mengusik ketenangan keluarganya.
Darahnya langsung mendidih saat melewati kerumunan, meminta sang Daddy menurunkannya dari gendongan.
"Abang robek mulut kalian mau?" teriak Erzhan lumayan kuat yang tanpa sengaja mendengar percakapan beberapa wanita sembari menyebut nama sang Mommy kesayangan begitu terang-terangan.
"Apa kalian tidak punya pekerjaan sama sekali?" tanyanya dengan suara lantang sengaja membuat keributan.
Sungguh Erzhan sangat murka mendengar nama malaikat tanpa sayapnya jadi bahan gunjingan, tanpa mereka tahu seperti apa masalah yang sebenarnya.
Meski Qiara sudah berkali-kali meminta agar sang putra diam saja, tidak membuat anak tampan itu menurut.
Faraz yang sedari tadi hanya diam mendengarkan pun justru tertawa lepas, ia tidak menyangka akan melihat putra sewata wayangnya berani menunjukkan kemarahannya di depan umum.
Cubitan kecil di pinggangnya seolah tidak terasa, saking antusiasnya mengompori Erzhan. Membuat Qiara pusing sendiri dengan tingkah laku suami dan putranya tersebut.
Wanita itu selalu sabar menghadapi kedua pria kesayangannya itu, meski harus berulang kali di buat kesal.
"Udah ya, Bang. Ngga usah di ladenin, ok?" mohonnya dengan sangat pada sang putra.
"Abang ngga terima mulut mereka sudah lancang menghina Mommy," sahut Erzhan masih terlihat marah.
Kedua matanya tampak begitu tajam bagai pisau yang siap merobek mulut wanita-wanita yang mendadak bungkam tidak lagi berbicara.
"Jika kalian ingin tahu cerita keluarga Abang, lebih baik datanglah bertamu di rumah kami. Siapa tahu kalian akan betah dan mau bersalaman dengan peliharaan Mommy." Ucapnya tegas dengan wajah datar tanpa ekspresi
__ADS_1
Para wanita yang sudah berani menguji kesabaran Erzhan tampak pucat pasih dengan tubuh bergetar takut, mendengar peliharaan milik Nyonya muda Bramantya di sebut.
Mereka tahu betul hewan apa yang barusan di maksud, tidak lain adalah Singa putih yang beberapa kali pernah di bawah Qiara sekedar keluar jalan-jalan di taman kota.
Baik Faraz maupun Qiara hanya bisa saling pandang seraya menahan diri agar tidak tertawa.
"Abang serem kalau udah mode marah," bisik Qiara tepat di telinga suaminya.
"Hmm, padahal aku ngga pernah ngajarin loh, Mom." sahut pria itu ikut berbisik.
Pasangan suami istri itu masih setia memperhatikan putra mereka yang kembali marah-marah.
Beruntung Neta datang tepat waktu, segera membawa pergi Erzhan menjauhi kerumunan agar proses keberangkatan mereka tidak terhambat.
.
.
Masih tersisa lima belas menit sebelum Faraz, Qiara dan Erzhan berangkat menggunakan jet pribadi milik keluarga.
Kesempatan Nyonya Kamila dan Nyonya Ayshila untuk mengingatkan kembali beberapa hal yang harus Faraz perhatikan selama liburan mengunjungi Oma dan Opa.
Kandungan Qiara masih terbilang rentan terjadinya sesuatu yang tidak mereka inginkan, tetapi mau bagaimana lagi. Bila di cegah agar membatalkan liburan, sudah pasti wanita itu akan merajuk seharian penuh dan menolak makan apapun.
Qiara menatap malas kearah dua wanita cantik kesayangannya itu, sesekali ikut menimpali saking bosannya entah sudah berapa kali mendengar kalimat yang sama.
"Ngga boleh gitu, Mom. Lagian mereka cuma khawatir," tegur Faraz sembari memberi pengertian.
"Iya, iya. Kan, aku udah bilang sebelumnya ngga bawa sendiri pesawatnya. Tapi kenapa Mami jadi cerewet banget sih?" kesal Qiara yang menatap tajam kearah Nyonya Ayshila.
Wanita yang masih tampak cantik di usianya tidak lagi muda tersebut, justru tertawa mendengar sang putri kesayangan mengeluarkan kalimat protes.
"Eh, anak cantik satu-satunya Mami jangan galak-galak dong." Ucapnya di barengi kekehan
"Mami tuh cuma ngga mau Adek kenapa-napa." Nyonya Ayshila langsung memeluk sayang si bungsu kesayangannya tersebut
Qiara hendak membalas pun urung di lakukan, jauh lebih nyaman dan hangat berada dalam pelukan Mami nya.
Tidak sampai lima menit, semua bersiap mengantar ketiganya menuju jet pribadi yang sudah ada seorang pilot dan dua pramugari bersiap mengantar mereka ke pulau.
__ADS_1
Awalnya Tara yang akan mengantar sahabatnya bersama Qiara dan Erzhan, tetapi belum apa-apa sudah di tolak mentah-mentah oleh semua anggota keluarga.
Tuan dan Nyonya besar Rafindra serta Tuan dan Nyonya besar Bramantya melarang keras jika pria itu nekat mengemudikan burung besi tersebut.
"Istriku saja yang jelas bisa mengemudikannya tidak mendapatakan ijin, malah kamu yang mau." Cibir Faraz dengan tampang mengejek kearah sahabatnya
Tara hanya diam tidak peduli, memilih pergi meninggalkan pria itu yang masih aysik menggodanya.
.
.
Perjalanan menuju pulau pribadi milik keluarga Rafindra, cukup memakan waktu.
Erzhan tampak tertidur pulas di pangkuan Faraz, sedangkan Qiara justru tengah sibuk memainkan jemari besar milik pria itu.
Sesekali wanita itu mencium telapak tangan suaminya dengan perasaan sulit di artikan.
Di usia kandungannya yang mulai kelihatan membuncit, nyatanya bagian tubuh yang lain pun ikut naik. Seperti kedua pipi chubhynya jauh lebih bulat serta berat badannya naik lima kilo selama masa kehamilan
"Daddy ngga akan lirik-lirik wanita lain yang ada di pulau kan?" tanya wanita itu dengan tiba-tiba.
Faraz yang semula menikmati apa yang tengah istrinya lakukan sontak menoleh kearah samping dengan dahi mengkerut.
"Pertanyaan macam apa itu, Mom?" kekehnya yang gemas dengan isi pikiran wanita halalnya tersebut.
"Aku yang dulunya ajah susah payah buat meyakinkan Mommy agar percaya padaku, mana sempat memikirkan wanita lain."
"Mommy ada-ada ajah, kalau ngomong suka ngasal."
Pria itu tahu maksud dari pertanyaan Qiara, namun sebisa mungkin ia tidak menaggapinya dengan serius.
"Aku 'kan cuma nanya, Daddy." Rengek Qiara dengan raut wajah menggemaskan
CUP
"Semua wanita di pulau sudah pergi keluar kota, sayang. Hanya ada kamu wanita cantik satu-satunya di sana, tidak ada yang lain. Paham?"
Faraz jelas sudah memaatikan terlebih dahulu keadaan pulau sebelum mereka liburan, mengingat ada beberapa wanita belum menikah pernah di lihat Qiara.
__ADS_1
Itu sebabnya, ia sengaja meminta keluarga mereka agar membawa putrinya keluar dari pulau selama liburan berlangsung.
๐๐๐๐๐