
Qiara langsung berhambur ke dalam pelukan cinta pertama karena malu dan salah tingkah di lihat oleh anggota keluarganya sendiri.
"Papi bisa diam ngga sih," omelnya tidak suka di jadikan bahan ledekan semua yang ada di ruang makan termasuk sang Papi kesayangan.
"Qia malu," rengek gadis cantik itu dengan nada terdengar serak hampir menangis.
Bukannya di rayu, malah justru sengaja di buat tangis Qiara pecah sampai kedua pria tampan yang baru saja tiba di kediaman Rafindra, hendak menuju ruang makan ikut tersentak kaget mendengar suara tangisan.
Erzhan dan Faraz langsung berlari tanpa peduli sedang dimana mereka sekarang.
Suara tangis gadis kesayangan mereka begitu menyayat hati sampai Erzhan terlihat marah, tidak jauh berbeda dengan Daddy nya.
Tiba di ruang makan, suara menggelegar anak tampan itu berhasil mengagetkan semua yang berada disana termasuk Qiara.
"Berani-beraninya kalian buat Mommy sampai menangis di belakang Abang," teriak Erzhan sembari menatap tajam kearah semua anggota keluarga dengan bergantian.
Ia bahkan tidak peduli keberadaan Tuan dan Nyonya besar Rafindra, saking khawatirnya mendengar suara tangis Qiara.
Di dekatinya gadis cantik kesayangannya itu dengan raut wajah sulit di artikan oleh siapa pun, meski usianya baru akan menginjak enam tahun hanya menghitung beberapa hari lagi.
Melihat sikapnya yang pendiam, dingin serta tidak mudah dekat dengan orang. Menandakan sekejam dan setegas apa Erzhan, tidak perlu di ragukan lagi.
Bahkan orang dewasa sekali pun, akan di buat bungkam jika batas kesabarannya di uji.
"Mommy kenapa menangis?" tanya anak itu setelah berhasil meredakan tangis sang Mommy Qiara dengan cara di peluk dan punggungnya di usap penuh perhatian.
"Abang nanya loh, Mom. Kenapa diam ajah?" ulangnya berusaha tetap tenang.
Erzhan tahu alasan calon ibu sambungnya menangis bukan karena masalah atau sesuatu yang buruk, hanya saja ia ingin mendengar langsung dari mulut Qiara.
Melihat sang Mommy hanya diam sembari menatap serius kearahnya, membuat Erzhan bingung sendiri antara mau marah atau gemas.
"Ya ampun, kalau Mommy ngga mau jawab juga. Percaya sama Abang, mulai besok ngga akan muncul lagi di rumah ini." Ancamnya tidak main-main
"Gimana Daddy?" tanya Erzhan pada Daddy nya yang menggaruk kepala tidak gatal.
"Abang kalau marah seram ih, Daddy takut." Jawab Faraz tersenyum geli
Di usapnya pucuk kepala putra kesayangannya itu agar reda emosinya.
"Jangan galak-galak, entar semuanya pada takut sama Abang." Tegur Faraz sembari menenangkan
"Maaf atas sikap Abang barusan ya, maklum anaknya ngga terima lihat Mommy kesayangannya sampai menangis kayak tadi."
__ADS_1
Faraz sebenarnya merasa tidak enak hati terhadap semua anggota keluarga Rafindra, terutama Tuan Rafin dan Nyonya Ayshila.
Melihat pria itu memohon maaf atas sikap Erzhan, tentu semuanya memaklumi. Sebab, Qiara sampai menangis karena ulah mereka juga yang begitu senang menjahili gadis cantik itu.
Tidak akan pernah puas, jika Qiara belum mengeluarkan tangisan yang membuat semua anggota keluarganya termasuk Neta sampai tertawa lepas dan menjadi kebahagiaan tersendiri bagi mereka.
Ya, bahagia di atas tangisan dan kekesalan Qiara memang sesuatu yang terdengar konyol.
"Mommy ngga apa-apa sayang, tadi itu mereka sengaja buat Mommy kesal dan berakhir menangis." Ucap Qiara setelah berhasil meredakan emosi calon anak sambungnya tersebut
"Udah ya, jangan marah lagi. Kan, mereka cuma godain Mommy ajah ngga lebih."
"Tapi, Abang ngga suka lihat Mommy kayak tadi," sahut Erzhan lirih.
"Hati Abang sakit," adunya dengan kedua mata sudah berkaca-kaca."
Sedari bayi hampir tidak merasakan perhatian dan kasih sayang dari seorang ibu, membuat Erzhan tumbuh dewasa belum pada waktunya.
Ia sangat mudah mengekspresikan diri sewaktu marah atau kesal, seperti yang terjadi sekarang.
"Kalian," tunjuknya pada semua yang ada di meja makan tanpa terlewati.
"Apa?" tanya mereka secara bersamaan dengan bibir terkulum menahan diri agar tidak tertawa.
"Abang ngga suka ya, kalian buat Mommy sampai menangis lagi kayak tadi." Tegas putra kesayangan Faraz dengan wajah terkesan imut dan menggemaskan
Semua yang berada di ruang makan hanya menganggukakkan kepala pertanda mengerti, namun bukan berarti setuju.
Tidak ada lagi drama yang berlangsung, sebab Tuan besar Rafindra meminta semuanya untuk makan siang tanpa ada yang mengobrol.
.
.
Usai makan siang, baik Faraz maupun Erzhan memilih kembali ke perusahaan tanpa mengajak Qiara.
Keduanya tahu belum waktunya memamerkan gadis cantik kesayangan mereka tersebut ke depan publik, terutama media.
"Abang sama Daddy balik dulu ya," pamit Erzhan sembari memeluk erat Qiara.
"Kangen sih, tapi Abang ngga boleh tinggal. Soalnya Daddy ngga ada teman di kantor," imbuhnya.
Qiara tersenyum gemas seraya mencium kedua pipi calon anak sambungnya itu bergantian.
__ADS_1
"Iya ngga apa-apa, nanti besok datang lagi."
"Kabari aku jika kalian sudah pulang rumah nanti.".
Faraz yang di tatap hanya mengangguk sebagai jawaban.
Sebelum pergi, keduanya tidak lupa mencium pipi Qiara secara bergantian.
Di rasa mobil yang milik Faraz sudah menjauh hilang dari pandangan, baru lah Qiara kembali masuk ke dalam rumah.
Di ruang keluarga ternyata kehadirannya sudah di tunggu oleh semua anggota keluarga terutama Tuan Rafin dan Nyonya Ayshila.
"Duduk sini, Queen." Pinta Tuan Rafin pada si bungsu kesayangan
"Mami kangen banget loh sama Adek," timpal Nyonya Ayshila sudah memeluk sayang Qiara.
"Kami juga kangen, iya kan?" sambung Zaidan menoleh kearah dua adik kembarnya yang menganggukkan kepala sembari tersenyum.
"Ngga ada Queen, kurang ramai." Kekeh Zafir di ikuti gelak tawa dari Zhe alias Kakak ketiga dari si bungsu kesayangan
"Berasa kayak di kuburan tahu ngga sih, kalau Adek ngga ada di rumah." Adunya yang sedetik kemudian mendapat pelukan dari satu-satunya Tuan putri Rafindra tersebut
Bohong jika Qiara tidak merasakan hal yang sama, menahan kerinduan terhadap orang-orang yang sangat dia sayangi tidak mudah.
"Maafin Qia ya, udah buat kalian merindu." Kekehnya masih betah sembunyi di dada bidang Tuan muda ketiga Rafindra
"Qia paling rindi Zizi, loh." Ungkap gadis cantik itu jujur
"Masa sih?" goda sang Kakak ketiga sembari mencium pucuk kepala si bungsu kesayangan.
Terpisah jarak dan waktu yang kadang untuk sekedar komunikasi pun rasanya sulit, membuat pria tampan itu memendam kerinduan yang besar terhadap sang Adik.
"Zizi lebih merindukan mu, sayang." Bisik pelan Zhe di telinga Qiara
"Tapi, pasangan Ayah dan Anak itu jauh lebih besar menahan rindu padamu."
Qiara hanya tersenyum seraya mengingat bagaimana sewaktu di depan rumah tadi, gelagat Faraz dan Erzhan sangat mencurigakan.
"Makanya, cepat urus acara pernikahannya. Biar mereka ngga uring-uringan sendiri," kekehnya tanpa dosa seakan nikah adalah perkara yang mudah untuk di urus.
"Minggu depan kalian menikah," ucap Tuan Rafin dengan lantang.
Membuat semuanya terkejut, namun tidak dengan Qiara justru malah tertawa.
__ADS_1
๐๐๐๐๐