
Qiara mengemudikan mobilnya dalam kecepatan lumayan di atas rata-rata mengingat waktu masih terlalu pagi.
Kendaraan beroda empat itu melaju kearah Bandara yang beberapa waktu lalu sudah di beritahu akan kedatangan Tuan dan Nyonya muda Bramantya dengan penrbangan menuju sebuah pulau pribadi milik keluarga.
Satu Jet pribadi milik Qiara sudah siap menunggu kedatangannya bersama Faraz.
Hadiah dari Tuan besar Rafindra pada ulang putri kesayangannya yang ke 19 tahun kemarin, menjadi pilihan Qiara untuk membawa kabur suami tampannya tersebut.
Kurang lebih tiga puluh menit perjalanan, akhirnya mereka tiba di bandara sesuai perkiraan.
Sudah ada beberapa petugas di lapangan siap membantu keberangkatan pasangan suami istri tersebut, bahkan mereka sempat di buat terkejut melihat Faraz dalam keadaan tidak sadar alias masih terlelap terbuai mimpi indah.
"Nyonya muda, bagaimana kalau tunggu Tuan muda bangun dulu." Saran mereka pada Qiara
"Tidak perlu, cukup kalian bantu pindahkan suamiku ke atas pesawat." Jawabnya tegas yang langsung di iyakan
Ada tiga orang yang membantu Faraz untuk naik ke pesawat masih dalam posisi tidur nyenyak.
Meski terdengar mereka saling berbisik, antara tidak percaya dan takjub melihat kenekatan Sang Nyonya muda Bramantya tersebut.
Qiara tidak marah apalagi menanggapinya dengan kalimat tajam.
"Terima kasih," ucapnya setelah Faraz berhasil naik ke atas pesawat.
"Ingat! Pastikan kepergian ku bersama suamiku tidak ada yang tahu terutama keluarga kami." Pesan Qiara ke semua orang di Bandara
Mereka hanya mengangguk patuh setelah mendapat uang dadakan yang jumlahnya tidak sedikit.
Qiara memang tidak pernah main-main dengan perkataannya, jika ingin pergi liburan maka sudah pasti semuanya akan terkabul.
.
.
Kini pesawat yang sengaja di kemudikan Qiara tanpa bantuan pilot di bandara, hampir sampai di area pulau pribadi milik keluarganya.
Masih dengan posisi semula, dimana Faraz tidak terganggu sama sekali padahal jelas pria itu tengah di bawah kabur oleh istrinya sendiri.
Tidak ada ungkapan yang bisa menjabarkan seperti apa putri kesayangan Tuan besar Rafindra tersebut, yang diam-diam belajar mengemudikan pesawat terbang di balik pengawasan anggota keluarganya termasuk Faraz sendiri
Kapan dan bagaimana gadis itu melakukannya, semua tidak ada yang tahu. Meski hampir di setiap tempat ada orang-orang kepercayaan yang berjaga-jaga dan terus mengawasi gerak-geriknya, tetap saja kecolongan.
Markas tersembunyi yang berada di tengah-tengah labirin saja, belum ada yang bisa memecahkannya. Padahal jelas dulu Faraz pernah meminta orang kepercayaannya mencari sampai kesana, sewaktu Qiara berhasil membawa kabur Sandra dan Erzhan.
__ADS_1
Jadi untuk yang satu ini, biarkan gadis itu sendiri yang akan menjelaskannya pada semua anggota keluarga dan suaminya. Itu pun kalau dia mau berkata jujur tanpa ada yang sengaja di tutupi.
Pesawat mendarat dengan sempurna di bandara, terlihat sudah ada yang sengaja menunggu kedatangan pasangan suamu istri tersebut.
Qiara turun lebih dulu untuk menyapa pasangan baya yang tersenyum hangat ke arahnya.
"Aku datang Oma, Opa." Serunya pelan sembari merentangkan kedua tangan meminta pelukan
"Rindu kalian."
Qiara melepas kerinduan pada kedua sosok paling berharga dalam hidupnya itu.
"Kami pikir tidak akan datang lagi," ucap pasangan baya itu berbarengan.
"Qia mana bisa melupakan kalian berdua yang sudah merawat Qia dari kecil hingga beranjak remaja."
Pasangan baya itu tersenyum bahagia, pada akhirnya kembali bertemu dengan gadis kecil berkuncir dua yang dulu menemani mereka.
Tatapan mata keduanya langsung tertuju kearah pesawat, dimana terdengar suara teriakan milik seorang pria.
Qiara yang sadar, langsung berlari kembali masuk ke dalam pesawat demi melihat keadaan suaminya.
Benar saja, Faraz sudah bangun dengan keadaan mata sudah berkaca-kaca saking takut dan khawatir apakah terjadi sesuatu dengan terus memanggil nama istrinya berulang kali.
"Sayang. Astaga, dimana aku sekarang?" jerit Faraz mulai kehilangan akal.
Sementara di depan pintu pesawat, jelas Qiara tengah menahan diri agar tidak tertawa lepas melihat keadaan suaminya yang mulai kacau.
Pria itu belum sadar sepenuhnya, terlalu panik dan khawatir membuatnya tidak bisa memikirkan apa-apa selain memanggil nama istrinya berulang kali.
"Mom," panggil Faraz mulai kehilangan sabar.
"Apa?" sahut Qiara dengan kedua tangan melipat di atas dada.
Pria itu kaget mendengar ada suara istrinya dari arah pintu.
"Mommy," panggilnya lagi memastikan apakah ia tidak salah lihat.
"Ayo turun Dad!" titah Qiara hendak turun dari pesawat
"Eh, mau kemana Mom?" tanya Faraz panik segera menyusul istrinya.
"Astagfirullah."
__ADS_1
Pria itu kaget ketika hendak menginjakkan kakinya di tangga. Pandangannya langsung menatap sekeliling pulau yang tampak sangat indah dan menenangkan pikiran.
"Mommy, ini dimana?" tanyanya sembari turun dengan pandangan kesana kemari.
Qiara tidak menjawab, hanya meminta suaminya ikut masuk ke dalam rumah lewat isyarat tangan.
Mau tidak mau Faraz akhirnya menurut dengan berbagai pertanyaan di otaknya, saking tidak percaya sudah berada di sebuah pulau yang indah.
Faraz lupa akan perkataan istrinya semalam, dimana ingin membawanya kabur untuk liburan sekaligus Honeymoon.
.
.
Di dalam rumah yang terdiri dari dua lantai itu.
Tampak suasananya begitu sejuk dan tenang, apalagi pas baru masuk ke dalam.
"Ini suaminya, Qia?" tanya pasangan baya itu sembari tersenyum hangat kearah Faraz.
"Iya, suamiku yang dulu sering kalian panggil dengan sebutan bayi buntal." Jawab Qiara yang sedetik kemudian tertawa melihat raut wajah masam suaminya tersebut
Pasangan baya itu pun ikut tertawa, kembali mengingat masa kecil Qiara bersama seorang anak laki-laki bertubuh gembul yang selalu mereka panggil bayi buntal saking bulatnya kedua pipi anak itu.
Tidak ada yang menyangka, jodoh masa kecil akhirnya setelah dewasa bisa kembali di persatukan meski harus melewati ujian hidup yang tidak mudah. Sebab salah satu dari mereka sudah menikah dan punya anak.
Beuntung sang pencipta memiliki rencananya sendiri, dimana setelah perpisahan pasti akan ada pertemuan lagi walau keadannya sudah berbeda.
"Jadi ini si bayi buntal yang dulu hobinya menangis," kekeh pria baya dengan tatapan mata teduhnya.
"Pas dewasa semakin tampan ya," puji sang istri yang meminta agar Faraz mendekat ke arahnya.
Pria itu langsung duduk tepat di anatar pasangan baya tersebut sembari mencium kedua pipi mereka bergantian.
"Maaf, baru sempat datang berkunjung." Ucapnya sendu dengan mata berkaca-kaca
"Lebih tepatnya, kalau aku ngga berani culik buat datang kemari. Mungkin suami tampan ku ini belum tahu keberadaan Oma dan Opa." Sindir Qiara pada suaminya yang merenggut kesal
Mereka asyik mengobrol banyak hal seputar keseharian pasangan baya itu, sewaktu kepergian Qiara yang melanjutkan sekolah di luar negri.
Namun, ucapan Faraz yang tiba-tiba membuat pasangan baya tersebut termasuk Qiara menatapnya tidak percaya.
"Mommy, perasaan aku dari tadi ngga pakai baju?"
__ADS_1
๐๐๐๐๐