Istri Kedua Sang CEO

Istri Kedua Sang CEO
NEW BAB 18.2


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Nia sudah membangunkan  Kello karena putranya itu berencana untuk mengikuti kemah yang diadakan oleh pihak sekolah. Keberangkatan akan dimulai pada pukul 8 pagi dan saat ini jam sudah menunjukkan pukul 6. Itu tandanya Kello  harus bersiap karena jika tidak, putra nomor tiga itu akan terlambat.


"Mi, apa aku enggak usah ikut kemah aja?" Kello mengusap matanya. Pemuda itu benar-benar merasakan kantuk dan malas untuk bergerak dari atas tempat tidur. Ini disebabkan oleh kakaknya Arga yang memaksanya untuk ikut menonton pertandingan bola. Mereka baru saja tidur pada pukul 2 dini hari.


"Enggak bisa gitu, dong. Kamu yang dari awal semangat untuk ikut kemah. Sekarang, kamu mandi dan siap-siap. Mami mau buat sarapan dulu. Ingat, bangun." Nia menatap putranya tegas. Wanita itu kemudian melangkah keluar dari kamar Kello meninggalkan pemuda itu yang masih merasa mengantuk.


Turun ke lantai bawah, Nia kemudian mendengar suara Alana yang menangis. Segera wanita itu menghampiri Alana dan menggendong putri bungsunya.


"Kenapa nangis? Mau susu?"  Kebiasaan Alana saat bangun tidur memang menangis dan meminta susu. Sangat berbeda dengan Alea yang ketika bangun dari tidur ia mendudukkan dirinya dengan tenang di atas sofa yang mengarah langsung pada layar televisi. Bukan tontonan kartun yang ia lihat, tapi justru berita di pagi hari.


Nia spontan menghentikan langkahnya ketika melihat apa yang ditonton oleh Alea. Wanita itu sambil menggendong Alana segera menghampiri Alea dan mengambil remote di atas meja. Tak mengucapkan sepatah kata, Nia langsung mencari channel tontonan kartun yang pas di tonton untuk anak seusia Alea.


"Alea sayang, Mami bukannya mau larang Alea untuk nonton. Tapi, kamu harus nonton yang sesuai dengan umur kamu. Ngeri Mami lihat kamu nonton acara dewasa seperti ini. Apalagi beritanya kriminal semua."  Nia menggeleng kepalanya menatap Alea yang terlihat tenang. Nia benar-benar tidak mengerti mengapa putrinya bisa berbeda dengan kebanyakan anak seusianya.


Nia bukannya tidak bersyukur memiliki anak seperti Alea. Hanya saja, wanita itu ingin anaknya bersikap selayaknya anak-anak pada umumnya. Jangan dewasa sebelum waktunya.


"Iya, Mi." Alea tersenyum menatap maminya. Gadis kecil itu kemudian mengalihkan tatapannya pada layar televisi namun tidak ada yang tahu apa yang sedang dipikirkannya.


"Kamu mau susu juga?" Nia menawarkan pada putrinya.


Alea menggeleng sebagai jawabannya. "Mau air putih, Mi."


"Iya. Kamu tunggu di sini, ya. Mami ambil air putih sekalian buat susu untuk adik kamu."


"Iya." Alea mengangguk patuh.


Gadis itu kemudian terdiam menatap layar televisi dengan tatapan datar miliknya. Sementara Nia sendiri sudah berada di dapur membuatkan susu untuk Alana dan menyiapkan segelas air  putih untuk Alea. Setelah membuatkan susu dan menyiapkan air putih, Nia kembali ke ruang keluarga dan menyerahkan gelas pada Alea  sementara Alana ia dudukkan di sebelah Alea.


"Kalian berdua tunggu di sini dulu. Mami mau bantu Bu Idah membuat sarapan."


"Iya, Mi." Alea mengangguk kepalanya sementara Alana diam dengan pandangan fokus pada layar televisi yang tengah menampilkan serial kartun Tom and Jerry yang sering tayang di pagi hari.


Tepat pada pukul 7 pagi semua anggota keluarga sudah berkumpul. Termasuk Alea dan Alana.


Arga sendiri memiliki jadwal pagi ini untuk manggung di sebuah acara televisi. Band Arga dan teman-temannya sudah beberapa kali tampil di TV dan lagu mereka pun sudah booming disukai oleh banyak orang.

__ADS_1


"Mi, hari ini aku pulang agak malam. Soalnya aku ada jadwal manggung dan kuliah sampai malam juga," ujar Arga setelah mendudukkan dirinya.


"Hati-hati di jalan. Enggak usah bawa motor ngebut. Kalau enggak kamu bawa mobil aja. Biar semua perlengkapan kamu aman di dalam mobil."  Nia meletakkan secangkir kopi di depan Bima, kemudian dua gelas susu di hadapan Arga dan Kello. Wanita itu kemudian melirik pada kedua putrinya yang memiliki meja sendiri di samping meja makan besar yang mereka tempati.


Alea dan Alana sama-sama memegang paha ayam. Wajah mereka sudah belepotan dengan minyak, membuat Nia menghela napas. Beruntungnya mereka belum mandi. Jika mereka sudah mandi maka Nia akan memiliki pekerjaan dua kali untuk memandikan keduanya.


"Terima kasih, Mi." Bima tersenyum menatap istrinya. "Mami duduk lagi. Kita mulai sarapan," kata Bima pada Nia.


"Iya, Mas." Setelah memastikan anak-anaknya mendapatkan jatah mereka masing-masing, Nia kemudian mendudukkan dirinya di sebelah Bima dan mereka mulai menyantap sarapan pagi dengan santai.


Usai sarapan, Nia mengantar kepergian anak-anak serta suaminya keluar pintu. Baru setelah memastikan mereka berangkat, Nia memilih masuk ke dalam.


Tak lama setelah Nia masuk,  sosok Bella turun dari taksi dan mengetuk pintu rumah Nia. Mpok Atun yang kebetulan berniat untuk ke dapur segera menghentikan langkahnya dan membuka pintu untuk tamu yang datang terlalu pagi.


"Mbak Bella?" Mpok Atun mengenal sosok wanita di hadapannya. Dia adalah salah satu teman dekat dari Nyonya rumah ini. Jadi, Mpok Atun segera meminta Bella untuk masuk bersama kedua anaknya.


"Mpok, Nia-nya ada?" Bella bertanya dengan mata sembab.


"Ada, Mbak. Duduk dulu. Saya panggilkan Bu Nia sebentar."


"Nyonya, ada temennya di luar."


"Siapa, Mpok?" Nia menatap Mpok Atun dengan tatapan bertanya.


"Mbak Bella. Dia ada di luar sekarang," jawab Mpok Atun.


"Oke, terima kasih kalau begitu."


Setelah itu Nia langsung menuju ke ruang tamu di mana Bella berada. Wanita itu sedikit terkejut mendapati sosok Bella bersama kedua putranya berada di ruang tamu. Wanita itu kemudian duduk di sebelah Bella dan merangkul pundak sahabatnya yang seperti kehilangan arah.


"Kamu kenapa, Bell? Bawa koper segala? Terus anak-anak kamu disini memangnya mereka enggak sekolah?"


"Aku memutuskan untuk pergi dari rumah dan membawa anak-anak. Lagipula, Bisma sudah lulus SD dan sedang menunggu persiapan untuk pendaftaran SMP. Asoka juga masih SD. Dia masih bisa untuk homeschooling." Bella mengusap air matanya. "Aku butuh tempat tinggal, Nia. Aku benar-benar ingin pergi dari Alex. Semua properti yang aku miliki dia tahu. Enggak mungkin aku mau menempati salah satu properti milikku. Aku enggak mau Alex menemukan aku."


  Bella memang sempat bingung akan ke mana dia pergi setelah keluar dari rumah Alex. Namun, kebingungannya segera terjawab setelah mengingat salah satu temannya bisa memberinya solusi. Maka tidak heran ia pergi ke rumah Nia pagi-pagi sekali.

__ADS_1


"Rumah? Aku punya sebuah rumah. Tapi, masih ada di daerah ini juga. Kamu enggak keberatan tinggal di sana?"


"Tapi kalau Alex tahu tempatnya bagaimana?"


"Ini rumah orang tuaku dulu. Kamu bisa tinggal di sana untuk sementara. Kalau kamu mau pindah ke luar kota, kita harus cari tempat yang strategis. Dimulai dari sekolah, tempat mencari kebutuhan rumah tangga, dan lain-lainnya. Enggak mungkin kalau kamu mau asal pindah aja."


Bella terdiam memikirkan ucapan Nia. Wanita itu akhirnya mengangguk setuju dengan sarannya.


Nia kemudian bangkit dari duduknya dan menghampiri Ibu Yuni untuk pamit mengantarkan temannya. Nia menitipkan Alea dan Alana lebih dulu pada Bu Yuni sebelum akhirnya wanita itu menuju mobilnya yang terparkir di garasi.


Empat buah koper  dimasukkan ke dalam mobil kemudian disusul oleh Bella dan kedua anaknya barulah Nia masuk dan duduk di belakang setir.


"Kita berangkat sekarang." Nia kemudian melajukan kendaraannya keluar dari halaman rumah membelah jalanan kota menuju rumahnya saat ia masih gadis dulu.


Setelah 10 menit Nia keluar, sebuah mobil memasuki pelataran halaman rumah Bima. Sosok Alex turun dari mobil dengan tergesa-gesa dan mengetuk pintu rumah. Rumah dibuka oleh Bu Idah yang sedikit terkejut dengan kehadiran Alex.


"Bu, istri dan anak-anak saya di sini?"  Alex bertanya dengan cemas. Wajahnya terlihat pucat sementara tangannya sedikit gemetar menatap Bu Idah dengan harapan penuh di hatinya.


"Istri dan anak-anak bapak? Mereka enggak ada disini. Lagipula, Ibu Nia sudah berangkat ke toko. Jadi untuk apa istri bapak datang ke sini."


Bu Idah dan yang lainnya sudah diajari oleh Nia untuk berbohong pada setiap orang yang menanyakan keberadaan Bella beserta anak-anaknya. Jadi, apa yang diucapkan oleh Nia tadi, diulangi oleh Bu Idah.


"Ibu yakin istri dan  anak-anak saya enggak  datang?" Alex mengerut keningnya menatap Bu Idah berusaha untuk mencari kebohongan di mata beliau.


"Iya, Pak. Bu Nia sudah pergi pagi-pagi sekali karena ada masalah di tokonya. Istri dan anak-anak bapak juga enggak ada di sini." Bu Idah menjawab dengan tenang. "Memangnya istri dan anak-anak bapak ke mana?"


"Saya juga enggak tahu." Alex menjawab dengan lesu. Pria itu kemudian pamit pada Bu Idah untuk pergi dan mencari keberadaan  istri dan anak-anaknya yang menghilang tadi pagi.


Alex baru saja bangun dari tidur dan tidak mendapati keberadaan istri dan anak-anaknya. Alex panik dan mencari keberadaan mereka namun tidak membuahkan hasil. Pria itu berpikir bisa saja Bella berada di rumah Nia. Sayangnya, saat datang ke rumah ini Nia justru tidak ada.


Alex mengusap kasar wajahnya. Bella hanya salah paham tentang hubungannya dengan teman kecilnya dulu.  Bella selalu saja menyimpulkan semuanya sendiri tanpa mau bertanya atau berdiskusi dengannya. Terlebih lagi sikap paranoid Bella tentang pernikahan yang berakhir berantakan selalu menghantui kepala istrinya itu. Trauma yang dialami Bella ternyata tidak semua hilang. Hal itu membuat Alex semakin cemas. Seharusnya Bella tidak pernah berhenti untuk datang ke psikiater. Jadi inilah yang dialami istrinya jika tidak pernah mengunjungi psikiater lagi sejak beberapa bulan lalu karena merasa sudah sembuh.


"Bella, kamu di mana, Sayang? Jangan buat aku panik," ujar Alex sambil mengusap kasar wajahnya.


Keharmonisan rumah tangga mereka mulai meregang semenjak kedatangan sahabat Alex. Hal ini membuat Alex memutuskan untuk menjauh dari teman kecilnya itu. Jika tidak, ini mungkin bisa saja berdampak pada hubungannya dengan Bella. Alex harap, temannya itu bisa mengerti dengan posisinya.

__ADS_1


__ADS_2