
Setelah menempuh beberapa jam perjalanan lewat udara, akhirnya mereka tiba di bandara buatan yang jaraknya memang tidak jauh dari rumah milik Oma dan Opa.
Jet pribadi milik keluarga Rafindra tersebut selalu menjadi alat tranfortasi yang sering kali di gunakan oleh penduduk pulau bila ingin membeli sesuatu di pusat kota, tidak jarang Oma dan Opa pun ikut bersama orang-orang kepercayaan keluarga mereka hanya untuk sekedar melihat pemandangan kota.
Tentu apa yang dulu pernah di bawah Qiara jelas berbeda dengan burung besi tersebut, ukurannya sedikit lebih kecil karena dulu sewaktu Tuan besar Rafindra memberikannya hadiah, sengaja tidak ambil yang ukurannya pas untuk beberapa orang.
Qiara yang tidak mendapatakan ijin membawanya pergi liburan, bukan karena tanpa alasan mengingat dia sekarang dalam kondisi hamil dan tidak boleh sampai terjadi apa-apa.
Beruntung wanita cantik kesayangan semua orang terutama sang suami tersebut mau di ajak kerja sama, di lihat saat Qiara tampak begitu nyaman berada dalam pelukan hangat suaminya yang sama-sama merasakan kebahagiaan, akhirnya memiliki waktu luang pergi liburan bukan hanya berdua saja, tetapi kali ini ada Erzhan dan tentunya malaikat kecil yang sudah sangat di nanti kehadirannya oleh mereka.
Kedatangan pasangan suami istri tersebut rupanya sudah di tunggu oleh penghuni pulau, terutama Oma dan Opa.
Mereka tidak sabar ingin mengucapkan selamat atas kehamilan sang Nyonya muda Bramantya, tidak lupa medoakan yang terbaik untuk Ibunya dan si cabang bayi agar selalu dalam keadaan sehat hingga waktu melahirkan tiba.
Sesuai yang Faraz katakan sebelum berangkat, dimana semua wanita maupun anak gadis yang belum menikah dan usinya mulai beranjak remaja, sengaja di bawah keluar dari pulau demi keamanan dan kenyamanan istrinya yang semenjak masa kehamilan moodnya suka berubah-ubah. Kadang sensitif, mudah menangis, sukanya marah-marah tidak jelas dan masih banyak lagi perubahan sikap si calon ibu tersebut.
Beruntung Oma dan Opa sudah di beritahu lebih dulu agar kelak tidak lagi merasa heran, saat melihat tingkah Qiara yang pastinya jauh dari apa yang mereka tahu sebelumnya.
Dan teriakan nyaring Erzhan memanggil pasangan baya itu menjadi warna tersendiri bagi semua yang berada di sana.
Tampak putra kesayangan Faraz dan Qiara itu berhasil menarik perhatian beberapa anak kecil seusianya baik laki-laki maupun perempuan, kelihatan sekali mereka ingin mendekati Erzhan namun urung di lakukan karena takut jangan sampai berbuat kesalahan.
__ADS_1
Si kecil tampan yang menyadari gerak-gerik anak-anak itu justru sengaja mendekat agar ia mudah untuk menyapa dan memperkenalkan diri.
Para orang dewasa termasuk Daddy dan Mommy nya semakin di buat penasaran dengan apa yang akan di lakukan Tuan muda kecil Bramantya tersebut.
Mereka langsung bernafas lega melihat Erzhan ternyata hanya ingin lebih akrab agar nantinya selama anak tampan itu berada di pulau memiliki teman untuk di ajak bermain bersama.
"Hay, kalian pasti sudah tahu siapa Abang kan?" tanya si kecil sembari menatap satu persatu wajah cantik dan tampan sangat menggemaskan anak-anak tersebut.
Tampak mereka hanya menganggukkan kepala pelan, sesekali mencuri pandang lewat ekor mata karena merasa tidak pantas bila menatap wajah Erzhan secara langsung.
"Mau jadi teman bermain Abang?" tawarnya yang langsung di sambut sorakan dari beberapa anak kecil seusianya.
Mereka pikir Erzhan mungkin saja tidak mau berdekatan dengan anak-anak sederhana seperti mereka, hanya karena bukan berasal dari keluarga yang berada dan terpandang.
Erzhan pergi bermain dengan teman barunya, meninggalkan Daddy dan Mommy nya bersama Oma dan Opa masih berada di area bandara.
Beberapa penghuni pulau yang kebetulan sudah selesai dengan tugas mereka, langsung pamit undur diri pulang ke rumah masing-masing. Hanya tersisa sebagian wanita dan pria yang memilih tetap tinggal untuk mengawasi putra dan putri mereka.
Qiara mengajak Faraz sekedar jalan-jalan di sekitar pesisir pantai sebelum akhirnya mereka ikut bersama Oma dan Opa pulang ke rumah.
Rasa lelah seolah terbayar sudah hanya dengan menyusuri pulau yang penuh dengan pepohonan hijau serta beberapa tumbuhan lainnya.
__ADS_1
wanita itu menikmati sapuan angin yang menerpa wajah cantiknya, menghirup dalam udara segar yang masuk ke indra penciumannya.
"Aku suka di sini, Dad." Serunya tanpa membuka kedua matanya yang masih tertutup menikmati suasana nyaman dan tenang di sekitarnya
"Makasih, Daddy. Liburan kali ini jauh lebih menyenangkan," ucap wanita itu seraya menoleh kearah samping dimana terdapat seorang pria tampan tengah fokus menatapnya penuh cinta.
Faraz tersenyum begitu manis, wajahnya semakin mendekat kearah wajah cantik istrinya yang bersemu merah.
CUP
Sebuah ciuman singkat mendarat sempurna di bibir Qiara, lalu beralih ke kening serta kedua pipinya.
"Jika Mommy bahagia liburan kesini, maka aku pun merasa bahagia karena berhasil menjadi suami yang Mommy harapkan." Kekeh pria itu memeluk erat tubuh berisi wanita halal kesayangannya
Ia sangat lega dan ikut senang jika anak dan istrinya tampak bahagia selama liburan.
"Aku mungkin sangat jauh dari sesuatu yang bersifat romantis, tidak pandai berkata-kata bahkan aku sejak awal kita bertemu sangat kaku dan cuek--," ungkapnya terjeda.
"Tapi aku berusaha untuk berdamai dengan semuanya, mengubur dalam semua yang kini tinggal jadi cerita."
Faraz mengusap lembut kedua pipi istrinya yang mengeluarkan semburat merah, di cium tiba-tiba seperti itu pastinya Qiara kaget. Belum lagi pandangan mereka yang bertemu seolah menandakan betapa keduanya saling mengagumi satu sama lain.
__ADS_1
"Entah sejak kapan aku begitu mencintaimu lebih dari diriku sendiri."
๐๐๐๐๐