
๐น๐น๐น๐น๐น
Ruang tamu menjadi ramai setelah ke empat anak manusia yang berebutan tempat duduk berhasil di tenangkan oleh Nyonya Ayshila.
Ada Qiara yang duduk berdampingan dengan Tuan Rafin, di sebelah kanan gadis itu terdapat si bawel Neta yang duduk tenang karena ada pawangnya sang Tuan muda pertama Rafindra.
Siapa lagi kalau bukan Zaidan. Dari awal masuk gadis bermata biru air tersebut langsung di tarik lengannya meski sang empu berteriak minta di lepaskan.
Sementara Faraz dan Tara justru memilih duduk bersama si kembar, Zafir dan Zhe di sofa panjang yang berhadapan langsung dengan Tuan dan Nyonya besar Bramantya.
Mereka tampak serius memandang satu sama lain dengan tatapan sulit di artikan.
Siapa sangka, pertemuan tanpa adanya pemberitahuan di awal kini berakhir sesi tanya jawab antara hubungan pernikahan Faraz bersama Sandra dan berujung ke masalah kepergian Qiara, entah kapan waktu keberangkatannya tersebut.
Tuan dan Nyonya besar Rafindra tampak biasa saja tidak ikut menimpali ketika Faraz di tanya perihal masalah rumah tangganya dengan Sandra, tidak baik sebenarnya membahas privasi pasangan suami istri tersebut.
Akan tetapi, kesabaran Nyonya Kamila dan Tuan Rasya menghadapi sikap kurang sopan dan berlaku seenaknya dari orang tua Sandra mulai di uji.
Faraz tentu mengerti, sebab bukan hanya kedua orang tuanya yang merasa tidak nyaman. Ia sendiri justru lebih dari itu, bisa di katakan hampir setiap ada kesempatan luang waktunya di perusahaan lebih banyak terbuang percuma jika kedua mertuanaya datang berkunjung.
Masalah ini, Sandra belum mengetahuinya. Itu karena Faraz ingin menyelesaikan sendiri masalahnya tanpa campur tangan dari pihak manapun terutama hasutan dari kedua mertuanya.
Nyonya Kamila menatap sedih ke arah putra kesayangannya tersebut, ada rasa bersalah menyelimuti hatinya sebagai seorang ibu yang melahirkan Faraz dengan taruhan nyawa.
"Kakak yakin ngga mau pulang ke rumah utama?" tanyanya dengan perasaan kecewa.
"Mama dan Papa merindukan Erzhan, tidak bisakah membawanya pulang untuk malam ini saja?" mohon wanita itu sedikit mengiba.
Tuan Rasya mengusap lembut punggung tangan istrinya dengan perasaan sedih, ia tahu betapa inginnya wanita itu melihat cucu pertama mereka.
"Jangan menyiksa kami hanya karena masalah mu belum selesai dengan istrimu, Kak." Ucapnya lirih sembari menatap sendu ke arah sang putra
"Papa tidak akan melarang atau menentang keputusan mu, setidaknya ijinkan kami bertemu Erzhan sekali saja."
Faraz masih diam tanpa suara, terlalu banyak masalah yang ia pikirkan sampai melupakan kewajibannya sebagai seorang anak.
Qiara yang paham sejujurnya ingin memberi solusi, tetapi dia khawatir salah bicara. Terlebih hubungan di antara mereka hanya sebatas karena Erzhan begitu lengket dan butuh kasih sayang dari sosok ibu, diluar itu bukan lagi urusannya.
Lima menit kemudian, baru lah Faraz angkat bicara dengan menjawab semua keresahan Nyonya Kamila dan Tuan Rasya selaku pihak yang paling di rugikan dalam masalah yang menimpanya.
Semua anggota keluarga Rafindra memilih pergi ke ruang keluarga sengaja memberikan kesempatan Faraz untuk berbicara serius dengan kedua orangtuanya.
Dirasa sudah aman, Faraz akhirnya mulai menceritakan semua yang mengganjal hatinya pada Nyonya Kamila dan Tuan Rasya.
"Aku capek Mah, Pah ..." ucapnya lirih berusaha menahan cairan bening yang siap tumpah.
"Sampai kapan? Mereka bahkan tidak memberiku ketenangan, tiap ada kesempatan pasti menggangguku dengan sengaja datang ke perusahaan. Itu berlangsung hampir setiap hari, kalian tahu?"
Faraz sangat kesal dan marah, tetapi ia mencoba untuk berpikir netral.
__ADS_1
"Mama dan Papa hanya tahu meminta ku agar membawa Erzhan ke rumah utama, tapi apa kalian pernah menanyakan keadaan ku?" tanyanya dengan nafas memburu.
"Sepertinya kalian tidak serius mengatakan sayang padaku, buktinya hanya Erzhan yang kalian cari. Bukan aku," sindir Faraz dengan tatapan malas.
Nyonya Kamila dan Tuan Rasya menatap tidak percaya dengan perkataan putra mereka barusan.
"Coba ulang sekali lagi?" titah Keduanya seraya menatap tajam ke arah Faraz.
"Katakan sekali lagi kalimat terakhir mu, Kak!" ulang Nyonya Kamila.
"Iya, sepertinya Papa kurang dengar tadi." Sambung Tuan Rasya sengaja memanas manasi wanita kesayangannya tersebut
Faraz yang merasa terancam hendak menuju ruang keluarga dimana semua anggota keluarga Rafindra tengah asyik mengobrol.
"Kalian akan bertemu Erzhan malam nanti," teriaknya sudah berlari menghindari amukan dari malaikat tak bersayap kesayangan sang papa.
"Kakak ..." geram Nyonya Kamila.
"Sudahlah, Mah. Lagian tadi Kakak bilang mau bawa Erzhan ke rumah utama kan?" rayu Tuan Rasya menenangkan istrinya.
"Tapi aku kesal, Pah. Tiap kali anak itu berbicara dengan kita, mana pernah ada serius-seriusnya."
"Kamu maunya Kakak bicara terus terang pada kita, begitu?"
"Bukannya memang harus jujur kalau ada masalah?"
Tuan Rasya memijit pangkal hidungnya pelan.
Wanita itu menggeleng pelan.
"Jadi, berhentilah mengomel hanya karena anak nakal itu."
"Terserah Papa."
.
.
.
Sepeninggalan Tuan dan Nyonya besar Bramantya karena ada pertemuan penting yang harus mereka hadiri bersama Tuan dan Nyonya besar Rafindra beberapa menit yang lalu.
Kini, hanya tersisa Qiara, Neta, Tara, Faraz serta ketiga putra kembar Rafindra masih setia berkumpul di ruang keluarga.
Mereka tengah membahas banyak hal seputar pekerjaan dan usaha milik Qiara di luar negri, termasuk keberangkatanya yang tinggal menghitung hari.
Timbul perasaan tidak rela menyelimuti hati Faraz mengingat kembali bagaimana nasib Erzhan seandainya waktu kepergian Qiara telah tiba.
"Mikirin apa lagi?" bisik Tara seraya menyenggol lengan Faraz tengah melamun.
__ADS_1
"Erzhan," jawab pria itu setelah berhasil menguasai perasaannya.
Tara menggeleng pelan dengan pandangan sulit di artikan.
"Ingat Faraz! Di antara kalian tidak memiliki hubungan apapun, selain istrimu yang jelas sahabatnya dari dulu."
"Aku tahu itu, jangan mengguruiku seolah kamu tidak sama bodohnya."
Faraz tahu bagaimana perasaan sahabatnya itu ketika melihat Neta lebih dekat dengan Tuan muda pertama Rafindra.
"Kamu sudah kalah duluan sebelum berperang," kekehnya menatap kasihan ke arah pria tampan yang cemburu menyaksikan kedekatan si cantik Neta bersama Zaidan tanpa rasa canggung di antara mereka.
Teman dekat Qiara yang berasal dari luar negri tersebut, memang tengah menjalin hubungan asmara dengan Zaidan.
Tidak heran jika pemandangan mengusik hati Tara sukses mengundang gelak tawa Faraz beserta lainnya.
Akan tetapi, ada yang lebih parah dan sangat berbahaya dari patah hati seorang pria tampan bernama Tara.
Yaitu, perasaan tersembunyi Tuan muda Bramantya terhadap sosok gadis cantik yang berhasil mengusik hatinya mulai dari awal mereka tidak sengaja di pertemukan.
"Kamu sadar masih memiliki seorang istri kan?" sosor Tara menepuk kuat bahu Faraz agar tersadar.
"Jangan nekat kamu, itu anak perawan orang."
"Memangnya kamu pikir aku mau ngapain?" kesal Faraz menatap jengah.
"Ya, siapa tahu ajah kamu berpikir untuk menjadikan Qiara sebagai istri kedua mu."
"Kalau iya kenapa?"
Plak
"Gila lo, mending urus dulu noh si Sandra. Baru lo mikir buat nikah lagi."
Tara kaget mendengar jawaban Faraz yang sembarangan.
"Kamu masih terikat dengan pernikahan, jangan menambah beban keluarga."
๐๐๐๐๐
Hallo Semuanya.
Bagi para Reader yang masih setia ikutin cerita aku meski banyak kurangnya ini, aku mau ngucapin terima kasih banyak untuk kalian semua.๐
Makasih ajah mungkin tidak cukup ya, meski kalian tidak komen pun aku senang karena ada jejak likenya.๐
Mikir alur cerita itu gampang-ganpang susah ya, apalagi aku yang masih perlu banyak belajar lagi.
Tak apa jika ada yang komen julid aku terima, hanya saja jangan sampai membuat mental kami down ya๐
__ADS_1
Namanya juga ini hanya pikiran sendiri, kemudian di salurkan jadi cerita.
Sekali lagi, aku mau ngucapin terima kasih buat kalian yang masih mau baca cerita aku.๐