Istri Kedua Sang CEO

Istri Kedua Sang CEO
IKSC Bab 175


__ADS_3

Kehamilan Qiara yang baru memasuki usia 4 bulan berjalan, memang terbilang rentan terjadinya hal-hal yang tidak di inginkan bila sampai memaksakan diri untuk bepergian jauh. Terlebih wanita cantik itu sangat aktif dan penuh semangat jika tengah melakukan sesuatu, seperti menyiapkan makan siang atau makan malam untuk suami dan putranya.


Tidak jarang Qiara sering mondar mandir antara ruang dapur, ruang tengah dan ruang bersantai hanya untuk mengalihkan rasa jenuhnya karena sendirian tanpa ada Erzhan yang ikut menemani.


Anak tampan kesyangannya itu selalu berpindah tempat saking banyaknya anggota keluarga dari Rafindra maupun Bramantya yang hobi mengajaknya keluar jalan-jalan mengelilingi kota, bahkan ada yang sampai keluar negri dalam kurun waktu dua atau tiga hari lamanya.


Sungguh tidak ada waktu luang bersama Mommy kesayangannya bila sudah bersangkutan dengan anggota keluarga, mau menolak pun rasanya begitu sulit.


Dan Qiara hanya bisa menahan diri agar tidak mudah terbawa emosi apalagi sampai membahayakan malaikat kecil di rahimnya, meski kadang kala rasa kesal dan posesif sering menguasai hatinya melihat sang putra di bawa kabur.


"Abang ngga sayang Mommy," gumamnya lirih seraya menghela nafas panjang.


"Tahu gitu, mending aku ikut Daddy ke kantor tadi pagi."


Karena bosan hanya berdiam diri dalam kamar, wanita cantik itu akhirnya memutuskan keluar rumah dengan salah satu pelayan ikut menemaninya pergi ke perusahaan tanpa memberi kabar lebih dulu pada Faraz.


Qiara sengaja ingin memberi kejutan, membawa makan siang untuk dirinya dan sang suami.


.


.


Sepanjang perjalanan menuju perusahaan Bramantya Group, suasana jalanan ibu kota lumayan ramai kendaraan berlalu lalang. Mengakibatkan adanya kemacetan walau tidak sampai memakan waktu yang lama, karena belum saatnya makan siang.


Biasanya orang-orang yang bekerja di kantor, lebih memilih makan siang di luar hanya untuk mencari suasana baru. Tetapi, Qiara justru menginginkan makan siang cukup di kantor bersama suaminya.


Tidak sampai dua puluh menit, kendaraan beroda empat tersebut memasuki area parkiran khusus petinggi perusahaan. Terdapat lift yang langsung menuju lantai paling atas, tempat dimana ruangan milik Tuan muda Bramantya berada.


Qiara hanya berdua saja dengan seorang pelayan berusia 35 tahun yang biasa menemaninya keluar rumah.


Tring


Saat pintu lift terbuka, bertepatan dengan keluarnya Sekertaris Delia dari ruangan milik Faraz.


Wanita itu tersnyum hangat sembari merentangkan kedua tangannya menyambut kedatangan istri dari sang Bos.


"Hallo Bumil," sapanya dengan tatapan mengarah ke perut Qiara yang membuncit.


"Perasaan baru kemarin aku lihat masih belum kelihatan, tapi sekarang udah makin besar."


Qiara tertawa geli merasakan usapan lembut di bagian perutnya.


"Kak Delia mau kemana?" tanyanya basa basi.


"Biasa, mau beli makan siang buat Pak Bos." Jawab wanita itu sembari memperlihatkan daftar menu yang sengaja Faraz tulis

__ADS_1


Kedua bola mata Qiara sontak membulat sempurna, tidak percaya dengan menu makanan yang suaminya inginkan untuk makan siang nanti.


"Ngga kebanyakan? Itu perut atau apa?" kekehnya bergidik ngeri.


"Uangnya buat Kakak ajah. Soalnya aku udah bawah makan siang dari rumah."


Sekertaris Delia melihat kearah rantang makanan berukuran besar di tangan pelayan yang tersenyum.


Beruntung istri dari sang Bos datang tepat waktu, sehingga dia tidak perlu lagi susah payah keluar untuk mencari makan siang.


"Makasih ya, Bu Bos." Ucapnya sembari tertawa


"Kalau begitu, aku balik ke ruangan ajah deh. Sampaikan salam ku buat Pak Bos."


Qiara hanya mengangguk paham seraya memperhatikan orang kepercayaan suaminya tersebut memasuki ruangan yang berada tepat di samping kiri ruangan milik Faraz.


Langkah wanita itu kembali mengayun indah menuju ruangan yang pintunya tertutup rapat. Kemungkinan besar si pemilik ruangan tengah menunggu dengan santainya di dalam, tanpa tahu jika orang yang ia suruh malah kembali lagi ke ruangan miliknya.


Ceklek


Pintu yang sengaja di buka setengah membuat Faraz beranggapan jika itu pasti Sekertaris nya.


"Kamu ngga mungkin secepat itu beli semua menu yang aku tulis kan?" serunya dengan pandangan mengarah ke pintu ruangan.


"Loh, Mommy." Pekik pria itu dengan raut wajah terkejut mendapati justru istrinya lah yang datang


"Kok ngga bilang bilang mau datang ke kantor, Mom?" Tanyanya setelah wanita cantik kesayangannya itu berjalan masuk bersama seorang pelayan.


"Kejutan," sahut Qiara tertawa.


"Aku bosan di rumah," imbuhnya.


Faraz menggeleng pelan, ia jelas tahu penyebab istrinya sampai nekat datang kemari.


"Abang di bawa kabur kemana lagi?"


"Ngga tahu. Masih pagi udah di jemput si kembar, tapi ngga bilang mau kemana." Jawab Qiara malas sembari mengikuti langkah kaki suaminya


Faraz tidak lagi bertanya, ia mempersilahkan istrinya duduk lebih dulu.


Sementara pelayan yang kebetulan masih setia berdiri, langsung saja di minta untuk menyiapkan makan siang.


Bukan hanya pasangan suami istri itu yang menikmati makan siang mereka, karena jelas si pelayan pun ikut makan bersama tanpa adanya perbedaan yang berlaku.


Baik Qiara maupun Faraz, selalu memperlakukan orang-orang yang bekerja pada mereka dengan baik dan sopan. Di manapun berada, jika ingin makan sudah pasti semuanya akan di minta untuk makan bersama seperti yang terjadi sekarang.

__ADS_1


Kalian sungguh orang-orang yang baik. Bathin wanita tersebut


.


.


Usai makan siang, Faraz meminta ijin pada Qiara untuk keluar sebentar menemui seseorang yang katanya ada urusan mendesak.


Awalnya ia malas, ingin segera istrirahat di kamar. Tetapi, kedatangan orang tersebut sangat mengganggu waktunya bersama sang istri tercinta.


Sebelum pria itu keluar dari ruangan, tidak tahu kenapa Qiara malah bertanya dengan siapa ia akan bertemu.


"Pria atau wanita?" tanya wanita itu penuh selidik.


Namun belum sempat Faraz menjawab. Nyatanya Qiara kembali bersuara.


"Kalau wanita batalin ajah."


"Tapi kan--,"


GLEG


Faraz tidak lagi meneruskan ucapannya, terlanjur takut melihat tatapan mata tajam Qiara yang siap mengulitinya hidup-hidup.


"OK. Aku minta Delia ajah yang pergi." Kekehnya berusaha mencairkan suasana


"Mommy jangan galak-galak napa sih?"


"Kata siapa aku galak?"


DEG


Yah, salah lagi kan.


Faraz merutuki kebodohannya, ia lupa jika istrinya sangat sensitif dan mudah terpancing emosi semenjak hamil.


"Kamar yuk, kamar." Ajaknya langsung menggendong Qiara ala bridal style


Tidak menghiraukan ocehan wanita halalnya tersebut, karena ia sudah berani membangunkan singa yang tidur.


Pasangan suami istri itu menghabiskan waktu mereka hanya di dalam kamar dengan bertukar cerita sebelum akhirnya tertidur.


Faraz bahkan tidak lagi peduli siapa wanita yang ingin menemuinya, karena sudah ada Sekertaris Delia yang akan menggantikannya.


Bisa habis pria itu bila tahu siapa sosok cantik yang kini tengah mengomel di depan resepsionis.

__ADS_1


๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ


__ADS_2