
Qiara dan Faraz benar-benar menepati janji mereka pada Erzhan untuk keluar jalan-jalan sekaligus mencari tahu anak siapa yang bermain dengan si kecil tampan kemarin.
Tidak perlu sampai menyewa orang kepercayaan untuk mencarinya, sebab kedua anak kecil itu justru sengaja datang ke area Playground dengan harapan bisa kembali bertemu Erzhan.
Si kecil yang kini memiliki teman baru untuk bermain bersamanya di biarkan melakukan apa saja yang ia mau dengan catatan jangan sampai menyakiti satu sama lain jika sedang bermain.
Adapun Qiara sengaja menjauh ke tempat ice cream bersama Faraz serta dua wanita cantik yang merupakan ibu kandung dari kedua anak tersebut.
Kedua wanita itu awalnya tidak menyetujui keinginan anak-anak mereka untuk kembali ke Mall dengan alasan bermain saja.
Tetapi, menyadari ada raut wajah sedih dan kecewa. Mau tidak mau dan harus mau akhirnya pasangan kakak adik kandung tersebut setuju, meski rasanya mustahil jika harapan anak-anak mereka bisa terwujud.
"Aku ngga nyangka, pertemuan kedua kita di Mall yang sama." Ucap Qiara terkekeh pelan
"Iya. Sebelumnya saya mau ngucapin makasih, karena waktu itu berkat kamu putraku ngga rewel pas pulang ke rumah." Sahut wanita cantik bernama Andita seraya tersenyum
Tidak banyak yang mereka bicarakan, sebab Faraz langsung mengajak Qiara pergi ke toko perhiasan membeli hadiah untuk Nyonya Ayshila.
.
.
Di toko perhiasan milik Nyonya besar Bramantya, tampak Qiara memilih beberapa model kalung dan gelang untuk Mami Ayshila kesayangannya.
Dia yang merasa bingung mau ambil yang mana, akhirnya meminta Faraz pilih salah satu.
"Hey, Tuan angkuh. Coba lihat, bagusan mana. Yang ini atau yang ini?" tanya Qiara sembari memperlihatkan dua model gelang dengan ukiran indah kearah Faraz.
Pria tampan itu mengamati kedua gelang itu secara bergantian dengan raut wajah serius.
"Dua-duanya bagus, sayang." Jawabnya tersenyum kecil
"Eits. Ngga boleh marah," sambung Faraz menyadari gadis itu hendak protes karena panggilan sayang darinya.
Qiara tidak suka di panggil seperti itu jika berada di tempat umum seperti sekarang.
Bukan dia tidak menyukainya, hanya saja terlalu cepat menurutnya bagi Faraz untuk mengekspresikan perasaannya.
Apa selama bersama Sandra, tidak pernah sekalipun ia memanggilnya dengan sebutan sayang?
Qiara berbicara dalam hati.
Banyak sekali pertanyaan yang ingin gadis itu dengar jawabannya dari mulut Faraz, tetapi dengan sadar diri semuanya di pendam Qiara agar kelak tidak ada yang merasa tersakiti.
Sekitar dua puluh menit berlalu, akhirnya membeli beberapa hadiah untuk Mami Ayshila dan Neta selesai dengan Faraz yang membayar semua barang belanjaan milik Qiara, tanpa banyak protes sekalian gadis cantik itu meminta calon suaminya tersebut membawa semuanya ke mobil.
Faraz dengan sabar mengikuti semua keinginan Qiara tanpa protes apalagi kesal, sebab itulah yang ia sukai dari gadis cantik itu.
Melakukan apa saja yang menurut sang Nona muda Rafindra bahagia, tanpa harus merasa takut atau khawatir mengenai tanggapan orang lain di luar sana.
Semua dalam kendali Faraz, termasuk membungkam setiap orang yang hanya tahu menyebarkan berita tidak benar di media sosial.
.
.
__ADS_1
Mengajak jalan-jalan Erzhan berakhir dengan perginya mereka ke sebuah Restaurant siap saji guna mengisi perut yang mulai terasa lapar.
Qiara memesan beberapa jenis makanan kesukaannya, Erzhan dan juga Faraz. Lengkap dengan minuman serta makanan penutup sepeti biasa.
Tidak sampai lima belas menit, pesanan sudah datang.
Ketiganya langsung menyantap makan siang dengan lahap tanpa tersisa sedikit pun, dengan sesekali di barengi candaan dan obrolan ringan.
Usai makan siang, Faraz kembali mengajak Erzhan dan Qiara menuju toko pakaian anak-anak dan pastinya juga akan ke toko pakaian dewasa untuk membeli pakaiannya dan milik gadis cantik itu sendiri.
Erzhan di minta memilih beberapa jenis pakaian untuk ia kenakan di rumah. Dengan Qiara ikut membantu mencarikan ukuran yang pas dan cocok juga nyaman di pakai sehari-hari.
Melihat kedekatan sang putra kesayangan dengan calon istrinya tersebut. Seketika Faraz menyunggingkan senyum bahagia dengan tatapan haru.
"Jika dulu dia sengaja mendekatiku dengan alasan cinta dan rela hidup di bawah tekanan sampai hadirnya Erzhan membawa kebahagiaan dalam hidupku. Justru kamu hadir sebagai sosok yang bukan hanya membawa rasa nyaman dan aman. Tetapi kasih sayang dan perhatian yang belum pernah Erzhan rasakan, sekaligus menjadi alasanku berusaha tetap bertahan di kala hati dan pikiran ku terasa kosong."
Faraz tidak sadar perkataannya barusan nyatanya di dengar Qiara yang langsung tersenyum geli.
"Mommy kenapa?" tanya Erzhan menatap bingung kearah Qiara juga Daddy nya.
"Daddy lagi baca puisi loh, Bang." Kekeh gadis cantik itu membuat Faraz langsung menatapnya tajam
Erzhan yang memang bingung, beralih menatap Daddy nya guna meminta penjelasan.
"Daddy emang ada baca puisi apa?" tanyanya penasaran.
"Ngga ada apa-apa, Bang. Justru Mommy tuh yang rese," kesal Faraz masih dengan tatapan mata tajamnya pada Qiara.
"Kok aku? Bukannya tadi ada yang lagi ngomong apa ya, duh aku lupa."
"Pengen banget deh, aku cium." Tawanya langsung pecah melihat Faraz semakin salah tingkah di buatnya
"Heh. Jangan macam-macam," protes pria tampan itu sejujurnya merasa jantungnya ingin keluar dari tempatnya.
Andai saja mereka sudah halal, bisa di pastikan Faraz akan melakukan apapun yang ia mau pada Qiara saking gemasnya.
"Belum halal, Tuan Handsome." Ledek putri kesayangan Tuan besar Rafindra tersebut ketika menyadari tatapan lain Faraz
"Awas saja kalau sudah halal, lihat saja nanti." Gemas pria itu tersenyum penuh arti
Qiara langsung bergidik ngeri, dia bahkan tidak berani membayangkan hukuman apa yang akan Faraz berikan padanya.
Otak jangan sampai jalan kemana-mana, takut nyasar ngga bisa normal lagi. Rutuknya dalam hati
.
.
Hari mulai gelap, membuat Faraz dan Qiara segera menyudahi perdebatan. Mereka harus pulang sebelum malam tiba.
Rasanya belum puas. Tetapi, orang rumah terus menghubungi Faraz dan memintanya agar cepat mengantar Qiara pulang ke kediaman Rafindra.
Kebetulan malam nanti, akan di adakan pesta perayaan ulang tahun gadis cantik itu yang menginjak usia 19 tahun.
Sepanjang perjalanan pulang, hanya Qiara yang menemani Faraz mengobrol. Sebab Erzhan nyatanya tertidur pulas di kursi belakang penumpang.
__ADS_1
"Makasih untuk semuanya," ucap Faraz mengagetkan gadis cantik yang duduk tepat di sampingnya tersebut.
"Tidak perlu berterima kasih, lagian semuanya di luar kendali kita." Balas Qiara sembari tersenyum manis
"Aku tahu, hanya saja aku tidak menyangka akan begini akhirnya." Lirih pria itu dengan pandangan lurus ke depan jalan raya
"Jangankan kamu, semua yang terjadi padaku justru di luar pemikiran ku selama ini."
Qiara mengusap pelan lengan kiri Faraz dengan perasaan sulit di artikan.
"Aku belum pernah jatuh cinta apalagi pacaran, tidak sekalipun memikirkan akan menikah muda apalagi sampai dapatnya justru suami orang. Aneh kan?" kekehnya merasa lucu dengan takdir hidupnya.
"Parahnya, itu suami dari sahabat ku sendiri loh." Gumam Qiara lirih
"Tidak ada yang salah dengan hubungan kita, Ok?" bantah Faraz sedikit kurang suka.
Ia sampai menepikan mobilnya di pinggir jalan.
"Kamu bukan orang ketiga, dan dia sendiri yang memutuskan akan seperti apa hasil akhirnya."
"Seharusnya kamu tahu itu bukan?" tanya Faraz menatap intens wajah cantik alami gadis itu.
Qiara masih terdiam dengan kedua mata tertutup rapat.
"Hey, lihat aku!" pinta Faraz.
Di angkatnya dagu Mommy kesayangan putranya tersebut menggunakan jari telunjuk.
Ada perasaan sulit di ungkapkan ketika pandangan mereka saling bertemu.
"Beri aku kesempatan untuk membuktikan semuanya," mohon Faraz menatap sendu Qiara.
"Aku harap status baru yang nantinya tersemat di belakang namaku tidak akan membuat mu malu dan pergi menjauh dari kami."
"Ijinkan aku menjadi pria pertama dan terakhir dalam hidupmu, meski aku sadar bukan kamu lah wanita pertama dalam hidupku."
"Kamu datang tanpa aku memohon pada Tuhan untuk mencari penggantinya, karena aku tahu rasanya terlalu sakit."
Kedua mata Faraz sudah berkaca-kaca, siap mengeluarkan cairan bening.
Qiara yang sadar langsung mengusap ujung mata pria tampan itu, rasa sakit di hatinya bukan karena takdir yang ada.
Justru Qiara merasa semuanya terjadi begitu cepat, terlebih sekarang mereka sudah bertunangan.
"Dia mungkin istri pertama mu yang gagal menjadi pendamping sekaligus ibu yang baik karena sebuah keadaan yang memaksanya bersikap egois."
"Dan aku yang kelak akan menjadi istri keduamu, tentu berharap menjadi sosok ibu sekaligus pendamping yang pantas untuk kalian berdua."
"Tapi, semua kembali lagi pada takdir yang menjadi penentu." Ucap Qiara lirih
Perkataannya gadis itu membuat Faraz rasanya ingin memeluknya erat, tetapi sadar akan batasan di antara mereka.
"Maukah kamu bersabar menungguku sampai lima bulan ke depan?"
๐๐๐๐๐
__ADS_1