
Qiara terbangun dari tidur nyenyaknya kala merasakan usapan lembut di punggung dan ciuman di pucuk kepalanya.
Awal pagi yang sangat mendebarkan, ketika matanya bertemu tatap dengan kedua mata Faraz yang tersenyum hangat.
"Morning, sayang." Sapa pria tampan itu dengan suara serak khas orang bangun tidur
Qiara menatapnya tanpa berkedip, mungkin belum terbiasa dengan suasana baru di awal pernikahan mereka.
CUP
Sebuah kecupan mendarat sempurna di kening gadis cantik itu yang mulutnya masih terkunci rapat.
Bahkan detakan jantung Qiara bisa di dengar oleh Faraz, membuat ide jahil seketika muncul di otaknya yang sudah lama tidak lagi mengganggu gadis itu.
Perlahan jemari tangan Faraz menyusuri setiap inci wajah cantik alami istrinya yang kelihatan mulai panik lewat sorot matanya yang membesar.
"Mau ngapain?" tanya Qiara waspada dengan kedua tangan menahan dada bidang suaminya tersebut
Dia benar-benar panik dan takut akan sesuatu yang bisa saja Faraz lakukan tanpa ijin.
"Hey, Tuan angkuh." Kesalnya yang sedetik kemudian di buat kaget manakala telapak tangan kanan Faraz yang besar dan lebar sudah berada tepat di bagian tengkuknya
"Kamu, Hmpt .."
Kedua bola mata Qiara membulat sempurna merasakan sesuatu menempel di bibirnya.
Faraz dengan berani mencuri ciuman pertamanya di saat hatinya masihlah abu-abu dan bingung antara sudah memiliki perasaan cinta yang seutuhnya pada suaminya tersebut atau belum, hanya karena masih terbayang wajah sedih seorang wanita cantik yang tidak lain adalah sahabatnya sekaligus mantan istri dari pria tampan itu.
Bukan Qiara bersikap egois, sejauh ini hatinya masih menyimpan banyak keraguan. Meski telah timbul rasa nyaman dan sayang, bukan berarti semudah itu mengungkapkan perasaannya yang belum pasti sudah cinta atau baru akan timbul rasa itu dalam hatinya.
Aku bahkan tidak di beri kesempatan untuk memikirkan semuanya.
Qiara menjerit dalam hati.
Ci-uman yang hanya saling menempelkan bibir tanpa adanya reaksi lebih dari pasangan pengantin baru tersebut, berakhir setelah Qiara menjauh dengan paksa seraya menatap tajam kearah Faraz yang tertawa.
"Kamu ..." geramnya ingin sekali mencakar wajah menyebalkan suaminya tersebut.
"Astaga, ciuman pertama ku di ambil secara paksa."
Qiara menjerit tidak terima akan perbuatan Faraz beberapa menit yang lalu.
Baru kali ini jantungnya serasa ingin melompat keluar dari tempatnya, saking merasa frustasi dengan apa yang belum lama terjadi.
Sementara pelaku yang berani mencuri ciuman pertama, tanpa meminta ijin lebih dulu. Hanya tertawa tanpa dosa, sembari menatap intens kearah istrinya yang begitu cantik dan menggemaskan bila sedang merajuk.
"Aku kesal padamu," teriak Qiara segera bangkit dari tempat tidur berlalu masuk ke dalam kamar mandi.
Brakk
Faraz tersentak kaget mendengar suara pintu yang sengaja di tutup lumayan kuat oleh istrinya.
__ADS_1
"Jangan galak-galak sayang, entar kualat loh." Kekehnya begitu senang menggoda putri kesayangan Tuan besar Rafindra tersebut
"Aku membenciumu!"
Pria itu hampir saja terjatuh dari atas ranjang, ketika suara nyaring Qiara menggema dari arah kamar mandi.
"Hey, tidak baik menaruh kebencian terhadap suamimu ini." Kesalnya dengan cepat melangkah kearah kamar mandi yang pintunya terkunci
"Qia, buka pintunya!"
Faraz tidak akan pernah terima mendengar kata benci keluar dari mulut istrinya itu.
Hatinya sakit walau sebenarnya ia jelas tahu Qiara hanya bercanda.
.
.
Di dalam kamar mandi, Qiara merutuki kebodohannya sendiri yang berani mengeluarkan kata paling di benci oleh Faraz.
"Duh, kenapa juga nih mulut ngga ada sopan-sopannya kalau lagi kesal." Paniknya antara merasa bersalah dan bingung harus bagaimana menenangkan suaminya itu
Hampir sepuluh menit lamanya, pintu di ketuk Faraz lumayan kuat. Berharap Qiara segera keluar dan berhadapan langsung dengannya.
Ceklek
Belum sempat pria itu mengeluarkan protes, nyatanya Faraz di buat syok dengan tindakan Qiara yang begitu nekat menciumnya tepat di area bibir.
"Kamu--, hmmpt."
Dia merasa tindakannya sekarang begitu memalukan, hanya demi menghindari amukan Faraz sampai berbuat hal yang sendiri pun masih terlalu polos untuk melakukannya.
Kan, tadi dia juga cium aku kayak gini. Berarti aku ngga salah dong.
Qiara tidak tahu harus bagaimana lagi, yang jelas dia ingin menghindari Faraz secepatnya.
Melihat suaminya itu mulai tenang, dalam hitungan ketiga langsung berlari keluar dari kamar, meninggalkan Faraz yang menatap tercengang kearah pintu.
"Aku mau ketemu Mami dan Papi dulu ya," teriak Qiara dari luar kamar hendak masuk ke dalam lift.
"Ya Tuhan, apa yang sudah aku lakukan?" pekiknya setelah berhasil lolos dari amukan Faraz.
Qiara benar-benar syok, tidak berani sekedar menatap kedua mata tajam suaminya walau sesaat.
Tring
Sampai di lantai bawah, gadis itu langsung menuju ruang makan.
Dimana semua anggota keluarga sudah berkumpul, hanya tinggal menunggu kehadiran pasangan pengantin baru yang nyatanya hanya ada Qiara tanpa membawa serta Faraz bersamanya.
Semua menatap keheranan gadis itu, seolah meminta penjelasan.
__ADS_1
"Faraz masih di kamar, sebentar lagi nyusul." Terang Qiara dengan jantung berdebar takut
Dia takut bagaimana jika Faraz mengatakan kejadian di dalam kamar pada semua anggota keluarganya maupun kedua mertuanya.
Baru di bayangkan saja, membuat Qiara sudah berkeringat dingin.
"Are you okay, Mommy?" tegur Erzhan sedikit penasaran.
Anak tampan itu sangat hapal tabiat Mommy nya jika sedang tidak baik-baik saja.
Namun. Gelengan kepala dari Qiara menjadi jawaban seakan tidak ada yang perlu di khawatirkan.
"Mommy ngga apa-apa sayang."
Erzhan mengangguk paham, tidak lagi mencari tahu keadaan sang Mommy.
Tidak berselang lama, Faraz muncul dan langsung bergabung di meja makan tanpa menoleh kearah sosok gadis cantik yang menundukkan kepalanya takut.
"Duduk samping aku, Raa!" pinta Faraz dengan tegas membuat Qiara hanya bisa menurut tanpa berani membantah
Semua ikut sarapan dengan tenang, tanpa di barengi obrolan ringan.
.
.
Tiga puluh menit kemudian, semua anggota keluarga mulai di sibukkan dengan kegiatan masing-masing.
Si kembar pamit menuju perusahaan bersama Tuan dan Nyonya besar Rafindra.
Hal serupa di lakukan Neta dan Tara sembari membawa Erzhan pergi bersama mereka, setelah di beri ijin oleh Qiara.
Kini di rumah hanya tersisa pasangan pengantin baru tersebut dengan pikiran masing-masing.
Hampir sepuluh menit keheningan terjadi di antara mereka, saking merasa bingung ingin berbicara apa. Terutama Faraz sendiri, mendadak kaku di hadapan Qiara yang menunduk dalam.
"Jangan ulangi lagi, hmm?" pintanya dengan nada pelan.
"Semarah apapun kamu, jangan pernah ada satu kata itu terucap dari bibirmu. Sungguh, aku tidak menyukainya."
Faraz langsung meraih tubuh langsing Qiara dengan perasaan campur aduk.
"Maaf, aku kelepasan." Lirih sang istri hampir saja menangis jika tidak cepat di tenangkan
"Ssttt, tidak apa-apa."
Faraz mencium pucuk kepala gadis halalnya yang terisak kecil.
"Aku memaklumi semua sikapmu. Tidak masalah jika sekarang di hatimu masih belum yakin padaku, semua butuh proses bukan?"
Qiara hanya diam mendengarkan semua yang Faraz katakan. Dia tidak berani protes apalagi membantah suaminya tersebut.
__ADS_1
Lihatlah Sandra! Bahkan aku yang dulunya sangat membencinya, justru menjadi lemah saat mendengar suaranya yang menyimpan banyak kesedihan.
๐๐๐๐๐