Istri Kedua Sang CEO

Istri Kedua Sang CEO
IKSC Bab 188


__ADS_3

Faraz yang beberapa menit lalu sudah berada di dalam kamar bersama Qiara, nyatanya enggan menceritakan kejadian yang menimpa pria itu karena ulah dari ketiga Tuan muda Rafindra beserta cinta pertama istrinya tersebut.


Masih belum sadar akan kesalahan yang ia lakukan, sebab kepulangannya memang dadakan. Bahkan tidak sempat mengabari orang rumah terutama pada Qiara.


Sungguh nasib sial menimpa Faraz yang sejujurnya teramat lelah akibat harus menyelesaikan pekerjaannya selama berada di luar kota, tetapi belum sempat melihat wajah istrinya yang sangat ia rindukan justru lebih dulu mendapatkan hukuman dari orang rumah.


Dalam hati pria itu mengumpat kesal pada ke empat pria tampan kesayangan Qiara, akan ia balas perbuatan mereka suatu hari nanti. Tidak peduli jika niat buruknya sampai di ketahui oleh wanita halal kesayangannya tersebut.


Kini Qiara duduk tepat di samping suaminya itu dengan perasaan campur aduk, antara ingin marah dan juga kasihan melihat beberapa bagian tubuh Faraz terdapat luka lebam dan memerah.


"Siapa yang udah mukul Daddy sampai kayak gini?" tanyanya begitu khawatir mendapati suaminya dalam keadaan tidak baik.


"Aku marah dan kesal, tapi ngga pernah menginginkan hal buruk terjadi pada Daddy."


Wanita itu memang tidak tahu apa-apa, termasuk adanya keributan di lantai bawah.


Dan Faraz yang mengerti kemana arah pertanyaan istrinya tersebut, bukannya memberi jawaban atau penjelasan. Ia justru memilih tidur dengan menjadikan kaki Qiara sebagai bantal, tidak lupa mengusap penuh rasa sayang dan rindu perut buncit wanita halalnya itu seakan mengatakan jika ia hanya butuh istirahat sebentar.


Cukup mengetahui Qiara baik-baik saja, hati pria itu sudah lega. Walau pada kenyataannya ada perasaan yang mengganjal ikut mengusik pikirannya, namun sebisa mungkin di tepisnya jauh.


"Aku tidur sebentar boleh ya?" pintanya dengan suara pelan yang hanya di jawab deheman dari sang istri tercinta.


Qiara tahu ada yang tengah di sembunyikan suaminya, tetapi dia memilih diam dan menunggu sampai Faraz sendiri yang menceritakannya nanti.


Mengingat akhir-akhir ini mudah lelah dan sering kali tertidur, pada akhirnya dia pun ikut terlelap bersama sang suami dalam posisi duduk bersandar di punggung sofa.


.


.


Menjelang waktu makan malam, pasangan suami istri tersebut baru bangun.


Sudah ada Erzhan duduk santai di antara mereka dengan mimik wajah yang di tekuk, karena merajuk tidak mendapatkan ijin tidur bersama Daddy dan Mommynya.


"Abang kan, udah besar." Gemas Faraz masih tetap pada keputusannya menolak keinginan sang putra yang meminta untuk tidur bersama mereka


"Lagian kasihan perut Mommy udah besar, Bang. Kalau nanti kena kaki Abang gimana?" imbuhnya.

__ADS_1


Pria itu bukannya tidak sayang pada putranya tersebut, hanya saja ia belum merasa puas berduaan dengan Qiara.


Selama berada di luar kota, terbilang hampir tidak sempat ia menghubungi sang istri tercinta demi bisa cepat-cepat pulang ke rumah.


Itu sebabnya, Faraz ikut melupakan ponselnya lupa di cek daya baterainya saking begitu serius menyelesaikan pekerjaannya dan mengakibatkan ia berakhir menerima hukuman tanpa di beri tahu kesalahannya lebih dulu.


Erzhan hanya diam sembari menatap sendu ke arah Qiara yang ikut terdiam mendengar perkataan Faraz.


Jujur saja, anak tampan itu sangat merindukan sang Daddy. Namun, apa daya pria itu menolaknya dengan alasan yang sebetulnya hanya kebohongan semata.


Qiara mengusap sayang wajah putra sambungnya tersebut, sembari mengatakan jika besok mereka akan ikut bersama dengan Faraz sekalian jalan-jalan ke taman kota.


Beruntungnya Erzhan sangat mudah di rayu, terbukti anak tampan itu sudah berpindah di gendongan Faraz sembari tertawa.


Mereka langsung turun ke lantai bawah untuk makan malam bersama dengan anggota keluarga yang lainnya.


Selama makan malam berlangsung, hanya di selingi obrolan ringan seputar kegiatan masing-masing. Bahkan usai mengisi perut, tidak ada lagi kegiatan yang mereka lakukan.


Semua kembali masuk ke kamar masing-masing, termasuk Qiara. Sementara Faraz masih setia menemani Erzhan di ruang tengah samping kamar, keduanya tampak asyik sendiri menceritakan kegiatan apa saja yang sudah di lewati selama dua hari kemarin.


Tepat jam sembilan malam, Faraz membawa masuk sang putra yang terlelap usai meluapkan rasa rindunya yang memang tidak pernah di perlihatkan pada Qiara.


Ceklek


Mendengar pintu di buka perlahan dari luar, sontak Qiara mengalihkan fokusnya yang semula tengah asyik membaca sebuah novel.


Senyum manis menghias di wajah cantiknya yang begitu merindukan sosok tampan penghuni hatinya tersebut.


"Abang udah tidur?" tanyanya setelah memberikan ciuman singkat di bibir suaminya yang duduk bersandar di kepala ranjang.


"Hmm. Untung ngga sampai ngamuk," jawab Faraz di barengi kekehan kecil.


Mereka kembali berciuman demi meluapkan rasa rindu karena terpisah selama beberapa hari. Tidak ada ciuman yang menuntut atau melakukan sesuatu yang lebih, hanya sebatas mengutarakan perasaan masing-masing betapa besar cinta yang mereka miliki.


Malam itu, Faraz tidur sembari memeluk sayang Qiara dari arah belakang. Tidak mungkin tidur saling berhadapan apalagi perut istrinya semakin besar seiring berjalannya waktu.


"Maaf," bisik pria itu pelan di telinga Qiara.

__ADS_1


Ia tahu jika istrinya masih bangun dan menunggu penjelasan darinya, perihal tidak memberi kabar dari semalam hingga tiba di rumah.


"Aku tidak sempat membuka ponsel saat bersiap pulang kemari, makanya semua pesan dan panggilan dari Mommy belum aku buka." Jelasnya penuh hati-hati


Ada perasaan bersalah mengusik hati pria itu karena sudah membuat istrinya bersedih.


"Daddy pasti lelah kan?" sahut Qiara tanpa menoleh ke arah belakang.


"Masih ada hari esok, jangan memaksakan diri menjelaskan semuanya. Aku tidak sejahat itu, Dad."


"Tapi--,"


"Lebih baik kita tidur, ok?"


Qiara tidak ingin ada perdebatan di antara mereka, terlebih dia tahu kondisi fisik suaminya tersebut dalam keadaan lelah dan membutuhkan banyak istirahat.


Mengesampingkan sisi egoisnya jauh lebih baik, dari pada nantinya Faraz merasa kurang nyaman dan semakin bersalah karena hal sepele yang bisa di bilang masih boleh di bicarakan.


.


.


Sesuai janji Faraz pada Qiara dan Erzhan semalam. Dimana pasangan ibu dan anak itu akan ikut bersamanya ke perusahaan usai sarapan.


Dan di sinilah mereka sekarang, duduk santai di dalam ruangan milik pria itu dengan berbagai macam cemilan dan minuman.


Faraz sengaja meminta Sekertaris Delia untuk menyiapkan kebutuhan istri dan anaknya sebelum mereka tiba di kantor.


"Daddy ikut rapat dulu ya, nanti Abang jagain Mommy. Ok?" pesannya pada sang putra yang mengangguk paham.


Sebelum keluar dari ruangan, Faraz menghampiri Qiara yang merentangkan kedua tangannya minta di peluk.


"Ngga apa-apa kan, aku tinggal?" tanyanya lembut sembari mencium sayang seluruh bagian wajah istrinya tersebut.


"Daddy udah ihh, geli." Kekeh Qiara merasa geli sendiri karena tertusuk rambut halus yang menghiasi area dagu suaminya itu


Faraz belum sempat mencukurnya, tidak heran jika Qiara langsung mengeluarkan kalimat tanda protes saking kesalnya melihat pria itu seperti Papinya.

__ADS_1


"Iya, Mommy. Janji besok aku udah ganteng lagi. Ok?"


๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ


__ADS_2