
Faraz yang sudah berada di dalam ruangan bersalin, seketika langsung hilang rasa sakitnya melihat Qiara seperti menahan kesakitan menjelang kelahiran anak mereka.
Ada perasaan sulit di artikan melihat istrinya tengah berjuang menahan segala rasa sakit demi melahirkan sang buah hati ke dunia.
Salah satu tangannya kini menggenggam erat tangan wanita halalnya itu, sementara satu tangan lainnya mengusap sayang bagian kepala lalu turun ke wajah yang tampak mengeluarkan keringat.
"Mom," panggilnya lumayan pelan.
Faraz tidak bisa menyembunyikan ekpresi wajahnya yang tegang, apalagi ini kali pertama ia mendampingi seorang wanita yang akan melahirkan, meski kenyataannya dulu ia pernah memiliki istri yang sekarang tinggal jadi masa lalu.
Di pernikahannya yang kedua, banyak yang berubah. Sangat jauh berbeda sewaktu mantan istri pertamanya dulu ketika melahirkan Erzhan, kali ini Faraz berperan aktif sebagai suami yang bertanggung jawab. Karena rasa cintanya jauh lebih besar terhadap Qiara.
Wanita cantik itu hanya menoleh tanpa suara, rasanya begitu sulit di ungkapkan. Sebab, ini pengalaman pertamanya akan menjadi seorang ibu di usia yang terbilang masih sangat muda.
Dalam hati Qiara terus mengucap doa agar persalinannya berjalan dengan lancar tanpa hambatan, dia ingin melihat bagaimana rupa malaikat kecilnya yang begitu di nantikan oleh semua anggota keluarga terutama suaminya sendiri.
"Daddy jagan nangis ih, jelek tahu." Qiara tertawa pelan mendapati kedua mata Faraz nyatanya sudah mengeluarkan cairan bening tanpa suara
"Harusnya aku yang nangis, kenapa malah jadi Daddy yang cengeng sih." Kekehnya masih berusaha menghilangkan perasaan khawatir dan panik suaminya tersebut
Qiara tahu sekarang ini pria tampan kesayangannya itu tidak baik-baik saja, jelas terlihat dari sorot matanya yang sendu.
"Mommy pasti bisa, kita berjuang sama-sama. Hmm?" bisik Faraz lirih tepat di telinga istri tercintanya itu.
"Ngga apa-apa, mau cakar aku atau apapun itu. Mommy harus kuat, aku nya lemas tahu."
Faraz bingung mengungkapkan seperti apa perasaannya sekarang, belum lagi semua yang ada di dalam ruangan tampak sibuk melakukan tugas mereka.
__ADS_1
Qiara hanya mengangguk paham sebagai jawaban, dia benar-benar menikmati proses melahirkan yang dulu pernah di rasakan sang Mami tercinta.
Keberadaan malaikat tak bersayapnya tersebut sangat di butuhkan, karena Qiara tidak sanggup jika hanya ada Faraz yang menaminya.
Beruntung Dokter mengijinkan Nyonya Ayshila ikut masuk ke dalam ruangan bersalin, wanita itu banyak membisikkan kalimat penguat serta doa agar putrinya tidak panik dan khawatir.
"Cantiknya Mami pasti kuat." Bisiknya seraya mencium kening sang putri tercinta
Sementara Faraz hanya diam sembari berdoa dalam hati untuk keselamatan istri dan calon anak mereka, pria itu berjanji setelah ini tidak akan ada lagi menambah anak atau apapun itu.
Melihat Qiara tengah berjuang melahirkan keturunannya saja rasanya Faraz kesulitan sekedar mengatur detak jantungnya yang semakin kuat.
Aku janji ngga akan buat kamu hamil lagi.
Pria itu berbicara dalam hati, tidak sanggup menyaksikan betapa besarnya pengorbanan seorang wanita.
Bukan hanya satu, melainkan tiga bayi mungil yang cantik juga tampan sudah berada di gendongan perawat.
Qiara hanya bisa menangis penuh haru, tidak pernah dia bayangkan akan melahirkan bayi kembar dengan BB yang normal dan sehat.
Jangan tanyakan bagaimana reaksi Faraz ketika mengetahui istrinya melahirkan lebih dari satu bayi, karena ia pun memang sengaja tidak ingin tahu apa jenis kelamin buah hati mereka tersebut.
"Saingan Abang ada dua," kekeh Nyonya Ayshila mana kala ikut menggendong salah satu pangeran kecil yang wajahnya begitu mirip dengan Faraz.
"Aku ngga kebagian apa-apa, Mih." Protes Qiara menyadari ketiga buah hatinya justru tidak ada yang mirip dengannya karena semua jelas mirip suami tercinta
Semua yang ada dalam ruangan sontak tertawa, melihat wanita itu merenggut kesal di tengah rasa lemah dan menahan sakit usai melahirkan.
__ADS_1
Tidak dengan Faraz yang memilih untuk keluar lebih dulu dari ruangan, demi menormalkan detak jantungnya saking merasa sangat bahagia.
Begitu lah sikap pria tampan itu, tidak pandai dalam mengekspresikan dirinya sendiri. Tetapi, Qiara justru sangat mencintainya walau tidak romantis dan kaku.
.
.
Ketiga bayi kembar itu langsung di bawa oleh perawat untuk di bersihkan.
Sementara Qiara sudah di pindahkan ke ruangan yang lebih luas serta nyaman, agar memudahkan anggota keluarga datang berkunjung.
Hari itu, semua tampak ikut merasakan kebahagiaan atas kehadiran si kembar.
Baik Faraz maupun Qiara hanya bisa menjadi penonton saat para malaikat kecil mereka jadi bahan rebutan semua anggota keluarga.
"Aku mencintaimu, Mom." Bisik pria itu pelan seraya mencium kening istrinya berulang kali
"Terima kasih untuk segalanya, aku sangat bahagia dan bersyukur memiliki kamu." Imbuhnya
Qiara tersenyum manis, dia tahu suami tampannya itu masih belum percaya sudah menjadi seorang ayah dari ketiga bayi kembar yang begitu mirip dengan pria tersebut.
"Kenapa?" tanya Faraz menatap intens kedua mata istrinya yang mendadak diam.
"Pasti Mommy lagi mikirin, kenapa bisa mereka semua lebih mirip aku kan?" tebaknya asal di barengi kekehan.
"Hmm, aku cuma kebagian menjaga mereka dalam kandungan ajah."
__ADS_1
๐๐๐๐๐