
Faraz menangis harus kala benda kecil yang merupakan alat tes kehamilan milik Qiara menunjukkan garis dua, tidak ada yang bisa mengekspresikan rasa bahagianya saat ini. Hadiah dari sang istri jauh lebih istimewa dan berharga dari apapun itu, keinginannya untuk memiliki anak sudah di kabulkan oleh sang Pencipta.
Tuhan, rasa bahagia ku hanya Engkau lah yang paling tahu.
Pria itu belum menyadari ada Qiara yang berdiri tepat di belakangnya, bahkan saat wanita itu menanyakan hadiahnya sudah ketemu atau belum, sama sekali tidak ia dengar.
Fokusnya masih tertuju pada benda kecil tersebut, membuat Qiara yang semula penasaran justru tersenyum geli mendengar suara isakan kecil yang keluar dari bibir suaminya.
Perlahan wanita itu mendekat kearah pria kesayangannya tersebut, memeluknya dari belakang sembari membisikkan kalimat-kalimat indah.
"Aku mencintaimu, wahai suamiku."
"Terima kasih sudah menjadi pria hebat setelah Papi dan ketiga saudara kembar ku, menjadi tempat paling nyaman untuk aku pulang. Selalu membuatku tersenyum dan bahagia dengan caramu sendiri, aku sangat bersyukur memiliki mu sebagai pendamping hidup ku."
Qiara terdiam sejenak, rasanya terlalu banyak yang ingin dia ungkapkan. Tetapi, waktu berlalu dengan cepat. Membuatnya hanya akan mengatakan apa yang penting dan pastinya memberikan Faraz waktu untuk bicara.
Pria itu masih dalam posisi diam berdiri, tidak berniat membalikkan tubuhnya menghadap sang istri. Justru ia biarkan wanita kesayangannya itu memeluknya semakin erat dan rasanya begitu nyaman.
"Maafkan aku. Maaf jika ada kesalahan yang aku lakukan sempat menyakiti perasaan mu."
"Kamu tahu betul, aku berasal dari keluarga yang selalu memanjakan ku setiap waktu. Kadang emosi ku mudah berubah-ubah tanpa di minta, bisa saja aku dengan atau tanpa sengaja melakukan kesalahan."
"Aku tidak pernah merasakan apa itu pacaran, apalagi sampai dekat dengan pria yang bukan suamiku, yang aku tahu hanya kamu lah satu-satunya pria yang pertama dan terakhir dalam hidupku."
__ADS_1
"Terima kasih, sudah mengajarkan aku tentang cinta. Begitu sabar menemani proses pendewasaan ku, tetap setia membimbing ku agar menjadi seorang ibu sekaligus istri yang baik."
"Aku sangat bahagia, sungguh sangat-sangat bahagia menjadi bagian dari hidupmu dan Abang. Keberadaan kalian sangat berharga, tidak ada yang bisa melukiskan betapa bersyukurnya aku memiliki kalian."
Faraz tersenyum mendengar ungkapan hati wanita halal kesayangannya itu, mengusap sayang lengan sang istri yang masih setia melingkar di perutnya.
Sedangkan Qiara justru semakin mengeratkan pelukannya, rasanya begitu nyaman dan menenangkan.
Memang tidak mudah untuk bisa sampai di titik sekarang ini, berperan penting bukan hanya sebagai istri yang baik, melainkan Qiara harus rela menerima kenyataan jika dia merupakan ibu sambung dari anak hasil pernikahan Faraz dengan mantan istrinya.
Dan berkat dukungan keluarga serta suami tercinta yang selalu meyakinkan Qiara jika semua akan baik-baik saja, akhirnya dia bisa melewati ujian hidup di awal pernikahan.
.
.
Faraz sendiri merasa pernikahan keduanya sangat unik, tidak mencolok layaknya pasangan suami istri yang romantis dengan segala tingkat kebucinannya, selalu ada drama yang menjadi pemicu timbulnya perdebatan kecil dan masih banyak lagi.
Masih terlalu kaku sekedar mengekpresikan kebahagiaan yang mereka rasakan, terkadang monoton jika sudah berada di mode serius. Tetapi, semua masih bisa di kendalikan lewat candaan atau berdiskusi dari hati ke hati.
Qiara melepaskan pelukannya, meminta Faraz agar membalikkan tubuhnya agar lebih nyaman untuk bicara.
"Udah liat hadiahnya?" tanyanya sembari melihat kearah benda kecil yang pria itu genggam.
__ADS_1
"Kelamaan ya nunggunya?" Faraz dengan cepat menggelengkan kepalanya.
"Ngga kok, justru aku yang khawatir Mommy belum siap punya anak."
"Benarkah?"
"Hmm," deheman Faraz seraya menganggukkan kepala.
Jujur saja, ia masih belum percaya jika sekarang di rahim istrinya ada kehidupan yang sudah lama ia harapkan.
Qiara tersenyum manis, tampak jelas raut wajah harunya melihat pria tampan kesayangannya itu sangat bahagia atas hadiah yang dia berikan.
Masih tersisa kebasahan di wajah Faraz akibat terlalu lama menangis, Qiara segera menghapusnya dengan penuh perasaan.
"Daddy bahagia?" tanyanya menatap lekat kedua mata suaminya yang memerah.
"Sangat, ini hadiah yang paling istimewa." Jawab Faraz sembari tersenyum lebar
"Aku bakal jadi seorang Ayah," serunya tanpa sadar mengangkat tubuh langsing Qiara lalu berputar.
Mereka tertawa bersama, meluapkan segala rasa yang sulit di ungkapkan lewat kata-kata.
Malam yang semakin larut, membuat pasangan suami istri tersebut memutuskan untuk tidur karena besok akan ada kejutan lain yang akan Qiara berikan bersama si kecil tampan kesayangan Erzhan.
__ADS_1
๐๐๐๐๐