Istri Kedua Sang CEO

Istri Kedua Sang CEO
MEW BAB 27


__ADS_3

Dirga koma.


Itu adalah dua kata paling menyeramkan yang tidak ingin didengar oleh anggota keluarga. Bagaimana tidak,  setelah menunggu selama beberapa jam, dokter akhirnya keluar dan mengatakan jika Dirga mengalami koma akibat benturan keras yang menghantam tubuhnya.


Informasi yang didapat dari dokter tentu saja membuat Rana sebagai ibu kandung Dirga merasa terpukul. Begitu juga dengan anggota keluarga yang lain, tidak percaya akan berita yang disampaikan.


Mereka cuma berharap semoga Dirga cepat sadar agar bisa berkumpul kembali dengan keluarga.


Rencana untuk pergi ke desa tempat Jillo dan istrinya tinggal pun dibatalkan karena musibah yang terjadi. Jillo yang mendapat kabar jika pamannya mengalami kecelakaan segera bergegas memboyong istri dan anak-anaknya ke kota.  Sebelum pergi, mereka sempat menitipkan rumah pada paman dari pihak mamanya Jillo yang memang sudah menetap sejak 2 tahun yang lalu di samping rumah mereka.


Saat tiba di Jakarta, ke empatnya langsung turun dari travel dan disambut oleh Nia yang kebetulan baru saja pulang dari rumah sakit.


Segera wanita itu mengambil alih Clara dari tangan Chila yang terlihat pucat.


"Chila kenapa, Nak? Kok wajahnya pucat begini?" Sebagai Mami yang baik, Nia cukup perhatian pada menantunya.  Ia menyentuh kening  Chila untuk memastikan kondisi  ibu dua anak itu.


"Aku enggak apa-apa, Mi. Cuma lagi periode bulanan. Makanya perut aku kadang sakit," jawab Chila lirih, sambil menyentuh perutnya.


"Ya udah, sekarang kalian masuk dan istirahat di kamar. Biar Clara dan Carla sama Mami. Nanti mami minta sama Bu Idah untuk buatin jamu pereda nyeri." Nia memberi kode pada satpam untuk membawa koper anak dan menantunya masuk ke dalam rumah.


Saar masuk ke dalam rumah,  Chila langsung dituntun Jillo ke kamarnya di lantai atas. Sementara Nia sendiri segera meminta tolong pada Bu Idah untuk membuat jamu pereda nyeri saat menstruasi. Nia pernah beberapa kali dibuatkan oleh Bu Idah dan cukup manjur sehingga nyeri pada haid tidak dirasakannya lagi.


Wanita itu kemudian membawa kedua cucunya ke kamar kedua anak kembarnya yang saat ini sedang berada di kamar mereka.


Clara dan Carla berusia 1 tahun lebih muda dari anaknya Nia. Ini tandanya cucunya baru berusia 2 tahun sementara  kedua bibinya berusia 3 tahun.


"Carla dan Clara main dulu sama Onty Lana dan Onty Lea, ya. Grandama mau bantu buatin kalian makan siang." 


Memiliki cucu di usia yang sangat mudah cukup membanggakan bagi seorang Arrania. Bagaimana tidak, di saat perempuan berusia 31 tahun seperti dirinya  masih menikmati masa muda, Nia justru sudah menjadi nenek.


Kebetulan anak Jillo dan Chila ini adalah anak penurut yang tidak rewel terhadap orang yang jarang ditemui. Bocah 2 tahun itu cukup akrab langsung bermain dengan kedua bibinya.


Sedangkan ia sendiri membantu Mpok Atun menyiapkan makan siang untuk Chila, Jillo, serta anak-anak. Juga, bekal yang akan ia bawa ke rumah sakit.


Hari ini Bima tidak bekerja dan menunggu Dirga yang masih belum sadarkan diri di rumah sakit. Sejak pagi memang Nia sudah berada di rumah sakit dan pulang menjelang siang karena tahu anak dan menantunya akan datang.


Usai menyiapkan makanan dan bekal, Bu Idah segera memberikan segelas jamu yang baru dibuat pada Nia.


Segera wanita itu melangkah ke lantai 2 dan mengetuk pintu di mana kamar Jillo berada.

__ADS_1


Pintu terbuka dan Nia bisa mendengar  suara tangis Chila dari dalam. Wanita itu tahu meski Chila sudah pernah mengandung dan melahirkan, jiwa menantunya tetap saja masih anak-anak. Perasaan labil masih melekat kuat dalam diri perempuan itu.


"Chila kenapa, Jillo?" Wanita itu menatap anak keduanya dengan tatapan curiga. Takut jika sang anak melakukan sesuatu yang jahat pada istrinya sendiri.


"Chila minta aku usap perutnya, Mi. Udah aku usap, katanya perutnya semakin enggak enak  dan nuduh aku enggak ikhlas bantu dia." Jillo mengangkat bahunya. Ia sudah  biasa menjadi korban tuduhan tak berdasar dari istrinya sendiri. 


Chila selalu saja menuduhnya tidak menyayanginya lagi. Perempuan itu bahkan akan merasa cemburu jika melihat ia berbincang dengan gadis desa tempat mereka tinggal. Lalu, berakhir dengan pertengkaran yang membuat Chila semakin merajuk.


"Oh, ya udah ini kasih minum ke Chila dan letakkan botol ini ke atas perutnya. Nanti juga reda sendiri." Nia melangkah masuk dan meletakkan  tatakan berisi segelas jamu dan juga botol yang diisi dengan air hangat untuk diletakkan di atas perut Chila.


"Terima kasih, Mi. Maaf, merepotkan mami." Jillo tersenyum tidak enak hati karena sudah merepotkan maminya. Meski begitu, ia merasa sangat bersyukur karena wanita yang menjadi maminya adalah wanita baik yang penuh perhatian terhadap keluarga.


"Sama-sama." Nia tersenyum dan menatap Chila yang berusaha untuk mendudukkan dirinya di atas tempat tidur. "Chila, jangan lupa minum obatnya. Biar sakitnya enggak parah."


Chila mengangguk malu. "Terima kasih, Mi," ucapnya lirih.


"Enggak masalah. Kalian harus istirahat. Nanti sore baru kita ke rumah sakit. Anak-anak bakalan Mami jaga."


Setelah itu Nia melangkah keluar dari kamar anaknya, menuruni tangga dan kembali ke kamar di mana ke empat bocah itu berada.


Sore harinya.


Pria itu melirik sang istri yang duduk tenang di sampingnya. "Sayang, mas baru tahu kalau Bu Fatma itu keponakannya Bu Ningrum," lapar Bima terlebih dahulu. Pria itu tidak ingin keterlambatannya memberi informasi pada sang istri akan berujung pada aksi merajuk.


"Bu Fatma siapa? Bu Ningrum juga siapa?" Wanita itu menoleh heran pada suaminya. Jujur saja ia sedikit asing dengan kedua nama itu.


"Bu Fatma itu perempuan yang pernah kamu temui makan siang di restoran bareng Mas. Juga, yang waktu itu ngenalin anaknya ke kita," jelas Bima. "Kalau Bu Ningrum, itu Oma biologisnya Arga."


"Kok mas panggil dua-duanya dengan sebutan 'ibu'?" Nia salah fokus. "Agak aneh dengarnya," komentar wanita itu keluar dari topik.


"Memangnya kamu mau kalau Mas panggil Bu Fatma dengan sebutan 'Dik' biar seimbang begitu?"


"Berani panggil perempuan lain dengan sebutan 'adik' aku kasih obat pencahar perut kamu, Mas," ancam Nia memang tidak main-main.


Mendengar itu spontan saja Bima langsung diam. 


"Jadi, Bu Fatma itu keponakan neneknya Arga? Wow, kebetulan yang sangat mengejutkan," timpal Nia setelah lama terdiam.


"Mas juga baru tahu kemarin." Bima melirik putra dan menantunya yang duduk di belakang. "Jillo dan Chilla, sebentar lagi kalian akan ikut ujian nasional. Papa mau kalian fokus belajar dan setelah itu kalian harus pindah ke sini lagi."

__ADS_1


"Kenapa pindah, Pa? Sudah nyaman tinggal di desa," sahut Jillo pada papanya.


"Tinggal di lingkungan Desa memang baik. Tapi, kalian juga harus pikirkan pendidikan kalian. Papa sudah punya beberapa universitas yang bisa kalian pilih. Nanti papa akan tunjukkan brosur pada kalian."


"Iya, Pa." Jillo mengangguk. Laki-laki yang sudah menjadi bapak  ini memang sangat patuh pada papanya. Tidak heran, ia bahkan tidak protes meski harus dikirim ke desa sekitar 3 tahun yang lalu.


Mobil yang dikendarai Bima akhirnya tiba di pelataran rumah sakit. Mareka serempak turun dari mobil dan masuk rumah sakit menuju kamar di mana Dirga berada.


Dirga berada di ruang VVIP yang terletak di lantai tiga. Jadi, saat mereka akan menuju lantai 3, mereka langsung naik kotak berjalan yang hanya bisa menampung 8 orang. Sampai di lantai 3, mereka masuk ke sebuah kamar berukuran besar  di mana terdapat dua ranjang di dalam ruangan tersebut.


Satu ranjang untuk pasien di mana Dirga terbaring dengan peralatan dokter yang tidak diketahui oleh orang awam.  Sementara ranjang yang lainnya bisa digunakan untuk keluarga pasien agar bisa tidur dan beristirahat selama menunggu pasien.


Di dalam ruangan tidak hanya terdapat dua ranjang, tapi juga set televisi, serta set sofa. Fasilitas yang ada pun dimanfaatkan oleh keluarga yang menunggu.


Nia contohnya yang langsung mengeluarkan selimut dari dalam tas kemudian merebahkan tubuhnya di atas ranjang kosong.


Tadi siang ia tidak sempat untuk tidur karena kesibukannya. Malam ini adalah tugasnya dan sang suami untuk berjaga  di ruang inap Dirga. Sedangkan Jillo dan Chila akan pulang bersama Roy serta Rana.


"Nia sepertinya kelelahan, Bima," ujar Roy pada putranya. Terlihat menantunya langsung tidur setelah meminta izin padanya dan sang istri.


"Iya, Pa. Soalnya tadi siang selain mengurus anak-anak, dia juga mengurus keperluan toko karena rencananya beberapa hari ini toko olshop di rumah bakalan tutup."


Roy mendesah mendengar ucapan putranya. "Maaf ya kalau merepotkan kalian," ucap pria itu pada putranya.


"Enggak apa-apa, Pa. Lagi pula, Dirga adik kami. Sudah sepantasnya kita saling menjaga."


"Nanti malam mama yang akan menjaga anak-anak kamu di rumah. Semoga mereka enggak rewel tanya tentang kalian." Kali ini Rana buka suara. Wanita itu tidak enak hati harus merepotkan menantu dan  anak tirinya untuk menjaga Dirga.


Dirga memang putra sulung dari pernikahan Roy dan Rana. Namun, status Dirga menurut pohon silsilah keluarga adalah anak ketiga. Bagaimana tidak, jika Bima Sanjaya merupakan anak pertama, Sarah Sanjaya anak kedua, Dirga Sanjaya anak ketiga, dan terakhir ada Dera Sanjaya.


Semua nama anak-anaknya memang memiliki nama belakang Sanjaya. Ini merupakan nama  ayah Roy yang ditambahkan ke nama anak-anaknya. Ayah Roy sendiri merupakan penduduk asli pribumi, sementara ibunya wanita berkebangsaan Jerman. Hal inilah yang membuat baik Roy, maupun anak-anaknya memiliki garis wajah orang luar.


"Ada Arga juga di rumah, Ma. Kalau ada Arga, Alana biasanya bakalan anteng." Bima tersenyum membayangkan kedua bayi kembarnya di rumah.


"Iya, mama hampir lupa kalau ada pawangnya si Alana di rumah." 


Roy berbincang dengan Bima tentang kondisi Dirga bersama Jillo yang bertugas sebagai pendengar. Sementara Chila sendiri berbincang dengan santai bersama Rana yang selalu bersikap baik padanya. Hal inilah yang membuat Chila betah berkumpul bersama keluarga suaminya.


Sementara Mami mertuanya sendiri sudah terbang ke alam mimpi. 

__ADS_1


__ADS_2