
Hampir menjelang makan siang, nyatanya Faraz tetap pergi ke perusahaan dengan Qiara ikut bersamanya.
Berulang kali istri cantiknya itu menolak, tetapi Faraz solah tuli dan bersikap tidak mendengarkan setiap perkataan Qiara yang merenggut kesal hingga tiba di perusahaan Bramantya.
Faraz dengan tampang angkuh dan jahilnya menggendong tubuh langsing Qiara, mulai turun dari mobil sampai keduanya memasuki lift khusus petinggi perusahaan, menuju ruang CEO Bramantya Group.
Rasa ngilu di bahu kanan pria itu, seakan tidak di hiraukan. Padahal, Qiara lumayan kuat menggigitnya dengan perasaan jengkel.
Tring
Pintu lift terbuka lebar, sudah ada Sekertaris Delia menunggu kedatangan sang Bos dengan wajah masam penuh kekesalan.
"Bagus Bos, kenapa ngga sekalian ajah libur? Biar aku bebas hancurin ruangan anda," ucap wanita itu mulai keluar tanduk di kepalanya.
Faraz yang tidak biasa terlambat pergi ke perusahaan, mendadak hari ini sukses menyulut emosi Sekertaris Delia.
"Aku bela-belain datang sebelum jam kantor, udah gitu beresin dokumen buat meeting jam 09. Sampai mau sarapan ajah ngga sempat, karena takut ada kendala di pertengahan. Hasilnya apa?"
Sekertaris Delia menatap tajam kearah pasangan suami istri tersebut.
"Bos hilang kabar dari semalam hingga waktu meeting tiba," kesalnya ingin mencakar wajah tampan Faraz yang menyengir tanpa dosa.
"Udah, jangan galak-galak kenapa sih?" kekeh pria itu memilih masuk ke dalam ruangan sembari menggendong Qiara yang tercengang melihat kenekatan wanita cantik di hadapan mereka tersebut.
Sekertaris Delia termasuk satu-satunya kepercayaan Faraz, dalam semua hal dia lah penanggung jawabnya.
Dan melihat sang sekertaris mulai keluar tanduknya, sebagai seorang pemimpin yang patut terhadap peraturan yang sudah di tetapkan.
Faraz akan menjalani hukuman dengan tidak di biarkan keluar dari ruangan sampai jam pulang kantor tiba.
Tentunya akan di awasi oleh Sekertaris Delia hingga waktu yang tidak pasti kapan hukumannya berakhir.
Jangan pernah berharap akan ada waktu sekedar untuk mengganggu si cantik kesayangan Abang Erzhan walau sedetik.
Mengetahui suaminya tengah di hukum oleh wanita cantik dengan pakaian sopan dan rapih tersebut.
Qiara memilih duduk santai di sofa panjang yang tetletak di sudut ruangan, berhadapan langsung dengan jendela.
Suasana di luar tampak ramai kendaraan berlalu lalang memenuhi sepanjang jalan tol, hingga kemacetan terlihat jelas dari atas ruangan milik Faraz.
.
.
.
Hampir dua jam lamanya, hukuman berlangsung dengan Sekertaris Delia tetap mengawasi pergerakan sang Bos.
__ADS_1
Dan sekitar setengah jam berlalu, akhirnya Faraz bisa bernafas lega. Merenggangkan otot-ototnya yang terasa kaku akibat terlalu lama duduk sembari mata fokus menatap ke layar komputer.
"Saya pamit Bos."
Sekertaris Delia keluar dari ruangan menuju lantai paling bawah guna memberikan setumpuk berkas kepada seseorang yang tidak lain adalah Tara.
Jika di tanya, kenapa pria itu tidak langsung naik ke lantai atas? Jawabannya hanya satu.
Ada si kecil Erzhan yang ikut bersamanya tanpa mau di tinggal walau sedetik saja.
Beruntung Tara sangat bisa di andalkan, tidak pernah marah apalagi mengeluh hanya karena anak tampan itu.
Keluarnya Sekertaris Delia, menjadi kesempatan Faraz untuk mengganggu Qiara yang terlihat serius menatap layar ponsel.
Pria itu perlahan mendekat tanpa suara, hanya senyuman penuh arti yang tergambar jelas di raut wajahnya yang angkuh dan dingin setiap kali berhadapan dengan orang lain.
CUP
Pipi kiri istrinya langsung di kecup tanpa permisi.
Membuat Qiara refleks menoleh, dan sialnya kedua bibir mereka justru bersentuhan.
"Wah, bukan aku loh yang cium duluan." Kekeh Faraz dengan tampang jahilnya setelah wajah keduanya berjauhan
"Ish, ganggu orang ajah." Sahut Qiara memilih kembali fokus menonton drama kesukaannya
Mau marah pun tidak ada gunanya. Sebab, Faraz punya banyak alasan yang membuat gadis itu langsung terdiam.
Yang pria itu butuhkan hanya istrirahat sebentar, bukan untuk melakukan sesuatu yang lain.
"Aku ngga akan ngapa-ngapain, Raa." Sambung Faraz yang paham mengenai gelagat Qiara
"Lagian aku mana berani lakuin hal di luar batas, tanpa ijin darimu."
Terdengar Qiara membuang nafas perlahan, seolah menormalkan detak jantungnya yang mendadak tidak normal.
"Ya udah, aku temani." Ucapnya setuju
"Nah gitu dong," kekeh Faraz segera membawa istri cantiknya itu menuju sebuah kamar yang letaknya berada di antara rak buku.
Benda bercat putih tersebut di bukanya perlahan, mempersilahkan Qiara masuk lebih dulu ke dalam kamar.
"Aku kunci pintunya boleh?" tanya Faraz merasa geli sendiri.
Bahkan untuk hal kecil seperti itu pun harus meminta persetujuan dari Qiara.
"Hmm, asal kamu nya ngga macam-macam." Jawab gadis itu tanpa menoleh
__ADS_1
"Macam-macam juga ngga apa-apa, Raa." Goda Faraz membuat kedua bola mata istrinya membulat sempurna
"Ihh, kalau gitu aku keluar ajah." Panik Qiara hendak berlari kearah pintu tapi langkahnya di cegah suaminya
"Mau kemana, Raa?" kekeh Faraz sembari menaik turunkun kedua alisnya bergantian.
"Aku mau keluar, minggir!" sentak Qiara berusaha meraih gagang pintu namun selalu gagal.
"Ngga usah aneh-aneh, Raa. Temani aku tidur," gemas Faraz langsung menganggat tubuh langsing istrinya menuju ranjang.
Jeritan lumayan kuat menggema di seisi kamar.
"Aww, sakit Raa." Ringis pria tampan itu menahan rasa sakit di area yang terkena gigitan Qiara
"Kamu buat jantung aku ngga aman mulu, tahu ngga sih?" pekik gadis itu sembari menahan sesuatu yang menyeruak dalam hatinya.
Faraz selalu bertindak di luar perkiraan, membuat Qiara serasa berada di tengah labirin yang dia buatnya sendiri.
"Udah ya, mending sekarang kita tidur."
Tubuh langsing Qiara di letakkan ke tengah ranjang, dengan Faraz tidur menyamping sembari menghadap kearah istrinya tersebut.
Keduanya saling pandang seraya tersenyum, bahkan rasa lelah Faraz menyeruak hilang entak kemana.
"Kamu kalau lagi takut lucu, Raa." Ucap pria itu pelan dengan satu tangan mengusap lembut pipi kiri istrinya
"Mungkin aku masih terlalu kaku dan bingung mengekspresikan perasaan ku padamu, semua yang aku lakukan nyatanya belum bisa membuatmu nyaman."
Faraz menatap lekat kedua mata Qiara dengan penuh perasaan.
"Rasanya kamu sengaja membatasi jarak di antara kita," lirihnya menahan sesak di dada.
Qiara langsung menggeleng pelan dengan satu tangan menutup rapat mulut pria itu agar berhenti bicara yang tidak-tidak.
"Pikiranmu terlalu jauh, Tuan." cebiknya memutar kedua bola matanya malas
"Aku hanya takut kamu sampai macam-macam, itu ajah ngga lebih."
"Termasuk ciuman yang mendadak," tambahnya.
Qiara bingung harus dengan cara apa mengatakannya.
Perlahan di bawahnya tubuh lemas Faraz agar masuk ke dalam pelukannya, tidak lupa mengusap pelan punggung lebar suaminya tersebut.
"Aku tuh cemburu, tiap lihat kamu berasa lagi natap Sandra melakukan hal itu padamu."
"Kamu memang yang pertama bagiku, tapi aku bukan yang pertama dalam hidupmu. Sebagai wanita, rasa kesal dan cemburu ku pasti ada."
__ADS_1
"Tapi hanya kamu pemilik hati, jiwa dan raga ku sekarang, Raa."
๐๐๐๐๐