Istri Kedua Sang CEO

Istri Kedua Sang CEO
IKSC Bab 152


__ADS_3

Entah apa yang membuat Faraz tidak pernah merasa lelah, mengingat pria itu baru berhenti mengganggu istrinya menjelang subuh.


Gadis cantik yang kini sudah menjadi wanita seutuhnya tersebut hanya bisa pasrah meladeni tingkat kemesyuman suaminya yang lupa waktu, meski Qiara sering kali memohon agar berhenti.


Bukankah sudah aku katakan, malam ini akan menghukum mu.


Satu kalimat yang keluar dari mulut Faraz tanpa bisa di bantah, membuat Qiara serasa ingin menguliti suaminya itu hidup-hidup.


Jam masih menunjukkan pukul 05 pagi, tetapi Qiara justru bangun lebih dulu sembari meringis pelan. Seluruh tubuhnya rasanya remuk dan sakit, terutama di area inti miliknya yang semalaman di bantai habis-habisan suaminya tanpa ampun.


Wkwk, pembunuhan kali ya sampai di bantai, ckck.


"Aww, sshh." Ringis Qiara menahan perih juga ngilu di area sensitifnya yang kemungkinan sedikit lecet dan membengkak


Rasanya begitu sulit sekedar menggerakkan sedikit kakinya untuk turun dari atas ranjang, dimana Faraz masih terlelap dengan nyamannya tanpa merasa terganggu.


"Aku ngga bisa jalan."


Qiara melirik tajam kearah si pelaku yang tampak sudah bangun namun pura-pura tidur hanya karena ingin melihat sejauh mana gadis itu bertahan tanpa meminta bantuan.


Perlahan Qiara berdiri walau sedikit kesulitan, hanya selimut tipis yang menutupi tubuh polosnya sembari melangkah tertatih kearah kamar mandi.


Faraz yang nyatanya sudah bangun sejak menyadari gerakan istrinya tersebut, memang sengaja tidak mengeluarkan suara. Hanya melihat dari atas ranjang bagaimana Qiara melangkah sangat pelan menuju kamar mandi yang pintunya terbuka sedikit.


Cukup lama pria itu memperhatikan istrinya yang kesulitan berjalan sembari menahan diri agar tidak tertawa, hingga terdengar jeritan lumayan kuat dari Qiara seiring tubuhnya yang terjatuh ke lantai berhasil mengagetkan Faraz yang nyaris terjerambab akibat menginjak selimut.


"Mommy," kaget pria itu segera mendekat kearah istrinya yang menangis.


Di gendongnya tubuh polos Qiara masuk ke dalam kamar mandi tanpa mengeluarkan sepata kata pun.


Faraz langsung meletakkan istrinya ke dalam bathup yang berisi air hangat bercampur aroma terapi dan sabun.


"Perih Dad," rengek gadis itu merenggut kesal saking tidak kuatnya menahan rasa nyeri dan ngilu secara bersamaan.


"Maaf sayang, janji malam ini aku ngga akan sentuh Mommy." Faraz merasa bersalah melihat raut wajah kesakitan istrinya


Qiara mendelik tidak percaya, siapa yang bisa menjamin suami mesyumnya itu mampu menahan diri setelah merasakan apa yang kini sudah menjadi candu baginya.

__ADS_1


"Aku serius, Mom." Ucap Faraz kembali meyakinkan jika ia sungguh akan menepati perkataannya


"Maaf, semalam pasti membuat mu kesulitan."


Pria itu menunduk dengan perasaan bersalah, tidak bisa di pungkiri bagaimana semalam ia sulit mengendalikan diri agar berhenti menikmati setiap inci bagian tubuh istrinya yang sangat memabukkan.


"Daddy kenapa harus minta maaf, aku tidak marah. Hanya merasa sedikit perih saja di bagian itu, selebihnya mungkin karena lelah."


Qiara tidak ingin suaminya merasa tidak nyaman hanya karena kejadian semalam.


"Aku mau mandi," bisiknya pelan sembari mengusap kedua pipi Faraz menenangkan.


"Lagi pula, aku suka rasanya."


Qiara tertawa lumayan kuat melihat tatapan mata suaminya karena terkejut.


Sungguh, dia tidak munafik. Pada akhirnya bisa memberikan apa yang seharusnya menjadi hak suaminya itu memang awalnya tidak mudah, tetapi setelah mengetahui seperti apa rasanya mungkin tidak terlalu buruk.


Ini pertama kali bagi Qiara, jadi wajar saja jika rasanya sedikit membuatnya kurang nyaman. Seperti ada sesuatu yang mengganjal di area sensitifnya, namun bukan berarti ia berbuat dosa sampai tega membiarkan suaminya di hantui perasaan bersalah.


"Mommy ngga marah?" tanya Faraz masih tetap pada posisinya yaitu duduk dengan kedua tangan mengusap lembut bagian tubuh istrinya.


"Maaf, aku tidak pandai melakukannya. Itu karena dulu bersama wanita itu--"


Faraz tidak berani meneruskan perkataannya. Terlalu takut bagaimana jika Qiara justru marah dan berakhir mereka bertengkar.


"Lanjutkan! Aku ingin mendengarnya Dad," pinta Qiara.


Sejujurnya dia ikut penasaran seperti apa awal hubungan sahabatnya dulu bersama Faraz terjadi, hingga Erzhan hadir di antara mereka.


"Katakan atau aku ngga akan mau bicara lagi dengan Daddy," ancamnya tidak main-main.


Faraz menggeleng pelan, tidak sanggup jika ia sampai di diamkan istrinya lama-lama.


"Aku mana tahu, Mom. Pas sadar udah ngga pakai apa-apa lagi, terus ada dia tidur di samping aku dengan keadaan yang sama."


"Yang jelas, aku ngga ingat apapun. Hanya tahu sebelum kejadian itu, Mama datang kasih aku minuman."

__ADS_1


"Sumpah Mom, waktu itu aku langsung ketiduran habis minum minuman pemberian Mama. Ada perasaan tidak nyaman juga sih, tapi aku ngga ingat lagi. Pas bangun tahunya udah di kamar bareng dia, mau mengelak pun ada bukti kalau di antara kami jelas melakukan hubungan terlarang."


Faraz jelas takut, bagaimana jika Qiara menjadi benci padanya hanya karena mempertanyakan kejadian masa lalu dengan mantan istrinya.


Hanya membayangkannya saja, ia tidak akan pernah sanggup jika istri cantiknya itu sampai membencinya. Terlebih, melihat Qiara hanya diam saja tanpa mengatakan apapun setelah di jelaskan.


"Aku ngga tahu apa yang kamu pikirkan sekarang, tapi aku berani bersumpah tidak ada lagi hubungan kedua kalinya atau apapun itu setelah kita menikah sampai Erzhan lahir."


"Aku masih pria yang sama, Qia."


"Pria bodoh yang sempat melupakan mu, hanya karena di antara kita sudah terlalu jauh untuk saling mengenal satu sama lain."


"Bahkan kesan pertama di awal pertemuan kita dulu, menganggap kamu gadis nakal yang nekat dengan tingkah usil dan bar-bar mu itu."


"Datang ke rumah ku tanpa mencari tahu siapa aku, mendekati Erzhan dengan status Mommy. Dan, hmmp"


Qiara langsung membungkam bibir suaminya itu dengan ciuman lumayan menuntut.


Saling bertukar sa-livah, men-yesap lembut bibir masing-masing secara bergantian, meluapkan perasaan yang sulit di artikan oleh keduanya.


Qiara melepaskan ciumannya setelah di rasa pasokan oksigen mulai menipis, sungguh dia sangat malu begitu nekat memulai sesuatu dengan spontan.


"Mulai sekarang hanya ada aku dan kamu, tidak ada masa lalu ataupun orang baru yang mungkin saja bisa datang menguji sejauh mana kita bisa bertahan, tidak sampai terbawa arus apalagi berpikiran yang tidak baik."


"Jika dulu bersamanya tidak merasakan apa itu kebahagiaan yang sesungguhnya, maka--"


Qiara menatap intens kedua mata suaminya yang begitu menenangkan, tidak bisa di pungkiri dia mulai jatuh cinta dengan mantan duda anak satu tersebut.


"Aku pastikan bersamaku tidak ada yang namanya penyesalan, kesedihan, rasa sakit apalagi kecewa."


"Akan aku buktikan kalian selalu bahagia dan tersenyum, jauh dari bayang-bayang masa lalu."


Kedua mata Faraz mengeluarkan cairan bening tanpa di minta.


"Aku mencintaimu, Tuan Sarfaraz Rasya Bramantya. Ayah dari anak tampan yang begitu menggemaskan, pendamping hidupku juga Imam ku."


"Tutuplah kisa masa lalu mu dan berjalan lah bersama ku yang merupakan masa depan mu, wahai suamiku yang dulu sangat menyebalkan."

__ADS_1


๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ


__ADS_2