Istri Kedua Sang CEO

Istri Kedua Sang CEO
IKSC Bab 115 ~ Ini Mataku Bukan Matamu


__ADS_3

๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Sandra hanya diam dengan wajah menunduk takut, dia bingung harus menjawab apa pada Faraz yang meminta sebuah penjelasan.


Niat hati ingin menyusul Qiara, namun apa daya malah ketahuan alasan mengapa wanita itu melarang Faraz pergi ke arah dapur.


"Jangan galak-galak bisa kan?" protes Qiara tidak suka dengan tatapan penuh intimidasi pria itu seolah ingin menelan Sandra hidup-hidup.


"Kamu haus kan?" tanyanya lagi hendak mengalihkan perhatian Faraz.


Qiara menuju dapur lalu menuangkan air putih di gelas lumayan besar, dia kembali setelah berhasil menenangkan diri terlebih dahulu.


"Nih, minum dulu!"


Faraz langsung meminum air yang gadis itu berikan.


"Terima kasih," ucapnya tersenyum tipis.


"Balik ke ruang tamu dulu, ok?" pinta Qiara menjadi penengah.


"Hmm." Deheman Faraz mengiyakan


Kembalinya Faraz lebih dulu ke ruang tamu, menjadi kesempatan Qiara untuk menenangkan Sandra yang terdiam kaku.


Gadis itu merasa bersalah dan sangat menyesal, andai rasa penasarannya bisa dia tahan.


"Maafin aku, Raa." Ujarnya lirih dengan perasaan campur aduk


"Udah ngga apa-apa, mungkin aku terlalu khawatir." Sahut wanita cantik itu berusaha tenang


Biarlah Faraz menilai sesuka hati, yang jelas tidak lama lagi semua foto di ruang tengah akan Sandra hilangkan tanpa ada yang tersisa.


"Ya udah, kita balik ke ruang tamu lagi. Yuk," ajak Qiara seraya menggandeng lengan sahabatnya yang tertawa.


"Kamu tuh baik banget loh, Raa."


"Masa?" kekeh Sandra merasa lucu.


"Iya, buktinya sampai detik ini hubungan persahabatan kita masih bertahan. Walaupun sebelumnya pernah bertengkar sih," sahut Qiara yang tergelak menahan geli di bagian perut yang Sandra mainkan.


Kebiasaan wanita cantik itu bila melihat sahabatnya yang menggemaskan, terpaut usia empat tahun lebih tua nyatanya tidak membuat Sandra merasa risih.


.


.


.


Faraz menatap malas ke arah pasangan sahabat tersebut yang baru ada lima menit tiba di ruang tamu dengan satu toples cemilan di bawa Sandra.


"Kenapa lama sekali?" tanyanya kesal.


"Kepo," jawab Qiara sengaja ingin memanas-manasi.


Sandra menggelengkan kepalanya sembari tersenyum.


"Maaf, udah buat kamu nunggu lama." Ujarnya mulai terbiasa dengan situasi yang ada

__ADS_1


"Oh iya. Ucapanku tadi beneran loh," tambah Sandra kembali berbicara serius.


Faraz sejujurnya bingung, tidak yakin apakah wanita di hadapannya itu mengatakan yang sejujurnya.


Apa dia tahu dengan apa yang dia katakan? Tanyanya berbicara dalam hati.


Perkataan Sandra belum sepenuhnya meyakinkan, tidak ada seorang istri yang merelakan suaminya menikah lagi. Terlebih calon istri dari suaminya merupakan sahabatnya sendiri, bukankah terbilang gila?


Akan tetapi, mendengar Sandra kembali mengutarakan maksud hatinya. Membuat Faraz yakin kali ini ia tidak salah dengar, bahkan Qiara sampai menatap sahabatnya dengan raut wajah terkejut.


"Aku mengijinkan mu kembali menikah, Faraz." Ucap Sandra tanpa adanya keraguan dalam hatinya


"Biarkan kedua orang tuaku menjadi urusanku sendiri," imbuhnya.


"Kamu jangan aneh-aneh, Raa." Protes Qiara mendadak perasaannya tidak nyaman


"Aku serius, Qia."


"Tapi ngga gini juga kan?" tanya gadis itu.


Sandra membuang nafas kasar, dia tahu masalahnya pasti akan sangat panjang.


"Gantikan aku merawat Erzhan," pintanya memohon.


"Anak itu tidak bersalah, semua karena sikap egois dan keinginan ku yang terlalu besar membuatnya tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu."


"Tapi kenapa harus aku?" tanya Qiara lirih.


Sandra terdiam sejenak, menahan rasa sesak dalam dadanya yang semakin menyiksa.


Meski nyatanya sudah ada Erzhan di antara dirinya dan Faraz, bukan berarti sebuah perpisahan dapat di hindari.


Sandra menatap lekat wajah Qiara yang basah karena menangis. Dia berusaha tersenyum meski hatinya terluka parah.


"Mungkin aku lah ibu yang telah melahirkannya ke dunia ini, tapi kamu adalah takdir yang Tuhan berikan untuk menjaganya sampai nanti."


"Erzhan sangat butuh perhatian mu, kalian pun sangat cocok satu sama lain bukan? Aku tahu itu."


"Jangan patahkan hatinya yang semakin nyaman di dekat mu, berikan ia kasih sayang dan perhatian yang selama ini belum pernah aku berikan. Pastikan ia merasa nyaman dan tenang selama bersama mu, karena itu yang Erzhan butuhkan."


Qiara menggeleng pelan dengan cairan bening terus membasahi kedua pipinya, bukan ini tujuannya datang kemari.


Mendengarkan apa yang Sandra katakan nyatanya lebih menyakitkan di bandingkan menahan sakit karena sebuah luka sayatan.


"Aku ngga suka, candaan mu terlalu serius tahu ngga?" kekehnya seraya menggelengkan kepala tidak percaya.


"Nyatanya aku tidak bercanda Qiara sayang," gemas Sandra rasanya ingin mencium habis seluruh wajah sahabatnya tersebut.


Tatapannya beralih ke arah Faraz yang memilih duduk diam tanpa berani angkat bicara sekedar protes atau semacamnya.


"Kita udah baikan kan?" tanya Sandra lirih di sertai senyuman sangat manis.


"Aku ngga di benci lagi kayak dulu kan?"


Faraz menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.


"Rasanya sakit banget."

__ADS_1


"Ssht, jangan berkata seperti itu."


Sandra langsung menangis histeris setelah merasakan tubuhnya berada dalam pelukan Faraz untuk pertama kalinya selama mereka menikah.


Rasa cinta yang teramat dalam membuatnya kesulitan menahan diri agar tidak menangis, tetapi menyesal pun sudah terlambat.


Sosok Faraz terlalu berharga dalam hidup Sandra, namun keserakahan dan ketamakan kedua orang tuanya lah menjadi benteng pemisah selama mereka hidup berumah tangga sampai Erzhan lahir.


Tidak ada yang menginginkan sebuah perceraian setelah mengucapkan janji suci di depan penghulu, semua pasangan mengharapkan kehidupan rumah tangga yang hanya maut lah jadi pemisah.


Namun sepertinya tidak berlaku pada pernikahan Faraz dan Sandra yang harus berakhir demi kebaikan bersama.


.


.


.


Hampir satu jam lamanya Sandra di biarkan meluapkan isi hatinya dengan menangis.


Qiara tidak berani ikut campur dan hanya menjadi pendengar sekaligus saksi bisu pasangan suami istri tersebut.


"Aku boleh ikutan ngga?" godanya di sela gelak tawa yang menggema saking lucunya menjadi nyamuk.


Baik Faraz maupun Sandra hanya saling pandang dengan bibir tersenyum, biarkan untuk saat ini saja keduanya melepaskan diri dari setiap rasa yang teramat menyiksa.


"Mau juga dong di peluk," rengek Qiara sengaja mendekat ke arah Faraz yang nyatanya sudah membuka lebar kedua tangannya.


"Ee, masih suami aku loh." Protes Sandra tidak mengijinkan gadis cantik itu mendekat


Faraz tertawa gemas mendapati raut wajah masam istrinya yang cemburu.


Apakah masih pantas di sebut istri? Gumamnya bertanya dalam hati.


Jujur saja, pria itu tidak pernah merasakan apa itu jatuh cinta. Meski kenyatannya sekarang ia sudah menikah dan punya anak.


Berada di dekat Sandra rasanya biasa saja, tetapi jika tengah bersama Qiara justru berbanding terbalik.


Jantung Faraz selalu berdetak kencang setiap kali bertatapan dengan Tuan putri Rafindra tersebut, seakan baru pertama kali merasakan jatuh cinta.


Qiara yang menyadari tatapan mata Faraz lain dari biasanya langsung memalingkan wajah ke arah lain, rasanya mustahil jika dia menyukai suami sahabatnya.


Sepertinya aku sudah gila. Jeritnya dalam hati


Baru kali ini, Faraz menatap Qiara berbeda. Seperti tatapan seorang pria pada sosok wanita yang ia cintai.


"Jaga matamu, Tuan angkuh."


Qiara berbicara menggunakan bahasa isyarat kahawatir jangan sampai di dengar Sandra.


Namun, jawaban Faraz justru membuatnya hampir terjungkal dari tempat duduk.


"Tidak mau, ini mataku bukan matamu."


Sungguh rasanya gadis itu ingin bersembunyi sekarang juga.


๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ

__ADS_1


__ADS_2