Istri Kedua Sang CEO

Istri Kedua Sang CEO
IKSC Bab 112 ~ Bosan Atau Gugup


__ADS_3

๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Mungkin sebagian orang pastinya akan sangat merasa bosan dan jenuh ketika membaca sebuah cerita novel yang alurnya kepanjangan, banyak yang tidak penting ikut di tulis, setiap babnya kurang mengesankan apalagi isinya kadang tidak sesuai dengan keinginan pembaca.


Macam kayak yang nulis, ckck.


Tidak semua penulis memiliki stok ide yang banyak setiap kali menuangkan imajinasinya dalam setiap karya yang dia hasilkan, berusaha membuat jalan ceritanya jangan sampai keluar dari inti cerita, kadang sampai di buat nangis cuma karena sulit mendapatkan kata per kata yang menjadi sebuah kalimat panjang, itu pun harus kembali di revisi bila kurang bagus.


Tidak lah mudah menjadi seorang penulis di kala otak dan realita kehidupan menghantam keras mental, dan hanya sedikit orang yang mampu bertahan meski nyatanya tidak sesuai harapan.


Kadang hebat bukan karena berasal dari otak yang mampu, karena hobi sampai timbul rasa penasaran seperti apa jadi seorang penulis, dan pastinya sebagian orang memilih jadi penulis karena dunia nyata jauh lebih kejam dari pada dunia halu.


Satu hal yang pasti, hingga sekarang yang menjadi ujian berat bagi setiap penulis adalah memahami pembaca yang bisa di katakan gampang-gampang susah. Benar kan?


Dan itu semua bagai cerita kehidupan Qiara, Sandra, dan Faraz yang sampai detik ini belum ada titik terang kemana arah dan tujuan kisah mereka berlayar.


Udah kayak kapal ajah ya sampai berlayar, ckck.


.


.


.


Tidak semua kisah pernikahan yang gagal hanya seputar adanya orang ketiga, masalah restu, ketidak sukaannya mertua, berbeda keyakinan, tidak lagi cinta dan sayang, merasa bosan atau semacamnya.


Hubungan yang terlihat di luar baik-baik saja, bukan berarti di dalamnya sama. Kadang begitu cuek dengan pasangan sendiri ketika berada di depan banyak orang, nyatanya jika hanya berdua saja malah sulit di pisahkan.


Kadang juga orang menilai tampak indah dari luar berarti isinya pun pasti sama, bukankah ada pepatah yang mengatakan.


Jangan pernah menilai sebuah buku hanya dari sampul luarnya, kelihatan indah belum tentu isinya sama begitupun sebaliknya, meski kusam dan jelek dari luar coba di buka dulu isinya, siapa tahu kamu akan menemukan berlian sesungguhnya yang tersembunyi di balik gelapnya latar sebuah sampul.


Sama halnya dengan masalah di antara Sandra dan Faraz.


Kelihatan rumit dan sukses membuat orang di sekitar emosi, namun belum tentu kesalahan hanya ada pada pihak wanita nya. Coba lah sesekali menilai dari sisi pria terutama anggota keluarganya yang mungkin saja terdapat oknum tertentu yang sengaja ingin membuat kekacauan, sehingga kesalah pahaman terus berlanjut tanpa adanya penyelesaian.


Kepala keluarga Bramantya sewaktu masih hidup banyak mengucapkan janji manis kepada pihak klien yang menurutnya akan sangat menguntungkan jika menjalin hubungan kerjasama.


Dan salah satunya termasuk orang tua Sandra yang kala itu memiliki posisi penting dalam berkembangnya perusahaan Bramantya menjadi lebih sukses dan terkenal seperti sekarang.

__ADS_1


Sebuah janji yang membawa petaka bagi keturunan anak cucu Bramantya menjadi awal kehancuran penerus kerajaan bisnis keluarga, hanya karena sebuah ambisi dan keegoisan satu orang.


Betapa kepala keluarga Bramantya sangat menyesal dulu sudah berjanji akan menikahkan keturunannya dengan pihak klien yang nyatanya dalang hancurnya sebuah keyakinan akan kepercayaan dan menjunjung tinggi kejujuran di atas segalanya.


Karena satu kesalahan fatal, membuat satu-satunya penerus kerajaan bisnis milik keluarga harus menjalani kehidupan yang rumit bahkan ketika usianya masih muda.


Sungguh malang nasib Tuan muda Bramantya, di usianya yang baru menginjak 19 tahun kala itu mengharuskannya cepat menikah dengan seorang gadis cantik berusia 16 tahun.


Dan kini usia Faraz sudah 25 tahun, artinya tiga tahun lebih tua dari Sandra yang tahun ini menginjak usia 22 tahun.


Sangat jauh berbeda dengan Tuan putri Rafindra yang masih belasan tahun, namun begitu si gadis cantik lulus dengan nilai terbaik dari Universitas ternama di negara asing.


Bingung kan? Sama yang nulis juga bingung. Ckck


๐ŸŒน


Mungkin banyak yang bertanya, kenapa bisa Qiara yang baru 18 tahun sudah lulus dari perguruan tinggi?


Semua bisa di atur karena dulu si bungsu kesayangan Tuan besar Rafindra sewaktu duduk di bangku sekolah menengah atas (SMA), masih berusia 14 tahun sudah lulus dengan nilai terbaik.


Qiara dan Sandra terpaut usia 4 tahun, namun begitu hubungan persahabatan mereka terjalin erat tanpa memandang umur.


.


.


.


Balik lagi ke Tuan putri Rafindra.


Pintu lift yang terbuka lebar, membuat Qiara berjalan cepat menuju ruang keluarga menemui yang lainnya.


Tampak suasana mencekam di rasakan gadis cantik itu mendapati Papi Rafin dan Mami Ayshila tengah menatap ke arahnya dengan kedua bola mata melotot sempurna tanda protes sudah di buat menunggu lama.


"Wajah Mommy kenapa?" kekeh Erzhan bertanya.


Kehadiran Qiara di ruang keluarga nyatanya semakin membuat Faraz salah tingkah, pria tampan itu menjadi bahan godaan dari ketiga Tuan muda Rafindra juga sahabatnya, Tara.


"Daddy sampai bosan loh, Mom." Bisik Erzhan masih bisa di dengar yang lainnya

__ADS_1


"Bosan atau gugup?" sindir Tuan Rafin dengan santainya mencium pipi kanan istrinya.


Semua yang melihatnya langsung berseru, tidak pernah kenal waktu dan tempat bagi pasangan suami istri tersebut memperlihatkan keromantisan.


"Jangan nakal, Pih." Tegur Nyonya Ayshila mencubit gemas lengan suaminya agar berhenti tertawa


"Ampun, sayang." Mohon pria itu meringis kesakitan


Qiara sampai memutar kedua bola matanya dengan malas, selalu begini tiap kali memintanya berkumpul.


"Kalian mau bicara apa?" tanyanya ketus.


"Masam benar dah, entar cantiknya hilang loh. Dek," kekeh Nyonya Ayshila sembari mengusap lembut pucuk kepala sang putri tercinta.


"Queen, ngga boleh gitu. Jatuhnya kualat loh sama orang tua," ucap Zaidan menegur kelakuan tidak sopan adik bungsunya tersebut.


Qiara langsung meminta maaf dengan rengekan manja ke Tuan Rafin yang tertawa geli, masih ada ketiga kakak kembarnya ikut memeluk si bungsu penuh kasih sayang.


Faraz yang menyaksikan kehangatan sebuah keluarga di hadapannya mendadak sedih, banyak sekali pelajaran yang ia ambil dari Tuan besar Rafindra.


"Kau juga akan seperti ku nantinya, anak muda." Ucap Tuan Rafin menyadari tatapan sendu Tuan muda Bramantya ke arahnya


Semua ikut menoleh ke arah Faraz sembari tersenyum hangat, terutama Nyonya besar Rafindra.


"Kau akan menjadi pendamping putri ku, tidak baik memperlihatkan wajah sedih seperti itu." Omelnya tidak suka


Faraz menundukkan kepalanya canggung.


"Masih suami orang kok, masa di bilang pendamping Qia." Protes Tuan putri Rafindra menatap malas ke arah sang mami Ayshila


"Kalau jodoh tetap bakal jadi calon pendamping Adek," goda wanita cantik itu pada Qiara yang merenggut kesal.


Di samping Qiara masih ada si kecil tampan yang cekikikan merasa lucu sang Mommy di goda sampai kedua pipinya memerah bak tomat matang.


"Abang malah ngga sabar lihat Mommy dan Daddy menikah," kekeh Erzhan tampak bahagia.


"Mama Sandra gimana, kalau Daddy mu nikah dengan Mommy?" gemas Qiara lalu mencium habis bagian wajah anak tampan itu.


๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ

__ADS_1


__ADS_2