Istri Kedua Sang CEO

Istri Kedua Sang CEO
IKSC Bab 96 ~ Datang Tanpa Permisi


__ADS_3

๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Sesuai janjinya pada sang istri tercinta, kini Rafin sengaja mendatangi perusahaan milik Faraz untuk menyampaikan permintaan wanita cantik itu beberapa waktu yang lalu.


Rafin sengaja mengajak Tuan muda Bramantya menemuinya di tempat yang lebih tertutup dan nyaman untuk berbicara empat mata, pilihannya pun jatuh pada ruangan kantor sang Presdir itu sendiri.


Di depan pintu ruangan, Rafin di sambut baik oleh sekertaris Faraz yang menunduk hormat.


"Mari silahkan masuk Tuan," ucapnya seraya membukakan pintu ruangan.


"Terima kasih," Rafin melangkah masuk ke dalam ruangan.


Sambutan hangat dari Faraz menjadi awal pertemuan mereka berjalan dengan baik, tidak adanya kegiatan sampai jam pulang kantor memudahkan pria itu dapat bersantai dengan membicarakan banyak hal seputar masalah pekerjaan.


Rafin belum mengutarakan tujuan awal maksud kedatangannya, meski Faraz beberapa kali melayangkan pertanyaan serupa.


Lama keduanya berbincang, hingga tidak terasa waktu sudah beranjak sore. Baru lah Tuan besar Rafindra menyampaikan keinginan sang istri, berharap rencananya berhasil.


Sebab, tidak mudah untuk merayu si kecil tampan agar mau lepas dari pelukan si bungsu Qiara.


"Kau tidak sibuk kan?" tanya Rafin basa-basi.


Faraz melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya, tidak ada lagi pekerjaan membuatnya bisa cepat pulang ke rumah.


"Sepertinya tidak, memangnya ada apa Paman?" jawabnya santai


"Baguslah, aku ingin meminta bantuan mu kali ini saja."


"Soal apa?" tanya Faraz sedikit bingung.


Baru kali ini seorang Tuan besar Rafindra meminta bantuan kepadanya, apa ia tidak salah dengar. Pikirnya


"Begini. Istriku, tadi siang merajuk hanya karena tidak memiliki kesempatan bersama Qiara walau sedetik saja." Jelas Rafin di sela rasa tidak nyaman harus mengatakan keinginan wanita halalnya tersebut

__ADS_1


"Dia minta tolong agar kau membawa pulang Erzhan hanya untuk malam ini saja, itu pun kalau berhasil sih." Kekehnya tidak yakin si bungsu kesayangan bisa lepas dari jangkauan anak tampan itu


Jadwal keberangkatan Qiara yang hanya tinggal menghitung hari, siapa sangka malah tidak boleh membawa Erzhan ikut bersama gadis itu dengan teman dekatnya bernama Neta.


Tuan dan Nyonya besar Bramantya tidak memberikan izin meski Faraz sendiri telah berusaha meyakinkan mereka agar tidak perlu khawatir.


Padahal Qiara ingin sekali mangajak anak tampan itu pergi liburan keluar negri, tetapi apa daya harapannya pupus sudah, sebelum kepergiannya di tetapkan.


๐ŸŒน


Faraz tampak berpikir sejenak, ia justru tidak yakin apakah berhasil merayu sang putra atau gagal lagi seperti yang sudah-sudah.


"Entar aku coba dulu ya, Paman. Semoga ajah kali ini berhasil," ucapnya pelan seraya membuang nafas kasar.


"Aku tunggu kedatangan mu," sahut Rafin tersenyum.


Pria itu langsung pamit pulang tanpa mengatakan apa-apa lagi.


Sementara Faraz ikut bersiap merapikan barang-barangnya sebelum keluar dari ruangan menuju lobi parkiran.


Dalam hatinya berdoa, semoga putranya mau di ajak pulang tanpa harus melalui banyak drama.


Mobil di kendarai Faraz melesat dengan kecepatan sedang menuju kediaman Rafindra.


Tidak ada rencana apalagi strategi bagaimana caranya meyakinkan Erzhan untuk pulang bersamanya, mengingat hari semakin gelap dan pastinya sekarang di bangunan mewah tersebut sangat ramai, adanya kerabat jauh dari Nyonya besar Rafindra yang datang berkunjung.


Mereka selalu kembali tanpa di minta sekali pun, bahkan mungkin tidak terhitung sudah berapa kali Tuan besar Rafindra memberi peringatan.


๐ŸŒน


Tidak sampai dua puluh menit, akhirnya Faraz tiba di kediaman Rafindra.


Sambutan hangat dari Nyonya Ayshila merupakan kode keras berharap kedatangan Faraz mampu menjauhkan sang putri dari Erzhan walau hanya sebentar.

__ADS_1


"Nah ini orangnya udah datang, cepat bawa anak kamu pulang sekarang juga." Ketus wanita cantik itu mendadak kesal


"Eh, Mami jangan gitu. Masa iya baru datang langsung suruh pulang lagi?" protes Rafin tidak suka.


"Aku ngga mau pokoknya tuh anak harus jauhin Queen secepatnya!"


"Tapi ngga gini juga konsepnya, sayang." Rayu pria itu berusaha menenangkan sang istri


Faraz yang paham situasi di hadapannya tersebut, segera masuk ke dalam rumah seraya memanggil nama Erzhan.


Ada rasa tidak enak mengingat akhir-akhir ini, putranya semakin lengket tidak mau jauh dari putri bungsu Rafindra.


Qiara turun ke lantai bawah seraya menggandeng tangan mungil Erzhan, suara bariton sang Daddy mengagetkan anak tampan itu sewaktu asyik bermain di depan kamar.


"Daddy kenapa teriak-teriak?" tanya Erzhan melihat wajah tampan milik Faraz tidak seperti biasanya.


"Ayo pulang!" ajak pria itu tanpa mengindahkan pertanyaan Qiara saking penasaran.


"Abang masih mau dengan Mommy," rengek sang putra yang berada di dalam gendongan.


Faraz hanya diam tanpa suara, meski terdengar isakan kecil Erzhan mulai berubah jadi tangisan.


Dari arah jauh, Rafin beserta istrinya hanya diam tanpa berani ikut campur.


Bahkan teriakan si bungsu yang mengejar langkah kaki Faraz keluar dari bangunan mewah tersebut bagai angin lalu, hatinya mencelos sakit ketika tatapan mata Erzhan bertemu dengannya.


"Faraz turunkan Abang sekarang juga! Mau kau bawah kemana anakku?" teriak Qiara lantang dengan emosi yang memuncak.


"Dia putraku, bukan anak mu." Sahut Faraz tak kalah berteriak


"Ingat kamu hanya gadis asing yang datang tanpa permisi dalam kehidupan rumah tanggaku, tolong jauhi kami sebelum keadaannya semakin buruk."


๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ

__ADS_1


__ADS_2