Istri Kedua Sang CEO

Istri Kedua Sang CEO
NEW BAB 26


__ADS_3

Usai melakukan pertemuan dengan wali murid di sekolah, Nia akhirnya dijemput oleh sang suami untuk makan siang bersama. Tentunya, masih bersama Yuni dan kedua batita kembar yang masih ikut dengan mereka.


Mereka tentu saja memilih restoran yang berada tak jauh dari kantor Bima.


Setelah memesan menu makanan yang mereka inginkan, barulah Nia mulai bercerita tentang apa yang ia lakukan pagi ini.


"Aku sengaja bohong ke Alex sebelumnya kalau Bella sudah mengurus surat perceraian mereka. Memang 'sih Bella berniat untuk mengurus perceraiannya dengan Alex, tapi untungnya aku berhasil bujuk dia biar  mau pikirkan matang-matang."


"Terus apa yang mami lakukan pada perempuan yang mengganggu rumah tangga Alex dan Bella?"


Nia dengan semangat menceritakan bagaimana ia mempermalukan Astrid di depan banyak anggota keluarga wanita itu. Ada kepuasan tersendiri yang terlihat dari raut wajahnya hingga membuat Yuni sebagai pendengar menggeleng kepalanya.


Mendengar itu, pria yang memiliki lima orang anak itu menghela napas dengan kelakuan sang istri.


"Enggak boleh begitu lagi. Apalagi sampai kamu mempermalukan perempuan itu di depan orang banyak. Kasihan," ucap Bima, sambil mengusap sayang kepala Alana.


"Oh, jadi Mas bela pelakor itu? Mas enggak suka kalau aku kasih pelajaran sama pelakor itu? Memang ya, laki-laki pasti banyak milih bela pelakor daripada bela istri sendiri," sindirnya tajam.


"Ya Tuhan, bukan begitu maksud Mas, Sayang. Maksud Mas itu kamu jangan terlalu vulgar seperti ini. Itu enggak baik. Takutnya perempuan itu dendam dan membalas apa yang kamu lakukan ke dia. Mas enggak mau istri Mas ini kenapa-napa."


Nia memicingkan matanya. "Mas yakin hanya karena itu? Bukan karena Mas suka dengan perempuan itu?"


"Melihatnya saja mas enggak pernah. Enggak mungkin mas suka." Pria itu menggeleng kepalanya melihat perilaku sang istri.


"Bagusnya kalau Mas enggak membela pelakor itu. Kalau sampai Mas membela pelakor-pelakor di luar sana, awas aja," ancamnya. "Argano Sanjaya!" Nia berteriak saat melihat sosok yang ia kenali melewati pintu restoran.


Orang yang dipanggil mundur ketika mendengar suara yang amat ia kenali.


"Mami!"


Tidak tahu malu adalah definisi dari kedua orang yang berteriak di dalam restoran sehingga mereka menjadi pusat perhatian orang-orang yang sedang duduk santai dan menikmati hidangan mereka.


Arga dengan semangat masuk ke dalam restoran kemudian menghampiri meja di mana maminya, papa, kedua adiknya serta Yuni berada.


"Mami dan Papa makan di restoran ini?"


"Memangnya kamu lihat kalau Mami dan Papa lagi makan di restoran luar negeri?" Wanita itu memutar bola matanya mendengar pertanyaan putra sulungnya yang menurutnya tidak masuk akal.


Arga tertawa singkat mendengar ucapan maminya. Pemuda itu kemudian pamit pada teman-temannya di luar karena ia tidak bisa ikut nongkrong bareng mereka di cafe. Baru setelah itu ia masuk ke dalam dan duduk bersama anggota keluarganya.


"Kamu tadi dari mana mau ke mana?" Bima menatap putranya yang ia yakini tadi jika sang anak hendak pergi ke suatu tempat sebelum melihat keberadaan mereka di restoran ini.


"Tadi dari kampus terus diajak teman buat nongkrong di cafe.  Tapi enggak jadi, karena aku ini tipe anak yang memprioritaskan keluarga." Arga menjentik jarinya sambil tersenyum lebar membuat Nia yang berada di dekat sang anak segera memberi cubitan.


"Mami tahu ini akal-akalan kamu aja. Bilang aja kalau kamu sengaja gabung sama mami dan papa biar bisa di beliin sesuatu mumpung kita masih di sini." Ucapan maminya yang tepat sasaran membuat Arga sedikit gelagapan. Hal itu tentu saja memicu gelengan dari kepala keluarga.


"Mami sampai hafal dengan sifatnya Gano," ungkap Bima menatap istri dan putranya.


"Hafal, Mas. Arga ini tipe-tipe anak yang selalu mencari kesempatan dalam kesempitan."


"Yah, enggak begitu juga, Mi.  Aku cuma minta beliin sepatu aja, kok. Boleh, ya, Pa?" Arga mengalihkan tatapannya pada sang papa dengan tatapan melas miliknya.


"Boleh. Nanti kita jalan-jalan keliling. Sekalian mau beliin buat Kello dan Jillo juga sama Chila dan anak-anaknya." Bima tersenyum menatap Arga yang bersorak riang.


"Oh, Papa terbaik adalah papaku. Papa Bima Sanjaya." Arga menyeringai senang menatap papanya lalu beralih pada sang mami. Tanpa sungkan Arga menjulurkan lidahnya ke arah Nia hingga membuat tangan wanita itu bergerak mencubit pinggang sang putra.


"Bandel," ujar Nia.

__ADS_1


"Anak baik aku ini. Enggak bandel."


Hidangan tersaji dan keluarga kecil itu akhirnya menikmati makan siang mereka dengan santai sambil sesekali mereka melemparkan lelucon yang menyebabkan tawa berderai di meja tempat mereka sekarang berada.


Tak lama kemudian, mereka pergi setelah membayar semua tagihan, kemudian mengelilingi pusat perbelanjaan untuk membeli beberapa kebutuhan anak-anak serta orang dewasa.


Saat dalam perjalanan pulang, Bima tiba-tiba mendapat telepon dari ayahnya--Roy--  yang meminta agar Bima segera datang ke rumah sakit karena Dirga mengalami kecelakaan.


Hal ini tentu saja mengejutkan Bima dan Nia yang mengetahuinya. Segera mereka bergegas menuju rumah sakit setelah menurunkan lebih dulu Yuni dan kedua anak kembar mereka. Arga yang mengikuti mobil mereka dengan motor juga meninggalkan kendaraan roda dua miliknya dan ikut dengan mobil orang tuanya.


Sesampainya di rumah sakit mereka langsung menuju ke instalasi gawat darurat yang disebutkan Roy ditelepon.


"Pa, bagaimana Dirga bisa kecelakaan? Apa yang terjadi sama dia?"


Bima menatap papanya dengan cemas. Bagaimanapun Dirga adalah adiknya. Meskipun mereka berbeda ibu, Bima juga sangat menyayangi kedua adik-adiknya. Sementara adiknya yang lain yakni Sarah entah di mana keberadaannya karena adiknya itu tidak pernah lagi menampakan diri di hadapannya setelah kematian mama mereka.


"Papa juga enggak tahu, Bim. Tiba-tiba Papa dapat telepon dari rumah sakit katanya Dirga kecelakaan." Roy juga tidak kalah paniknya dengan Bima. Pria itu masih berada di toko elektronik miliknya saat mendapat telepon dari pihak rumah sakit yang mengatakan jika putranya kecelakaan.


"Mas, aku takut Dirga kenapa-napa. Aku enggak mau terjadi sesuatu pada Dirga." Rana di sebelahnya menangis membayangkan nasib putranya yang tidak ia ketahui sampai sekarang karena masih dalam penanganan dokter.


"Sabar, Sayang. Kamu yang tenang, ya. Kita berdoa semoga Dirga baik-baik saja. Mas juga berharap enggak ada luka serius pada tubuhnya." Pria itu memeluk tubuh istrinya dengan lembut dan mengusap rambutnya dengan gerakan sayang yang memancar dari aura tubuhnya.


Bagaimanapun, Roy hanya berharap semoga putranya tidak kenapa-napa. Ia tidak bisa membayangkan jika sesuatu yang buruk terjadi pada putra sulungnya yang selalu ia banggakan selain Bima.


"Mama muda tenang aja, ya. Dirga pasti baik-baik aja. Kita sekarang perlu berdoa semoga Dirga enggak kenapa-napa." Nia mengusap lembut pundak Ibu mertuanya.


"Terima kasih, Nia."


Sementara Bima sendiri mendatangi dua orang polisi yang berjaga  tak jauh dari posisi mereka. Bima menanyakan pada kedua anggota tersebut tentang apa yang terjadi pada adiknya, Dirga.


"Terus pengendara mobilnya di mana, Pak?"


"Sedang ditangani oleh dokter juga. Dia seorang sopir dan seorang wanita hamil sebagai penumpang di belakang."


Jawaban dari polisi membuat Bima terkesiap.


"Enggak mungkin sopir bawa kendaraan ugal-ugalan sementara dia bawa wanita hamil di belakangnya," komentar Bima tanpa sadar.


"Ini yang sedang kami selidiki.  Sopirnya enggak kenapa-napa dan sedang kami tanya mengapa bisa terjadi kecelakaan." Polisi menjawab lalu melanjutkan, "sopir bilang dia bawa kendaraan enggak kebut sama sekali karena dia sedang membawa majikan. Menurut informasi, remnya katanya blong."


Bima mengerti. Pria itu kemudian meminta agar polisi segera  menyelidiki tuntas kejadian yang menimpa adiknya hari ini. Kalau memang ada kesalahan di pihak adiknya atau pemilik mobil, Bima tidak masalah untuk menyelesaikan masalah ini dengan cara apa pun.


Tak lama terdengar suara langkah kaki membuat Bima dan kedua polisi segera menoleh hanya untuk menemukan seorang pria berusia 32 tahun dengan keringat membasahi tubuhnya berlari ke arah mereka.


Napas pria itu masih terengah karena harus berlari dari parkiran menuju ruang gawat darurat saat ini.


"Pak, saya mendapat telepon katanya istri dan sopir saya mengalami kecelakaan. Bagaimana kondisinya?"  Pria itu langsung bertanya tentang kondisi istrinya. Hatinya cemas saat mendapat kabar jika istrinya mengalami kecelakaan yang membuat ia segera meninggalkan ruang rapat tanpa peduli dengan direktur utama yang akan memarahinya.


"Bapak ini siapa kalau boleh tahu?"


Pria itu segera menegakkan tubuhnya, mengulurkan tangan pada polisi yang berdiri di hadapannya.


"Saya Doni, suami dari wanita hamil bernama Devia yang mengalami kecelakaan. Di mana istri saya sekarang?"


"Istri bapak sedang ditangani. Menurut dokter, air ketubannya pecah dan memerlukan persetujuan pihak keluarga untuk melakukan operasi."


Wajah Doni pucat mendengar apa yang diucapkan oleh aparat kepolisian di hadapannya.  Tak lama salah satu pintu terbuka dan menampilkan seorang pria dengan snelli putihnya.

__ADS_1


"Keluarga pasien wanita hamil itu di mana ya, Pak?"


"Saya, Dok. Apa yang terjadi pada istri saya?"


Tak mau mendengar lebih lanjut apa yang terjadi pada istri pria yang baru saja tiba, Bima segera kembali ke tempat di mana keluarganya berada. Mereka menunggu dengan cemas Dirga yang tidak mereka ketahui bagaimana kondisinya.


"Onty Dera di mana, Oma? Sudah dikasih tahu belum kalau uncle Dirga kecelakaan?" Arga menatap Omanya yang masih terlihat sangat muda dengan tatapan bertanya karena tidak melihat keberadaan sang bibi.


Mendengar pertanyaan cucunya, Rana menepuk pelan dahinya. Wanita itu lupa memberi tahu pada putrinya. Terlalu panik hingga membuat ia tidak memikirkan apa-apa selain kondisi Dirga saat ini.


"Kalau begitu aku hubungi onty Dera dulu, Oma."


Arga segera bergerak menjauh untuk menghubungi nomor bibinya yang satu itu. Setelah sambungan telepon diangkat, tanpa menunggu respon dari seberang sana Arga langsung menyampaikan apa yang terjadi pada Dirga hari ini.


"Onty, aku cuma mau kasih tahu kalau uncle Dirga kecelakaan. Sekarang lagi di rumah sakit. Kita semua lagi menunggunya di sini. Onty bisa minta antar temannya ke sini atau mau aku jemput?"


"Gue cowoknya Dera. Nanti gue kasih tahu dia."


Sambungan telepon langsung dimatikan membuat Arga segera memelototi telepon genggamnya sambil mendesis  memaki kekasih bibinya yang begitu posesif.


 


"Siapa yang telepon?" Dera yang baru saja tiba di kursinya  menatap Arkan yang masih memerhatikan layar ponsel miliknya.


Saat ini mereka sedang berada di kantin kampus dan Dera baru saja kembali dari toilet. Gadis itu sempat melihat Arkan mengangkat telepon.


"Argano. Dia bilang Dirga kecelakaan," sahut Arkan membuat tubuh Dera menegang.


Tanpa kata, gadis itu segera mengambil ponsel dari tangan Arkan dan menghubungi Arga untuk memastikan apa yang diucapkan oleh keponakannya itu tidak bohong. Tapi, mengingat ini tentang Dirga, tidak ada yang berani mengucapkan kebohongan.


"Arga, apa benar Kak Dirga kecelakaan? Terus bagaimana kondisinya? Kalian sekarang ada di rumah sakit mana?"


Wajah Dera yang terlihat panik membuat Arkan mengerut keningnya tanpa sadar.  Sejujurnya ia belum percaya jika Dirga atau pun Arga memiliki hubungan kekeluargaan dengan Dera. Jadi, mungkin hari ini ia akan membuktikan apa yang diucapkan Dera adalah kebenaran atau kebohongan.


"Onty ke sana sekarang." Setelah menutup telepon, Dera beralih menatap Arkan dan menarik lengan pemuda itu untuk berdiri. "Arkan, antar aku ke rumah sakit sekarang. Kakak aku kecelakaan."


Arkan dan Dera kemudian bangkit berdiri meninggalkan kantin kampus menuju rumah sakit yang sudah disebutkan oleh Arga sebelumnya.  


Mobil yang dikendarai Arkan melaju dengan kecepatan sedang membelah jalanan kota hingga akhirnya mereka tiba di rumah sakit. Keduanya langsung turun dan menuju ruang gawat darurat yang sudah disebutkan oleh Arga.


"Mama." Dera melepas tautan tangannya dengan Arkan dan berlari ke arah mamanya yang merentangkan tangan kemudian ia masuk ke dalam pelukan sang mama.


"Ma, gimana kondisi kakak? Sebenarnya apa yang terjadi sama kakak?" Dera melepaskan pelukannya pada sang mama dan menatap dengan air mata berlinang di pipinya.


Dirga adalah kakak kembar terbaik yang selalu melindunginya. Jika terjadi apa-apa pada kakaknya, Dera tidak tahu harus apa.


"Kamu tenang, ya. Kita lagi menunggu kondisi Kakak kamu dari dokter. Kita berdoa semoga Kakak kamu enggak kenapa-napa."


Rana dengan senyumnya mengusap pipi Dera kemudian mengecup keningnya sebagai bentuk kasih sayang.


Sementara Arga yang melihat keberadaan Arkan segera menghampiri pemuda itu.  Ia menatap kekasih dari bibinya dengan sebelah alis terangkat.


"Masih enggak percaya kalau kita yang dekat sama onty Dera punya hubungan kekeluargaan?" sindir pemuda itu tepat sasaran.


Arkan selalu saja mencurigai Dera jika perempuan itu memiliki kekasih lain. Bahkan, pemuda itu tidak percaya jika Arga adalah keponakannya dan Dirga  kakak kembarnya.


Tidak tahu harus menjawab apa, Arkan mengalihkan tatapannya ke arah lain. Pemuda itu diam tidak membalas, membuat Arga mendengus dan kembali ke samping maminya berada.

__ADS_1


__ADS_2