
Acara makan siang berlangsung dengan lancar. Arga makan dengan lahap karena memang ia belum makan sejak tadi. Tidak ia pedulikan beberapa orang yang saat ini sedang menatap ke arahnya. Baginya yang terpenting ia tidak membuat ulah dan ia bisa selamat dari cubitan kepiting maut ala maminya.
"Arga sekarang udah kelas berapa?"
Ningrum menatap cucunya, membuat si empunya nama menoleh.
"Semester 4."
Ningrum menatap Arga terkejut. "Sudah kuliah ternyata."
"Ha-ha, iya, Nek. Enggak mungkin juga aku umur 20 tahun masih SMA. Udah bisa punya cicit nenek sekarang," ujarnya seraya tertawa. Tapi, dalam hati pemuda itu menggerutu karena kepikunan neneknya yang sudah tua ini. Pertanyaannya ada-ada saja biar bisa berbincang dengannya, dengus Arga dalam hati.
"Iya." Ningrum ikut tertawa meski di dalam hatinya ia mulai berpikir jika saat ini Arga sedang mengejeknya.
"Arga pulang sama kami, mau? Minap semalam di rumah. Mau, ya?" bujuk Dirman pada putranya. Dirman sendiri menatap hangat putra yang baru pertama kali ia temui. Dirman tidak menyangka jika putranya sudah sebesar ini. Hal itu tentu saja membuat Dirman semakin menyesal karena sudah melewati tumbuh-kembang anak kandungnya sendiri.
Senyum Arga surut kemudian beralih menatap Mami dan papanya. Arga berdoa semoga kedua orang tuanya itu tidak mengizinkannya untuk bermalam di kediaman bapak kandungnya. Namun, harapan Arga harus pupus ketika mendengar ucapan Bima selanjutnya.
"Boleh. Kebetulan besok kuliah Gano libur dan dia enggak ada aktivitas sama sekali. Gano bisa bermalam di sana beberapa hari."
Seketika itu Arga cemberut mendengar ucapan papanya. "Tapi, Pa, besok aku harus manggung di kafe dekat sekolah Kello. Aku enggak bisa bermalam lebih dari sehari di tempat bapak," ujar Arga pada papanya. "Gini aja, aku ikut bapak pulang ke rumah bapak terus besoknya aku langsung ke cafe buat manggung," kata Arga.
__ADS_1
"Iya, enggak apa-apa. Bapak setuju," ujar Dirman tersenyum hangat. Tidak apa-apa jika Arga akan bermalam sehari di rumahnya. Ini sudah sebuah keajaiban karena putranya mau tinggal di rumahnya meskipun hanya semalam.
Sementara Nia diam-diam mendesah lega karena Arga tidak akan lama-lama tinggal di rumah Dirman. Jujur saja Nia memiliki pemikiran egois yang tidak mau putranya menetap di rumah keluarga kandungnya.
Bima dan Nia memutuskan untuk pulang ke rumah tanpa Arga. Sementara pemuda itu ditinggalkan begitu saja oleh kedua orang tuanya.
Arga mengikuti Dirman beserta ibu tiri dan kedua kakek neneknya masuk ke dalam sebuah rumah dengan luas yang hampir sama seperti rumahnya. Sayang sekali rumah yang luas seperti ini, tidak ramai oleh keluarga inti. Berbeda sekali dengan rumahnya yang terus ramai dengan suara kicau para asisten rumah tangga beserta Mami dan adik-adiknya. Rumahnya tidak pernah sepi. Sekalipun sepi itu saat mereka pergi ke sekolah atau saat mereka sedang beraktivitas di luar rumah.
"Nah, Arga ini kamar kamu, Nak. Kebetulan Ibu sudah minta sama Mbak buat rapikan kamar ini. Ibu pikir siapa tahu kamu nanti bakal mau tinggal di sini," kata Ratna pada Arga. Saat ini mereka sedang berada di depan sebuah kamar yang terletak di lantai 2. Kamar tersebut terdapat balkon yang langsung mengarah ke arah jalanan.
Arga menatap kamar yang bercat dinding berwarna putih dan mengangguk puas. Hanya ada lemari besar, meja belajar, sofa, televisi, dan tempat tidur. Di ujung ada sebuah pintu yang Arga kira adalah kamar mandi.
"Suka. Standar kamar orang-orang biasa," jawab Arga. Setelah itu ia kemudian masuk ke kamarnya lebih dalam diikuti oleh Ratna. Sementara suami dan kedua mertuanya berada di ruang kerja untuk mendiskusikan sesuatu.
"Ibu harap kamu akan betah tinggal di sini. Kehadiran kamu sudah lama diinginkan oleh bapak kamu. Cuma keadaan yang membuatnya baru sekarang berani bertemu kamu," ujar Ratna berdiri di samping Arga. Tatapan mata mereka mengarah pada halaman depan rumah sekaligus rumah para tetangga yang memang sedikit berjarak.
"Keadaan seperti apa maksudnya?" Arga menoleh singkat ke arah Ratna, kemudian menatap lurus ke depan.
"Bapak kamu malu untuk bertemu dengan kamu setelah sekian lama. Sekarang, mungkin karena enggak kuat, beliau akhirnya memutuskan untuk bertemu kamu. Apalagi desakan nenek dan kakek kamu," jelas Ratna.
Ratna sendiri sebenarnya bisa memiliki anak. Sayangnya, ia tetap bertahan di samping Dirman meski tahu kekurangan pria itu. Apalagi alasannya kalau bukan karena cinta. Ratna sendiri adalah wanita yang baik yang membuat Dirman akhirnya jatuh cinta pada wanita itu setelah bertahun-tahun.
__ADS_1
Arga hanya menganggukan kepala. Tidak memberi respon berlebihan. Entahlah, Arga hanya merasa ia asing dengan keluarga ini. Perasaan asing memang selalu dirasakan oleh semua orang ketika berada di tempat baru dan keluarga baru.
Setelah itu Ratna pamit untuk keluar meninggalkan Arga sendiri di kamar. Setelah Ratna menutup pintu, Arga segera merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Pemuda itu memutuskan untuk langsung tidur tanpa memedulikan hal lainnya.
Sementara di sebuah ruangan, Ratna masuk dan menyaksikan perdebatan sengit antara suami dan kedua mertuanya.
"Kenapa, Mas?" Ratna masuk kemudian duduk di samping suaminya. Wanita itu merasakan ketegangan di dalam ruang kerja sang suami.
"Ratna, kamu harus bisa membujuk anak itu agar mau tinggal sama kita selamanya. Jangan biarkan dia kembali lagi sama orang tua angkatnya itu. Dia lebih berhak dan wajib tinggal di rumah ini." Ningrum menatap Ratna membuat wanita itu terkejut.
"Bukannya lebih baik memang Arga tinggal di sini?" Ratna menyahut dengan ragu. "Tapi, Bu, usia Arga saat ini sudah 20 tahun. Dia sudah punya pemikiran sendiri. Kita enggak bisa untuk mengaturnya. Takutnya hal ini justru membuat dia enggak nyaman sama keluarga kita."
Ratna tidak masalah jika memang Arga mau tinggal di rumah ini. Anak itu memiliki hak atas apa yang dimiliki oleh Dirman. Kecuali, jika anak itu menderita secara psikis dan fisik dengan keluarga angkatnya, hal itu bisa membuat mereka untuk mengambil Arga dan anak itu akan pergi dari rumah orang tua angkatnya dengan senang hati. Sayangnya, jika melihat perlakuan kedua orang tua angkat Arga, anak itu justru terlihat lebih nyaman bersama orang tua angkatnya. Terlebih pada wanita bernama Nia itu Arga akan menjadi anak patuh dan penurut.
"Pokoknya mama enggak mau tahu. Kalian harus bisa mengambil hati anak itu dan buat dia benci dengan keluarga angkatnya itu." Ningrum berseru lantang. "Ibu enggak mau tahu kalian harus berhasil."
Ningrum kemudian berbalik pergi meninggalkan ketiga orang di dalam ruangan yang terpaku mendengar ucapannya. Ningrum tidak peduli. Baginya yang penting adalah anaknya memiliki keturunan dan anak itu berhak untuk tinggal di rumah ini dan menyatu dengan keluarga besarnya.
BAGI YANG MAU BELI BIMANIA SEASON 1 DAN PENASARAN, BISA WA AKU YA MAK. AKU MAU CETAK LAGI BIMANIA SEASON 1. SEASON 1 JUMLAHNYA 85BAB+EXTRA. KALAU SEASON 2 BELUM ADA KARENA INI MASIH ON GOING. TENKIU ❤️ BUKUNYA TEBAL YA MAK HARGA 100K BELUM MASUK ONGKIR.
082319841041
__ADS_1