
๐น๐น๐น๐น๐น
Sandra benar-benar serius dengan perkataannya tempo hari.
Hampir satu minggu berlalu, kini perasaan wanita itu jauh lebih baik setelah meluapkan isi hatinya pada Faraz.
Tidak ada yang berubah selain ikhlas melepaskan suami yang teramat sangat di cintai oleh Sandra, demi kelangsungan hidupnya nanti.
Qiara beberapa kali menolak keinginan sahabatnya tersebut, baginya menikah bukan perkara yang mudah dan semaunya langsung menjawab iya tanpa mengetahui seperti apa kehidupan Faraz selama ini.
Kedua belah pihak keluarga besar Rafindra dan Bramantya tentu merasa sangat bahagia mendengar berita yang di sampaikan Sandra tiga hari lalu.
Bagaimana mereka tidak bahagia jika masalah yang harusnya sudah lama selesai masih jalan di tempat hanya karena keegoisan Sandra yang tidak mau melepaskan Faraz dari penjara hubungan tanpa adanya kepastian.
Tuan dan Nyonya besar Bramantya ingin mengadakan doa syukuran atas bebasnya sang putra kesayangan dari belenggu siksaan orang-orang tidak memiliki perasaan.
Mereka ingin mengusir semua kesialan dan hal-hal buruk yang bisa saja menempel di tubuh Tuan muda Bramantya. Memang agak terdengar aneh sih, tapi sudahlah, biarkan pasangan suami istri tersebut melakukan apa yang menurut mereka benar.
๐น
#Mansion Rafindra
.
.
.
Acara ulang tahun yang tinggal menghitung hari akan di laksanakan, membuat semua anggota keluarga Rafindra sibuk menyiapkan pesta yang meriah dan pastinya mewah.
Ini pertama kalinya Tuan dan Nyonya besar Rafindra mengadakan pesta, tidak mau ada yang kurang membuat keduanya nekat dari jauh-jauh hari menyiapkan segala keperluan tanpa sepengetahuan yang berulang tahun.
Qiara memang tidak ambil pusing apalagi ingat dengan ulang tahunnya sendiri, mengingat isi kepalanya saja penuh dengan permintaan Sandra dan rengekan kedua pria tampan Bramantya yang tidak tahu mengapa semakin lengket saja padanya.
Di dalam kamar yang bernuansa putih biru dengan hiasan sederhana, tampak gadis cantik itu sengaja mengurung diri sejak sarapan pagi dan sampai detik ini belum keluar.
Rasa malas bertemu orang-orang di dalam rumah maupun yang berniat ingin menculiknya jika tidak keluar dari kamar juga, semakin membuatnya betah berlama-lama di sana.
Qiara tahu maksud Faraz sengaja mengajaknya keluar jalan-jalan, meski ada Erzhan ikut bersama sebagai tahanan.
"Aku bukan pelakor, OK?" Kesalnya masih teringat pada kejadian dua hari lalu.
Demi menyetujui permintaan Sandra agar mau menemani Faraz pergi ke acara pesta peresmian salah satu klien yang bekerja sama dengan perusahaan Bramantya. Nyatanya sampai menimbulkan rumor tidak mengenakan dan pastinya Qiara sampai di katakan orang ketiga dalam hancurnya rumah tangga pasangan suami istri tersebut.
Jelas Qiara tidak terima mendapat tuduhan seperti itu, sebab bukan dirinya yang harus di salahkan. Melainkan Faraz maupun Sandra yang justru paling tahu bagaimana cara mengatasi adanya berita miring dalam rumah tangga mereka, bukan hanya diam tanpa melakukan apapun.
Tok tok tok
Ketukan pintu kamar membuat Qiara langsung tersadar dari lamunannya.
__ADS_1
"Jangan ganggu aku, pergi sana!" teriaknya masih kesal tidak ingin ada yang mengganggu.
Terdengar suara wanita yang tidak asing memanggil Qiara dengan lembut.
"Ini Mami, Dek. Tolong buka pintunya," seru Nyonya Ayshila meminta putrinya membukakan pintu.
Bukan Qiara jika langsung menurut begitu saja, dia benar-benar tidak ingin di ganggu sekarang.
"Mami pergi ajah sana, Qia mau istrirahat." Usirnya dengan nada ketus tanda penolakan
"Yakin ngga mau di buka pintunya?" teriak sang Mami bertanya.
Gadis itu tahu pastinya Mami Ayshila memiliki kunci cadangan.
Namun belum sempat benda bercat putih tersebut di buka, nyatanya Qiara sudah bersembunyi tepat di ruangan rahasia dalam kamarnya yang hanya di ketahui oleh dirinya sendiri.
Ceklek
Pintu kamar di buka perlahan, Nyonya Ayshila hendak memanggil putrinya langsung terkejut mendapati kamar dalam keadaan kosong.
"Queen ..."
"Sayang," panggilnya seraya mencari di setiap sudut kamar.
Semua di periksa wanita itu satu persatu, tetapi keberadaan si bungsu kesayangan belum juga di temukan.
Tidak mau lelah sendiri mencari Qiara, hampir semua anggota keluarga ikut mencarinya dengan perasaan bingung dan keheranan.
"Iya, lagian mana ada Mami bohong sih." Jawab Nyonya Ayshila
"Terus sekarang anaknya mana, Mih?"
"Mana Mami tahu, kalau pun ada ngga mungkin panggil kalian buat cari anak nakal itu."
Nyonya Ayshila tentunya kesal mendapati sang putri tidak ada di dalam kamar, dia bingun kemana perginya si bungsu.
Jendela kamar masih tertutup rapat, tidak ada tanda-tanda yang mencurigakan.
"Udah ketemu anaknya?" tanya Tuan Rafin dari arah luar kamar dengan raut wajah panik.
Ia yang berjalan masuk ke dalam kamar milik sang putri mendadak bingung.
"Yakin udah periksa ke semua tempat?" tanyanya lagi dengan senyum tertahan.
"Udah Papi ...." jawab mereka bersamaan membuat tawa pria itu pecah.
Bukan tanpa alasan Tuan Rafin bertanya, ia tidak sengaja melihat ke arah samping nakas di mana terdapat celah kecil yang menjadi tempat Qiara memperhatikan anggota keluarganya dari sana.
Hampir saja pria itu melupakan ruang rahasia di dalam kamar putri kesayangannya tersebut.
__ADS_1
Kenapa Tuan Rafin bisa tahu? Jawabannya sudah pasti ia pernah sekali memeriksa kamar Qiara sewaktu anak gadisnya itu berada jauh di negri orang.
Awalnya sempat terkejut, mengingat kamar pribadi milik putrinya sangat jarang di datangi. Bahkan hampir tidak pernah, meski sejujurnya boleh-boleh saja.
.
.
.
Tuan Rafin memilih tidak memberitahu keberadaan sang putri demi kenyamanan anak gadis kesayangannya tersebut.
Ia meminta semua anggota keluarga termasuk istrinya keluar dari kamar Qiara tanpa mengatakan apapun.
Sepeninggalan semua orang, baru lah gadis cantik itu keluar dari tempat persembunyiannya.
"Di kira enak sembunyi di sana," rutuknya menyesali pilihan bersembunyi di ruang rahasia.
"Kenapa juga masih di sana semua?"
Qiara tidak sengaja menemukan sebuah album lama di dalam lemari, beberapa foto masa kecil yang sengaja ingin dia lupakan.
Namun, benda lumayan besar itu tetap di bawa ke dalam kamar hanya karena terpaksa.
"Jelek sekali," kekeh gadis cantik itu melihat sebuah foto anak kecil berbadan gemuk.
Halaman demi halaman di bukanya perlahan, semua foto yang ada tidak jauh dari kenangan masa kecilnya bersama anak kecil laki-laki yang membuatnya terus mengulas senyum.
"Kamu yang dulu sangat jauh berbeda dengan sekarang," gumam Qiara tanpa sadar mengusap foto yang memperlihatkan anak laki-laki tampan dengan pipi bulat tengah tersenyum sangat manis.
Dia belum menyadari adanya orang lain yang berdiri tepat di samping ranjang menatap gemas ke arahnya sembari menahan senyum.
"Lebih tampan Erzhan kalau di perhatikan," kekehnya tanpa tahu ada yang merenggut kesal.
"Benar kan, si Abang yang jauh lebih tampan."
Kedua telinga orang yang berdiri di dekat Qiara langsung memanas tidak senang.
"Abang tampan, kesayangan Mommy." Teriak gadis itu yang tergelak karena pelukan tiba-tiba dari arah belakang
Sungguh, rasanya Qiara ingin lari dari tahanan si pria posesif dan mudah cemburu tengah memeluknya tersebut.
"Abang tampan kan?" godanya berusaha menghindari Tuan muda Bramantya yang wajahnya berubah masam.
"Enak ajah, kata siapa Abang lebih tampan dari aku?" kesal Faraz tidak terima.
"Benaran lebih tampan Abang."
"Qiara ...."
__ADS_1
๐๐๐๐๐