
๐น๐น๐น๐น๐น
Qiara tersentak kaget mendengar bunyi dering ponsel di dalam tas yang sengaja dia letakkan jauh di atas lemari samping ruang tamu.
Adanya pekerjaan yang Neta sampaikan beberapa menit yang lalu, membuatnya lupa belum mengecek ponsel.
Perasaan gadis itu mendadak tidak nyaman setelah tahu siapa yang menghubungi hampir dua puluh panggilan tidak terjawab serta puluhan pesan masuk tidak tahu isinya apa.
Neta datang dari arah dapur menghampiri Qiara yang terdiam, ada perasaan aneh mungkin dia peka dengan situasi yang ada.
"Kamu kenapa, Qia?" tanyanya langsung duduk di samping Qiara.
"Faraz hubungi aku sama kirim pesan banyak begini," jawab gadis itu seraya memperlihatkan layar ponsel yang menampakkan pesan belum sempat di buka.
Plak
"Aw, sakit Taa." Jerit Qiara mengusap lengannya yang terasa perih
Neta tiba-tiba saja memukulnya tanpa sebab.
"Kamu cuma liatin doang tuh pesan dari tadi?"
Qiara mengangguk pelan sedikit takut melihat tatapan tajam gadis itu.
"Seram ih, kamu marah kenapa sih?"
"Ngapain belum di baca?" kesal Neta langsung merebut paksa benda pipih tersebut.
Tidak peduli menyadari Qiara yang ingin protes karena sikapnya, dengan cepat membuka pesan yang tidak tahu apa isinya.
Neta terus membaca dari atas sampai bawah tanpa adanya suara, dari raut wajahnya terlihat seperti kurang nyaman dengan apa yang dia baca.
Sampai di pesan terakhir barulah gadis itu menjerit heboh, saking hebohnya sampai lupa masih ada Qiara ikut membaca isi pesan tersebut dengan wajah menahan emosi.
"OMG, QIARA ..." teriak Neta bergegas masuk ke dalam kamar guna merapikan pakaiannya terlebih dahulu.
Dari arah kamar gadis itu meminta Qiara agar segera bersiap sebelum mereka terlambat menuju kediaman Rafindra.
"Astaga Qiara ... Ngapain kamu bengong di situ?" kesal Neta melihat teman dekatnya itu masih dalam posisi duduk diam tanpa ekspresi.
"Kamu jangan melamun dulu, nanti ajah pas di mobil."
Qiara di tuntun keluar dari Apartement sampai masuk ke dalam lift.
__ADS_1
"Aku ngga tahu kenapa mereka sampai bertemu, yang jelas kita harus segera tiba disana sebelum hal tidak di inginkan terjadi."
Neta sengaja tidak mengajak Qiara berbicara apapun sampai keduanya masuk ke dalam mobil dan meninggalkan Apartement menuju kediaman Rafindra.
.
.
.
Faraz yang semula mendapat kabar dari Bibi pengasuh Qiara tepat selesai mengadakan rapat, langsung bergegas pulang tetapi bukan ke rumahnya melainkan pergi ke Mansion Rafindra.
Kabar mengenai pertemuan kedua orang tuanya dengan Tuan dan Nyonya besar Rafindra membuat kepala pria itu pusing.
Berulang kali menghubungi Qiara bahkan sampai mengirim pesan puluhan kali tetap saja tidak mendapatkan jawaban.
"Kamu dimana Qiara?" gumamnya frustasi.
"Ngapain juga Mama dan Papa ke rumah mereka?"
"Astaga ... Semoga bukan sesuatu yang buruk."
Faraz terus berdoa dalam hati, berharap kedatangan Nyonya Kamila bersama Tuan Rasya ke Mansion Rafindra tidak sampai menimbulkan keributan apalagi sampai terjadi masalah.
๐น
#Mansion Rafindra
.
.
.
Kedatangan Tuan dan Nyonya besar Bramantya tanpa undanga apalagi pemberitahuan lebih dulu, sempat membuat seisi rumah kaget.
Tuan Rafin beserta istrinya yang hendak keluar berbelanja keperluan dapur langsung batal, melihat pasangan suami istri tersebut sudah menunggu di ruang tamu hampir lima menit lamanya.
Dari arah dapur, Bibi pengasuh muncul seraya membawa empat cangkir berisi teh hangat dan sepiring kue.
"Silahkan di minum," ucap wanita baya itu lalu pamit undur diri kembali ke dapur.
Tampak Nyonya Kamila beserta suaminya menyambut pelukan dan sapaan hangat dari tuan rumah dengan tersenyum lebar.
__ADS_1
"Mau berkunjung kenapa ngga kasih tahu dulu sih?" protes Nyonya Ayshila dengan wajah setengah merajuk.
"Benar, kalau tahu begini. Kami tidak kaget lihat kalian udah nangkring ajah di ruang tamu," kekeh Tuan Rafin yang awalnya sempat bingung menyadari pasangan suami istri tersebut datang bertamu tanpa pemberitahuan.
Nyonya Kamila dan Tuan Rasya langsung tertawa antara malu dan lupa ternyata mereka belum sempat memberi kabar saking tidak sabarnya ingin cepat-cepat bertemu dengan sahabat lama.
"Kami terlalu bahagia mendengar kabar pulangnya Ayshila, makanya lupa kasih kabar. Iya kan Pah?" ucap wanita cantik di samping Tuan Rasya dengan wajah malu.
"Benar apa yang dikatakan istriku, mungkin dia juga terlalu bahagia. Makanya, sekedar periksa ponsel dia lupa, kalian sendiri lihat saja apa yang dia bawa sekarang!" timpal Tuan Rasya seraya menunjuk ke arah tangan sang istri hanya menggemnggam sebuah remot TV.
Nyonya Kamila yang baru menyadari kebodohannya semakin di buat malu, kedua pipinya sudah memerah.
"Papa jahat," gerutunya memukul dada bidang Tuan Rasya yang menjadi tempatnya menyembunyikan wajah karena malu.
"Loh, kenapa jadi Papa yang jahat? Kan, Mama sendiri yang lupa naruh remotnya."
Melihat pasangan suami istri tersebut saling meledek karena terlalu heboh ingin segera tiba di kediaman Rafindra, sampai melupakan banyak hal.
Tuan Rafin dan Nyonya Asyhila hanya tertawa geli menyaksikan perdebatan keduanya tanpa mau mengalah.
Keributan di ruang tamu, rupanya terdengar sampai di depan halaman rumah. Dimana kedua mobil yang sampai dalam waktu bersamaan nyaris bertabrakan saking lajunya si pemilik mobil mengemudi.
Neta keluar dengan perasaan jengkel hampir keluar bola matanya saking terkejut akan tingkah absurd pria tampan yang baru turun dari mobil.
"Kamu ..." teriaknya lumayan kuat hampir saja memukul telak Faraz.
Tingkah Neta membuat Qiara dan seorang pria yang ikut keluar dari mobil Faraz sampai menggeleng kepala pusing.
"Faraz, udah dong. Malu-maluin tahu ngga sih," omel Tara segera meraih lengan pria itu lalu membawanya masuk ke dalam rumah tanpa menunggu kedua anak gadis yang melongo tidak percaya.
"Woy, kenapa kita main di tinggal?" pekik Neta ikut menarik lengan Qiara menuju pintu masuk utama menyusul dua pria tampan yang terkikik geli saking bahagianya melihat raut wajah masam mereka.
Entah bagaimana reaksi dari kedua pasangan suami istri yang masih asyik berbincang di ruang tamu, yang jelas mereka pastinya akan kaget melihat putra dan putri mereka sudah pulang dengan membawa serta pawang masing-masing untuk jaga-jaga bila terjadi perdebatan sengit.
Faraz sengaja membawa Tara ikut bersamanya agar ketika Papa dan Mamanya sudah melayangkan banyak protes, ia dengan mudah terbebas karena ada yang membelanya.
Sementara Qiara tidak kalah pintar meminta Neta untuk tetap berada di sisinya agar Papi dan Mamihnya tidak sampai mengomel panjang lebar, hanya karena dia lupa mengambil pesanan di salah satu toko.
Bukan hanya itu, barang titipan dari sang papi Rafin pun di lupakan gadis itu. Saking penasarannya melihat Sandra bersama seorang pria yang katanya saudara tiri beda ibu tersebut berhenti di tengah jalan.
Faraz maupun Qiara hanya bisa berdoa dalam hati, berharap tidak ada perseteruan antara dua keluarga besar yang pihak pria memiliki kekuasaan penuh di negara masing-masing.
"Apa jadinya kalau Uncle Rafin dan Uncle Rasya berantem? Ngga mungkin sampai adu kekuasaan kan?"
__ADS_1
๐๐๐๐๐