Istri Kedua Sang CEO

Istri Kedua Sang CEO
IKSC Bab 160


__ADS_3

Tring


Qiara sampai di lantai atas dengan perasaan gelisah memikirkan suami dan putra kesayangannya.


Lantai atas yang hanya di isi dua kamar tidur serta ruang perpustakaan pribadi milik wanita itu, memang tampak sunyi kecuali ada pelayan yang datang membersihkan area tersebut.


Qiara melangkahkan kakinya dengan tergesa menuju salah satu pintu bercat putih yang masih terkunci rapat, berharap tidak ada yang terjadi selama dia pergi menemui semua anggota keluarga beberapa waktu yang lalu.


Semakin dekat dengan pintu kamar, perasaan Qiara mulai tidak karuan antara khawatir juga penasaran dengan apa yang kedua pria kesayangannya lakukan selama dia tidak ada.


Jantungnya berdebar kencang seiring dengan pintu kamar yang sengaja di buka perlahan agar bisa melihat kelakuan pasangan Ayah dan Anak tersebut.


Ceklek


Qiara bernafas lega, sewaktu pintu terbuka setengah belum tampak sesuatu yang aneh. Tetapi seketika kedua bola matanya langsung melotot sempurna dengan mulut yang menganga lebar kala pandangannya tidak sengaja mengarah ke sudut kamar, tempat dimana Erzhan tengah asyik cekikikan sembari kedua tangannya sibuk memegang beberapa barang yang bisa di pastikan itu milik siapa.


"Apa yang kalian lakukan?" serunya menatap nanar semua alat make up kesayangannya sudah hancur tak berbentuk karena ulah kedua pria tersebut.


Baik Erzhan maupun Faraz refleks bangkit dari duduk seraya merapikan kekacauan yang mereka timbulkan.


Qiara sangat marah juga kesal melihat seisi kamar penuh dengan tumpahan lipstik dan lain sebagainya berserakan dimana-mana, tetapi dia sungguh tidak tega bila meluapkan semuanya.


"Kelakuan siapa ini?" tanyanya berusaha tidak meninggikan nada bicara.


"Mommy tanya sekali lagi, ulah siapa ini?" ulang Qiara dengan dada naik turun menahan kesal.


Bukan perkara semua alat make up miliknya habis di keluarkan dari tempatnya tanpa sisa membuatnya kesal dan mengomel.


Justru melihat penampakan dalam kamar serta bagian tubuh Erzhan maupun Faraz lah yang membuat kesabarannya di uji, terutama kedua wajah pria kesayangannya tersebut hampir tidak bisa lagi di kenali saking tebalnya baluran make up warna warni bak pelangi tanpa adanya hujan yang turun sudah muncul terlebih dahulu.


Faraz diam seribu bahasa, begitu pun dengan Erzhan yang memilih bersembunyi di balik tubuh pria itu.


Langkah kaki Qiara seolah cambuk yang siap mendarat di tubuh keduanya yang mulai ketakutan di balik datarnya wajah yang biasanya selalu tersenyum sangat manis ketika menyambut wanita cantik kesayangan mereka tersebut.


"Daddy, takut ih." Bisik Erzhan pelan dari balik tubuh sang Daddy


"Memangnya cuma Abang doang yang takut," sahut Faraz ikut berbisik.


"Wajah Mommy seram tahu, kaki Abang lemes." Adu sang putra tidak berani menatap kearah Mommy nya


"Bismillah ajah, Bang." Kekeh pria tampan itu yang sejujurnya ia pun sama takutnya

__ADS_1


Baru kali ini mereka bisa melihat seperti apa reaksi Qiara jika dalam keadaan marah.


Wanita cantik yang merupakan satu-satunya Tuan putri di keluarga Rafindra serta menantu kesayangan Nyonya besar Baramntya tersebut memang tidak pernah menampakkan wajah masam apalagi marah.


Jadi wajar saja, reaksi pasangan Ayah dan Anak itu merasa ketakutan saat melihat Qiara yang jauh dari kata baik-baik saja.


"Kemari kalian berdua!" titah wanita cantik itu seraya melangkah pelan menuju arah kamar mandi.


"Lima menit! Dalam waktu lima menit, sebelum Mommy selesai menyiapkan air. Pastikan kekacauan yang kalian perbuat sudah beres tanpa sisa."


Faraz maupun Erzhan langsung saling pandang pertanda sudah mengerti.


"Kalian dengar kan, apa kata Mommy barusan?" gemas Qiara rasanya ingin sekali menggigit kedua pipi suami dan putranya tersebut.


"Dengar MOMMY."


Kedua pria tampan beda usia itu segera melakukan apa yang barusan di perintahkan.


Sementara Qiara bergegas masuk ke dalam kamar mandi guna menyiapkan air untuk mereka membersihkam diri sebelum kesabarannya benar-benar di uji.


Erzhan pikir sang Mommy akan menghukumnya atau berbuat sesuatu yang biasa ia lihat ketika seorang ibu tiri marah terhadap anak tirinya karena melakukan kesalahan. Tetapi, ia salah besar. Justru yang wanita cantik itu lakukan hanya memintanya untuk merapikan kembali seisi kamar seperti sedia kala bersama Daddy nya.


"Mommy ngga kasih Abang hukuman?" tanyanya pelan sembari menatap serius kearah Faraz.


"Mommy Qiara beda sayang," jawab pria itu penuh kelembutan.


"Tidak semua ibu tiri di dunia ini memiliki sifat yang sama buruknya, apalagi sampai nekat menyakiti anak tirinya. Semoga Abang paham maksud Daddy, hmm?"


Erzhan tersenyum kecil, jelas ia lebih tahu karakter malaikat tak bersayapnya itu.


Mana mungkin sampai tega memarahinya apalagi berbuat yang tidak benar, sedangkan dari awal mereka pertama kali baru di pertemukan, ada kesan tersendiri dalam hatinya terhadap Mommy kesayangannya tersebut.


"Wajah Mommy kelihatan marah sih, tapi lucu juga kalau marahnya cuma pura-pura." Kekeh Erzhan lumayan kuat


Membuat Qiara bisa mendengar apa yang Erzhan katakan lewat pintu kamar mandi yang terbuka sedikit.


"Mommy kalau marah bukannya seram tapi lucu, Bang." Sahut Faraz kemudian tertawa lepas mendapati raut wajah cemberut sang istri tercinta di balik pintu kamar mandi


Qiara sengaja tidak keluar, memilih tetap berdiam diri sembari ikut mendengarkan apa yang suami juga putranya bicarakan.


"Udah selesai?" tanyanya setelah memastikan keadaan kamar sudah jauh lebih rapih dan bersih seperti awal dia tinggalkan.

__ADS_1


"Sudah."


Jawab Erzhan dan Faraz bersamaan.


Qiara langsung memerintahkan keduanya masuk ke dalam kamar mandi guna membersihkan diri sebelum waktu makan siang tiba.


.


.


Kurang lebih sekitar dua puluh menit lamanya, pasangan suami istri tersebut akhirnya turun ke lantai bawah bersama Erzhan.


Jangan tanyakan dimana Sandra, karena lima menit setelah kepergian Qiara. Ternyata wanita itu ikut bersama Tuan dan Nyonya besar Bramantya pulang ke kediaman mereka.


Hanya tersisa si kembar, Neta, Oma dan Opa serta Tuan Rafin dan Nyonya Ayshila yang masih setia duduk mengobrol di ruang keluarga sembari menunggu kedatangan Qiara, Faraz juga Erzhan untuk makan siang bersama.


Melihat kedatangan mereka dari arah lift, akhirnya semua memutuskan langsung menuju ruang makan tanpa mengulur waktu lagi.


Oma dan Opa tampak hanya bisa tersenyum geli melihat sang cucu bersama Faraz tampak lengket bak perangko.


"Untung Sandra ikut pulang bersama Rasya dan Kamila," bisik Opa pada istrinya.


"Kalau ngga, mana mungkin Qiara rela suaminya keluar dari persembunyian." Sahut Oma tertawa


Pasangan baya itu memang sangat antusias melihat hubungan Faraz dan Qiara mulai tampak harmonis sama seperti mereka.


Tidak ada yang lebih membuat keduanya tertawa bahagia, selain bisa menyaksikan sang cucu kesayangan akhirnya mendapatkan kebahagiaannya sendiri.


"Kalian menertawakan apa?" tanya Nyonya Ayshila tampak penasaran.


"Apa lagi kalau bukan pasangan suami istri itu," jawab keduanya bersamaan.


Melihat Qiara begitu telaten mengurus Erzhan dan Faraz saat makan, terkadang menimbulkan sifat iri juga cemburu di hati Tuan besar Rafindra serta si kembar yang merasa tidak lagi di hiraukan.


Tetapi, sebisa mungkin wanita cantik itu berlaku adil terhadap semua pria kesayangannya, terutama sang Papi tercinta.


"Papi jangan cemberut napa sih." Kekeh Qiara merasa gemas akan cinta pertamanya itu


"Cemburu mungkin, Dek." Sambung Nyonya Ayshila ikut gemas pada suaminya


Sementara yang di sindir hanya merenggut kesal.

__ADS_1


๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ


__ADS_2