
Saat ini Nia berada dalam satu mobil yang sama dengan Alex. Tentu saja ia tidak sendiri karena ada kedua putrinya yang ingin ikut dengannya.
Sebenarnya ia ingin meninggalkan kedua putrinya pada Yuni. Namun, saat ia akan masuk ke dalam mobil, tiba-tiba putrinya Alana merengek ingin meminta ikut. Jadilah Nia sengaja membawa Yuni beserta kedua bocah kembar itu.
Nia sendiri layaknya bos yang duduk di kursi belakang bersama Yuni dan kedua anaknya. Sementara Alex mereka biarkan menjadi sopir di depan.
"Kamu sudah minta izin sama suami kamu kalau kamu mau pergi?" Alex melirik wanita yang sedang memangku anaknya dari kaca spion depan.
Pria itu heran sendiri mengapa ada laki-laki yang mau dengan wanita menyeramkan seperti Nia. Alex sendiri bergidik ngeri dengan apa yang akan di rencanakan Nia jika suami wanita itu ketahuan berselingkuh. Membuatnya impoten, menguras habis hartanya, kemudian mencari pria muda. Alex saja yang pria bergidik ngeri dengan perencanaan menyeramkan seperti apa yang diucapkan wanita itu.
"Enggak usah pamit. Lagi pula Mas Bima bukan laki-laki yang suka mengekang seperti kamu," sahut Nia mengenai titik sensitif Alex.
Alex sendiri adalah laki-laki posesif yang sering cemburuan pada laki-laki yang berniat untuk mendekati istrinya. Bisa dikatakan jika Alex sering mengekang Bella agar wanita itu tetap menjadi wanita rumahan dan jarang keluar rumah.
Alex terdiam tidak lagi mau berbicara dengan Nia. Wanita itu hanya tahu cara menyindir dan mengucapkan kalimat pedas padanya. Andai saja wanita yang duduk di kursi belakangnya tidak ahli dalam memberi bogem, ingin rasanya Alex mencubit jantung wanita ini.
"Jangan mendumel dan dendam di dalam hati kamu, Lex. Gini-gini, aku ini adalah sumber informasi di mana kamu bisa menemukan keberadaan Bella.*
"Enggak, Nia. Aku enggak ada dendam atau mendumel di dalam hati."
Selain memiliki mulut yang tajam, ternyata Nia juga memiliki indra perasa yang kuat. Terbukti wanita itu memiliki insting jika saat ini ia sedang mengomelinya di dalam hati.
Tak lama kemudian mereka tiba di sebuah rumah berlantai 2 di mana rumah tersebut sedang mengadakan acara pertemuan keluarga sekaligus membahas ahli waris yang akan meneruskan tampuk perusahaan yang ditinggalkan oleh kakek Astrid. Alex tahu hal ini dari Astrid sendiri yang memberitahunya tadi malam.
Nia segera turun dan meminta agar Yuni menjaga kedua putrinya di dalam mobil sementara ia dan Alex melangkah mendekati pintu utama.
"Kamu yakin mau datang sekarang? Kenapa kita enggak tunda nanti saja?" Alex menatapnya dengan ragu. Pria itu takut jika kedatangan mereka akan mengacaukan acara yang sedang berlangsung di dalam.
Nia melipat tangannya di dada sambil menatap Alex dengan pandangan sinisnya.
Wanita itu berujar, "mumpung aku masih dalam mood baik untuk kasih tahu kamu keberadaan Bella. Kalau nanti, aku enggak tahu aku masih ingat alamat tempat tinggal Bella atau enggak."
Alex menggigit bibirnya mendengar ucapan Nia. Pria itu menghela napas berat kemudian mengetuk pintu utama dan membunyikan bel hingga tak lama pintu terbuka dan menampilkan seorang wanita paruh baya yang terlihat cantik dengan dress hitam yang memperlihatkan kulit putihnya.
Alex mengenal wanita di hadapannya ini.
"Tante Monika. Astrid ada?"
Alex langsung bertanya tanpa basa-basi. Terlebih lagi saat ini wanita yang berdiri di sampingnya sedang mengetuk ujung sepatunya ke lantai dengan tidak sabaran.
"Oh, Nak Alex. Astrid ada di dalam. Ayo, masuk." Monika segera mengajak Alex untuk masuk. Namun, pria itu dengan sopan menolak dan meminta tolong agar Monika memanggil Astrid keluar. Tak mau memaksa, Monika akhirnya masuk kembali untuk memanggil putrinya.
Sedangkan Nia dan Alex memilih untuk duduk di kursi yang tertata dengan rapi di teras rumah.
"Alex?" Sapaan hangat terdengar dari seorang wanita. Suaranya begitu lembut hingga Nia nyaris memutar bola matanya.
Wanita ini terlalu dibuat-buat, pikir Nia dalam hati.
"Astrid, aku datang ke sini cuma mau minta tolong sama kamu, tolong jelaskan ke sahabatnya Bella kalau kita itu enggak ada hubungan apa-apa."
__ADS_1
Alex segera bangkit kemudian berdiri di hadapan Astrid. Begitu juga dengan Nia yang segera berdiri dan menghampiri keduanya.
Nia menatap Astrid dari ujung kaki hingga ujung kepala dengan pikiran yang hanya ia sendiri yang tahu.
"Memangnya kenapa? Kita memang sahabatan 'kan? Apa Bella masih marah sama kamu?" Suara Astrid terdengar sangat tenang sambil menatap Alex dengan tatapan lembutnya. Astrid kemudian beralih menatap Nia. Postur tubuhnya terlihat sangat lemah lembut hingga preman pun tidak akan tega menyakiti wanita lembut seperti Astrid. "Kamu sahabatnya Bella 'kan? Aku cuma mau jelaskan, kalau aku dan Alex murni berteman. Enggak ada hubungan apa-apa."
"Oh, iya?" Nia membalas dengan sebelah alis terangkat. "Terus, kalau memang kamu enggak ada hubungan apa-apa dengan Alex, kenapa orang yang sering menghabiskan waktu dengan Alex itu kamu, bukan istrinya?" tanya Nia tepat sasaran.
"Itu karena aku sudah terbiasa berteman dan bersahabat dengan Alex. Alex adalah tempat ternyaman untuk aku curhat. Enggak lebih." Astrid masih tetap tenang tidak terpicu oleh sindiran tajam dari wanita di hadapannya ini.
"Iya, kah?" Nia menatap Astrid dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan aneh. "Kamu cantik. Kamu punya pekerjaan. Kamu punya keluarga. Kamu punya teman, dan mungkin kamu punya sahabat selain Alex. Memangnya cuma Alex yang bisa buat kamu nyaman?"
"Aku--"
"Jangan bilang kalau keluarga kamu enggak menginginkan kamu. Jangan bilang juga, cuma Alex yang bisa buat kamu nyaman dalam bercerita." Nia menyela terlebih dahulu. "Kamu tahu hubungan persahabatan antara laki-laki dan perempuan itu enggak ada yang benar-benar murni. Alex sendiri udah punya istri dan anak. Kamu statusnya sebagai single parent. Apa pantas kalian berdua sering keluar bersama dan menghabiskan waktu bersama tanpa peduli sama anak dan istri yang menunggu di rumah?"
Perkataan Nia tidak hanya ditujukan pada Astrid saja tapi juga Alex.
Mengetahui ada keributan di luar, beberapa anggota keluarga keluar saat mendengar suara Nia yang mengoceh panjang lebar. Melihat sudah banyak orang yang keluar dari rumahnya, Astrid tentu saja cemas. Wanita itu segera menatap ke arah Nia dengan tatapan memohon.
"Tolong, kamu jangan berbicara yang enggak-enggak. Nanti akan aku jelaskan semuanya sama kamu. Tapi, yang pasti aku dan Alex enggak punya hubungan apa-apa." Astrid menatap Nia kemudian beralih menatap Alex. "Lex, tolong bawa teman kamu pergi. Nanti kita atur pertemuan supaya kita bisa mengobrol dengan santai," ujarnya pada Alex.
"Kenapa kamu pingin aku cepat-cepat pergi? Apa kamu malu kalau keluarga kamu tahu kamu sering jalan keluar dan menghabiskan waktu dengan suami orang?"
Beberapa orang yang tidak dikenal Nia terlihat terkejut ketika mendengar ucapannya. Salah satu paman Astrid melangkah maju kemudian berdiri di samping Astrid.
Paman Astrid menatap Nia dengan tatapan tajam. Tatapannya seolah memperingati Nia untuk tidak berkata macam-macam terlebih lagi saat ini sedang banyak anggota keluarga yang berkumpul.
"Saya mengatakan yang sebenarnya. Keponakan bapak yang lemah-lembut ini, sering menghabiskan waktu dengan suami sahabat saya, sampai akhirnya sahabat saya memilih pergi dan membawa kedua anaknya." Nia mengangkat dagunya membalas tatapan paman Astrid tanpa takut. "Setiap sahabat saya ingin menghabiskan waktu dengan suaminya sendiri, keponakan bapak selalu mengalihkan perhatiannya."
Suaranya terdengar dengan lantang tanpa ada getar sedikitpun.
"Entah itu dia dirawat di rumah sakit, entah itu orang tuanya berantem, entah itu karena mantan suaminya selalu mengganggu dia, entah itu masalah pekerjaan, keponakan bapak itu selalu datang ke suami sahabat saya. Kalau bapak enggak percaya, bapak bisa tanya ke orangnya langsung."
Nia dengan santai menunjuk ke arah Alex dan Astrid secara bersamaan.
Paman Astrid kemudian menjawab, "bagi saya itu enggak ada masalah. Selama mereka enggak pernah melakukan hal lebih."
"Oh." Nia bertepuk tangan dan tidak peduli dengan Alex yang berusaha untuk menenangkannya dan mengajaknya untuk pulang. "Kalau begitu saya tanya ibu-ibu di sini."
Nia menatap beberapa wanita yang berdiri di belakang Astrid. Termasuk Mama Astrid yakni Monik yang tidak tahu harus berbuat apa sekarang.
"Kalian tante-tante semuanya, memangnya enggak masalah kalau suami kalian lebih banyak menghabiskan waktu dengan perempuan lain di luar dari pada sama keluarga? Kalau saya 'sih masalah besar. Saya enggak akan membiarkan perempuan lain merebut perhatian suami saya."
Ada ketegasan dalam nada suara Nia. Hal itu tentu saja mendapat anggukan setuju dari para perempuan yang hadir. Di dunia ini, perempuan mana yang akan dengan rela melihat suaminya menghabiskan waktu dengan perempuan lain? Tentu saja tidak akan ada yang rela.
"Nia, udah cukup. Jangan mempermalukan Astrid. Bagaimanapun, ini juga salah aku karena setuju untuk bertemu dengan Astrid. Tapi, Nia, kami benar-benar murni bersahabat. Enggak lebih." Alex menatap Nia berusaha untuk membuat wanita itu sadar jika apa yang mereka lakukan saat ini akan memicu keributan antar keluarga.
"Oh, bersahabat? Kamu yakin? Lalu apa ini?"
__ADS_1
Nia dengan sengaja mengeluarkan ponselnya kemudian membuka aplikasi WhatsApp untuk mencari nama Bella. Pertama-tama Nia menekan voice note yang diteruskan Bella dari ponselnya ke ponsel Nia.
"Kamu mau tahu, Bell, saat ini aku sedang makan siang dengan Alex. Menghabiskan waktu, berdua dengan suami kamu. Sementara kamu?" Ada suara tawa mengejek. "Kamu di rumah seperti orang bodoh."
"Jaga bicara kamu, Astrid. Kamu bangga makan siang berdua dengan suami orang? Ternyata, orang dengan pendidikan tinggi enggak menjamin kalau mereka juga punya moral yang bagus."
Kedua suara terdengar berbeda namun Alex dan beberapa orang tentu saja mengenal suara tersebut. Itu jelas suara Astrid dan Bella yang sengaja direkam oleh wanita itu sebagai bukti.
"Bella-Bella, kamu itu terlalu bodoh dan percaya kalau Alex itu setia. Asal kamu tahu, Alex itu enggak pernah cinta sama kamu lagi. Kamu mau tahu kenapa?" Terdengar jeda sejenak. "Karena Alex sendiri bilang dia cinta sama aku. Dia udah enggak cinta sama kamu yang ternyata membosankan."
Suara rekaman itu berhenti kemudian Nia menunjukkan beberapa video serta suara di mana ada Astrid yang terus mengusik Bella agar wanita itu mau meninggalkan Alex. Bahkan, sehari sebelum Bella benar-benar pergi, wanita itu sempat mendatangi kediaman Alex dan meminta secara terang-terangan agar Bella pergi meninggalkan Alex.
"Kamu itu cuma mengganggu hubungan aku dan Alex, Bell. Kamu seharusnya tahu diri, Alex udah enggak cinta sama kamu lagi. Kalau enggak karena melihat anak-anak kalian, kamu kira Alex masih mau bertahan sama kamu?"
Alex terus menerus menyaksikan baik rekam suara dan video menampilkan bagaimana Astrid berusaha untuk memojokkan posisi Bella. Sedang kondisi psikis istrinya memang tidak pernah baik saat mendengar kata perselingkuhan. Istrinya memang mengalami trauma terhadap rumah tangga orang tuanya yang hancur berantakan karena orang ketiga.
Setelah menyaksikan semua video dan rekaman suara, Alex menatap Astrid dengan kekecewaan yang terlihat jelas di matanya.
"Aku benar-benar enggak menyangka, Trid, ternyata penyebab Bella selalu curiga dan terus menuduh aku selingkuh itu kamu!" Alex menunjuk wajah Astrid yang sudah pucat. "Aku kira kita memang benar-benar bersahabat. Sakit kamu, Trid," maki Alex menatap tajam Astrid.
Tidak pernah pria itu duga seumur hidupnya jika penyebab keretakan rumah tangganya adalah sahabatnya sendiri. Alex selalu menganggap jika Astrid adalah sahabat yang mengerti dirinya. Waktu berlalu, ia kira sifat manusia tidak akan berubah. Namun, apa yang dilakukan Astrid benar-benar menampar wajah Alex.
"Alex, ini semua salah paham. Aku--"
Bahkan, untuk menjelaskan pun Astrid bingung ingin memulai dari mana. Wanita itu berdiri linglung tidak menyangka jika semua aksinya direkam oleh Bella.
"Kamu mungkin enggak sadar, terakhir kali kamu datang ke rumah Alex, anaknya yang pertama merekam apa yang kamu lakukan ke mamanya dan ini digunakan sebagai bukti untuk membuka mata buta Alex biar bisa melihat wanita seperti apa kamu."
Nia kemudian melambaikan tangannya pada orang-orang di sekitar dan berbalik pergi setelah puas berhasil membongkar wajah asli Astrid.
Sementara Alex sendiri tidak bisa berkata-kata dengan fakta yang baru ia ketahui. Pria itu mengucapkan beberapa patah kata pada Astrid untuk tidak mengganggunya lagi ke depan dan menganggap jika mereka tidak pernah mengenal satu sama lain. Dengan kata lain Alex memutuskan hubungan persahabatannya dengan Astrid. Baru setelah itu Alex kembali ke mobil dan menemukan wanita yang sudah membantunya sedang duduk di kursi belakang.
"Sekarang kamu bisa kasih tahu aku di mana Bella dan anak-anakku berada?" Alex memutar tubuhnya ke belakang menatap wanita yang sedang memangku salah satu putrinya.
"Bella dan anak-anak kamu?" Wanita itu mengangkat sebelah alisnya menatap Alex. "Apa aku lupa kasih tahu kamu kalau Bella dan anak-anaknya udah pulang ke rumah kalian?"
"Apa?" Ekspresi wajah Alex terlihat pecah saat mendengar apa yang diucapkan oleh Nia. "Maksud kamu, Bella dan anak-anak sudah pulang ke rumah kami?"
Mendengar itu tentu saja Nia memasang ekspresi bingung. "Lex, kamu enggak pulang ke rumah? Bella dan anak-anak kamu udah pulang dari kemarin."
Nia tersenyum lebar melihat wajah tak percaya yang ditampilkan oleh Alex. Pria itu memang tidak pulang ke rumah selama seminggu terakhir semenjak istri dan anak-anaknya pergi.
"Antar aku ke sekolahnya Kello dulu. Baru kamu bisa pulang ke rumah."
Alex mengangguk patuh kemudian melajukan kendaraannya ke sekolah yang sudah ditunjukkan oleh Nia.
Sementara wanita itu tersenyum sendiri membayangkan jika ia berhasil mengerjai Alex hari ini. Ini juga merupakan rencananya dan Bella untuk menyadarkan Alex jika apa yang dilakukan oleh pria itu salah besar.
Wanita itu berhasil membujuk Bella untuk pulang dan memprovokasi sahabatnya agar jangan mau kalah dengan wanita yang hanya mau merebut suaminya. Sebagai istri sah, jangan takut untuk bergerak dan melawan demi mempertahankan apa yang menjadi milik kita.
__ADS_1