Istri Kedua Sang CEO

Istri Kedua Sang CEO
NEW BAB 29


__ADS_3

Kabar bahagia datang setelah menunggu selama dua Minggu penuh akhirnya Dirga sadar dari koma.


Hal itu tentu saja membuat keluarga bahagia bukan main. Saat ini Dirga sedang dalam masa proses pemulihan dan kemungkinan seminggu kemudian ia baru diperbolehkan untuk pulang ke rumah.


Sudah satu minggu ini Bima kembali bekerja di kantornya. Terkadang ia bergantian dengan sang papa dan juga anak laki-lakinya yang lain untuk menjaga Dirga di rumah sakit.


Jillo beserta istri dan anak-anaknya sudah pulang ke desa tempat mereka tinggal. Tinggal menunggu beberapa minggu lagi ujian nasional akan dilaksanakan. Setelah ujian nasional, mereka semua akan diboyong ke kota kembali untuk mendapat pendidikan yang layak.


"Pa, ikut." Bima yang akan naik ke atas mobil spontan menghentikan gerakannya saat mendapati Alea tiba-tiba berdiri di dekatnya sambil menarik celananya.


Pria itu menunduk dan mengangkat tubuh sang putri yang memang sedikit berisi.


"Alea kok di luar? Mau ikut papa ke kantor?" Pria itu bertanya dengan suara lembutnya.


Sang anak menganggukan kepala dengan semangat. Hal itu tentu saja membuat Nia yang masih berada di teras segera menghampiri ayah dan anak itu sambil menggendong Alana.


"Alea, ikut mami. Biarin papanya berangkat kerja. Kalau Alea kangen sama papa, nanti siang kita ketemu di kantor papa. Mau, ya?"


Gadis kecil berusia 3 tahun lebih itu menggeleng kepalanya. "Aku mau ikut papa. Boleh, Mi?" Mata bulatnya berbinar menatap maminya penuh harap. Hal itu tentu saja membuat Nia segera menoleh menatap sang suami dengan tanya.


"Ya udah, kalau begitu Alea ikut Papa aja. Alana mau ikut Papa juga?" tawarnya pada Alana, yang langsung menggeleng menolak.


"Mau ikut mami aja." Gadis kecil itu mengeratkan pelukannya pada leher sang mami membuat Bima mengangguk setuju.


"Ya udah, kalau begitu papa dan Alea berangkat kerja dulu. Mami di rumah hati-hati."


"Iya, Mas juga. Hati-hati di jalan Mas. Jangan lirik perempuan lain. Ingat itu," peringatnya sambil melotot tajam.


"Jangan lirik perempuan lain, Mas," ulang Alana mengikuti gaya Nia. Hal itu tentu saja membuat Bima dan Nia saling tatap. Tidak mereka sangka jika putri bungsu mereka dapat mencerna dengan cepat ucapan orang dewasa.


"Mami harus ganti panggilan jadi papa.  Aku enggak mau Alana ikut-ikutan panggil aku dengan sebutan Mas." Membayangkannya saja sudah membuat ia bergidik ngeri. Semakin besar anak-anaknya akan banyak mencerna kosakata dan tidak baik jika anak-anaknya mengikuti kosakata buruk yang dikeluarkan oleh orang dewasa.

__ADS_1


"Ust, Alana jangan ngomong begitu. Panggilnya papa bukan mas. Panggilan Mas itu cuma mami," jelas wanita itu pada putrinya.


"Mami panggil Mas. Alana panggil Mas juga."


"Eh, enggak begitu konsepnya. Oke, papa. Bukan mas."


"Papa bukan mas," ulang Alana, membuat Nia mengangguk puas.


Wanita itu melirik suaminya yang tersenyum lebar karena berhasil mendapatkan apa yang diinginkannya.


"Kalau begitu papa berangkat kerja dulu. Bye." Setelah mencium kening istri dan anaknya, Bima kemudian masuk bersama Alea  dan duduk di bangku belakang. Sementara di depannya ada sopir yang biasa mengantar jemput Bima kemana pun ia pergi.


Nia sendiri berencana untuk pergi ke rumah sakit setelah membereskan semua hal yang harus ia rapikan di rumah.


Wanita itu hanya membawa Alana ke rumah sakit dengan mobil miliknya yang dibelikan oleh Bima 6 bulan yang lalu.


Tidak ada sopir yang mengantarkannya karena memang Nia tidak terlalu suka membuat orang menunggunya. Jadinya, ia hanya membawa Mbak Yuni untuk menjaga Alana kalau-kalau putri bungsunya itu  bergerak aktif di rumah sakit nanti.


"Ibu di sini juga? Siapa yang sakit?" Wanita itu menyapa Ningrum dengan ramah. Meskipun ia tahu jika saat ini dan sebelum-sebelumnya juga wanita tua di hadapannya terlihat sangat tidak menyukainya.


"Saya menjenguk adik saya yang lagi sakit. Kamu sendiri di sini kenapa?" Ningrum menjawab dan bertanya kembali pada Nia.


"Oh, itu. Saya mau menjenguk adik ipar saya yang habis kecelakaan," jawabnya santai. "Bu Ningrum di sini sama siapa? Apa perlu saya temani ke ruang rawat adiknya Bu Ningrum?"


"Enggak perlu. Nanti keponakan saya akan menyusul saya di sini."


"Ya sudah kalau begitu, kami permisi lebih dulu. Hubungi saya kalau ibu ada perlu apa-apa."


Nia tersenyum santai kemudian berniat untuk melangkah  lebih dalam ke rumah sakit, sebelum akhirnya ia mendengar sebuah suara berasal dari belakang tubuhnya. Wanita itu cukup kenal dengan pemilik suara tersebut. Benar saja saat ia memutar tubuhnya, ia melihat sosok wanita yang terlihat tertarik pada suaminya.


"Tante, maaf, tadi aku terlambat karena harus ke kantor lebih dulu." Suara Fatma terdengar seperti ia baru saja berlari menyapa gendang telinga Ningrum dan juga Nia.

__ADS_1


"Oh, enggak apa-apa. Tante juga baru sampai tadi." Ningrum tersenyum menatap keponakannya. Kemudian ia beralih menatap Nia. "Saya kenalkan kamu dengan keponakan saya. Namanya Fatma. Dia bekerja di perusahaan orang tuanya dan menjabat sebagai wakil direktur. Tentu saja, dia bisa mencapai posisi ini karena dia cerdas." Ningrum memperkenalkan Fatma pada Nia serta menyebutkan segala kelebihan Fatma seolah ingin membandingkannya dengan Nia.


Tak peduli dengan nada yang disampaikan oleh nenek biologis dari putra sulungnya, Nia tersenyum. "Kebetulan saya sudah berkenalan dengan keponakan Bu Ningrum. Dia adalah rekan bisnis suami saya. Senang ketemu dengan kamu lagi di sini, Bu Fatma."


Wanita itu melambaikan tangannya lebih dulu sebelum akhirnya ia pamit untuk langsung pergi ke ruangan di mana Dirga berada.


Sudah cukup untuk basa-basi dengan keponakan Bu Ningrum yang juga sekaligus wanita yang disinyalir menimbun perasaan pada suaminya, Bima Sanjaya.


Heh, ia tidak akan membiarkan ada lalat yang menggerogoti rumah tangganya. Tidak akan. Batin Nia menekankan untuk selalu waspada pada perempuan di luar sana yang tidak peduli entah pria yang mereka incar sudah punya istri atau belum yang penting kaya.


Contohnya Bu Fatma yang sepertinya sudah mengibarkan bendera perang untuknya. Sebagai seorang wanita tangguh, dia tidak akan takut pada perempuan luar.


Nia kemudian melangkah masuk ke dalam kamar di mana Dirga dirawat. Ada Rana yang menyambut mereka dengan senyum ramah. Wanita itu kemudian langsung menggendong Alana dan membawanya mendekat pada Dirga.


"Uncle pakai topi," tunjuk Alana. Telunjuknya mengarah pada perban yang melingkar di kepala Dirga.


"Itu perban, Sayang. Bukan topi," jelas Rana sambil tersenyum. Wanita itu mencium pipi chubby cucunya gemas.


"Perban?" ulangnya menatap sang Oma polos. 


"Iya, perban. Buat menutup luka di kepala. Uncle Dirga dari kecelakaan. Makanya harus pakai perban," jelasnya. Alana menganggukkan kepalanya sambil mencatat di dalam hati jika apa yang dipasang di kepala sang Paman adalah perban.


Sementara Nia sendiri berdiri di samping Dirga dan menanyakan kondisi pemuda itu.


"Alhamdulillah sudah mendingan, Kak. Cuma kadang-kadang masih sakit badanku. Mungkin efek dari kecelakaan itu," sahut Dirga sambil tersenyum.


"Lain kali kalau bawa motor harus hati-hati. Kalau udah pernah merasakan ini, kamu pasti bakalan jera."


"Iya, Kak. Kalaupun kita sudah hati-hati, tapi kalau takdirnya kecelakaan mau bagaimana." Dirga mengangkat bahunya sedikit sambil terkekeh. Hal itu tentu saja membuat Nia spontan mencubit lengannya yang tak tertutup perban.


"Lihat itu, Mami kamu, Lan. Uncle udah sakit masih saja dicubit," lapornya pada Alana. Alana sendiri yang melihat maminya mencubit sang Paman bertepuk tangan dengan bahagia. Entah mengapa melihat maminya mencubit orang lain adalah kebahagiaan tersendiri bagi seorang Alana.

__ADS_1


Melihat reaksi dari keponakannya, Dirga cemberut sementara Nia dan Rana justru tertawa bahagia.


__ADS_2