
Tidak terasa waktu lima bulan yang Faraz janjikan untuk Qiara sabar menunggu akhirnya berakhir dengan berkumpulnya dua anggota keluarga besar guna membicarakan kelanjutan hubungan putra dan putri mereka kedepannya akan seperti apa.
Si cantik kesayangan Tuan besar Rafindra selama dua bulan terakhir sering bolak balik antara negara asal dengan negara kelahiran Neta untuk memantau beberapa usaha yang kedua gadis itu kelola bersama tanpa adanya hambatan atau larangan dari anggota keluarga.
Peran Neta menjadi lebih besar dalam menjaga calon adik iparnya itu selama jauh dari pengawasan sangatlah tidak mudah, sebab terkadang Qiara masih bersikap layaknya anak kecil yang manja dan bawel bila kemauannya tidak di turuti.
Seperti yang terjadi sekarang ini, dimana tinggal menghitung jam keberangkatan mereka sebentar lagi tiba. Namun Qiara bersikeras ingin makan jajan pinggir jalan yang jaraknya lumayan jauh dari bandara.
Neta sampai kehabisan akal merayu gadis cantik itu agar bersabar, tetapi yang namanya keras kepala memang sulit di ajak kompromi.
"Cuma beli jajan habis itu balik lagi, Taa." Rengek Qiara mulai timbul sifat manjanya
"Setengah jam lagi waktu keberangkatan kita, mana cukup bolak balik cuma buat beli jajan." Sahut Neta antara gemas dan pusing meladeni tingkah calon adik iparnya tersebut
Tidak mau lelah sendiri, membuat gadis bermata biru air tersebut dengan cepat menghubungi calon suaminya guna di mintai pertolongan dadakan.
Sambungan telefon langsung terhubung.
[Hallo, sayang. Ada apa?]
Neta sengaja menjauh dari Qiara demi berbicara lebih leluasa dengan Tuan muda pertama Rafindra tersebut.
"Hallo, Kak. Bantuin Neta bisa kan?" pintanya dengan nada memelas.
[Kenapa lagi, jangan bilang Queen berulah?]
"Ho'oh, ini lagi nangis pengen jajan katanya. Tapi waktunya udah mepet Kak, mana sempat aku bolak balik bandara." Adunya sedikit kesal
__ADS_1
"Kakak, minta Paman Rafin buat rayu Qiara bisa kan? Pusing aku tuh lama-lama."
Terdengar suara gelak tawa di seberang telefon, yang sepertinya itu Tuan besar Rafindra beserta istrinya ikut mendengarkan keluhan Neta.
[Kamu yang tenang, OK. Ini Kakak udah minta Papi buat telefon Adek[
[Yang sabar ya sayang, jangan galak-galak sama calon adik ipar sendiri]
"Ish, mana ada. Lagian aku tuh ngga tega marah apalagi ngomel, baru lihat wajahnya ajah pengen banget aku cubit saking gemasnya."
[Jangan sayang, kalau Queen nangis bahaya. Entar kena labrak si Abang sama calon suaminya mau?]
"Iya deh iya, ngga akan aku cubit. Tapi kalau ngga mau nurut juga, terpaksa deh."
"Udah dulu ya Kak, sebentar lagi pesawat udah mau berangkat."
Neta tidak lagi membalas pesan dari calon suaminya itu, sebab waktu keberangkatan sudah tiba.
Adapun Qiara akhirnya berhenti merengek setelah Tuan besar Rafindra berhasil merayunya dengan mengatakan setibanya di negara asal, semua keinginan gadis cantik itu akan terpenuhi.
.
.
.
Sementara di tempat lain, atau lebih tepatnya kediaman Bramantya.
__ADS_1
Baik Erzhan maupun Faraz tampak sibuk menyiapkan pesta penyambutan Nona muda Rafindra tersebut.
"Abang maunya di Rumah Kakek Rafin ajah Daddy," keukeh anak tampan itu masih tetap pada keputusannya untuk mengadakan acara makan malam di kediaman Rafindra.
"Tapi, Daddy ngga bisa kalau acara makan malamnya banyak orang." Protes Faraz tidak suka
Setiap kali mereka ingin menikmati waktu bertiga dengan Qiara, selalu ada saja yang ikut mengacaukan tanpa memikirkan sudah sekesal apa kedua pria tampan itu.
"Tapi Daddy, kalau buatnya di rumah kita. Malah kesannya ngga baik untuk keamanan Mommy Qiara," terang Erzhan mencoba untuk sabar mengahadapi sikap keras kepala pria tampan sangat mirip dengannya tersebut.
"Kalian belum menikah, baru di bicarakan loh kemarin."
Faraz tampak diam sejenak guna memikirkan kembali rencananya.
"Ya udah, acara makan malam di rumah kita batal. Tapi Daddy mau ganti makan malam di Restaurant ajah, gimana?" tawarnya berharap kali ini anak tampan itu setuju.
Erzhan menganggukkan kepala pertanda iya.
"Tapi ke rumah Kakek Rafin dulu ya? Buat minta ijin."
"Iya, sekarang ikut Daddy ke kantor mau?" ajak Faraz langsung di iyakan sang putra kesayangan.
Keduanya sudah masuk ke dalam mobil yang sengaja menggunakan sopir untuk mengantar ke perusahaan Bramantya.
Sepanjang perjalanan, Erzhan tampak asyik berceloteh menceritakan aktifitasnya selama berada di sekolah.
Pasangan Ayah dan Anak itu semakin banyak berubah semenjak Qiara masuk ke dalam kehidupan mereka tanpa di minta atau karena sebuah paksaan. Sebab, hadirnya Nona muda Rafindra di luar perkiraan dan hanya takdir yang menjadi penentu akan seperti apa masa depan mereka nanti.
__ADS_1
๐๐๐๐๐