Istri Kedua Sang CEO

Istri Kedua Sang CEO
IKSC Bab 108 ~ Ibu Yang Hebat


__ADS_3

๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Qiara masih mencerna ucapan sang mami barusan, dia mungkin salah dengar.


"Mami bicara apa sih?" tanyanya berharap wanita cantik itu asal bicara saja.


Nyonya Ayshila memilih diam tidak ingin menjawab sekarang.


"Sebentar lagi kita sampai," ucapnya pelan tanpa menghiraukan rengekan sang putri karena berhasil di buat penasaran.


Semua tampak hening, hanya suara mesin mobil yang mengiringi perjalanan tersisa kurang lebih sepuluh menit lagi sampai di kediaman Rafindra.


.


.


.


Lain Qiara, lain Faraz yang belum ada lima menit tiba di kediaman Bramantya tetapi sudah mendapatkan rentetan pertanyaan dari Tuan dan Nyonya besar Bramantya.


Pasangan suami istri tersebut memintanya langsung ke ruang kantor yang berada di lantai satu.


Erzhan sengaja di ungsikan terlebih dahulu bersama Tara di lantai tiga, keduanya memilih tidur bersama di kamar Faraz.


Di dalam ruangan kantor yang menjadi tempat paling nyaman Tuan Rasya guna menyelesaiakan pekerjaan kantor yang sengaja di bawah pulang.


Tampak suasana mencekam begitu mendominasi.


Faraz belum menjawab satu pun pertanyaan di tujukan padanya, ada yang membuatnya bingung.


"Tunggu dulu," serunya menatap penuh selidik ke arah pasangan suami istri tersebut.


"Barusan kalian bilang apa? Pernikahan?" tanya Faraz memastikan pendengarannya tidak salah.


Pasalnya, Tuan Rasya menyebut soal acara pernikahan yang katanya akan di laksanakan dalam waktu dekat.


Bukan hanya itu, ia mendengar sangat jelas nama calon mempelai yang tidak asing.


Nyonya Kamila menghela nafas panjang seraya memperbaiki posisi duduknya agar lebih nyaman, dia tahu putranya belum mengetahui situasi yang sebenarnya terjadi.


"Kebapa Papa dan Mama hanya diam saja?" kesal Faraz rasanya tidak percaya dengan apa yang mengganjal dalam hatinya sekarang.


"Pernikahan siapa yang kalian maksud?" tanyanya kembali.


Ia yakin ada yang tidak beres dari pertemuan kedua orang tuanya dengan Tuan dan Nyonya besar Rafindra tempo hari.


"Kamu jangan emosi dulu Kak," ucap Nyonya Kamila menenangakan.


"Tapi kalian barusan ngomong pernikahan siapa, hmm?" ulang Faraz tegas.


"Jangan meninggikan nada bicaramu pada istriku," sentak Tuan Rasya kesal memberi peringatan ke arah Faraz dengan kedua mata melotot tajam.


Pria itu pusing antara menjelaskan yang sebenarnya atau berbohong demi kelancaran rencana yang sudah lama ia susun dengan sangat rapih tanpa adanya celah sedikit pun.

__ADS_1


"Mama mohon jangan kalian bertengkar," ucap Nyonya Kamila menjadi penengah antara suami dan putranya.


"Kakak bisa kan, turuti keinginan Mama sekali saja?" pintanya dengan kedua tangan mengatup di depan dada.


Ibu manapun tidak akan rela apalagi tenang melihat kehidupan putranya jauh dari kata baik-baik saja, itulah yang kini Nyonya Kamila rasakan.


"Mama mohon sama kamu, Kak. Biarkan Mama dan Papa ikut membantumu," lirih wanita cantik itu nyaris menitikkan air mata.


Faraz masih diam mencerna semua yang membuat otaknya sulit berpikir jernih.


"Tapi kenapa harus secepat ini?"


"Mama dan Papa sudah memiliki rencana," jawab Tuan Rasya meyakinkan putranya tersebut.


"Rencana apa? Dengan membuat anak gadis orang jadi istri kedua ku, begitu maksud Papa?"


Tuan Rasya tertawa keras mendapat pertanyaan seperti itu dari Faraz.


"Istri kedua setelah perceraian kamu dengan Sandra terlaksana."


"Papa jangan gila," kesal Faraz tidak mau menaruh harapan apapun.


"Kamu hanya perlu dengarkan apa kata Papa, selebihnya biarkan Mama yang turun tangan langsung. Bukankah kelemahan mereka ada padamu?" jelas Tuan Rasya.


"Tapi jangan sakiti dia, please." Mohon pria tampan itu pada orang tuanya


Sandra tidak sepenuhnya bersalah dalam masalah yang menimpa keluarga mereka, justru dia hanya di jadikan kambing hitam demi memuluskan rencana licik yang sengaja di lakukan oleh orang-orang serakah dan tidak berperasaan.


"Terutama Mama." Imbuhnya


Nyonya Kamila menatap jengah ke arah sang putra dengan bibir komat kamit.


"Sudahlah Mah, lagian Papa sering ingatin Mama agar berhenti membuat masalah dengannya bukan?" Tuan Rasya mengetahui semuanya.


"Mama sudah berjanji loh, Papa harap kejadian di Restaurant waktu itu tidak lagi terulang. Mama dengar?"


"Iya, iya. Lagian siapa juga yang membuang waktu hanya untuk melihat wanita itu," cebik Nyonya Kamila jengkel.


"Mama ..." pekik Faraz dan Tuan Rasya bersamaan.


Pasangan ayah dan anak tersebut hanya bisa membuang nafas kasar menghadapi sikap judes bidadari kesayangan mereka yang kadang kala suka bikin pusing dan uring-uringan jika menyangkut Sandra.


.


.


.


Sesuai janji Qiara semalam, dimana tepat usai sarapan pagi. Rencana pergi keluar jalan-jalan bersama Erzhan tetap jadi, meski harus meladeni sedikit drama ketiga kakak kembarnya, Tara, Neta dan tentunya Faraz hanya karena tidak mendapat ijin untuk pergi bersamanya.


Masih jelas di ingatan gadis cantik itu, bagaimana semua anggota keluarganya membahas soal rencana pernikahan yang katanya akan di langsungkan dalam waktu dekat.


Bukan marah karena cepat menikah, tetapi Qiara masih syok dengan calon mempelai pria yang akan menjadi suaminya kelak membuat hatinya gelisah galau merana tidak karuan sampai detik ini.

__ADS_1


"Aku jadi istri kedua sang Ceo, begitu maksudnya?" gumam Qiara masih bisa di dengar orang lain termasuk sosok pria tampan yang kini tengah tersenyum sangat manis.


Entah kenapa perkataan gadis cantik itu sukses menguji jantung Faraz yang berdetak semakin kencang.


Qiara yang seolah mengerti tatapan mata pria tampan tersebut, mendadak malu dan langsung bergegas masuk ke dalam Mobil dimana sudah ada Erzhan menunggunya dengan penuh kesabaran.


"Jalan Paman!" serunya meminta sang sopir agar segera meninggalkan kediaman Rafindra secepatnya.


"Mommy pipinya kenapa merah?" tanya Erzhan seraya mengusap lembut kedua pipi gadis cantik itu.


"Haha, jangan bilang Mommy tadi malu ya?" godanya membuat Qiara semakin malu dan wajahnya bertambah merah bak tomat matang.


Erzhan sangat pandai menggoda, bahkan selama perjalanan menuju pusat perbelanjaan terbesar di pusat kota milik keluarga Rafindra. Tidak hentinya melayangkan candaan atau menjahili sang Mommy hingga sang empu memohon ampun.


Mobil yang membawa keduanya akhirnya sampai juga di lobi parkiran, awalnya sang sopir di minta pergi tetapi bersikeras akan menunggu sampai mereka selesai jalan-jalan.


"Ayo, Abang. Waktunya menghabiskan uang," seru Qiara menggenggam tangan Erzhan masuk ke dalam Mall dengan tawa bahagia.


Tanpa mereka sadari, rupanya Faraz sengaja mengikuti kemana perginya sang putra bersama gadis cantik yang sebentar lagi akan menjadi istrinya tersebut.


Itu baru perkiraan, sebab kita tidak tahu seperti apa sang pencipta mengatur rencana yang jauh lebih baik meski kita sudah membuat rencana terlebih dahulu.


Qiara masuk ke dalam toko permainan yang Erzhan tunjuk karena ada mainan kesukaannya disana. Keduanya mencari apa saja bentuk mainan yang baru keluar tanpa ketinggalan, beberapa pengunjung sampai merasa iri karena apa yang anak mereka inginkan justru hanya boleh di lihat tanpa mau di beli.


Melihat ada anak kecil tengah menangis seraya menunjuk ke arah mainan yang belum ada limat menit Erzhan ambil dari rak, timbul rasa kasihan di hatinya.


"Kamu mau?" tawarnya seraya mengarahkan robot keluaran terbaru ke arah anak kecil seusianya tersebut.


Qiara tersenyum manis dengan kedua tangan langsung meraih tubuh mungil Erzhan.


"Kasih yang baru ajah, Bang." Ucapnya meminta anak itu mengambil robot yang sama persis di atas rak lumayan tinggi


"Itu punya Abang, kalau yang ini baru kasih ke anaknya. Ok?"


Erzhan mengangguk seraya tersenyum bahagia.


"Kata Mommy ini punya kamu, soalnya yang satunya punya Abang." Kekehnya merasa lucu dengan apa yang ia ucapkan barusan


"Bukannya sama ajah ya?" tanya seorang wanita cantik sepertinya ibu dari anak kecil yang menangis.


"Robotnya sama, tapi kalau yang pertama Mommy yang ambilin buat Abang." Jawab Erzhan seolah tidak rela pemberian sang Mommy harus ia berikan pada orang lain


Bukan anak tampan itu pelit, hanya saja awalnya ia setengah tidak rela memberikan mainannya pada bocah yang menangis.


Qiara yang peka tentunya sengaja meminta Erzhan mengambil robot yang serupa agar tidak ada drama rengekan setelah mereka pulang dari jalan-jalan.


"Kamu ternyata ibu yang hebat, sangat tahu bagaimana menyenangkan anak kecil." Puji wanita itu sembari mengucapkan banyak terima kasih sudah membelikan apa yang anaknya inginkan


"Aku hanya belajar untuk memahami karakter anak-anak, soalnya yang satu ini posesifnya ngga ketulungan." Kekeh Qiara mencium gemas seluruh bagian wajah Erzhan tanpa ampun


Hatinya mencelos sakit, timbul rasa iri melihat wanita lain menggendong anak yang mereka lahirkan sendiri. Bukan sepertinya yang menyayangi anak dari wanita lain dan itu sahabatnya sendiri.


๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ

__ADS_1


__ADS_2