Istri Kedua Sang CEO

Istri Kedua Sang CEO
IKSC Bab 163


__ADS_3

Setelah drama keanehan Faraz membeli berbagai macam jajanan pinggir jalan dua hari lalu.


Kini rumah utama Rafindra di hebohkan adanya kabar mengenai si kembar yang memperlihatkan gelagat jauh lebih aneh dari apa yang Faraz lakukan.


Ketiga Tuan muda Rafindra tersebut membuat seisi rumah pusing, terutama Tuan dan Nyonya besar Rafindra. Merasa heran serta bingung melihat tingkah mereka yang jauh dari kata normal.


Zaidan dengan ocehan bak seorang wanita yang mengalami datang bulan, jauh lebih cerewet di bandingkan calon istrinya yang seharian penuh menahan sabarnya demi menghadapi kelakuan aneh Tuan muda pertama Rafindra tersebut.


Neta sampai berulang kali mengelus dadanya meladeni tingkah calon suaminya itu, meski rasanya ingin sekali mencakar habis wajah Zaidan saking kesalnya.


Adapun Zafir tampak uring-uringan maunya terus menempel pada Nyonya Ayshila, kemana pun sang Mami pergi. Ia akan mengekor di belakang tidak peduli sudah semasam apa wajah Tuan Rafin melihat istrinya di rebut paksa oleh si tengah.


Sementara Zhe, atau si bungsu kesayangan Qiara biasa memanggilnya Zizi. Tengah berbaring lemah di sofa panjang, usai mengeluarkan semua isi perutnya. Pria itu tiba-tiba merasakan mual dan muntah sewaktu baru bangun tidur.


Tidak ada yang lebih memprihatinkan selain keadaan putra ketiga Rafindra tersebut, bahkan segelas teh hangat yang ia minum kembali di muntahkan.


Nyonya Ayshila sibuk mencari sesuatu untuk menghilangkan rasa mual dan muntah Zizi, tetapi wanita cantik itu harus rela meladeni tingkah manja si tengah dengan segala permintaannya.


"Sabar ya, Mami jadi pusing kalau tingkahmu makin aneh kayak gini Zafir."


"Kasihan Zizi lagi kurang sehat, tapi kamu malah berubah manja begini. Mau gerak ajah susah, ya ampun."


Jeritan sang istri berhasil mengalihkan fokus Tuan Rafin dari ponsel yang ia genggam untuk menghubungi putri kesayangannya, Qiara.


Beruntung pesan yang pria itu kirim barusan sudah di baca, sehingga tidak perlu lagi pusing menghubungi Faraz hanya demi memastikan keberadaan sang putri.


Tuan Rafin berjalan cepat menuju arah sumber suara, dimana ia bisa melihat wanita halalnya tampak kesulitan bergerak kesana kemari.

__ADS_1


"Zafir, apa yang kamu lakukan?" terikanya kesal hendak melepaskan sang istri dari pelukan si tengah namun dengan cepat wanita itu menahannya.


"Jangan Papi, kasihan."


"Lebih kasihan Zizi," cebik pria itu sembari menatap tajam kearah si tengah yang semakin erat memeluk istrinya.


Sungguh pagi yang menguras emosi juga tenaga.


.


.


Di rumah mewah yang selalu menjadi alasan Faraz betah sampai lupa mengunjungi kediaman orang tuanya.


Terdengar suara nyaring milik Qiara yang terus memanggil suami dan putranya agar segera turun ke lantai bawah.


Pesan yang belum ada sepuluh menit di terima wanita itu, membuat perasaannya tidak karuan. Ingin segera mengunjungi rumah utama sebelum akhirnya menemani Faraz pergi ke kantor usai mengantar Erzhan ke sekolah.


"Mommy kenapa lagi sih, Dad?" heran Erzhan saat mereka sudah tiba di ruang makan.


"Ngga tahu, Bang." Jawab Faraz sembari mengedikkan bahu


Wanita cantik yang masih terdengar mengomel tersebut, belum menyadari kehadiran suami dan putranya.


Kini pasangan Ayah dan Anak itu memilih duduk tenang di meja makan untuk sarapan, tidak lagia menunggu Qiara selesai mengomel.


Lima menit berlalu, akhirnya wanita itu berbalik arah dengan raut wajah terkejut namun menggemaskan.

__ADS_1


"Morning Mommy." Seru pasangan Ayah dan Anak tersebut seraya tersenyum manis


"Loh, kapan datangnya? Kenapa Mommy ngga dengar kalian memasuki ruang makan?" tanya Qiara menghampiri Faraz juga Erzhan yang hampir menghabiskan sarapan mereka.


Keduanya tidak berani buka suara, mengingat hari ini suasana hati wanita cantik itu kurang baik. Hanya melayangkan kecupan singkat di pipi tanda permintaan maaf.


"Sebelum antar Abang ke sekolah, mampir sebentar di rumah utama ya?" ucap Qiara pelan sembari membersihkan alat makan serta menyiapkan bekal untuk Erzhan.


Pasangan Ayah dan Anak itu hanya mengangguk paham, tidak berani mengeluarkan suara. Karena jauh di dalam otak mereka justru penuh dengan jajanan pinggir jalan yang letaknya berada tidak jauh dari sekolah.


Bukan Erzhan yang ingin makan, tetapi sang Daddy justru meminta bantuan anak tampan itu agar merayu Qiara untuk mampir sejenak.


"Yakin Mommy ngga akan ngomel lagi?" bisik Erzhan tepat di telinga Faraz agar tidak sampai di dengar sang Mommy.


"Kan, ngga sampai sepuluh menit udah ke beli semuanya." Sahut pria itu ikut berbisik


Namun, siapa sangka Qiara justru bisa mendengar apa yang kedua pria kesayangannya bicarakan. Sebab, pososinya tepat berada di belakang mereka dengan kedua tangan di pinggang.


"Daddy mulai lagi?" tanyanya dengan tatapan tidak percaya.


"Di rumah utama kata Papi udah kayak pasar, makanya aku mau kesana buat lihat situasinya seperti apa. Tapi Daddy masih juga mikirin jajanan pinggir jalan?"


"Semua masakan Mommy belum cukup?"


Faraz langsung menganggukkan kepalanya pelan, tanda ia belum kenyang. Padahal di meja makan semua hidangan yang istrinya siapkan terbilang banyak untuk porsi sarapan.


"Ngga usah ke rumah utama ya? Habis antar Abang ke sekolah, kita beli jajan dulu baru ke kantor."

__ADS_1


"Ok, Mommy?"


๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ


__ADS_2