Istri Kedua Sang CEO

Istri Kedua Sang CEO
IKSC Bab 97 ~ Kekecewaan


__ADS_3

๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Bagai di sambar petir di siang bolong, ucapan menohok Faraz sangat menyakiti perasaan Qiara.


Kedatangan pria itu sangat mendadak dan pastinya tidak ada yang menyangka akan timbul kejadian seperti ini.


"Kamu," ucap lirih gadis itu.


Tanpa sadar cairan bening jatuh membasahi kedua pipinya.


"Ada apa dengan mu? Kenapa datang-datang langsung buat masalah kayak gini?" tanya Qiara menatap heran ke arah Faraz.


Hatinya sangat sakit, melihat bagaimana sikap pria itu begitu dingin tidak peduli tangisan pilu Erzhan yang meminta di turunkan dari gendongannya.


Tuan besar Rafindra beserta istrinya hanya diam menyaksikan tanpa berani ikut campur, mereka jauh lebih tahu bagaimana sifat keras kepala si bungsu kesayangan jika ada yang ikut membantunya.


Qiara benar-benar di buat bingung dan syok dalam waktu bersamaan, dia masih mengingat jelas perkataan Faraz beberapa menit yang lalu.


"Turunkan Abang," pintanya setengah memohon.


"Tidak akan." Sahut Faraz tegas masih dalam posisi berdiri lumayan jauh dari pintu masuk utama


"Kasihan Abang nangis terus," lirih Qiara mengiba.


Namun, bukan Faraz namanya jika menuruti permintaan gadis cantik itu.


"Kami akan pulang sekarang!" ucapnya tegas semakin mempercepat langkah kaki panjangnya menuju sebuah mobil yang pintu bagian belakang sudah terbuka lebar.


"Jangan bawa Abang," teriak Qiara panik segera menyusul langkah Faraz tanpa peduli kakinya bisa saja terluka.


Teriakan Nyonya Ayshila karena terkejut melihat sang putri keluar rumah tanpa memakai alas kaki sungguh menyayat hatinya sebagai seorang ibu.


Wanita itu berusaha mengejar tetapi belum apa-apa tangan kanannya sudah di tarik lumayan kuat oleh suaminya.


"Tolong Pih, kasihan Queen." Lirih Ayshila mengiba


"Dia bisa terluka, kamu ngga sayang padanya?"


"Justru karena aku sangat menyayanginya, makanya tidak ikut campur." Jawab Rafin dengan nada sedikit meninggi


"Papi jahat," teriak sang istri meronta ingin di lepaskan.


"Jangan rusak keputusan yang sudah aku buat dari jauh hari, sayang. Please!" mohon Rafin tetap menahan tubuh langsing Ayshila dengan cara memeluknya.


Ia sebenarnya jauh merasakan sakit di bandingkan istrinya, melihat bagaimana kerasnya sang putri yang memaksakan kehendaknya pada Tuan muda Bramantya hanya demi seorang anak kecil yang tidak memiliki ikatan apapun dengan sang putri.


Betapa Qiara sangat marah dan berusaha mencegah Faraz agar tidak masuk ke dalam mobil bersama Erzhan.

__ADS_1


Aksi saling merebut pun terjadi, dimana anak itu masih dalam posisi tengah menangis harus rela tubuh kecilnya sedikit merasakan sakit karena ulah dua orang dewasa di hadapannya tersebut.


"Daddy udah, STOP!" teriaknya lumayan kuat berhasil menghentikan Faraz yang hampir saja mendorong kuat tubuh Qiara mundur ke belakang.


"Udah ya, Abang capek. Mau tidur," mohon Erzhan sembari mengelus lembut pipi sang Daddy agar kembali tenang.


Hatinya sakit mendapati raut wajah sendu milik gadis cantik yang kini matanya sudah memerah karena menangis, ingin rasanya anak itu memeluk erat Qiara seraya meminta maaf.


Akan tetapi, situasinya tidak mendukung. Ada yang lebih utama dan pastinya Erzhan tidak ingin membuat hati Daddy nya terluka, apalagi sampai memilih tetap berada di kediaman Rafindra.


"Mommy jangan nangis lagi ya, Abang mohon." Ucapnya lirih seraya mengusap air mata yang terus mengalir di wajah cantik Qiara


Dalam posisi hanya berjarak beberapa centi, membuatnya lebih mudah untuk meraih tangan sang Mommy dengan tetap berada dalam gendongan Faraz.


"Abang pulang ya, maaf udah buat kalian jadi bertengkar seperti ini." Pamit Erzhan seraya menahan sesak dalam dadanya


"Jangan marah sama Daddy, sungguh Abang ngga mau lihat kalian bertengkar."


Qiara menggeleng pelan dengan air mata terus mengalir tanpa henti, bukan ini yang dia harapkan.


"Abang ngga sayang Mommy lagi?" tanyanya lirih membuat Erzhan refleks menggekengkan kepalanya cepat.


"Kata siapa Abang ngga sayang? Justru Abang sayang Mommy lebih dari apapun," jawab anak itu dengan wajah serius.


"Masih ada waktu buat Abang datang kesini lagi, semoga Daddy udah ngga marah lagi." Bisiknya pelan masih bisa di dengar oleh Faraz


Erzhan yang mendapat izin kembali masuk ke dalam rumah bersama Qiara, nyatanya tidak bisa mengubah keputusan Faraz membawa pulang sang putra.


Ingin marah tidak bisa, sebab Qiara bukan siapa-siapa disini. Dia hanya orang asing yang mendadak akrab dengan Erzhan sedari awal mereka pertama kali bertemu muka.


Di rasa cukup, akhirnya Qiara mengantar sendiri anak tampan itu pada Faraz yang masih setia berdiri tepat di samping mobil.


Tidak ada percakapan yang berlangsung di antara keduanya, bahkan sampai mobil keluar dari halaman Mansion Rafindra.


๐ŸŒน


Qiara yang kembali masuk ke dalam kamar, langsung di susul Tuan besar Rafindra bersama istrinya ke lantai atas.


.


.


.


Ceklek


Pintu kamar yang sengaja di buka perlahan, kembali di tutup setelah pasangan suami istri tersebut sudah berada di dalam.

__ADS_1


Keduanya melangkah pelan ke arah tempat tidur dan berhenti tepat di depan meja rias.


Ayshila duduk di sisi ranjang, sementara Rafin memilih duduk di kursi rias yang langsung menghadap ke arah anak dan istrinya.


"Sayang," panggil keduanya bersamaan.


Ada perasaan sedih juga rasa kasihan melihat kondisi sang putri yang jauh dari kata baik-baik saja.


"Pih," bisik Ayshila memberikan kode pada suaminya agar lebih dulu buka suara.


Rafin menghela nafas panjang guna menormalkan detak jantungnya.


"Queen, maafkan Papi dan Mami." Ucapnya pelan dengan jantung berdetak sangat kencang


"Maaf karena kami justru tidak menahannya tetap disini," lanjut Rafin sejujurnya teramat khawatir mengenai kondisi putri kesayangannya itu.


Kedua mata Qiara tanpa henti mengeluarkan cairan bening, rasa sakit karena harus merelakan Erzhan ikut pulang bersama Faraz masih tergambar jelas di wajah cantiknya yang sedikit pucat.


"Abang," gumam gadis itu lirih kembali menangis.


"Sstt, udah ya. Jangan nangis lagi, entar cantiknya hilang." Rayu Ayshila seraya memeluk sayang tubuh bergetar sang putri


Ibu mana yang rela melihat anak gadisnya bersedih hanya karena seorang anak kecil yang jelas-jelas tidak memiliki hubungan apapun dengannya.


"Kenapa pria itu jahat sama aku?" tanya Qiara pada orang tuanya.


"Aku hanya ingin bersama Abang beberapa hari lagi sebelum kembali keluar negri, tapi kenapa susah sekali permintaan ku agar kalian kabulkan?"


"Papi tahu kan, bagaimana sayangnya aku pada Erzhan?"


Pria itu mengangguk pelan dengan wajah sendu menatap lekat sang putri kesayangan.


"Lalu kenapa Papi hanya diam saja tadi?"


"Pria itu jelas memiliki hak penuh atas Erzhan, sayang."


"Tapi aku masih ingin bersama Abang," jerit Qiara menahan emesi yang siap keluar.


"Jangan keras kepala," sentak Rafin menatap dingin sebagai tanda protes.


Ia sangat benci melihat putrinya tidak lagi mengenal siapa dirinya setelah mengenal lebih dekat Tuan muda kecil Bramantya.


Sangat jelas raut wajah sedih Qiara menahan kekecewaan dalam hatinya.


"Papi harap kamu bisa lebih sadar diri tanpa harus membuat keadaannya semakin memburuk."


๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ

__ADS_1


__ADS_2