
Lima menit sebelum waktu yang Sandra tentukan menjemput sang putra di rumah mantan suaminya dan Qiara, ternyata sudah ada seorang gadis cantik berjalan masuk ke dalam mobil sembari menggandeng tangan Erzhan.
Wanita cantik itu kembali masuk ke dalam mobil setelah memastikan semua baik-baik saja, terlalu rindu membuatnya tidak sabar ingin segera tiba di tempat tujuan.
Adapaun Neta yang memang sengaja di beri tugas untuk menemani putra sambung dari calon adik iparnya tersebut, rupanya di beri imbalan oleh Qiara dengan cuma-cuma yaitu bebas shoping sesuka hati menggunakan kartu milik Faraz yang sengaja pria itu berikan pada istrinya untuk di pergunakan sebaik mungkin.
Erzhan yang melihat gadis itu tampak bahagia mendapatkan imbalan besar dari Mommy kesayangannya, sampai memutar kedua bola matanya malas seraya mencibir.
"Aunty Tata mata duitan juga ya?" sindirnya yang hanya di balas gelak tawa dari Neta.
Sungguh baru kali ini si kecil mengetahui sisi lain dari teman dekat sang Mommy yang sebentar lagi akan menjadi bagian dari keluarganya itu, mengingat selama ini setahu Erzhan kebiasaan Aunty Tata nya hanya sibuk berbisnis dan membuka beberapa cabang usaha di bidang kuliner dan hiburan.
Tidak ada yang namanya menghamburkan uang apalagi sampai rela di sogok seperti yang terjadi ekarang ini, baru saja di kasih imbalan sudah bahagia setengah gila.
"Aunty tuh kalau yang berbau gratisan mana bisa nolak sih, Bang." Kekeh Neta tidak tahu malu bahkan sampai membuat Paman Sopir hanya bisa menggeleng pelan sembari membuang nafas perlahan
"Kamu sudah dewasa, tapi kelakuan mu tidak pernah berubah anak nakal." Ucap pria berusia 45 tahun itu saat hendak menyalakan mesin mobil
Neta hanya menanggapinya dengan senyum kecil, selalu ada kalimat protes yang terucap dari mulut pria tampan sering di panggil Paman Alga tersebut, jika sudah bersangkutan dengannya.
"Paman yang paling tahu aku bukan?" godanya dengan sengaja mencium pipi kiri orang kepercayaan keluarganya itu.
Bisa di bilang, pria yang sekarang tengah menjadi sopir bukanlah orang sembarangan, melainkan Ayah angkat dari gadis bermata biru air itu. Lebih tepatnya ia di tugaskan untuk menjaga putri dari sahabatnya yang kini tengah berada di negara asalnya.
Neta tidak memiliki keluarga atau kerabat dekat setelah memilih ikut bersama Qiara, hal itu juga yang membuat Alga rela membagi waktunya agar bisa mengawasi putri kesayangan sahabatnya tersebut.
Kini, mobil yang melaju dengan kecepataan sedang itu membela jalan ibu kota menuju salah satu pusat perbelajaan yang sengaja di tunjuk Sandra untuk menghabiskan waktu bersama putranya sebelum pada akhirnya dia kembali lagi ke negara asing.
Erzhan tampak biasa saja mengetahui akan bertemu dengan ibu kandungnya sendiri, karena jauh di dalam hatinya jelas hanya ada sang Mommy kesayangan Qiara dengan segala perhatian dan kasih sayangnya selama ini.
"Ngga lama kan?" tanyanya kembali memastikan jika pertemuannya dengan Mama Sandra tidak memakan waktu yang lama.
__ADS_1
"Iya, lagian itu Mama kandung Abang loh. Ngga boleh memperlihatkan raut wajah kurang bahagia, paham?" jawab Neta sekaligus memberi pengertian.
Tugas gadis itu lumayan menguras kesabaran, itu sebabnya Qiara tidak pernah merasa di rugikan jika sudah mengeluarkan uang dengan jumlah tidak sedikit agar calon kakak iparnya itu mau melakukan apa yang sudah di perintahkan.
Beruntungnya Neta sangat mudah di rayu, meski kadang kala harus dengan drama sekali pun.
.
.
.
Jika Neta merasa bahagia di beri imbalan bebas shoping sesuka hati karena menyetujui permintaan Qiara untuk menemani Erzhan keluar bertemu dengan Sandra.
Sangat jauh berbeda dengan apa yang Qiara alami beberapa menit yang lalu setelah berhasil meyakinkan Faraz untuk mengijinkannya tidak ikut ke kantor dengan alasan bosan menunggu sampai pria itu selesai bekerja.
Di dalam kamar, tampak wanita yang setiap hari aura wajahnya tampak bersinar dan semakin cantik itu mendadak kesal sendiri, akibat menonton sebuah film romantis yang memperlihatkan bagaimana si pria memanjakan istrinya yang memilih tidak pergi ke kantor saking khawatir akan terjadi sesuatu pada wanita itu.
Segala umpatan keluar dari bibir mungil kemerahannya yang belum menyadari kehadiran orang lain di dalam kamar saking kesalnya.
Wanita cantik itu masih saja mengeluarkan segala keluh kesahnya tanpa ada yang sengaja di tutupi, sesekali memukul bantal sofa lumayan kuat demi menghilangkan kekesalan di hatinya.
Melihat tingkah sang istri yang begitu menggemaskan ketika sedang kesal, membuat Faraz tidak tahan lagi untuk berlama-lama sembunyi di balik pintu kamar yang terbuka setengah.
Pria itu perlahan mendekat kearah Qiara tanpa mengeluarkan suara, menikmati raut wajah istrinya yang semakin cantik dan mempesona semenjak di nyatakan hamil.
Sebuah kecupan penuh kerinduan mendarat sempurna di pipi kanan wanita itu yang tampak kaget melihat kehadiran suaminya.
"Daddy," jerit Qiara lumayan kuat membuat Faraz sampai menutup rapat kedua telinganya mencari aman.
"Jangan terak-teriak, Mom." Tegur pria itu masih setia menutup telinganya menggunakan kedua tangan
__ADS_1
Qiara tertawa sembari meminta maaf karena terkejut sampai melupakan jika sudah ada nyawa yang harus dia jaga baik-baik di rahimnya.
"Refleks, Daddy." Kekehnya tanpa dosa
"Aku kaget loh, makanya kalau masuk kamar itu harus ketuk pintu dulu."
Faraz membuang nafas kasar, tidak lagi mengeluarkan suara. Di peluknya tubuh langsing wanita halalnya itu penuh kerinduan, meluapkan segala rasa yang menyelimuti hatinya selama berada di kantor tidak sampai dua jam lamanya.
Ikatan bathin yang begitu kuat antara pasangan suami istri tersebut. Siapa sangka membawa Faraz nekat kembali pulang ke rumah di tengah rapat penting yang belum ada dua puluh menit berlangsung, hanya karena tiba-tiba merindukan Qiara.
Meski ada orang kepercayaan di sekitar rumah dan beberapa pelayan berada di halaman belakang, tidak membuat pria itu percaya sepenuhnya jika mereka bisa mengawasi istrinya setiap waktu.
Qiara yang lebih menyukai tetap berada dalam kamar sampai suaminya pulang dari kantor, memang sulit di awasi. Mengingat tempat itu merupakan area pribadi yang hanya boleh di masuki oleh suaminya.
Itu sebabnya, Faraz langsung pulang tanpa peduli akan ada yang melaporkan kelakuannya pada Tuan besar Bramantya, karena pergi meninggalkan rapat di saat semua petinggi perusahaan berusaha meluangkan waktu mereka hanya untuk menghadiri pertemuan.
Hampir sepuluh menit lamanya, pasangan suami istri itu masih saling berpelukan. Tidak ada yang mau melepaskan saking rindunya, padahal mereka belum lama berpisah.
"Daddy kenapa pulang?" tanya Qiara setelah berhasil meredakan kekesalannya beberapa menit yang lalu.
Dia langsung melepaskan pelukannya sembari menatap kedua mata Faraz yang tersenyum hangat.
"Kangen Mommy." Jawab pria itu jujur masih dengan raut wajah penuh kerinduan
"Kalau tahu bakal kayak gini akhirnya, mending aku tadi ngga usah ke kantor."
Qiara tertawa geli mendapatkan ciuman bertubi-tubi di seluruh wajahnya tanpa ampun.
Kebiasaan baru dari Faraz seolah menjadi candu yang akan terus di lakukan tanpa adanya rasa bosan.
"Main yuk, Mom."
__ADS_1
๐๐๐๐๐