
Qiara akhirnya menunda kepulangannya bersama Faraz dari liburan selama hampir dua minggu, terhitung sisa dua hari lagi mereka berada di pulau pribadi milik keluarga tersebut.
Sedikit berat memang, terlebih hampir setiap hari Erzhan selalu menghubungi Mommy dan Daddy nya hanya untuk mengatakan agar keduanya segera pulang ke rumah.
Rasa rindu karena di tinggalkan begitu saja tanpa membawa anak tampan itu ikut bersama, sempat timbul perdebatan kecil antara Faraz dan Qiara.
Namun, Erzhan akhirnya mengalah dengan catatan ketika pulang ke rumah harus membawa banyak hadiah untuknya.
Pasangan suami istri tersebut hanya bisa menyetujui permintaan sang putra kesayangan, demi kenyamanan liburan mereka yang nyatanya berubah jadi satu bulan.
Selama wanita cantik yang bernama Sandra masih berada di negara asal, terlebih dia tinggal bersama Tuan dan Nyonya besar Rafindra di kediaman utama.
Faraz maupun Qiara sepakat tidak akan pulang ke rumah, kecuali wanita itu sudah pergi dan berharap tidak akan muncul lagi sampai waktu yang tepat untuk mereka kembali bertatap muka.
Liburan sekaligus Honeymoon ala-ala pasangan suami istri tersebut, nyatanya begitu menyenangkan. Tinggal bersama Oma dan Opa serta bisa melihat orang-orang kepercayaan keluarga yang mulai berani menampakkan diri mereka keluar dari tempat persembunyian, membuat Faraz dan Qiara sangat bahagia.
Hampir setiap hari menikmati indahnya kebersamaan dengan semua penghuni pulau, terutama anak-anak kecil yang menggemaskan seumuran Erzhan menjadi pengobat rindu Qiara terhadap anak sambungnya tersebut.
Adapun Faraz sangat berharap liburan mereka kali ini bisa membuahkan hasil dengan hadirnya makhluk kecil di dalam rahim istrinya.
Oma dan Opa sangat memahami perasaan pria itu, melihat sikapnya yang begitu memprioritaskan Qiara dalam segala hal. Termasuk menjaga pola makan sang istri agar sehat juga mengatur waktu istirahat wanita halalnya tersebut.
"Ia semakin terlihat dewasa sekarang," bisik Oma pada suaminya yang tersenyum hangat.
"Faraz memang seperti itu, tapi hanya pada Qiara saja." Kekeh Opa sembari mencium penuh sayang punggung tangan sang istri tercinta
"Semoga pernikahan mereka di jauhkan dari hal-hal yang tidak baik," gumam wanita baya itu yang langsung di Aamiin kan suaminya.
__ADS_1
Pernikahan yang selalu menjadi impian setiap kaum wanita terutama Oma sendiri, jelas adalah pernikahan yang terjadi hanya sekali seumur hidup.
Hal itu juga yang wanita baya itu harapkan dari pernikahan Qiara dan Faraz.
.
.
Puas bermain juga menikmati waktu kebersamaan dengan orang-orang kepercayaan keluarga.
Akhirnyan Qiara memutuskan untuk pulang, tetapi bukan ke rumah Oma dan Opa. Melainkan dia pergi ke Vila menyusul Faraz yang sudah lebih dulu berada di sana.
Nyonya muda Bramantya tersebut pulang dengan beberapa orang yang ikut menemaninya, tidak ada kata penolakan yang keluar dari mulutnya karena memang hari semakin gelap.
Sampai di Vila, orang yang mengantar Qiara langsung pergi tanpa berpamitan terlebih dahulu. Sebab itu sudah menjadi kebiasaan mereka dari dulu.
Grebb
"Kangen Daddy," bisik Qiara tepat di telinga suaminya yang tersenyum hangat.
"Mandi dulu ya," Faraz langsung menggendong istri cantiknya itu menuju kamar.
Hari yang mulai gelap, menandakan malam segera tiba.
Baik Faraz maupun Qiara berencana akan makan malam berdua saja di Vila, mengingat sehabis mengisi perut dan istirahat sejenak. Mereka akan cepat tidur agar keesokan harinya bisa membantu Oma dan Opa memanen buah-buahan yang ada di kebun.
Akan tetapi, bukan Faraz namanya jika la menepati perkataannya untuk segera tidur usai makan malam dan bersantai sejenak.
__ADS_1
Terbukti setelah pasangan suami istri tersebut memasuki kamar hendak merebahkan tubuh ke atas ranjang, terutama Qiara. Bukannya langsung tidur, Faraz dengan jahilnya membuka satu persatu kancing baju tidur istrinya seraya tersenyum penuh arti.
Qiara tentu paham dengan maksud suaminya yang terlampau mesyum tidak mengenal waktu dan tempat.
"Minggir Daddy!" ucapnya pelan sembari berusaha melepaskan tangan pria itu yang mulai menjalar kemana-mana.
"Ngga mau sayang," Faraz enggan beranjak dari atas tubuh istrinya.
Sejujurnya Qiara sangat lelah juga mengantuk, tetapi harus rela meladeni suaminya yang ingin mencari kesenangan lewat mengganggu dirinya seperti sekarang.
"Kalau begini terus kelakuan Daddy, percaya deh. Pulang nanti dari liburan udah garis dua." Ocehnya pelan dengan kedua mata menatap tajam Faraz penuh kekesalan
"Ya bagus dong, aku harus jadi orang pertama yang tahu kabar bahagianya."
"Kan, aku yang capek, Mom."
"Enakan di Daddy, ngga enaknya di aku."
Qiara benar-benar tidak habis pikir dengan tingkat kemesyuman suaminya tersebut. Pantang bagi Faraz melewatkan sedetik saja tidak mengganggunya dan berakhir sesuatu yang harusnya terjadi pun akhirnya terjadi.
Malam yang semakin larut dengan cuaca yang mendukung karena turun hujan, menjadi kesempatan besar bagi Faraz melakukan hal yang menyenangkan bersama istrinya.
Jangan bertanya kapan pasangan suami istri tersebut menyudahi permainan panas mereka, sebab Faraz lah yang menentukan semuanya. Sedangkan Qiara cukup terima beres sembari berdoa dalam hati, jangan sampai dia langsung di nyatakan hamil usai pulang dari liburan nanti.
Qiara masih belum siap, terlebih dia selalu mengutakan Erzhan dalam hal apapun itu. Termasuk perihal apakah putra sambung kesayangannya itu sudah siap memiliki adik.
Semua di pikirkannya masih dari jauh-jauh hari, tetapi sebagai istri yang selalu ingin memberikan yang terbaik untuk suaminya. Jelas ada perasaan bersalah ketika mendengar harapan Faraz yang mengatakan ingin segera memiliki anak.
__ADS_1
๐๐๐๐๐