Istri Kedua Sang CEO

Istri Kedua Sang CEO
NEW BAB 23


__ADS_3

Acara resepsi pernikahan Helia dan Gunawan diadakan di gedung yang sama dengan hotel tempat mereka menginap.


Bima dan keluarga kecilnya yang menjadi tamu undangan tentu saja sudah tiba di lokasi. Saat ini mereka sedang duduk di kursi yang tersedia dengan meja bundar yang dikhususkan untuk pihak keluarga mempelai wanita.


Anggota keluarga terbanyak saat ini tentu saja dipimpin oleh Hiro. Pasalnya ia juga membawa anak-anaknya serta babysitter mereka. Sedangkan untuk Bima sendiri hanya membawa empat orang anaknya.


"Kamu pasti sangat kerepotan mengurus anak-anak lucu ini. Tapi, itu adalah nikmat yang diberikan pada kita untuk merawat mereka," kata Nia.


Wanita itu menatap gemas pada anak laki-laki bungsu Hiro dan Elina yang saat ini berada di dalam pangkuan wanita itu.  Usia anak laki-laki Hiro yang bernama Athallaric atau kerap disapa Athalla  itu baru dua tahun dan  tampak menggemaskan di matanya. Terutama anak itu tidak pernah memilih pada siapa ia digendong. Nia memang sedikit akrab dengan adik ipar  dari Helia ini karena memang mereka tinggal di satu desa yang sama dengan Jillo dan Chila. Rumah mereka pun bersebelahan hingga baik Bima maupun Nia cukup nyaman untuk meninggalkan anak-anak mereka di sana.


"Iya, Mbak. Walau udah ada mbak yang menemani mereka dan mengurus anak-anak, tetap aja seperti enggak ada kepuasan kalau bukan kita sendiri yang mengurusnya." Elina tersenyum sambil mengusap  pipi Alexa yang lebih tua 1 tahun dari Athalla. Elina merasa bersyukur anak-anaknya tidak ada yang cengeng. Kecuali, saat mereka mengalami demam,  baik Elina maupun Hiro harus ekstra sabar merawat mereka. Karena jika satu menangis kencang, maka yang lain ikut menangis hingga membentuk paduan suara.


"Benar. Aku aja yang mengurus anak-anak yang sudah besar, kadang kualahan. Apalagi Arga. Menjaga anak perempuan sama seperti menjaga anak laki-laki. Kita harus ekstra. Kalau enggak--" Nia menatap Elina. "Mereka bakalan liar dan terlibat pergaulan bebas."


"Aku juga mikirnya begitu, Mbak. Niatnya, aku akan tetap mengawasi mereka tanpa harus mengekang mereka. Aku mau 8 anak-anakku hidup dengan baik dan sukses." Elina tersenyum manis sambil menatap ke arah anak-anaknya yang lain.


Orang lain mengatakan jika Elina akan sangat kerepotan mengurus balita yang berjumlah 8 orang. Orang luar akan pusing melihat bagaimana anak-anak Elina jika dikumpulkan dalam satu tempat. Anehnya, Elina tidak merasakan hal demikian.  Wanita itu justru merasa sangat bahagia bisa hidup bersama anak-anaknya. Terlebih lagi ada Carla dan Clara  yang merupakan anak dari keponakan Hiro yang sering menjadi teman bermain bersama anak-anaknya.


"Oh iya Mbak, Jillo dan Chila titip salam ke mbak dan Mas Bima. Katanya, mereka enggak bisa datang ke sini.  Carla tiba-tiba demam," ujar Elina.


"Tadi Jillo juga udah telepon aku dan Mas Bima. Kami berencana untuk datang ke desa. Tapi, jangan kasih tahu Jillo dulu. Rencananya kami mau buat kejutan untuk mereka," sahut Nia bersemangat.


Sudah 3 bulan mereka tidak bertemu dan Nia juga merindukan anak itu juga cucunya. Ah, betapa menyenangkannya memiliki cucu di usia muda sepertinya sekarang, pikirnya dalam hati.


"Beneran, Mbak? Kalau begitu nanti aku minta Bibi untuk bersiap-siap."


"Enggak perlu." Nia menepuk pundak Elina dan tersenyum. "Nanti Jillo tahu kalau kami mau ke sana."


Elina akhirnya setuju dengan ucapan Nia. Kedua wanita itu mengobrol dengan santai dan membahas beberapa topik sambil sesekali mereka mengawasi  di mana keberadaan anak-anak mereka yang lain.


Sementara Helia diujung lain dengan gaun pengantin yang ia kenakan melangkah bersama dengan Gunawan menuju atas pelaminan. Gaun dengan ekor yang panjang itu menyapu lantai yang ditutupi dengan karpet merah saat keduanya melangkah diikuti anggota keluarga lainnya.


Tak lama setelah mereka duduk di atas pelaminan, seorang wanita membawa bayi berusia 2 tahun menuju ke pelaminan dan menyerahkan bayi itu pada mempelai wanita.


Tamu undangan tidak terkejut ketika melihat ada bayi di atas pelaminan yang sedang dipangku oleh mempelai wanita. Mereka cukup tahu jika saat ini Helia sudah lama menikah dengan Gunawan dan baru saja mengadakan resepsi ketika anak mereka sudah berusia 2 tahun lebih.

__ADS_1


Tak jauh dari posisi mempelai pengantin, dua sosok laki-laki muda dan 1 orang perempuan keluar dari tempat di mana kedua mempelai tadi keluar.


Mereka adalah Dika, Dikta, dan Dania. Ketiganya kemudian naik ke atas pelaminan dan bersua foto sesuai dengan intruksi fotografer.


"Itu anak tirinya Mbak Helia," celetuk Elina, saat melihat ke arah pelaminan. Wanita itu mengenal keluarga Helia karena sudah beberapa kali mereka bertemu.


"Sudah pada besar-besar, ya?  Berarti anak tiri Mbak Lia ada tiga," komentar Nia.


"Bukan, Mbak. Anak tiri Mbak Helia cuma 2 anak laki-lakinya itu. Kalau yang perempuan, itu pacarnya si anak sulung," ralat Elina, membuat Nia mengangguk mengerti.


"Anak tirinya Mbak Lia sudah punya pacar. Anakku belum." Nia tanpa sadar melirik ke Arga yang sedang bermain bersama Alana. Sementara Kello sendiri memangku sosok Alea yang duduk dengan tenang.


Merasakan tatapan seseorang, Arga tanpa sadar mencari sumber tatapan dan menemukan mata sang mami yang  menatapnya dengan kilat yang tidak dimengerti oleh pemuda itu.


Tiba-tiba Arga mengusap tengkuknya yang  merinding saat sang Mami menatapnya sambil tersenyum.


Senyum maminya sungguh tidak enak dipandang. Senyum yang akan membuat Arga pasti berada di dalam kesulitan nantinya. Lihat saja, pikir Arga dalam hati.


Arga segera mengalihkan tatapannya ke arah lain. Pemuda itu tidak mau lagi menatap maminya yang entah mengapa tatapan sang mami mengandung racun.


Nia mengangguk saja berharap di dalam hatinya agar putra sulungnya itu bisa mendapatkan seorang perempuan yang baik. Selama ini Nia sangat jarang atau bahkan tidak pernah melihat Arga dekat dengan seorang gadis.


Acara berlangsung dengan lancar dan meriah. Banyak tamu undangan yang hadir di antaranya rekan artis Helia dan juga rekan bisnis Gunawan serta keluarga dari kedua belah pihak.


Keluarga Bima naik ke atas pelaminan untuk memberi selamat pada Helia sekaligus bersua foto sebagai kenang-kenangan mereka kelak.


"Selamat atas pernikahan kalian. Semoga langgeng sampai menua bersama," ujar Bima. Pria itu berdiri di hadapan Gunawan dan memberi selamat pada suami dari mantan adik iparnya.


Gunawan sendiri tersenyum kecil sambil menganggukkan kepalanya.    "Terima kasih karena kalian sudah mau hadir." Gunawan melirik ke arah Nia yang saat ini sedang menggendong Alana.


Gunawan sempat beberapa kali bertemu dengan istri muda dari mantan kakak ipar istrinya. Menurut pendapat Gunawan, Nia adalah wanita yang baik. Tidak terlihat jahat sama sekali. Tidak seperti istrinya, Helia yang dari jarak 100 meter saja orang bisa merasakan aura jahat dari sang istri.


Cubitan di pinggangnya membuat Gunawan tersadar. Pria itu menoleh dan menatap sang istri yang kini sedang melotot ke arahnya.


"Kenapa lihat-lihat istri orang? Apa aku kurang seksi?" Mata sinis Helia menatap Gunawan membuat pria itu gemas dan memeluk istrinya dari samping.

__ADS_1


"Cemburu?" Gunawan mengangkat sebelah alisnya menatap Helia.


"Aku? Cemburu? Heh, pria muda yang tampan bisa aku dapatkan," sahut Helia dengan angkuh. 


Hal itu tentu saja memicu kemarahan Gunawan. Pria itu menatap tajam istrinya. "Jangan coba-coba kalau kamu mau aku kurung di rumah," ancam Gunawan tidak main-main.


Mendengar itu tentu saja Helia langsung diam. Helia masih waras untuk memancing kemarahan suaminya yang jika sudah mengatakan A maka tetap A seperti apa pun Helia ingin merubah prinsip pria itu.


Nia yang melihat Helia begitu patuh pada suaminya mengangkat alis terkejut. Ternyata perempuan aktif seperti Helia bisa tunduk juga pada lelaki macam Gunawan.


"Selamat ya, Mbak Hel. Semoga langgeng sampai nenek kakek. Jangan suka marah-marah, nanti aura Mbak Hel dihisap sama Mas Gunawan. Mas Gunawan makin ganteng, Mbak Hel makin--" Nia memberi kode petik dua dengan kedua jarinya sebagai kode. Hal itu tentu saja membuat Helia melotot.


"Pergi sana. Saya enggak tahan lihat muka kamu," usir Helia membuat  Nia terkekeh. Wanita itu tidak tersinggung sama sekali ketika diusir oleh mempelai pengantin wanita. Baginya menggoda Helia bisa membuat perasaannya senang. Anggap saja ini balas dendam karena Helia dulu sudah pernah menghina dan mengejek dirinya.


Bima dan Nia kemudian turun dari pelaminan meninggalkan kedua kakak adik yang juga merupakan keponakan Helia di atas pelaminan.


Kedua tangan Helia terentang dan memeluk Arga serta Kello secara bersamaan. Kedua pemuda itu memiliki tinggi tubuh hampir sama dengannya. Tidak pernah Helia sangka jika ia sudah memiliki keponakan yang sudah beranjak dewasa seperti Arga. Terlebih lagi jika menilik dari statusnya dengan Hera, ini pertanda jika Helia sendiri sudah menjadi seorang nenek dari anaknya Jillo.


"Ponakan Tante sudah pada besar semua. Enggak terasa karena kita memang jarang kumpul seperti ini." Helia menatap kedua keponakannya setelah ia melepas pelukannya.


"Tante 'kan memang sering sibuk di luar."


Helia setuju dengan pernyataan Arga. Selama ini ia memang sibuk di luar dengan segala aktivitasnya. Bahkan, kalau boleh jujur rasa bencinya masih ada untuk almarhumah kakaknya meski tidak sebesar dulu.


"Kalian harus rajin-rajin main ke rumah tante. Pokoknya, jangan mentang-mentang kalian punya ibu baru, kalian lupa kalau kalian masih punya Tante," ujar Helia dengan serius.


"Tante yang menjauh bukan kami," celetuk Kello. Pemuda itu tentu saja sangat tahu jika tantenya adalah orang sibuk yang jarang berkumpul dengan keluarga.


"Makanya sekarang kita harus  sering habisin waktu bersama."


Arga dan Kello mengangguk saja dengan ucapan tante mereka. Setelah memberi selamat pada Gunawan dan Helia, keduanya melangkah turun dari pelaminan menghampiri kedua orang tua mereka.


Gunawan mengalihkan tatapannya pada sang istri, kemudian merangkul pinggangnya. "Kalau kamu kangen dengan mereka, bisa sesekali kamu harus ajak mereka untuk datang ke rumah." 


"Iya, Mas. Terima kasih."

__ADS_1


Wanita itu tersenyum dan mengalihkan tatapannya ke arah keluarga kecil Bima. Mereka tampak bahagia dan tertawa bersama. Diam-diam di dalam hatinya yang paling dalam Helia sangat bersyukur wanita yang menjadi istri Bima adalah Nia. Jika itu adalah wanita lain, Helia tidak bisa menjamin jika akan ada tawa dan canda dalam keluarga kecil kakak iparnya itu.


__ADS_2