Istri Kedua Sang CEO

Istri Kedua Sang CEO
IKSC Bab 117 ~ Yakinkan Aku


__ADS_3

๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Faraz yang diam-diam masuk ke dalam kamar milik Tuan putri Rafindra, ternyata sudah di ketahui oleh pemilik kamar tersebut.


Bukan Qiara jika tidak bisa menyadari adanya orang lain di sekitarnya, memiliki tingkat kepekaan dan sangat perasa terhadap hal apapun itu menjadi poin penting baginya sebagai Nona muda Rafindra.


"Jangan peluk anak gadis orang sembarangan," kesalnya mendapati tubuh kekar Daddy Erzhan sudah berada tepat di belakangnya dalam posisi memeluk erat dirinya.


Faraz yang tersadar langsung melepas pelukannya dari Qiara sembari meminta maaf.


"Ingat ya, situ masih suami orang." Sindir Qiara dengan tatapan mata berubah tajam


"Iya maaf," sahut pria tampan itu salah tingkah.


Karena terlalu bahagia tanpa sadar ikut melihat album foto yang ada dirinya, membuat Faraz lupa dengan siapa ia berpelukan.


Qiara tidak benar-benar marah, dia hanya kaget mendapatkan pelukan tiba-tiba dari seorang pria yang dulunya sangat dekat dengannya dan ketiga Tuan muda Rafindra.


"Kamu marah?" tanya Faraz khawatir.


"Sumpah, aku ngga sengaja. Aku--," ucapnya terpotong.


"Ngga apa-apa, tadi aku cuma kaget ajah pas kamu peluk." Balas Qiara tersenyum manis


"Oh iya, Abang mana?" tanyanya seraya mencari keberadaan Erzhan.


Qiara sangat merindukan anak tampan itu, meski bukan lahir dari rahimnya. Tetapi ikatan bathin antara keduanya sangat erat, dia bisa merasakan kesedihan atau kebahagiaan Erzhan tanpa harus menunggu anak itu buka suara.


"Lagi di bawah, sama Kak Zaidan dan lainnya." Jawab Faraz memilih duduk di kursi rias samping tempat tidur


"Aku mau ajak kamu jalan-jalan, mau ya?"


Qiara menoleh dengan alis mengkerut, bukannya tidak mau. Hanya saja dia tidak ingin lagi mendengar berita miring tentang dirinya di luar sana, meksi hubungan di antara mereka jelas akan kemana di masa depan.


"Qia, dengar ngga sih apa yang aku bilang barusan?" gemas Faraz rasanya ingin mencubit pipi chubby gadis cantik itu.


"Aku ngga mau," tolak Qiara tanpa ekpresi.


"Kenapa?" tanya pria itu keheranan.


"Ish, masih pake nanya lagi."


Qiara tentu hanya ingin menjaga dirinya, tetapi pria tampan yang masih berstatuskan suami orang di hadapannya tersebut belum paham juga.


"Kan, aku ngga tahu apa alsan kamu nolek ajakan aku." Ucap Faraz jujur apa adanya


"Ini nih, kalau otaknya kelewatan lola yang kayak gini." Ketus Qiara mendadak kepalanya pusing meladeni tingkat kelemotan pria itu dalam berfikir

__ADS_1


Faraz yang otaknya memang sulit di ajak kompromi, jelas semakin mendesak Qiara agar mau keluar jalan-jalan bersamanya.


Bukan ia tidak memikirkan bagaimana resiko yang bisa saja menyakiti Qiara atau timbul berita miring tentangnya di luar sana.


Hanya saja, untuk saat ini Faraz begitu sulit memutar otaknya yang penuh dengan beban masalah tanpa ada habisnya.


Dengan berada di dekat Qiara, hatinya sedikit merasa nyaman dan tenang walau harus meladeni sikap ketus dan pemarah gadis cantik itu.


"Kali ini saja, temani aku. Boleh ya?" pintanya setengah mengiba.


"Aku hanya--,"


"Ok. Kamu tunggu di luar, aku mau ganti baju dulu." Potong Qiara mulai paham situasi yang pria itu alami


Tanpa suara, Faraz langsung melangkah keluar dari kamar.


Qiara yang semula ingin bersantai di kamarnya selama seharian penuh, sepertinya tidak jadi. Melihat Tuan muda Bramantya dalam kondisi kurang baik pikirnya, akan jauh lebih aman jika menuruti permintaan pria itu.


Tidak sampai lima belas menit, Qiara keluar dari kamar lengkap dengan pakaian santai namun rapih. Dia terlihat jauh lebih cantik dengan make up natural, smapai Faraz yang menatapnya tidak berkedip.


"Kita berangkat sekarang?" tanya gadis itu membuyarkan lamunan Faraz.


"Ah iya, sepertinya Erzhan merengek." Jawabnya mempersilahkan Qiara jalan lebih dulu


"Abang pasti bosan ya nungguin?" Tanya Qiara merasa bersalah.


"Ngga juga, anak itu tahu kamu sulit di bujuk." Kekeh Faraz yang sedetik kemudian menjerit


"Aw, sakit." Pekiknya mengusap pelan bagian lengan yang Qiara cubit lumayan kuat


Tidak akan pernah aman jika mereka di pertemukan, selalu ada saja perdebatan atau pertengkaran yang terjadi.


Tring


Pintu lift terbuka lebar, Qiara melangkah keluar lebih dulu dengan Faraz mengekor di belakang sembari tertawa geli.


Selama berda di dalam kereta besi tersebut, rupanya Faraz tidak hentinya mengganggu si bungsu kesayangan Tuan besar Rafindra.


Alhasil, gadis cantik itu nyaris mencekik leher Faraz saking kesalnya tetus di ganggu.


Usia yang terpaut jarak enam tahun, membuat Tuan muda Bramantya seperti mengasuh anak kecil yang moodnya suka berubah-ubah setiap saat.


"Papi ..." Teriak Qiara menggema di setiap sudut kediaman Rafindra


Semua anggota keluarga yang duduk santai di ruang keluarga di buat terkejut mendengar suara nyaring gadis cantik itu.


"Mulai lagi," omel Nyonya Ayshila yang sangat hafal kelakuan sang putri kesayangan.

__ADS_1


"Jangan teriak-teriak, Dek. Ini bukan di tengah hutan," tegurnya setelah Qiara tiba di ruang keluarga


"Mami pusing lihat kamu," tawa gadis itu langsung pecah.


Setiap hari ada saja tingkah aneh dan absurd Nona muda Rafindra yang berhasil membuat seluruh penghuni rumah hanya bisa membuang nafas kasar dan mengusap dada mereka sabar.


"Jangan lah marah, Mami sayang." Kekeh Qiara langsung memeluk erat sang mami


"Udah rapih, mau kemana?" tanya Nyonya Ayshila sembari melepas pelukannya.


Qiara menunjuk ke arah Faraz menggunakan dagu, kini semua mata langsung tertuju pada pria itu seakan meminta penjelasan.


"Mau aku ajak jalan-jalan," ucapnya pelan seraya tersenyum kaku.


"Emang anaknya mau?" tanya Neta yang sepertinya hafal kebiasaan teman dekatnya tersebut.


Semua mata kembali menatap ke arah Qiara dengan rasa penasaran yang tinggi.


"Apa?" gadis itu mendadak salah tingkah.


"Kita pergi ajah yuk," ajaknya pada Erzhan tanpa sekalipun menoleh ke arah belakang dimana semua anggota keluarga masih setia menunggu jawaban darinya.


Faraz sampai di tinggalkan, saking malunya tidak ingin ada yang melihat sudah semerah apa kedua pipi Qiara sekarang.


"Malu kayaknya tuh si Queen," kekeh Zaidan membuat yang lainnya tertawa.


"Kamu ngga nyusul mereka? Di tinggal baru tahu rasa," ucap Tuan Rafin menyadarkan Faraz dari lamunannya.


Pria itu langsung pergi setelah berpamitan lebih dulu dan tidak lupa meminta ijin membawa Qiara dengan jaminan akan di antar pulang tanpa lecet sedikit pun.


Perjalanan yang memakan waktu hampir satu jam, di gunakan Qiara dan Erzhan untuk istirahat sejenak.


Mereka tidak tahu akan di bawa kemana oleh Faraz, sebab pria itu sengaja tidak mengatakan apa-apa.


Satu jam kemudian, mobil yang Faraz kendarai memasuki area kawasan Fila yang berada di ujung kota.


Tempat paling nyaman dan tenang menjadi pilihan Faraz ketika otak dan hatinya dalam suasan kacau, tidak ada yang tahu bangunan lumayan besar dan terlihat sangat indah tersebut sengaja di bangun jauh dari pusat kota.


Baik Tuan Rasya maupun Nyonya Kamila belum pernah di ajak kesana, melainkan Qiara dan Erzhan menjadi yang pertama.


"Udah sampai ya?" tanya Qiara dengan suara serak khas orang bangun tidur.


"Ngantuk banget Mom," rengek Erzhan sepertinya malas beranjak dari atas pangkuan sang Mommy.


Faraz menghela nafas panjang, ini lah yang membuatnya bingung kenapa sang putra begitu lengket pada Qiara.


"Aku harap kamu ngga akan mikir Erzhan kayak gini sama kamu lantaran aku," gumamnya sangat pelan tanpa sadar di dengar Qiara yang memiliki indra pendengaran sangat tajam.

__ADS_1


"Cukup kamu yakinkan aku tidak ada hubungannya dengan masalah mu dan Sandra, itu jauh lebih baik daripada aku harus merasakan sakit di tuduh sebagai orang ketiga."


๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ


__ADS_2