Istri Kedua Sang CEO

Istri Kedua Sang CEO
IKSC Bab 119 ~ Gara-gara Daddy


__ADS_3

๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Qiara yang masuk ke dalam Fila bersama Erzhan, bertepatan dengan munculnya Faraz dari arah kamar sembari tersenyum hangat.


Ketiganya langsung menuju ruang tengah untuk bersantai sebelum waktu makan malam tiba.


Sudah ada beberapa cemilan sengaja di sediakan mengingat Qiara maupun Erzhan punya kebiasaan yang sama.


"Anne sama Baba kemana?" tanya si cantik dengan pandangan menyusuri setiap sudut ruangan untuk mencari keberadaan pasangan suami istri tersebut.


"Di halaman belakang," jawab Faraz tanpa menoleh ke arah gadis itu yang menatapnya bingung.


"Ngapain?" tanya Qiara lagi.


"Entah, aku malas nanya."


"Ish, tanyain sana!" pinta Nona muda Rafindra sebenarnya penasaran.


Tadi dia tidak di ijinkan ke taman bunga padahal masih siang, alasannya pun sedikit kurang masuk akal menurut Qiara.


Ini sudah jaman modern, tidak mungkin ada hal aneh seperti yang orang-orang tua dulu bicarakan. Ucapnya dalam hati


Sementara Faraz yang mengerti dengan tatapan penuh tanya Qiara, mau tidak mau akhirnya menceritakan apa yang seharusnya tidak ingin lagi dia ungkit.


"Kamu tadi keluar bawa Erzhan mau ke taman bunga kan?" tanyanya langsung membuat Qiara terkejut.


"Bagaimana kamu bisa tahu?" heran gadis itu semakin mendekatkan dirinya ke arah Faraz yang tertawa lucu.


"Hey, ekspresi macam apa itu?" tawa Faraz pecah.


Qiara seperti anak kecil yang memiliki jiwa penasaran yang besar.


"Habisnya kamu nanya aku sama Abang yang mau ke taman, bukannya hanya Anne saja yang tahu?"


Qiara sejujurnya merinding dan sedikit merasa takut bagaimana jika tempat yang katanya sangat indah dan tenang seperti ini ada yang aneh-aneh.


Kalau memang benar, sepertinya dia akan mengurungkan niatnya untuk berlama-lama di Fila.


"Ish, di tanyain malah diam." Kesal gadis cantik itu mulai tidak sabaran ingin tahu ada apa


"Baba yang kasih tahu, pas kalian keluar Fila bertepatan dengan Baba yang mau ke kamar ku." Jelas Faraz seraya mencubit gemas kedua pipi Qiara lumayan kuat


"Sakit Tuan angkuh," pekiknya meminta di lepaskan.


Qiara masih menunggu Faraz untuk menceritakan perihal Fila yang rasanya sedikit horor menurutnya jika menjelang malam.


"Terus apa yang aneh dengan tidak boleh ke taman bunga?" tanyanya.


"Kamu beneran ingin tahu?"


Qiara mengangguk cepat dengan raut wajah begitu menggemaskan.

__ADS_1


"Jangan lihat keluar mulu kenapa sih?" kekeh Faraz merasa gemas dengan tingkah penasaran Nona muda Rafindra tersebut.


"Kok jadi seram ya?" gumam si cantik bergidik ngeri.


"Ada hantunya mungkin," jawab Faraz asal dengan tatapan serius.


"Haa, masa sih?" Qiara menejerit lumayan kuat.


Dia langsung berpindah tempat duduk semakin merapatkan diri pada Erzhan yang duduk tenang sembari memakan kue.


Kabut yang lumayan tebal hampir menutup pandangan gadis itu yang melihat ke arah taman bunga, semakin gelap terasa semakin menakutkan bila di lihat dari dalam Fila yang sengaja di desain memakai banyak kaca.


Si tampan kecil yang semula acuh mulai kesal sendiri menyaksikan Daddy nya ingin menjahili sang Mommy kesayangan.


"Daddy ngaco ih, pake nakut-nakutin Mommy Qiara." Omelnya pada Faraz yang akhirnya tergelak


"Ngga ada apa-apa di taman bunga, tadi Anne cuma minta kita masuk biar ngga kedinginan dan sebentar lagi bukannya waktu ibadah. Di mananya yang aneh coba?"


Sungguh Erzhan tidak habis pikir dengan kelakuan jahil sang Daddy, jelas ia sendiri yang membisikkan habis dari mana sewaktu pria itu bertanya.


Itu sebabnya, melihat Daddy nya seolah ingin menakuti sang Mommy Qiara. Kekesalannya semakin memuncak ingin segera di keluarkan, dan inilah hasilnya.


Qiara tampak merenggut kesal, rasa penasarannya langsung berubah sakit hati akibat ulah jahil Faraz.


"Tapi beneran, aku ngga bercanda soal taman bunganya." Ucap pria itu dengan tatapan serius ke arah luar Fila


Baik Erzhan maupun Qiara menatapnya dengan raut wajah bingung campur rasa penasaran.


"Benar. Sebab awalnya Fila ini hadiah yang sengaja aku siapkan buat salah satu anggota keluarga kami yang paling dekat dengan Erzhan," jawab Faraz lirih.


"Maksudnya?"


Qiara sebenarnya merasa ada yang tidak beres melihat sambutan hangat dari Anne dan Baba sewaktu mereka tiba di Fila.


"Kamu pasti ingin tahu siapa Anne dan Baba kan?" gadis itu langsung menganggukkan kepalanya pelan.


"Mereka adalah Paman Faiz dan Bibi Nilma, lebih tepatnya kedua orangtua dari salah satu anggota keluarga kami yang sudah lama pergi jauh." Terang Faraz rasanya begitu sulit untuk menyebut nama sang Bibi kesayangan


Tenggorokannya serasa tercekat dengan jantung berdetak lumayan cepat.


"Mommy pasti bingung, Dad." Tegur Erzhan pusing sendiri


"Haha, iya kah? Maaf." Kekeh pria tampan itu mulai sadar


"Daddy ngapain juga jelasinnya berbelit-belit macam kayak orang lagi nahan sakit sembelit," oceh si kecil mulai timbul tanduk di kepalanya.


"Habisnya lucu tiap lihat ekspresi wajahnya itu loh, pengen Daddy cium."


"Eee, macam-macam Abang laporin ke Paman kembar mau?" ancam Erzhan sembari menatap tajam ke arah Daddy nya.


Qiara sampai bingung harus mendengar yang mana dulu, rasa penasarannya mengenai siapa orang yang di maksud Faraz bukan tanpa alasan.

__ADS_1


Ada beberapa bingkai foto milik seorang wanita cantik berada dalam kamar yang dia tempati, dan sewaktu Anne melarangnya tidak boleh ke taman bunga sepertinya berkaitan dengan sosok yang ada di foto tersebut.


Dan Qiara akhirnya ingat sebuah nama yang tercantum di salah satu foto dalam kamar yang berada di atas nakas.


"Oh iya. Siapa Ranila?" tanyanya serius membuat Faraz dan Erzhan langsung menoleh dengan raut wajah sulit di artikan ke arahnya.


"Aku nanya loh, soalnya banyak fotonya di kamar yang aku tempati sekarang." Jelasnya tidak ingin pasangan ayah dan anak itu salah paham


Anne dan Baba yang muncul dari arah belakang Fila meminta Tuan muda dan Tuan kecil Bramantya agar diam tidak menjawab.


"Nona muda waktunya makan malam," seru wanita paruh baya itu dengan raut wajah datar tanpa ekspresi.


"Jangan mencari tahu yang seharunya lebih baik Nona muda cukup diam sampai waktunya pulang," sambung Baba tersenyum hangat.


Ia tentu memilih bersikap tenang agar istrinya tidak marah dan berakhir meminta Qiara pergi dari Fila sekarang juga.


Bukan Qiara jika tidak mencari gara-gara, sikapnya yang tidak sabaran dan sedikit bar-bar membuat orang di sekitarnya pusing dan berakhir mengalah.


"Ya elah. Cuma tanya doang, kenapa malah sikap kalian berubah dan buat aku mulai tidak nyaman." Protesnya tidak suka


Nona muda Rafindra yang sabarnya setipis tisu di belah sepuluh, tidak mudah di ajak kompromi.


"Apa salah aku nanya siapa wanita itu?"


"Tinggal jawab kok malah jadi masalah, kalian aneh banget tahu ngga."


"Pokoknya habis makan malam aku mau pulang."


Qiara tampak emosi mendapati tatapan tidak bersahabat dari Anne dan Baba sewaktu dia bertanya mengenai siapa Ranila.


Erzhan yang bingung harus bagaimana hanya bisa menghela nafas panjang di ikuti Faraz yang melingo tidak percaya.


"Ngamuk kan," gumamnya merasa sangat bersalah.


"Ini semua gara-gara Daddy," tuduh anak tampan itu pada Daddy nya.


"Lah, kenapa malah Daddy yang salah?" heran Faraz menatap putranya meminta jawaban.


"Kan, memang salah Daddy. Ngapain juga bawa kita kesini? Bukannya perjanjian awal ngga begitu?" bantah Erzhan tidak mau kalah.


"Anne dan Baba sudah lama tidak di jenguk, apa salahnya Daddy bawa kalian kesini?"


"Harusnya Daddy kasih tahu Mommy Qiara dulu, lihat hasilnya malah jadi berantakan kan?"


"Daddy cuma mau kalian merasa nyaman dan tenang, bukan ada maksud lain." Jawab Faraz lirih merasa sangat bersalah


Harusnya ia bertanya dulu pada Anne dan Baba, jika sudah begini akhirnya. Mau tidak mau keinginan Qiara meminta pulang harus di turuti jika masih sayang dengan nyawa sendiri.


"Padahal aku hanya ingin menghilangkan beban sejenak, apa salahnya?" gumam pria itu menatap sendu ke arah Putri kesayangan Tuan besar Rafindra penuh harap.


"Ya udah. Cari tempat lain ajah, biar aku nya bisa jadi pendengar yang baik meski kenyataannya belum tentu meringankan beban yang kau rasakan."

__ADS_1


๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ


__ADS_2