
"Qia, udah belum sih?" teriak Neta dari balik pintu kamar mandi yang sengaja di tutup agar calon adik iparnya itu tidak merasa kurang nyaman.
Sahutan Qiara dari dalam kamar mandi sontak membuat kepala gadis bermata biru air tersebut serasa ingin pecah.
"Aku ngga tahu udah apa belum," balasnya tak kalah ikut berteriak.
"Buka pintunya!" gemas Neta berusaha menahan diri agar tidak mencubit kedua pipi calon adik iparnya tersebut.
Dengan malas Qiara membuka pintu sedikit lebar agar Neta boleh masuk ke dalam kamar mandi.
Calon kakak iparnya itu mengecek sendiri apakah yang Qiara lakukan benar atau salah, mengingat otak Mommy kesayangan Erzhan tersebut kelewat polos. Selalu tidak mau tahu perihal masalah orang dewasa, karena fokusnya hanya seputar mengurus suami dan putranya.
"Palingan belum," cebik Qiara menatap malas kearah taspack yang tidak tahu apa hasilnya.
"Kamu diam! Ngga usah banyak mulut," kesal Neta berlalu keluar dari kamar mandi.
Mereka duduk di sofa panjang dengan perasaan berbeda.
Qiara yang acuh tidak mau ambil pusing, berbeda dengan Neta yang tidak sabar ingin mengetahui hasilnya.
Kedua bola mata gadis itu langsung membulat sempurna, melihat ada dua garis merah terpampang jelas menandakkan Qiara benar-benar di nyatakan positif hamil. Tetapi, itu baru perkiraan saja. Masih perlu ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut
"Apa hasilnya?" tanya Qiara sebenarnya ikut di buat penasaran.
"Lihat saja sendiri," jawab Neta seraya memperlihatkan benda tersebut pada Qiara.
"Ini artinya apa?"
__ADS_1
"Menurutmu?"
Qiara memutar kedua bola matanya malas dengan bibir mencebik tidak suka.
"Kamu hamil, calon adik iparku sayang." Gemas Neta ingin rasanya menggigit pipi chubby Qiara
"Itu ada garis dua, artinya positif. Tapi alangkah baiknya lagi kamu coba periksa ke rumah sakit."
Qiara menatap tidak percaya benda yang menunjukkan garis dua di tangannya tersebut, masih belum yakin sekarang ada kehidupan di dalam rahimnya.
"Aku beneran hamil, Taa?"
"Hmm, awalnya aku kurang yakin sih. Tapi lihat tingkah aneh semua pria kesayangan mu, buat aku sakit kepala dan mikir ada sesuatu yang tidak beres." Jelas Neta
"Mendingan kamu coba periksa dulu, jangan langsung kasih tahu ke mereka. Biar jadi kejutan, sebentar lagi ulang tahun Faraz kan?"
Apa aku bisa menjadi ibu yang baik untuk mereka? Tanyanya dalam hati
.
.
.
Sesuai janji Neta sewaktu di rumah utama Rafindra.
Usai mengantar Erzhan ke sekolah, Qiara sengaja tidak langsung mengikuti suaminya ke perusahaan.
__ADS_1
Dia memberi alasan jika Neta sudah menunggu di toko buku yang letaknnya berada tidak jauh dari rumah sakit.
Beruntung Faraz tidak menaruh curiga, langsung mengizinkan istrinya keluar bersama Neta. Tetapi dengan syarat harus kembali sebelum jam makan siang.
Qiara bertemu dengan Neta di depan toko buku, mereka segera menuju rumah sakit yang sebelumnya sudah menghubungi Dokter untuk memastikan berada di tempat.
Kini Nyonya muda Bramantya tersebut sedang di periksa oleh Dokter wanita yang tidak lain adalah sang Bibi kesayangan.
Ada senyum kecil menghias wajah cantik milik wanita bernama Safina ketika selesai melalukan pemeriksaan.
"Kapan terakhir datang bulan, Queen?" tanyanya sembari memperbaiki baju atasan Qiara.
"Lupa," jawab Qiara di barengi kekehan kecil.
Dokter cantik tersebut menggelengkan kepalanya pelan seraya tersenyum geli.
"Usia kandungannya sudah menginjak enam minggu. Pastikan tidak melakukan aktifitas yang berlebihan, tidak boleh stres, makan makanan yang bernutrisi dan istrirahat yang cukup." Jelasnya dengan hati-hati
Qiara hanya diam mendengarkan, tidak tahu harus berkata apa-apa.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Neta sedikit khawatir.
"Di bilang baik-baik saja nyatanya aku bingung, Taa." Jawab calon adik iparnya tersebut dengan wajah kelihatan sedih
"Aku masih belum siap, bisa jadi seorang ibu yang baik untuk mereka atau tidak."
๐๐๐๐๐
__ADS_1