
Satu Minggu Kemudian.
Tidak terasa, hari yang sudah di nantikan Qiara akhirnya tiba.
Akan tetapi, semua tampak biasa saja. Seakan tidak ada yang istimewa untuk hari kelahiran Tuan muda Sarfaraz Rasya Bramantya.
Tepat jam 12 malam. Biasanya akan ada kejutan dari orang rumah, terutama sang putra kesayangan Erzhan. Tetapi, Faraz sama sekali tidak mendapatkan kejutan apa-apa selain menerima hukuman tidur di ruang tamu.
Bagaimana tidak. Semalam pria itu justru mendapatkan amukan dari Qiara juga sang putra hanya karena waktu istirahat mereka terganggu.
Dan bukannya tidur, Faraz malah merajuk hingga berakhir menerima hukuman dari pasangan ibu dan anak tersebut.
Tidak ada yang namanya pelukan hangat sewaktu tidur dari Qiara dan Erzhan, ciuman sayang di pagi hari atau sambutan hangat dari semua anggota keluarga saat berkumpul di ruang makan untuk sarapan bersama.
Semua mendadak acuh, Faraz benar-benar di abaikan sampai rasanya ia tidak memiliki semangat untuk ke kantor. Tetapi, melihat tatapan mata tajam istri dan anaknya, dengan berat hati ia berangkat kerja dalam suasana hati yang kurang baik.
Dalam perjalanan menuju perusahaan, hanya ada wajah masam dan gumaman gumaman kecil terus keluar dari bibir Faraz. Bahkan ketika mobil sudah tiba di lobi parkiran, ia mengabaikan beberapa karyawan yang menyapanya saat tidak sengaja mereka berpapasan di jalan.
Hal itu, membuat Adelia keheranan. Melihat sang Bos masuk ke dalam ruangan Persdir dengan wajah kurang mengenakan, seketika timbul ide jahil di otaknya yang selalu menjadi obat nyamuk saat pria itu datang ke kantor bersama istrinya.
Adelia masuk ke dalam ruangan setelah mengetuk pintu lebih dulu, tidak membawa apa-apa di tangannya. Padahal jadwal hari ini lumayan padat, banyak pertemuan penting dengan beberapa klien di luar perusahaan.
"Selamat pagi, Pak Bos?" sapanya dengan punggung setengah membungkuk.
"Pagi," sahut Faraz tanpa menoleh kearah pintu ruangan yang terbuka lebar.
Adelia tersenyum penuh arti, sangat jelas terlihat betapa kacaunya Sang Bos.
"Apa saja jadwal hari ini?" tanya pria itu setelah beberapa menit hanya ada keheningan di antara mereka.
Ia langsung mengangkat wajahnya untuk bisa melihat Sekertaris pribadinya tersebut.
Alisnya mengkerut kala tidak sengaja menatap kearah tangan Adelia yang kosong, tidak membawa apapun. Kecuali tatapan aneh dan senyum penuh arti yang sama sekali tidak Faraz mengerti.
"Adelia, apa kamu dengar apa yang aku tanyakan barusan?" ucapnya masih berusaha tidak ambil pusing.
Sudah cukup rasa sakit di kepalanya akibat tidak mendapatkan ciuman dari Qiara juga Erzhan sebelum berangkat ke kantor, belum lagi semua anggota keluarga Rafindra maupun Bramantya terus mengacuhkannya.
Dan sekarang ada sang Sekertaris yang datang ke ruangannya tanpa membawa jadwal kerjanya hari ini. Benar-benar hari yang sangat menyebalkan baginya.
"Adelia," panggil Faraz mulai kesal sendiri.
__ADS_1
Sungguh melihat wanita itu hanya diam berdiri bak patung sembari tersenyum penuh arti, berhasil menyulut kekesalannya.
"Kamu tidak membawa jadwal ku hari ini?"
Adelia menggeleng pelan, kemudian berlalu keluar dari ruangan begitu saja. Membuat Faraz hanya bisa membuang nafas kasar dengan nafas tidak beraturan saking kesalnya.
"Astaga, dosa apa yang aku perbuat?" jeritnya mengacak rambut frustasi.
"Mommy sama Abang juga kenapa sih, diamin aku kayak gini?"
Sungguh Faraz sangat merindukan istri dan anaknya, tetapi ia malu sekedar menghubungi orang rumah untuk menanyakan keberadaan pasangan ibu dan anak tersebut.
"Kalian melupakan ini hari apa, hmm?" gumamnya lirih sembari menatap walpaper ponsel yang memperlihatkan potret Qiara tengah memeluk Erzhan.
Cukup lama terdiam dengan perasaan yang sulit di artikan, membuat Faraz memilih fokus bekerja demi menghilangkan sakit di hatinya karena merasa di abaikan oleh semua orang, terutama sang istri tercinta.
"Kangen Mom."
.
.
.
Tampak suasana di ruang keluarga begitu ramai, karena semua tengah berkumpul sembari mempersiapkan pesta kejutan untuk Faraz.
Sudah ada Qiara yang rasanya tidak sabar ingin sekali melihat reaksi suaminya tersebut ketika menerima hadiah darinya juga Erzhan.
Ya, tepat dua hari yang lalu. Qiara sengaja memberitahukan soal kehamilannya pada sang putra kesayangan, semua karena anak tampan itu sangat sulit untuk di bohongi. Sehingga mau tidak mau dia harus mengatakan yang sejujurnya dengan perasaan berdebar.
Beruntung Erzhan sangat antusias mengetahui sang Mommy kesayangan tengah hamil, bahkan ia sendiri yang memberi ide untuk mengerjai Daddy nya.
Semua anggota keluarga terutama Qiara hanya menuruti keinginannya, sebab mereka tahu betul seperti apa karakter Erzhan bila kemauannya tidak terpenuhi.
Seharian penuh. Anak tampan itu semakin lengket dan terus mengekor kemana pun Qiara pergi, termasuk ketika wanita itu masuk ke dalam kamar untuk mandi.
Ceklek
"Abang mau ngapain?" tanya Qiara saat mendapati Erzhan tengah berdiri tepat di depan pintu kamar mandi.
Dia yang baru saja selesai membersihkan diri, sangat terkejut melihat sang putra berada dalam kamar tanpa suara. Hanya berdiri dengan senyum lebar menghiasi wajahnya yang tampan juga menggemaskan.
__ADS_1
"Abang tuh lagi tungguin, Mommy." Jawab Erzhan santai tanpa menghilangkan senyumannya
Ia berjalan pelan menuju sofa panjang dengan sang Mommy ikut mengekor di belakang.
"Kenapa Abang tungguin Mommy di depan pintu kamar mandi? Kan, bisa duduk sambil nonton TV." Tanya Qiara lagi
"Buat jaga-jaga ajah, Mom." Jawab sang putra kembali tersenyum lebar
"Daddy lagi kerja, Abang harus jagain Mommy lah."
Qiara tertawa geli, mendengar penjelasan putra sambung kesayangannya tersebut.
"Mommy ngga apa-apa, sayang."
"Tetap ajah, Mommy harus Abang jaga. Biar pas Daddy pulang dari kantor ngga nanya terus ke Abang." Balas Erzhan tidak mau di bantah
"Tapi. Kasihan juga ya, Daddy. Semalam tidur di ruang tamu, paginya malah di cuekin semua orang."
Anak tampan itu justru merasa lucu dengan ide jahilnya sendiri, meminta sang Mommy serta anggota keluarga lainnya untuk mengabaikan Faraz.
Qiara hanya bisa membuang nafa pelan, ada rasa kasihan timbul dalam hatinya. Teringat akan pria tampan kesayangannya itu mungkin tengah merajuk karena baru pertama kali di abaikan, padahal selama ini dia selalu mengutakan suaminya tersebut.
Mommy sebenarnya ngga tega diemin Daddy kayak gini, tapi Abang maunya begitu. Gumamnya dalam hati
Lima menit kemudian. Erzhan langsung mengajak Qiara turun ke lantai bawah guna melihat sudah sejauh mana persiapan kejutan untuk sang Daddy tercinta.
Pasangan ibu dan anak itu sangat antusias menyuarakan keinginan mereka untuk konsep acaranya mau semewah apa.
Tidak ada yang protes, karena semuanya ikut andil dalam memberikan kejutan pada Faraz. Termasuk ketiga Tuan muda Rafindra yang mau saja menerima perintah dari si bungsu keaayangan Qiara.
Ada Neta yang memilih fokus pada kue ulang tahun buatannya sendiri, membuat sang kekasih hati merasa iri dan cemburu karena terus di abaikan sejak pagi.
"Kamu nantinya bakal ingat ulang tahun Kakak kan, sayang?" tanya Zaidan sembari tersenyum kecil.
"Tergantung kalau berjodoh, Kak." Jawab Neta asal tanpa menoleh kearah pria itu
Kedua bola mata Zaidan sontak membulat sempurna, tidak senang dengan jawaban sang kekasih hati.
"Wah, ngajak ribut kayaknya."
"Kamu jawab sembarangan lagi, aku buat kue nya hancur berantakan mau?"
__ADS_1
๐๐๐๐๐
Janganlah Kak, susah payah loh buat kue nya.๐