Istri Kedua Sang CEO

Istri Kedua Sang CEO
IKSC Bab 127 ~ Jemput


__ADS_3

Qiara turun lebih dulu di depan Mall yang menjadi tempat pertemuannya dengan Neta.


"Ingat apa yang aku katakan tadi!" serunya menatap ke arah Sandra dan calon suami masa depannya tersebut.


Qiara tidak merasakan sakit hati atau cemburu pada sahabatnya.


Cukup dia tahu diri seperti apa hubungan di antara mereka sekarang dan kedepannya mau bagaimana jika pria tampan yang masih SAH berstatuskan suami orang tersebut merangkap jadi Duda anak satu.


"Aku titip Sandra dan Abang ya, tolong di jagain Tuan Angkuh yang handsome nya kelewatan." Kekeh Qiara tanpa sadar mencium sekilas pipi kanan Faraz


Beruntung Sandra tidak sampai melihat aksi nekatnya barusan.


Hanya Erzhan yang berusaha menahan tawa saking kagetnya mendapati raut wajah salah tingkah dan memerah Daddy nya.


Qiara sangat malu, dia langsung pergi begitu saja tanpa menoleh sedikit pun meski namanya terus di panggil oleh Faraz maupun Sandra.


"Tu anak perawan kenapa lagi?" heran Sandra menatap punggung sahabatnya menjauh dari pandangan.


"Lagi buru-buru mau ke toilet, Mah." Jawab Erzhan sengaja mengalihkan fokus wanita cantik itu


Faraz sendiri hanya diam tanpa berani buka suara.


Kejadian langkah yang Qiara lakukan tadi membuat pria itu tanpa henti mengulas senyum lebar di sepanjang perjalanan menuju sebuah Restaurant bintang lima milik keluarga.


Hanya tempat itu yang jauh dari jangkauan media dan orang-orang yang hanya ingin mencari keuntungan di balik masalah orang lain.


.


.


Qiara berlari menuju arah Neta dengan perasaan campur aduk.


Baru kali ini, dia begitu nekat melakukan hal konyol tanpa sadar.


"Kenapa lari-lari sih?" heran Neta melihat Qiara sudah di banjiri keringat.


"Ngga lagi ikut lomba lari kan?" tanyanya begitu penasaran.


Qiara menggelengkan kepalanya tidak.


"Gila. Sepertinya aku harus ke psikolog," pekiknya lumayan kuat.


"Mau ngapain? Jangan aneh-aneh, Qia." Protes gadis bermata biru air sembari menatap penuh selidik ke arah teman dekatnya itu


"Kamu tuh lagi ada masalah atau apa?" tanya Neta tidak sabaran.


"Lebih tepatnya aku sengaja cari masalah."


Neta menatap gadis cantik itu dengan raut wajah terkejut.


"Sama siapa?" tanyanya bingung.


"Biasa."

__ADS_1


Qiara menjawab santai enggan menoleh ke arah teman dekatnya itu.


Jujur saja, dia sagat malu jika harus berbicara terus terang pada Neta perihal kelakuannya tadi.


Sementara gadis berkebangsaan bule tersebut, justru menertawakan Qiara setelah menyadari sesuatu.


"Itu lisptik kamu kenapa sampai blepotan gitu?" tanyanya di barengi kekehan.


"Habis ******* sama siapa, hayo?" goda Neta langsung mendapat pukulan dari Qiara.


Plak


Lengannya di pukuli lumayan kuat, tetapi Neta justru kembali tertawa semakin keras.


"Ish. Kamu bikin aku makin kesal tahu ngga," omel si cantik mulai jengkel.


"Lagian tuh bibir emang habis nyium siapa?" tanya Neta yang kali ini berbicara serius.


Mau tidak mau. Qiara akhirnya menceritakan kejadian sewaktu di halaman depan Mall beberapa menit yang lalu, dimana dengan nekatnya dia mencium pipi Faraz tanpa sadar.


Meski terbilang hal yang wajar mengingat keduanya sudah bertunangan, tetap saja Qiara tidak enak hati, bagaimana jika perbuatannya itu sampai di lihat oleh Sandra.


Status perusak rumah tangga orang memang tidak pernah tersemat di belakang namanya. Tetapi sebagai gadis baik-baik dari keluarga yang terhormat, pantang baginya jika berlaku seenaknya.


Posisi Sandra jelas masih lah seorang istri yang SAH secara Hukum dan Agama sebelum bukti perceraian di keluarkan oleh pihak pengadilan.


"Kamu sungguh terlalu," cibir Neta yang bergidik ngeri saking khawatirnya bagaimana jika teman dekatnya itu kembali mendapatkan masalah.


Dari pada semakin menambah sakit kepala Qiara, akhirnya Neta mengajaknya pergi ke toko buku sebelum apa yang akan mereka cari habis di beli orang lain.


.


.


Sementara di tempat lain atau lebih tepatnya Restaurant milik keluarga Bramantya.


Tampak pasangan suami istri bersama seorang anak kecil duduk lumayan jauh dari keramaian pengunjung yang ikut makan di sana.


Bersyukur tidak ada yang memperhatikan ke arah mereka, sebab ada pembatas dinding yang menutupi.


Tidak berselang lama, seorang pelayan datang sembari membawa buku menu.


Faraz langsung memesan semua jenis makanan serta minuman sesuai kesukaan masing-masing yang nyatanya sangat jauh berbeda.


Jika si kecil tampan yang sedari usianya menginjak dua tahun sudah di ajarkan untuk tidak pilih-pilih makanan, lebih mudah bagi Daddy nya bila ingin memesan apapun jenis makanan.


Berbanding terbalik dengan Sandra yang pemilih dalam hal makanan atau minuman, harus ekstra sabar menunggu jika tidak ingin wanita cantik itu sampai merajuk.


Sementara Faraz sendiri, justru memesan satu menu yang nyatanya itu salah satu makanan kesukaannya dengan Qiara.


Rasa pedas, sedikit asin dan tentunya sangat pas di lidah menjadi pilihan terbaik pria tampan itu.


Kangen kamu, rubah nakal.

__ADS_1


Faraz teringat pada Qiara. Tetapi dengan cepat di tepisnya jauh, sebelum kecurigaan wanita cantik yang duduk santai tepat di hadapannya muncul ke permukaan.


Tidak sampai lima belas menit pesanan Faraz akhirnya datang.


Ketiganya langsung menyantap semua makanan yang tersaji di atas meja sampai habis tak tersisa, di susul kue coklat kesukaan Erzhan sebagai menu penutup.


Selesai makan. Faraz kembali membawa pasangan ibu dan anak tersebut menuju salah satu pusat perbelanjaan yang terletak lumayan jauh dari pusat kota.


Di sana, Erzhan bisa bebas melakukan apapun sesuka hatinya tanpa harus merasa khawatir akan timbul bahaya.


Hal itu juga yang Sandra rasakan, mengingat dia tidak pernah lagi merasakan seperti apa rasanya keluar shooping dan lain sebagainya.


Tiba di tempat tujuan. Baik Sandra maupun Erzhan sudah berlari masuk ke dalam pusat perbelanjaan tanpa menunggu Faraz terlebih dahulu.


Kesempatan tersebut jelas di gunakan Faraz untuk menghubungi Qiara sebelum ia munyusul masuk ke dalam.


Kontak bertuliskan nama si calon istri masa depan tertera di layar ponsel miliknya.


Terdengar dering panggilan yang terhubung pertanda Qiara mengangkat telefonnya.


[Ada apa, Tuan?]


Terdengar Qiara seperti tengah menahan kesal yang entah pada siapa.


"Apa aku ganggu?" tanya Faraz dengan sangat hati-hati.


[Ngga. Justru kamu sangat membantu]


[Aku mau pulang ajah, batal ke toko buku. Si Neta kebangetan deh, main tinggalin aku sendiri]


Faraz sampai mengernyitkan dahinya bingung.


"Terus pulangnya naik apa?"


[Jemput aku boleh?]


[Kalau ngga bisa juga tak apa, biar aku minta Uncle Kenzo jemput]


Mendengar satu nama yang paling Faraz benci di sebut Qiara. Membuat telinganya langsung panas.


"Ngga ada minta jemput. Tunggu aku lima belas menit lagi sampai," kesal Faraz segera mematikan sambungan telefon.


Pria itu meminta beberapa orang kepercayaan menjaga area pusat perbelanjaan selama kepergiannya.


"Jika mereka bertanya. Katakan saja ada urusan mendadak yang harus aku tangani." Pesannya sebelum kembali masuk ke dalam mobil


Bukan perkara tidak menepati janji pada Sandra dan Erzhan untuk jalan-jalan tanpa adanya gangguan dari luar.


Masalahnya, Faraz tidak rela bila calon istrinya memilih pulang bersama pria lain yang jelas ikatan di antara mereka jauh lebih kuat di bandingkan dengannya yang masih berstatuskan tunangan saja.


"Berani kamu pulang dengan pria itu. Lihat saja hukuman apa yang akan aku berikan."


๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ

__ADS_1


__ADS_2