
Neta mengantar Qiara ke perusahaan sebelum jam makan siang tiba.
Ada begitu banyak pesan juga nasehat yang dia berikan pada Qiara berbuhungan dengan kehamilan. Tidak akan pernah bosan selalu memberi pengertian juga semangat agar calon adik iparnya tersebut merasa nyaman tanpa di bebani oleh pikiran-pikiran negatif, hanya karena belum yakin mampu jadi ibu yang baik juga adil dalam memberi perhatian serta kasih sayang terhadap anak sambung dan anak kandung sendiri.
"Kamu pasti bisa, Qia." Gemas Neta rasanya ingin sekali mencubit pipi chubhy wanita cantik itu
"Abang pasti sangat bahagia dengar kabar kehamilan Mommy kesayangannya."
Qiara hanya menghela nafas panjang, tidak mau ambil pusing mendengar ocehan calon kakak iparnya tersebut.
Perjalanan yang memakan waktu hampir lima belas menit lamanya menuju perusahaan Bramantya Group, di isi dengan obrolan ringan seputar rencana memberikan hadiah istimewa tepat di hari ulang tahun Tuan muda Sarfaraz Rasya Bramantya alias Faraz.
Lebih tepatnya hanya Neta sendiri yang heboh mengoceh, karena sedari awal masuk mobil tidak sekali pun Qiara buka suara kecuali mengangguk atau menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.
Mobil berhenti tepat di depan perusahaan, sengaja Neta tidak ikut mampir karena masih ada yang harus dia selesaikan bersama Zaidan.
Qiara langsung masuk ke dalam lift khusus petinggi perusahaan bersama sekertaris Delia yang bertanggung jawab menjemputnya sesuai perintah dari Faraz.
.
.
Tring
Pintu lift terbuka lebar, menampakkan sosok pria tampan yang sengaja menyambut kedatangan Qiara.
__ADS_1
"Kangen Mom," rengek Faraz sudah bergelayut manja di lengan istrinya.
"Masuk ruangan dulu bisa kan?" cebik Sekertaris Delia seraya menatap tajam kearah pasangan suami istri tersebut.
Sungguh, gadis itu harus menahan diri agar tidak mengomel hanya karena setiap hari di suguhkan oleh keromantisan pasangan suami istri tersebut.
"Matanya biasa ajah, Delia." Kekeh Faraz merasa lucu dengan tingkah sang Sekertaris pribadi kepercayaannya itu
Tidak mau kembali mendengar kalimat protes yang membuatnya pusing, Qiara langsung menarik lengan suaminya dengan pelan hingga masuk ke dalam ruangan.
Sesampainya di ruangan, Qiara sengaja duduk diam di sofa panjang yang berhadapan langsung dengan jendela. Bahkan dia melupakan tujuan awal kedatangannya saking terlalu fokus memikirkan banyak hal.
Bayangan akan kabar tentang kehamilannya terus berputar di kepala, antara bahagia akhirnya bisa mewujudkan impian Faraz. Tetapi, ada rasa khawatir menyelimuti hatinya kala mengingat si kecil Erzhan.
"Mommy lagi mikirin apa, hmm?" tanya Faraz sejujurnya di buat penasaran menyadari ada yang tidak beres dari sikap istrinya.
Sedari masuk ruangan, Qiara memang hanya diam dan mengabaikan pertanyaan pria itu.
"Kalau ada masalah cerita ajah."
"Ngga ada, Daddy. Cuma sedikit lelah ajah," sahut Qiara berusaha tersenyum kearah suaminya.
"Temani aku tidur yuk!" ajaknya langsung bangkit dari sofa.
Faraz tahu ada yang membuat pikiran istrinya terganggu, namun ia sendiri bingung mau bertanya atau menunggu sampai Qiara buka suara.
__ADS_1
Di dalam kamar, pasangan suami istri tersebut sudah berbaring dengan nyaman di atas ranjang.
Tanpa sadar Faraz mengusap lembut perut rata Qiara sembari berdoa dalam hati ada kehidupan disana. Berharap setiap usahanya selama ini bisa membuahkan hasil.
Qiara tersenyum geli merasakan usapan lembut di perutnya yang kini sudah ada kehidupan disana, suatu kebiasaan yang sering suaminya lakukan setiap kali mereka tidur.
"Mom," panggil Faraz tanpa menghentikan usapan di perut istrinya.
"Hmm, ada apa?" sahut Qiara bertanya.
Terlalu nyaman merasakan hangatnya telapak tangan pria kesayangannya tersebut, membuat Qiara sejenak melupakan apa yang membebani pikirannya saat ini.
Cukup lama keduanya saling diam, menikmati rasa nyaman yang entah mengapa sedikit berbeda dari biasanya. Seperti ada sesuatu yang begitu membahagiakan, namun belum mau untuk saling terbuka.
Faraz dengan segala rasa penasarannya ingin sekali bertanya, sedangkan Qiara dengan perasaan campur aduk memikirkan banyak hal.
Wanita cantik yang selalu berhasil membuat orang-orang di sekitarnya bahagia tersebut, seakan tidak sabar ingin mengatakan jika dia sekarang tengah hamil. Tetapi, otaknya selalu berpusat pada si kecil Erzhan yang mungkin akan terkejut bila mengetahui sang Mommy akan segera memiliki bayi.
Abang pasti bahagian kan? tanyanya dalam hati.
"Tidurlah Mom!" bisik Faraz tepat di telinga sang istri.
Ia tahu sekarang Qiara dalam suasana hati yang kurang baik.
๐๐๐๐๐
__ADS_1