
๐น๐น๐น๐น๐น
Faraz berhasil keluar dari kamar milik Qiara setelah memastikan wanita cantik yang duduk termenung di area balkon tidak melihat ke arah dalam kamar, bisa di pastikan akan seperti apa situasinya andai Sandra menyadari keberadaan pria itu.
Kepergian Neta entah kemana sebelum mengatakan perihal kedatangan orang tuanya di perusahaan milik Faraz, nyatanya berhasil menyulut emosi Sandra.
"Kenapa begitu sulit meyakinkan mereka," teriaknya menggema sampai ketiga pria tampan yang semula ingin mencari keberadaan si bungsu kesayangan terkejut bukan main.
Zaidan langsung masuk ke dalam kamar tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, di ikuti kedua adik kembarnya yang kebetulan rasa penasaran mereka semakin besar.
Di balkon, Sandra belum menyadari kehadiran orang lain di sana. Bermula hanya ingin meluapkan kekesalannya akibat terlalu banyak masalah yang datang, tanpa sadar kelakuannya justru di saksikan ketiga kakak kembar Qiara.
Sandra mengamuk, semua barang yang ada di sekitarnya menjadi sasaran kemarahannya. Segala umpatan kasar dan makian tidak luput dari lisan wanita cantik itu.
Apa saja di raihnya demi meluapkan amarah, tidak sampai di situ. Melihat kamar dalam keadaan kosong membuat Sandra ingin mencari benda apa saja untuk di hancurkan, namun baru saja melangkah masuk hendak meraih vas bunga di atas nakas.
Suara bariton Zaidan berhasil mengurungkan niat Sandra, aura dingin yang mencekam seakan ingin menelan wanita itu hidup-hidup sangat terasa. Bahkan Zafir dan Zhe memilih tetap berada di tempat masing-masing jika ingin menyelamatkkan diri.
"Apa yang barusan ingin kau lakukan?" tanya Zaidan tanpa basa-basi.
Suaranya begitu datar dengan wajah dingin tanpa ekspresi, tatapan matanya begitu sulit di artikan.
"Kau mau menghancurkan kamar milik Queen?" lanjut pria tampan itu mulai berjalan masuk ke dalam kamar.
"Wah, hebat. Rupanya begini sikap mu jika dalam keadaan marah," ejeknya menatap Sandra penuh intimidasi.
Sandra terpaku di tempatnya, menatap lekat raut wajah penuh aura gelap siap membunuh dari Zaidan. Baru kali ini, dia bisa melihat rupa ketiga putra kembar Rafindra yang sejak kecil memilih tinggal di luar negri dan melanjutkan pendidikan di sana.
Vas bunga yang semula di ambil, kembali wanita itu letakkan di atas nakas. Ada rasa takut dan khawatir menyelimuti hati Sandra, karena emosi membuatnya lupa diri.
"Maaf," ucapnya lirih dengan wajah menunduk penuh rasa sesal.
"Aku tidak sengaja, aku terlalu emosi sampai melupakan dimana posisiku berada sekarang."
Sandra menyesal telah berlaku tidak sopan di rumah milik sahabatnya tersebut, belum lagi kejadian beberapa menit yang lalu ternyata ikut di saksikan orang lain.
__ADS_1
Apakah ketiga pria tampan itu marah?
Tentu saja. Melihat keadaan balkon kamar si bungsu kesayangan tidak lagi berbentuk, jelas menyulut emosi dalam diri mereka.
"Pulanglah!" seru Zaidan tanpa menoleh ke arah Sandra yang mendadak wajahnya pucat pasi.
"Lewat pintu samping jika kau masih hapal posisi rumah kami, jangan sampai membuat Qiara menyadari kepergianmu."
Pria itu marah dan kesal dalam waktu bersamaan, sejak kedatangan Sandra beberapa waktu lalu membuat perasaannya tidak nyaman. Dari gelagat wanita itu sudah bisa di tebak ada yang tidak beres, entah apa yang memicu kemarahannya sampai melupakan keberadaannya di mana.
Air mata Sandra tidak berhenti mengalir lumayan deras, sungguh dia tidak menyangka akan berakhir seperti ini. Mau protes dan membela diri pun tidak mungkin, posisinya terlalu sulit untuk berlaku seenaknya meski jelas statusnya adalah sahabat dekat Qiara.
Zaidan mempersilahkan wanita itu keluar dari kamar, bertepatan dengan kemunculan Neta bersama seorang pria tampan yang tidak lain adalah Faraz sendiri.
"Ikut aku sekarang juga!" seru Tuan muda Bramantya tersebut seraya menarik paksa lengan Sandra menuju lift.
"Lepaskan Faraz! Kau menyakiti ku," teriak Sandra berusaha melepaskan genggaman tangan besar Faraz dari lengannya.
Rasa takut Sandra berkali-kali lipat di bandingkan ketika berhadapan dengan para putra Rafindra, tidak tahu kemana pria itu membawa dirinya pergi setelah apa yang sudah terjadi.
๐น
Kepergian pasangan suami istri yang memiliki hubungan terlalu rumit untuk di jelaskan, membuat semua yang berada di kamar milik Qiara langsung bernafas lega.
Neta sangat yakin perbuataannya beberapa waktu lalu berhasil menyulut emosi Sandra, itu sebabnya gadis bermata biru air tersebut pergi mencari Faraz agar tidak sampai menimbulkan kekacauan di sela banyaknya kerabat dekat Nyonya Syifana tengah asyik berkumpul di lantai paling bawah.
"Kok aku malah takut sendiri ya," kekehnya menyadari sudah melakukan kesalahan besar.
"Kamu sungguh nekat," cebik Zaidan menatap tajam ke arah gadis itu.
"Aku pikir ngga sampai begini akhirnya," Neta syok melihat area balkon bagaikan kapal pecah.
Tanpa menunggu lama, dengan cepat kekacauan yang ada di bersihkan tanpa jejak sebelum Qiara datang lalu menanyakan banyak hal.
.
__ADS_1
.
Sementara itu, tepat di dalam ruangan perpustakaan. Tampak Qiara begitu senang mengajari Erzhan banyak hal, mulai dari mengenalkan anak tampan itu tentang bisnis sampai memberikan contoh bagaimana caranya menjadi seorang pemimpin yang baik dan jujur.
Jangan tanya kenapa, justru itulah yang Qiara ajarkan. Sebab Tuan muda kecil Bramantya sendiri yang memintanya. Beruntung gadis itu sangat pintar dan tentunya dia juga memiliki usaha sendiri, jadi tidak sulit bila memberikan pelajaran seputar dunia bisnis yang pastinya menguntungkan.
Erzhan memperhatikan dengan sangat serius tiap kali sang Mommy Qiara menerangkan, senyum manisnya tidak luput dari bibir mungil yang lisannya bisa menjadi tajam bila marah atau kesal.
"Sudah selesai," Qiara bersorak senang merasa puas dengan hasil karyanya di atas kertas putih yang kini berubah menjadi sebuah gampar desain bangunan sederhana namun terlihat elegan.
"Gimana, Bang. Hasilnya bagus kan?" seru gadis itu memperlihatkan gambarnya begitu percaya diri.
Erzhan hanya bisa tertawa, melihat usaha keras Qiara tanpa menyadari di area wajah cantiknya penuh dengan warna.
"Mom," panggilnya begitu pelan dan lembut seraya mengusap kedua pipi sang Mommy.
Posisi Qiara sangat dekat, sehingga Erzhan bisa dengan leluasa melihat wajah cantik alami gadis itu yang tanpa polesan make up.
Qiara tersenyum sangat manis, terlalu bahagia sampai melupakan kehadiran anak itu jauh lebih penting.
Tawanya yang menggema saking merasakan geli di bagian perut yang menjadi sasaran empuk tangan jahil Erzhan, langsung terhenti mendengar kalimat menohok terucap dari bibir mungil anak tampan itu.
"Kalau pergi jangan lama-lama ya, Abang takut nahan rindu ke Mommy itu sangat sulit." Ucap Erzhan lirih berurai air mata jatuh membasahi kedua pipinya
"Mama Sandra tidak akan pernah bisa menggantikan posisi Mommy di hidup Abang, sifat kalian sangat jauh berbeda."
"Dan, mungkin Daddy tidak akan pernah mau jika mama Sandra kembali lagi tinggal di rumah kita seperti dulu. Abang dengar semuanya, Daddy sudah berjanji akan melepaskan mama Sandra."
"Lalu Abang bagaimana? Siapa yang akan membantu Abang melakukan ini dan itu?" tangis Erzhan pecah ketika tubuh mungilnya sudah di peluk sang Mommy Qiara.
Sakit. Betapa sakitnya hati Qiara mendengar semua yang Erzhan katakan barusan.
"Maafkan Mommy, sayang."
๐๐๐๐๐
__ADS_1