
Waktu liburan akhirnya tiba.
Di rumah utama Rafindra, tampak semua anggota keluarga sudah berkumpul di ruang makan untuk sarapan terlebih dahulu.
Nyonya Kamila dan Tuan Rasya ikut sarapan bersama di kediaman sang besan, mengingat waktu dari rumah utama Bramantya menuju bandara lumayan jauh, memakan waktu sekitar satu jam lebih.
Adapun pasangan suami istri yang katanya akan pergi liburan ke pulau bersama si kecil tampan Erzhan, memilih sarapan di luar tidak jauh dari rumah.
Bubur ayam serta es teh manis menjadi pilihan Faraz dan Qiara untuk mengisi perut, namun tidak dengan Erzhan yang lebih menyukai sarapan nasi goreng hasil buatan sang Mommy kesayangan.
Anak tampan itu hanya akan mau sarapan atau makan siang jika Qiara sendiri yang membuatnya langsung, selain itu mungkin perlu waktu sekedar merayunya saking begitu sulit di ajak kerjasama dalam hal memilih makanan.
Qiara tersenyum melihat sang putra kesayangan yang makan begitu lahap sampai habis tak tersisa, kadang dia sendiri masih belum percaya sudah menjadi seorang ibu dari anak tampan yang menggemaskan.
Di usianya yang terbilang masih sangat muda bahkan tidak pernah sekali pun menjalin hubungan dengan seorang pria, justru malah di pertemukan dengan pria tampan yang tidak lain merupakan mantan suami dari sahabatnya sendiri yang kini menjadi suaminya.
Terlalu rumit jika harus di jelaskan kembali mengenai masa lalu yang sekarang tinggal cerita, tidak mau lagi menoleh ke belakang atau mengingat betapa Qiara dulu sangat nekat menerima tawaran sahabat terbaiknya itu.
Banyak yang wanita itu pikirkan, terutama malaikat kecil yang semekin menambah kebahagiaannya bersama Faraz.
Qiara lebih dulu menyelesaikan sarapannya, memilih duduk santai sembari memperhatikan kedua pria tampan kesayangannya yang berlomba menghabiskan satu mangkok bakso.
"Pelan-pelan makannya, Bang!" tegurnya pada sang putra yang hampir saja tersedak kuah bakso tidak jauh berbeda dengan Faraz.
"Kalian berdua kalau begitu terus, Mommy tinggal ya." Ancam Qiara mulai kesal sendiri
Pasalnya tidak ada yang meminta pasangan ayah dan anak itu menghabiskan makanan mereka dengan cepat.
__ADS_1
"Maaf Mom." Seru keduanya bersamaan
Qiara hanya mengangguk pelan, kembali duduk tenang sembari membaca beberapa pesan dari Neta yang mengatakan jika semua anggota keluarga sudah bersiap menuju bandara.
"Ini sebenarnya yang mau pergi liburan siapa sih?" kekehnya lumayan kuat berhasil mengalihkan fokus suami dan putranya.
"Kok malah jadi mereka yang lebih heboh?"
Qiara terus mengoceh karena pesan dari Neta
Keduanya langsung saling pandang berbicara lewat isyarat mata.
"Kenapa Mom?" tanya Faraz usai menghabiskan satu mangkok bakso beserta es teh manis milik wanita halalnya itu.
"Tahu nih, hampir ajah Abang salah minum gara-gara dengan suara nyaring Mommy." Sambung Erzhan ikut protes
Qiara yang merasa di tatap langsung berhenti mengoceh.
"Neta barusan kirim pesan, katanya mereka udah menuju bandara." Ucapnya seraya bangkit dari tempat duduk
"Sebaiknya kita berangkat juga, takut mereka udah sampai duluan."
Faraz maupun Erzhan hanya mengangguk paham, langsung beranjak dari tempat duduk kemudian berjalan mengekor di belakang Qiara.
Kini keluarga kecil itu sudah berada di dalam mobil yang kebetulan ada Paman Sopir ikut bersama mereka.
Erzhan tampak duduk tenang di kursi samping kemudi, sementara di kursi penumpang ada Mommy dan Daddy nya tengah asyik bercanda.
__ADS_1
Sesekali menggoda anak tampan itu demi menghilangkan rasa jenuh selama perjalanan menuju bandara.
Faraz yang melihat kedekatan sang putra dengan istrinya tersenyum bahagia, ia sangat bersyukur memiliki mereka yang selalu membuat hari-harinya penuh dengan warna.
Menikahi Qiara adalah pilihan yang tepat, bersama wanita halalnya itu semua masalah yang ada serasa ringan dan mudah terselesaikan.
Qiara bukan hanya menjadi istri sekaligus ibu yang baik, tetapi bisa di andalkan kalah masalah di perusahaan membuat Faraz nyaris frsutasi.
Jika bersama wanita itu, semua yang awalnya sulit menjadi lebih mudah untuk di tangani.
"Mommy kelewatan banget pintarnya," bisik Faraz saat Qiara memeluknya dari samping.
Ia ciumi pucuk kepala istrinya penuh rasa sayang.
"Daddy baru tahu kalau aku pintar?" sahut wanita itu tertawa.
"Hmm, pintarnya ngga kira-kira."
Bukan mau Qiara terlahir dengan banyaknya kelebihan yang suaminya pun hampir tidak mengenalinya dengan sangat baik.
Terpisah oleh jarak dan waktu, kadang bisa merubah setiap proses perjalanan hidup setiap orang termasuk yang terjadi pada Qiara dan Faraz.
Menyadari ada yang beda dari senyum istrinya, jelas pria itu sangat hapal kebiasaan Qiara yang suka menculik orang.
"Jangan aneh-aneh ya, Mom."
"Cukup dulu nekat bawa kabur aku sampai ke pulau."
__ADS_1
๐๐๐๐๐