Istri Kedua Sang CEO

Istri Kedua Sang CEO
NEW BAB 14.2


__ADS_3

follow Ig :ratu_tiana


Arga menatap kedua orang tuanya yang baru saja tiba di rumah setelah berjam-jam mereka berada di luar.


Arga melipat tangannya di dada layaknya seperti orangtua yang menunggu anaknya keluar dan baru pulang padahal hari sudah semakin malam.


Melihat tingkah Arga membuat Nia geram kemudian mencubit lengan putra sulungnya itu sedikit keras.


"Kenapa dengan mata kamu itu? Sakit?" Nia menatap Arga sinis. Wanita itu kemudian menyodorkan paperbag berisi makanan yang mereka beli saat di restoran tadi.


"Wah, makanan."


Entah datang dari mana, Kello tiba-tiba merampas paperbag tersebut dari tangan Nia kemudian melenggang pergi begitu saja menuju ruang makan.


Arga yang melihat tingkah adiknya segera menghampiri Kello.  Enak saja, ia yang mendapatkan cubitan, kenapa Kello yang mendapat makanan? Jelas saja Arga tidak terima.


"Gan, adik-adik kamu di mana? Apa mereka sudah tidur?" Bima menghampiri kedua putranya yang sedang berebut makanan.


"Sudah aku kelonin tadi." Arga menyahut sambil mengangkat tinggi paper bag tersebut agar tidak dijangkau oleh adiknya. "Makanya tumbuh itu ke atas, bukan ke bawah."


Kello spontan merengut mendengar ejekan kakaknya. Tinggi tubuhnya memang hanya sebatas dada sang kakak. Hal itu yang menyulitkannya untuk menangkap makanan yang sudah berada di tangan Arga.


"Aku 'kan masih kecil.  Jadi, wajar kalau aku kurang tinggi," ujar Kello tak mau kalah.


"Kamu udah masuk SMA, Kello. Bukan anak kecil lagi."


"Kalian berdua berantem aja kerjaannya. Arga, bagi sama adiknya. Jangan dimakan sendiri.  Sakit perut tahu rasa kamu," ujar Nia  yang baru tiba di ruang makan.


Wanita itu baru saja melihat kedua anaknya yang sudah tertidur lebih awal. Baru setelah itu ia memutuskan untuk ke  ruang makan di mana suami dan kedua putranya berada.

__ADS_1


"Bang Arga, Mi. Masa aku minta enggak di kasih," sungut Kello menatap Arga sebal.


"Makanya, jangan asal ambil tadi," balas Arga tidak mau kalah.


"Ya udah makannya bareng-bareng. Mami juga lapar lagi." Nia segera berbalik ke arah kitchen set untuk mengambil piring dan gelas kemudian meletakkannya di atas meja makan.


Nia dengan santai merampas paper bag berisi makanan tersebut kemudian mengeluarkan makanan yang sudah siap saji dan menatanya di atas piring. Nia memang sengaja membeli banyak karena tahu sampai di rumah ia akan merasa lapar lagi.


"Mami memang enggak ada kenyangnya. Di restoran tadi memang enggak cukup?"


Nia menggeleng kepalanya. "Tenggorokan Mami itu sempit kalau makan enak di luar, sementara kalian di rumah enggak makan makanan yang Mami makan," jawab Nia santai.


"Bohongmu terlalu mulus, Sayang," celetuk Bima, seraya menatap Nia.


Bima tahu sekali dengan sifat wanita satu ini. Wanita itu meski sudah makan di luar, namun ketika saat tiba di rumah ia akan merasa lapar lagi. Itulah yang menyebabkan Nia sengaja membawa pulang makanan dalam porsi yang banyak agar ia juga kebagian.


Mereka berempat makan dengan tenang. Bima dan Nia ikut lahap menyantap makanan yang terhidang. Begitu juga dengan Kello serta Argano.


"Mami duluan."


Nia melangkah sambil meninggalkan ketiga laki-laki yang sudah bersiap di depan layar televisi. Wanita itu menggeleng pelan kepalanya ketika melihat anggukan semangat dari ketiga laki-laki berbeda generasi itu.


Keesokan paginya.


Tepat pada pukul 1 siang, Bima, Nia, dan Arga tiba di sebuah restoran di mana mereka sudah berjanji untuk bertemu dengan keluarga Dirman.


Rupanya keluarga Dirman sudah berada di restoran lebih dulu. Terbukti saat mereka sudah memasuki ruangan yang sudah di reservasi, ada empat pasang perempuan dan laki-laki yang sudah lebih dulu duduk di kursi yang tersedia.


Mereka sontak berdiri saat melihat keluarga Bima datang. 

__ADS_1


Arga sendiri dengan malas-malasan mengikuti Mami dan papanya dari belakang. Pemuda itu baru saja bangun dari tidur dan langsung disuruh mandi karena akan berangkat ke restoran. Salahkan Papa mereka yang memaksa mereka untuk begadang hingga pukul 3 pagi dan membuat Arga tidur lelap hingga pukul 12 siang.


"Selamat siang. Maaf atas keterlambatan kami," ujar Bima setelah tiba di meja. Pria itu menjabat satu persatu tangan orang yang berada di dalam ruangan tersebut diikuti oleh Nia.


Nia kemudian menarik Arga agar berdiri di sampingnya. Wanita itu kemudian berbisik lirih, "salaman sama keluarga kamu."


Arga berdecap. Pemuda itu dengan malas mengeluarkan tangannya pada sepasang wanita dan pria yang lebih tua di antara dua orang lainnya.


"Argano Sanjaya," ujar Arga memperkenalkan dirinya. Tak lupa, pemuda itu juga mencium punggung tangan laki-laki yang ia duga sebagai kakeknya.


"Cucuku ternyata sudah besar," sahut Husein sambil tersenyum. Pria tua itu juga mengusap kepala Arga kemudian memeluknya sebentar. Pria itu tidak menyadari senyum sinis yang tersungging dari sudut bibir Arga.


Tatapan Arga kemudian beralih pada wanita tua yang kini menatapnya dengan senyum manis.


"Argano Sanjaya," ucap Arga memperkenalkan dirinya, lagi.


Senyum Ningrum luruh saat mendengar nama belakang Arga yang tidak sesuai dengan nama belakang keluarga mereka.


"Saya Ningrum, nenek kamu. Kenapa nama belakangnya Sanjaya? Harusnya diganti menjadi Diningrat," protes Ningrum,  menatap  Arga.


"Jangan banyak protes, Nek. Namaku dari TK sampai aku kuliah sekarang itu Argano Sanjaya.  SIM, KTP, dan identitas lainnya pakai Argano Sanjaya. Kalau mau gonta-ganti itu ribet," sahut Arga. Pemuda itu berusaha untuk menutupi keketusannya dan berusaha untuk tersenyum meskipun saat ini ia enggan sekali melakukannya.


Sementara Ningrum cemberut tidak bisa lagi mengelak apalagi ketika tatapan tajam dilayangkan oleh suami dan putranya ke arahnya membuat Ningrum tidak bisa berkutik.


Arga kemudian berdiri di hadapan seorang pria yang merupakan ayah biologisnya. Pemuda itu tanpa sungkan menatap Dirman dari atas sampai ke bawah. Kemudian ia mengernyit saat melihat ada beberapa kesamaan antara wajahnya dan wajah Dirman. Arga berdecap, tidak salah lagi jika pria ini adalah ayahnya.


"Argano Sanjaya, Pak," ujar Arga pada Dirman.  Kemudian pemuda itu beralih menatap Ratna yang berdiri di samping Dirman. Lagi, Arga memperkenalkan dirinya pada istri papanya yang juga merupakan ibu tirinya.


"Jangan panggil Pak. Panggil aja Papa," ujar Dirman pada Arga. Pria itu mempersilakan semua orang untuk duduk di kursi mereka masing-masing.

__ADS_1


"Enggak bisa, Pak. Lebih nyaman kalau aku manggil bapak dan istri bapak itu ibu. Biasanya kalau orang Jawa 'kan panggilannya bapak dan ibu,"  ujar Arga sambil tersenyum.  "Lagi pula, aku juga sudah punya mama Hera. Papa Bima, dan Mami Nia. Enggak mungkin aku mau panggil bapak dengan sebutan Papi. Bisa-bisa aku pulang tanpa kaki." Arga melirik papanya yang saat ini sudah menatapnya memberi peringatan padanya agar bisa bersikap sopan dan tidak kurang ajar.


Andai saja ia tidak mendapat wanti-wanti dari kedua orangtuanya saat dalam perjalanan kemari, ingin rasanya Arga menunjukkan sifat aslinya yang arogan dan kurang ajar pada orang lain namun tetap sopan pada kedua orang tua serta keluarganya.


__ADS_2