Istri Kedua Sang CEO

Istri Kedua Sang CEO
IKSC Bab 161


__ADS_3

Usai makan malam, seperti biasanya. Semua anggota keluarga pasti akan berkumpul di ruang tengah sebelum pamit menuju kamar masing-masing untuk istirahat.


Zaidan, Zafir serta Zhe tampak fokus mendengarkan cerita si bungsu kesayangan Qiara selama liburan yang berakhir ikut membawa Oma dan Opa pulang ke rumah.


Neta sibuk menemani Erzhan bermain tidak jauh dari ruang tengah, sementara para orang tua asyik mengobrol banyak hal seputar keseharian mereka tanpa menghiraukan rajukan si tampan kesayangan Nyonya muda Bramantya karena merasa di abaikan oleh istri cantiknya tersebut.


Siapa lagi kalau bukan Tuan muda Sarfaraz Rasya Bramantya.


Pria itu tampak kesal melihat Qiara lebih mengutamakan para Tuan muda Rafindra, ketimbang mengajaknya bicara atau pergi keluar sekedar jalan-jalan sebentar melihat langit malam.


Wanita cantik yang tidak pernah berkata kasar apalagi memperlakukan Faraz maupun Erzhan tidak baik tersebut, memang sangat jarang terlihat berkumpul dengan orang-orang terdekatnya.


Itu sebabnya, ketika berada di kediaman utama Rafindra. Hampir semua waktu Qiara habis menemani orang rumah demi meluapkan rasa rindu yang kadang kala hanya bisa di pendam tanpa berniat mengutarakannya pada Faraz.


Jelas wanita itu tahu betul posisinya sekarang bukan lagi anak gadis yang bisa seenaknya melakukan ini dan itu. Melainkan sudah ada suami dan anak yang harus dia urus semua kebutuhannya mulai dari bangun tidur sampai ingin tidur kembali.


Faraz hanya bisa membuang nafas perlahan, memandangi istrinya dari sudut ruangan. Sesekali memberikan kode jika ia ingin kembali lebih dulu ke kamar untuk istirahat.


Seolah paham, belum lagi jam sudah menunjukkan angka sepuluh yang artinya waktu istirahat telah tiba. Akhirnya Qiara ijin masuk kamar lebih dulu bersama Erzhan yang sudah tertidur pulas dalam gendongannya.


Faraz langsung mengambil alih menggendong sang putra, tidak lupa meminta ijin kepada semua orang yang masih sibuk mengobrol banyak hal.


.


.


Ceklek


Qiara membuka pintu kamar dengan lebar, mempersilahkan Faraz masuk lebih dulu dengan Erzhan berada dalam gendongannya.

__ADS_1


Anak tampan itu langsung di letakkan ke tengah ranjang dengan perlahan lalu di selimuti hingga batas dada.


"Mimpi yang indah kesayangannya Mommy," bisik Qiara pelan seraya mencium kedua pipi Erzhan.


Faraz melakukan hal yang serupa, tidak lupa membisikkan doa pengantar tidur agar sang putra selalu di lindungi dalam setiap tidurnya yang lelap.


Di rasa sudah aman, baru lah pasangan suami istri tersebut memilih keluar dari kamar menuju kamar mereka yang kebetulan jaraknya lumayan dekat.


Qiara melangkah masuk lebih dulu ke dalam kamar guna merapikan beberapa alat make up yang masih bisa di gunakan.


Sementara Faraz menutup pintu kamar tidak lupa menguncinya agar saat pagi menjelang tidak di ganggu oleh teriakan nyaring Erzhan.


"Balik ke rumah kapan, Mom?" tanyanya pada sang istri yang baru saja keluar dari kamar mandi.


"Ngga tahu sayang," jawab Qiara seraya mendekat kearah suaminya yang merentangkan kedua tangan minta di peluk.


"Kenapa? Daddy ngga betah ya, lama-lama di sini?"


"Ngga juga. Cuma lagi kangen ajah gitu, pengen berduaan dengan Mommy."


"Sabar ya. Kalau masih di rumah utama, pastinya waktu aku tersita habis sama mereka." Ucap Qiara menenangkan


Dalam hatinya merasa kasihan tidak memiliki waktu luang sekedar mengajak suaminya itu bercanda, terlebih para pria di rumah utama kelewatan posesif dan tidak mengijinkan wanita itu melirik Faraz walau sebentar.


Kecuali sudah berada dalam kamar seperti sekarang, tentu Faraz jauh lebih leluasa melakukan apapun yang ia inginkan terhadap istrinya.


"Sekarang mohon kerja samanya ya, Tuan muda." Ucap Qiara di barengi kekehan


"Istrimu ini terlalu banyak selir."

__ADS_1


Faraz merenggut kesal, menatap tajam kearah wanita halalnya tersebut.


"Belum ada dede bayi ajah udah banyak saingan," cebiknya tidak suka.


"Kan, beda Daddy."


Tawa Qiara langsung pecah melihat raut wajah masam pria tampan kesayangannya itu


"Aku ngga mau berbagi ya." Faraz mulai timbul mode posesifnya


"Pokoknya besok Mommy harus ikut ke kantor."


Wanita itu hanya tertawa geli sembari mencium gemas seluruh bagian wajah suaminya yang merajuk.


"Iya suamiku sayang."


"Abang jangan di bawa." Peringat Faraz yang sudah tahu kelakuan istrinya tersebut


"Iya, cuma kita berdua. Ok?"


Qiara tidak lagi menggoda suaminya, mengingat besok pria itu ada rapat pagi yang tidak boleh sampai datang terlambat.


Mereka langsung merebahkan tubuh ke atas ranjang yang empuk juga hangat, saling berpelukan mencari rasa aman dan nyaman sebelem akhirnya benar-benar terlelap terbuai mimpi.


Akan tetapi, baru lima menit Qiara menutup kedua matanya yang teramat berat sekedar di buka. Justru di kejutkan dengan gerakan pelan tepat di bagian dada yang kelihatan jelas semua kancing baju atasan miliknya sudah terbuka semua.


Siapa lagi pelakunya kalau bukan Faraz sendiri.


"Mommy tidur ajah, Ok."

__ADS_1


๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ


__ADS_2