Istri Kedua Sang CEO

Istri Kedua Sang CEO
IKSC Bab 123 ~ Mami Ganti Acaranya


__ADS_3

๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Semua persiapan acara pertunangan akhirnya selesai dengan sempurna, hanya tinggal menunggu waktu yang tersisa kurang lebih satu jam menuju puncak acara.


Di dalam kamar yang bernuansa putih biru, terdengar ramai saking hebohnya Neta, Nyonya Ayshila dan Nyonya Kamila sewaktu melihat Qiara tengah di rias oleh teman dekat si kembar yang perawakannya memiliki dua kepribadian yaitu setengah wanita dan setengahnya lagi pria.


Siapa yang akan menyangka pria tampan berbadan tinggi tegap dan mempunyai punggung lebar bak model tersebut nyatanya sedikit gemah gemulai terutama dalam berbicara.


Qiara yang kesal tidak ingin rambutnya di biarkan terurai karena terlalu panjang sebatas pinggang, membuat si penata rias kesal sampai mengomelinya tanpa henti.


"You kalau ngga nurut juga, sumpah deh eyke berantakin lagi tatanan make upnya," geram sang penata rias menatap tajam ke arah Tuan putri Rafindra saking kesalnya.


"Aku ngga mau kalau rambutnya di urai," ketus si cantik masih tetap pada pendiriannya tidak ingin mahkota di kepalanya menjadi pusat perhatian banyak orang.


Selain wajahnya yang terkenal sangat cantik, rambut merupakan salah satu bagian yang paling banyak di sukai siapa pun yang melihatnya.


Sebab Qiara pernah beberapa kali mengurai rambutnya jika sedang malasnya di ikat saking panjang dan pastinya lebat.


Dan sekarang gadis cantik itu sengaja di minta agar rambutnya tetap di biarkan terurai panjang, mana mungkin dia langsung setuju.


Nyonya Ayshila sampai kehabisan akal merayu putri kesayangannya tersebut, bukan karena sengaja ingin putrinya jadi pusat perhatian.


Yang menjadi masalahnya adalah, Gaun yang akan Qiara kenakan memiliki belahan lumayan besar di bagian punggung nyaris memperlihatkan sedikit pinggangnya.


Bisa di bayangkan seperti apa bentuknya jika Gaun cantik warna biru air itu melekat di tubuh langsing Qiara.


"Suruh siapa nyiapin Gaun modelan gitu?" protes Neta akhirnya hilang kesabarannya.


"Qia paling benci bagian tubuhnya sampai terekspos keluar. Ini orang bodoh mana yang beli Gaun nya sih?"


Kekesalan gadis bermata biru air tersebut semakin memuncak kala tiga pria tampan yang sedari awal menghilang entah kemana, langsung muncul sembari membawa paper bag yang isinya beberapa Gaun indah untuk Qiara.


"Kakak yang pilih Gaun nya, sayang." Ucap Zaidan mengakui kesalahannya


"Aku yang pilih warnanya," sambung Zafir ikut mengaku salah.


Sementara Zhe hanya diam tanpa ekspresi sampai Qiara angkat bicara.


"Nah, terus Zizi ngapain?" tanya si bungsu penuh selidik.


"Ngga mungkin cuma Kakak pertama sama Kakak kedua yang pergi kan?" tudingnya pada Tuan muda ketiga Rafindra.


Qiara tahu betul sifat pria tampan paling dekat dengannya itu bila menyangkut masalah kebutuhannya seperti pakaian dan alat make up.


"Zizi kenapa diam?" gemasnya mulai kehabisan sabar.


Sudah di buat kesal si penata rias yang kadang berperilaku seperti wanita dan langsung berubah pria jika sedang marah, kini masih ada ketiga Kakak kembarnya yang berulah.

__ADS_1


"Zizi ..." panggil Qiara lumayan kuat.


"Iya Queen, sayangnya Zizi." Sahut pria tampan itu dengan tampang tidak berdosanya


"Jangan marah dulu. Zizi ngga ikutan ya," imbuhnya.


Ia tahu pasti Qiara mengira ketiga Kakak kembarnya bersalah.


Tetapi Zhe tidak ikut-ikutan, ia justru bersama Erzhan mulai dari anak tampan itu selesai sarapan lalu mengajaknya bermain di halaman Vila.


Drama Gaun tidak lagi di perpanjang, mengingat waktu semakin mepet dan Qiara masih harus di tata rambutnya yang berhasil membuat Si penata rias mati kesal.


.


.


.


Acara Pertunangan akhirnya tiba.


Semua tamu undangan rasanya tidak sabar menanti kehadiran si cantik kesayangan Tuan Rafin dan Nyonya Ayshila keluar dari Vila.


Sudah ada Faraz tengah berdiri dengan gagahnya di atas panggung yang sengaja di hias sederhana menanti kedatangan calon tunangannya tersebut.


Tara melihat kedua tangan pria tampan itu mulai gemetaran dan berkeringat, antara takut dan gugup.


"Jangan ganggu gue," peringat Tuan muda Bramantya sembari membuang nafas kasar.


Tara rasanya ingin menertawakan sahabat terbaiknya itu, mau menggoda pun sampai harus di pikir-pikir dulu jika masih sayang dengan nyawa sendiri.


Melihat Daddy dan Sang Paman saling berbisik di atas panggung, timbul ide jahil di otak Erzhan yang tersenyum penuh arti.


Akan tetapi, belum sempat anak tampan itu menghampiri Faraz dan Tara.


Dari dalam Vila muncul Neta bersama Nyonya Kamila sembari menuntun lengan Qiara menuju panggung, riuh tepuk tangan dan ungkapan rasa kagum serta pujian terdengar.


Disana Qiara melangkah dengan anggunnya, terlihat sangat cantik dan mempesona. Tatapan mata semua tamu undangan hampir tidak berkedip seakan terhipnotis oleh keindahan ciptaan Tuhan yang satu ini.


Jika ada yang bertanya seperti apa reaksi Faraz?


Sudah pasti pria tampan yang sebentar lagi akan tersemat status Duda anak satu tersebut lebih parah di bandingkan lainnya.


Faraz merasakan jantungnya mulai tidak normal saking kencangnya berdetak, melihat Sang calon tunangan mulai naik ke atas panggung.


"Tenangkan dirimu, Bro." Ucap Tara sembari mengusap punggung sahabatnya menenangkan


"Gue beneran gugup, Tar." Ungkap Faraz jujur

__ADS_1


Semakin dekat Qiara yang melangkah pelan ke arahnya, semakin cepat jantungnya berdetak saking gugupnya.


"Lo beneran gugup, Raz?" kekeh Tara nyaris tertawa.


"Gue bantu pegangin tangan lo, mau?" tawarnya begitu jahil.


Faraz mendengus kesal, ia yang begitu gugup malah jadi bahan kejahilan sahabatnya tersebut.


"Lo bisa diam kan?" bisiknya pelan.


"Ngga."


Pecah sudah tawa pria itu saking jahilnya menggoda Faraz di sela rasa gugup yang melanda sahabatnya itu.


Qiara tiba di atas panggung dengan wajah bersemu merah, saking gugupnya dan malu jadi pusat perhatian semua tamu undangan.


Tatapannya langsung bertemu dengan kedua mata Faraz yang tidak berkedip menatap ke arahnya.


"Apa?" tanya Qiara salah tingkah.


"Matanya di jaga Tuan!"


Faraz memutar kedua bola matanya dengan malas.


"Cantik sih, tapi galak." Gumamnya pelan namun Qiara meedengarnya


"Dari pada situ, kelihatan tampan doang tapi sikapnya dingin kayak kulkas dua belas pintu kalau lagi mode serius." Balasnya tidak mau kalah


"Kamu--,"


"Apa?"


Semua mata langsung tertuju pada Tuan putri Rafindra dan Tuan muda Bramantya yang saling berdebat.


Sudah mau tunangan, tetap saja keduanya begitu sulit di ajah serius.


Tuan Rafin dan Tuan Rasya sampai mengusap wajah kasar menahan kesal dan gemas.


Berbeda dengan Nyonya Kamila dan Nyonya Ayshila justru tampak senang melihat putra dan putri mereka akhirnya bersatu dalam sebuah ikatan pertunangan yang pasti akan menuju ke jenjang yang lebih serius yaitu pernikahan.


"Jadi ngga sabar nunggu acara pernikahan mereka," seru Nyonya Kamila dengan senyum lebar menghiasi wajah cantiknya.


"Boro-boro nikah, yang ini saja belum tentu acaranya berjalan lancar kalau mereka kayak gitu." Sahut Nyonya Asyhila tidak habis pikir tingkah putrinya sangat menguji kesabaran


"Kalian ngga diam juga, Mami ganti acaranya bukan lagi pertunangan melainkan pernikahan."


๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ

__ADS_1


__ADS_2