Istri Kedua Sang CEO

Istri Kedua Sang CEO
IKSC Bab 142


__ADS_3

Faraz kembali berkutat dengan tumpukan berkas yang berserakan di atas meja kerjanya.


Waktu istrirahat yang terbilang cukup, membuatnya segar kembali. Belum lagi ada si cantik kesayangan ikut menemaninya hingga pulang nanti.


Ada seulas senyum terukir di bibirnya kala mengingat kembali perkataan Qiara sewaktu di dalam kamar sembari memeluknya penuh sayang.


Faraz tidak menyangka, sesayang itu istrinya sampai menaruh rasa cemburu dalam diam hanya karena sosok mantan istrinya dulu.


Meski berulang kali sudah meyakinkan gadis cantik kesayangannya itu agar selalu berpikiran positif, tetap saja jauh di dalam hati istrinya masih menyimpan sebuah rasa yang berusaha di hilangkan dengan perlahan.


Dan Faraz akan membuktikan jika sekarang di dalam hatinya dan kehidupannya bersama Erzhan, hanya akan ada Qiara menjadi satu-satunya tanpa harus melibatkan orang dari masa lalu.


"Kalau lagi diam gitu cantiknya ngga ketulungan," gumamnya di barengi kekehan.


Faraz sesekali melirik kearah istrinya yang sibuk membaca sebuah novel keluaran terbaru oleh penulis ternama, dengan beberapa hasil karyanya sudah terbit menjadi sebuah film di layar TV.


"Fokus, Tuan!" seru Qiara menyadari tengah di perhatikan oleh suami tampannya itu.


"Aku pengen peluk boleh?" pinta Faraz dengan wajah memelas.


Qiara hanya bisa menghela nafas panjang sembari menggelengkan kepalanya pelan.


"Kerja yang benar, kamu ngga bisa fokus kalau meluk aku." Ketusnya sangat hapal dengan tabiat suaminya tersebut


"Giliran Abang yang minta peluk langsung setujui." Cebik Faraz merajuk


Ia memilih kembali fokus bekerja, meski rasanya sedikit sulit.


.


.


Tepat jam pulang kantor, pasangan pengantin baru tersebut akhirnya keluar dari ruangan saling bergandengan tangan menuju lobi parkiran.


Tring


Keduanya berjalan beriringan sampai di depan mobil yang pintunya sudah di buka oleh sopir.


"Terima kasih, Paman." Ucap Qiara seraya tersenyum


Berbeda dengan Faraz yang memilih diam sejak masuk ke dalam mobil, duduk berdampingan dengan istrinya.


"Mau langsung pulang atau singgah di toko kue dulu?" tanya Qiara setelah mobil mulai keluar dari area perusahan


"Ngga tahu, aku gimana kamu nya ajah." Sahut Faraz tanpa membuka kedua matanya yang tertutup rapat


Entah apa yang tengah pria itu pikirkan, bahkan di saat mobil berhenti di toko kue. Sepata kata pun tidak ada yang keluar dari mulut pria itu, membuat Qiara penasaran bercampur bingung sendiri.


Tidak sampai dua puluh menit, mereka tiba di kediaman Rafindra bersamaan dengan mobil Tuan Rafin dan Zaidan ikut masuk ke dalam garasi samping rumah.


Qiara turun lebih dulu, meninggalkan suaminya yang belum juga membuka matanya.

__ADS_1


Melihat si bungsu tengah merenggut kesal, sontak Ketiga Tuan muda Rafindra mengahampirinya dengan pertanyaan beruntun.


"Ada apa Queen?" tanya Zaidan khawatir.


"Kalian tidak lagi bertengkan kan?" sambung Zafir dengan perasaan sama khawatirnya.


"Atau pria itu membuatmu kesal?" tebak Zizi langsung di iyakan Qiara dengan anggukan kepala malas.


Ketiganya membuang nafas kasar sembari mengacak rambut frustasi.


"Kirain lagi ada masalah, Queen." Seru mereka bersamaan


"Lah, memangnya kalian pikir ada apa?" tanya Qiara dengan tampang polos tidak berdosanya sudah berhasil membuat khawatir si kembar.


Baik, Zaidan, Zafir maupun Zhe, tidak ada yang menjawab.


Mereka langsung masuk ke dalam rumah tanpa menghiraukan teriakan si bungsu yang kebingungan sendiri.


"Ish, pada aneh semua." Kesal Qiara ikut masuk ke dalam rumah


Suasana ramai terdengar menggelitik indra pendengarannya sewaktu memasuki ruang tamu.


Tawa si kecil yang sangat Qiara rindukan sedari pagi, tampak semakin jelas setelah langkahnya berhenti di ruang keluarga.


Disana, sudah ada Tuan Rafin dan Nyonya Ayshila, Si kembar, Neta, Tara dan terakhir Erzhan.


"Mommy," seru anak tampan itu berlari kearah Qiara.


Hampir saja Erzhan tersungkur andai tidak cepat di tolong Mommy nya.


"Seru Mom," kekehnya tanpa dosa.


"Abang nakal ih," gemas Qiara langsung mencium habis seluruh bagian wajah sang putra yang tergelak.


"Mommy kangen banget loh sama Abang," bisiknya tanpa mau melepas pelukan di tubuh mungil Erzhan.


"Abang jauh lebih kangen, udah gitu pas tadi sampai di perusahaan Daddy. Malah ngga bisa ketemu Daddy dan Mommy."


Qiara langsung meminta maaf dengan ciuman penuh kasih sayang.


"Maaf ya, tadi Mommy lagi temanin Daddy kerja." Jelasnya hanya di jawab anggukan kepala dari putra sambung kesayangannya tersebut


"Gini ajah. Besok Mommy akan minta Daddy buat ajak Abang jalan-jalan ke taman kota. Mau ngga?" tawar Qiara mencari jalan tengah.


Usahanya berhasil, melihat betapa antusiasnya si kecil yang berjingkrak kegirangan.


"Yey, akhirnya bisa jalan-jalan lagi." Sorak Erzhan berlari kesana kemari


"Hanya kita bertiga kan, Mommy?" tanyanya memastikan.


Anak tampan itu hanya ingin menghabiskan waktu seharian bersama kedua orang tuanya yang akhirnya bisa lengkap. Meski dulu sudah ada, tapi jauh berbeda dengan sekarang.

__ADS_1


"Iya sayang," jawab Qiara sembari tertawa gemas melihat tingkah lucu Erzhan.


"Abang besok libur kan?"


"Iya, Mom."


Tidak berselang lama, pasangan Ibu dan Anak itu langsung naik ke lantai atas setelah melihat Faraz datang dari arah luar.


Keluarga kecil yang selalu tampak hangat dan kompak dalam hal apapun itu, nyatanya tersisip luka bathin yang berusaha di obati bersama.


Qiara hadir membawa warna baru dalam kehidupan Faraz dan Erzhan, begitu pun sebaliknya.


Tidak ada yang sempurna, tetapi justru mereka saling menyempurnakan dengan melindungi kekurangan masing-masing agar tidak sampai di jadikan kelemahan oleh orang-orang tidak penting di luar sana.


.


.


Malam semakin larut, Erzhan sudah tidur sekitar satu jam yang lalu sembari di temani Qiara.


Ceklek


Pintu kamar di buka Faraz dengan perlahan, takut jangan sampai mengganggu tidur sang putra.


"Balik kamar yuk, Mom." Ajaknya setengah merengek pada Qiara


"Abang udah tidur nyengak, sekarang giliran aku lah."


Faraz langsung menggendong istrinya keluar dari kamar tanpa menghiraukan kalimat protes si cantik kesayangannya dan sang putra tersebut.


"Ngga boleh gitu ih, kasihan Abang." Kesal Qiara namun tidak di gubris


Mereka sudah berada di salam kamar yang suasananya tampak nyaman dan tenang.


"Nah, kamu diam sini. Aku mau kunci pintu dulu," kekeh Faraz seolah waspada takut pintu kamar di dobrak Erzhan tanpa permisi.


"Ya ampun, sayang. Bahkan anak sendiri ajah di cemburuin," sindir Qiara menatap malas kearah suaminya tersebut.


"Ngga ada, malam ini aku mau tidur nyenyak sambil di peluk kamu."


Faraz merebahkan tubuhnya di ranjang dengan Qiara bersiap memeluknya seperti malam sebelumnya.


Hangat dan nyaman, mulai pria tampan itu rasakan kala usapan lembut di bagian punggung serta ciuman sayang di pucuk kepalanya perlahan membuat kedua matanya tertutup dengan sempurna.


"Mimpi yang indah, suamiku."


"Ngga sekalian bilang aku mencintaimu, Raa?" goda Faraz yang samar-samar masih bisa mendengar perkataan istrinya.


"Belum ada hilalnya."


๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ

__ADS_1


__ADS_2