
Hari-hari yang sudah di lewati Faraz beserta anak dan istrinya penuh dengan kebahagiaan.
Setiap ada kesempatan pasangan suami istri yang hanya sesekali memiliki waktu luang bersama ketiga anak mereka tersebut, akan keluar jalan-jalan berdua untuk menghilangkan rasa jenuh dan bosan akibat padatnya kesibukan masing-masing.
Faraz yang perusahaannya semakin berkembang pesat, hingga memiliki beberapa cabang di berbagai kota maupun negara. Terkadang harus rela meninggalkan Qiara dan si kembar dalam waktu yang lumayan lama.
Jangan tanya sebesar apa ujian dalam rumah tangga mereka, karena sampai detik ini pun kehadiran si masa lalu tetap menjadi alasan keduanya sering bertengkar.
Padahal niat wanita cantik yang bernama Sandra, hanya ingin mengetahui kabar Erzhan juga anak-anak dari sahabatnya. Namun bukan Qiara jika tidak menimbulkan perdebatan walau masih dalam batas wajar.
Nyonya muda Bramantya tersebut suka menyangkut pautkan niat baik Ibu kandung dari putra sambungnya itu pasti ada maksud tertentu.
Hanya karena keadaannya yang setelah melahirkan jauh dari kata langsing dan baik, tentu menimbulkan perasaan kurang percaya diri.
Faraz memang tidak pernah membantah apalagi sampai mengeluarkan kalimat yang bisa menyakiti hati istrinya, tetapi namanya wanita ada saja masalah kecil yang sengaja di perbesar agar terjadilah pertengkaran di antara mereka.
Seperti yang terjadi sekarang, di mana Qiara masih tetap mempermasalahkan kejadian beberapa waktu lalu, dengan mencari gara-gara pada Faraz.
"Aku ngga mau tahu, pokoknya mulai sekarang minta Sandra untuk berhenti menanyakan kabar Abang dan si kembar melalui Kamu."
"Memangnya wanita itu tidak bisa apa menghubungi Papa dan Mama saja? Kenapa harus kamu yang dia cari? Maksudnya apa coba?"
Qiara sangat kesal mengetahui akhir-akhir ini mantan istri dari suaminya masih saja menghubungi pria itu tanpa memikirkan bagaimana perasaannya.
"Sandra hanya menanyakan kabar Abang, itu saja Mom. Kenapa malah jadi rumit begini sih." Jawab Faraz mengusap wajahnya frustasi
"Aku ngga langsung berbicara dengannya, masih ada Delia sebagai perantara. Kamu tahu itu kan?" tambahnya masih berusaha untuk tenang seperti biasa.
"Tetap ajah ngga boleh, aku ngga suka." Sentak Qiara masih tetap mempermasalahkan keberadaan Sandra dalam hubungan mereka yang sejauh ini baik-baik saja
Jujur wanita itu masih belum sepenuhnya yakin apalagi sampai percaya jika sahabatnya sudah berubah dan mau berdamai dengan masa lalu.
"Bagaimanapun kalian pernah mejadi kita yang pada akhirnya berpisah karena sebuah alasan pasti."
"Aku hanya ingin melindungi keluarga ku, apa itu salah?" tanya wanita itu lirih.
__ADS_1
Qiara tidak mengerti kenapa akhir-akhir ini perasaannya mudah tersentuh, meski rasanya dia yakin Faraz tidak akan lagi melihat mantan istrinya.
Dan beruntungnya Faraz memiliki stok sabar tanpa batas, sehingga menangani sikap baru istrinya bukan lagi hal baru, melainkan hampir setiap ada masalah hanya tentang si masa lalu saja yang mereka ributkan.
"Gini nih, kalau udah cinta pake banget sama aku. Baru dengar mantan hubungi aku cuma buat nyari tahu kabar si Abang, menyala sudah api cemburunya."
Pria itu tertawa melihat raut wajah masam bercampur munculnya semburat merah di kedua pipi Qiara langsung menghindar cari aman.
"Daddy jangan kelewatan ya, mana ada aku cintanya pake banget. Idih, sok kepedean kalau ngomong suka benar." Protes Qiara memilih kabur meninggalkan Faraz masih dalam posisi tertawa
Sungguh wanita itu semakin tidak bisa di goda apalagi melihat kelakuan suaminya yang suka benar dalam berucap.
"Aku cuma sayang dan cinta sama kamu, Mom." Teriak Faraz masih bisa di dengar istrinya yang kini sudah menghilang di balik lift menuju lantai bawah
Pernikahan mereka belum ada dua tahun, namun begitu perasaan cinta dan sayang keduanya tetap terjaga walau sesekali bertengkar.
.
.
Qiara yang baru keluar dari lift, nyatanya sudah di smabut oleh anggota keluarganya di ruang tengah.
Sudah ada Tuan Rafindra dan Nyonya Ayshila menunggu kedatangan putri semata wayang mereka tersebut.
"Kenapa, masih perkara yang sama lagi?" tanya Nyonya Ayshila di barengi kekehan mendapati raut wajah masam si bungsu yang sengaja di tekuk saking kesalnya pada sang menantu.
"Wih, ada yang suka ngga percaya diri nih." Goda Tuan Rafindra tanpa rasa bersalah melihat Qiara sudah mengeluarkan tanduk siap untuk protes
"SABAR ..."
Pasangan suami istri itu hanya bisa menenangkan putri mereka dengan memberikan pelukan hangat serta memberi nasehat yang baik tanpa harus menghakimi Faraz, karena bukan rana mereka untuk ikut campur dalam masalah rumah tangga si bungsu kesayangan.
Menjadi orang tua memang tidak mudah, tetapi peran mereka sangat di butuhkan dalam keadaan apapun. Terlebih kondisi Qiara masih dalam tahap pemulihan dan berusaha untuk mengembalikan bentuk tubuhnya seperti awal sebelum hamil.
"Qia malu, sekarang udah ngga cantik lagi."
__ADS_1
Qiara menangis saking tidak tahan dengan keadaannya saat ini.
"Wanita itu memang tidak langsung menghubungi Faraz, tapi Qia masih belum percaya dia sudah berubah atau masih tetap sama."
"Apa Qia salah menaruh curiga pada mantan istri yang dulu sempat membuat hubungan Qia dengan Faraz sempat terputus karena sikapnya yang tidak pernah mau berbicara jujur?"
"Qia tahu semua pasti bisa berubah, tapi apa mungkin Sandra juga seperti itu?"
Sebagai wanita yang ingin melindungi apa yang sudah menjadi miliknya, tentu Qiara bisa marah dan cemburu.
Jadi tidak ada salahnya jika dia melarang keras Faraz agar berhenti meladeni si mantan istri yang katanya hanya menanyakan kabar Erzhan.
Selama ini, anak tampan kesayangan Qiara itu memang jarang menghubungi Ibu kandungnya jika bukan karena ada yang perlu mereka bicarakan.
Itu lah yang membuat Sandra kembali menghubungi mantan suaminya walau kenyatannya wanita itu bukan berbicara langsung dengan Faraz.
Masih ada Sekertaris Delia sebagai perantara demi menjaga perasaan Qiara, namun si bungsu kesayangan Tuan dan Nyonya besar Rafindra tersebut menolak untuk percaya begitu saja.
.
.
Faraz datang bersama Erzhan, tampak jelas raut wajah tegang milik pasangan ayah dan anak itu mendapati wanita cantik kesayangan mereka tengah asyik mengobrol dengan Tuan dan Nyonya besar Rafindra.
"Kalau Mommy cemburu makin cantik ya, Dadd?" bisik si kecil tampan sembari memperhatikan sang Mommy dari arah lumayan jauh.
Qiara masih belum menyadari keberadaan suami dan putranya, terlebih posisi wanita itu tepat membelakangi mereka.
Sehingga memudahkan Faraz dan Erzhan mendekat tanpa menimbulkan suara.
"Cantik sih cantik, Bang. Tapi kalau udah marah, beh. Angin lewat pun di ajak betantem," kekeh Faraz ikut berbisik ketika menjawab pertanyaan sang putra.
Qiara yang samar-samar bisa mendengar suara kedua pria tampan kesayangannya pun, sontak berbalik badan tanpa di sadari oleh keduanya.
"Apa yang kalian bicarakan?"
__ADS_1
๐๐๐๐๐