Istri Kedua Sang CEO

Istri Kedua Sang CEO
IKSC Bab 179


__ADS_3

Qiara menenggelamkan wajahnya di dada bidang milik pria tampan kesayangannya tersebut. Menghirup dalam aroma wangi yang menyeruak masuk ke hidungnya terasa begitu menenangkan.


"Ngga apa-apa kalau ngga pintar romantis ke istri, asal jangan coba-coba lirik wanita lain di luar sana." Ucapnya pelan semakin mengeratkan pelukannya di tubuh Faraz yang tergelak


"Aku serius loh, Daddy." Kesal wanita itu dengan perasaan jengkel tengah di tertawakan suaminya


Pria itu tidak lagi tertawa melihat raut wajah masam istri kesayangannya mulai tidak bersahabat, akan sangat fatal jika sampai Qiara merajuk dan berakhir malam nanti ia bisa saja tidur di luar.


"Maaf sayang, habisnya Mommy tuh lucu."


"Entah harus berapa kali aku tegaskan hanya ada satu wanita yang sampai kapan pun menjadi satu-satunya dalam hidupku, dan wanita itu sudah pasti Mommy sendiri."


Faraz menatap intens kedua mata teduh milik istrinya yang mulai berkaca-kaca, kelihatan jelas Qiara mudah terbawa perasaan hanya karena moodnya yang sering berubah-ubah.


Sebagai suami yang harus ekstra sabar dan peka setiap kali wanita itu bertingkah, kadang kala Faraz merasa gemas sendiri bila sudah berhadapan langsung dengan sang istri tercinta.


Mulai dari belajar memahami situasi yang ada, sampai ke hal-hal terkecil pun harus pria itu perhatikan agar tidak ada perdebatan yang timbul di antara mereka.


Sama seperti yang terjadi sekarang, dimana salah sedikit saja Faraz angkat bicara, akhirnya tidak pernah baik karena ia kemungkinan besar akan di usir dari kamar tanpa mengetahui penyebabnya.


Istriku sangat sensitif pas hamil, aku nya mana berani cari gara-gara.

__ADS_1


Faraz bergidik ngeri saat membayangkan Qiara mengusirnya dari kamar.


"Daddy kenapa melamun?" tanya wanita itu dengan tiba-tiba.


"Aaa, ngga ada Mom. Tadi aku cuma lagi mikir nanti malam kita tidur bertiga atau berdua ajah, soalnya Abang 'kan udah besar ngga boleh tidur lagi bareng kita." Jawab Faraz setengah berbohong


Ia tidak mungkin sampai mengatakan yang sebenarnya, bisa bahaya posisinya nanti malam kalau sampai Qiara mengetahui apa yang barusan ia pikirkan.


Qiara yang memang tidak menaruh curiga sedikit pun, berjalan lebih dulu menuju tempat dimana Oma dan Opa berada. Meninggalkan suaminya masih berbicara sendiri, kerana posisi Faraz tepat membelakangi istrinya.


"Bicara sendiri ajah, Dad. Sampai ada yang nyahut terus ketawa lihat Daddy kayak orang aneh."


Qiara masih sempat bersuara sebelum akhirnya tiba di tempar tujuan.


"Kenapa aku main di tinggal sih, Mom." Teriak pria itu tanpa menghiraukan beberapa pasang mata tengah memperhatikannya dari arah lumayan dekat


"Apa lihat-lihat, kayak ngga pernah ajah."


Faraz menatap tajam kearah penghuni pulau yang kebetulan datang untuk menyapa.


Merasa tingkah suaminya mulai tidak bersahabat, akhirnya Qiara sendiri yang ikut turun tangan mencegah pria kesayangannya itu berulah.

__ADS_1


"Jangan mulai lagi, Dad!" Tegurnya sembari menarik pelan lengan Faraz agar menjauh dari orang-orang itu


"Maaf atas sikap kurang sopan dari suami ku."


Qiara langsung membawa pria itu pergi menjauhi semua orang termasuk Oma dan Opa yang tampak kaget mendengar teriakan Faraz.


Tidak akan pernah habis kesabaran wanita itu selama bukan masalah adanya wanita lain yang berani mendekati suaminya.


Dia hanya akan kesal dan mengomel sewajarnya, lebih dari itu mungkin akan ada hukuman sedikit agar kelak Faraz tidak semena mena terhadap orang lain.


.


.


Ceklek


Pintu kamar di buka Qiara lumayan kuat, pertanda betapa dia ingin sekali menggigit kedua pipi Faraz saking kesalnya.


"Daddy kenapa lagi sih, lihat penghuni pulau yang baru datang udah kayak mau ngajak berantem?" tanya wanita itu setelah keduanya sudah duduk di sofa panjang saling berhadapan.


"Aku tuh ngga suka lihat mata mereka ngga ada hentinya memandangi kamu dari arah jauh, Mom."

__ADS_1


๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ


__ADS_2