Istri Kedua Sang CEO

Istri Kedua Sang CEO
NEW BAB 10


__ADS_3

"Argano Sanjaya!"


Arga yang tengah menyantap makan siangnya dengan santai tiba-tiba tersedak ketika mendengar suara teriakan menggelegar dari maminya.


Pemuda itu mengusap telinganya yang berdengung akan teriakan maminya yang tak kira-kira.


Arga kemudian meneguk air putih di dalam gelas dan meletakkannya di atas meja.


Arga berniat untuk melanjutkan makan siangnya lagi, namun kedatangan sang Mami yang tergesa-gesa membuat Arga mau tak mau menghentikan sejenak suapan ke dalam mulutnya.


"Mami kenapa lagi marah-marah? Terus kenapa pula teriak-teriak? Mami mau telinga aku sakit?" Arga menatap dengan malas. 


Nia bukannya menjawab pertanyaan anaknya, wanita itu segera mendekati Arga kemudian menarik telinga anaknya hingga si empunya berdiri dari kursi.


Matanya melotot menatap tajam putranya. Nia kemudian mengacungkan  sebuah amplop di tangannya tepat di hadapan Arga.


"Ini apa? Kamu ikut audisi nyanyi? Kenapa enggak bilang mami?"  Nia kemudian melepaskan tarikan di telinga


Arga kemudian menunjuk amplop di tangannya pada sang putra yang menerima dengan senyum semringah. 


"Aku enggak ada ikut audisi. Cuma seminggu yang lalu ditawari buat gabung ke band. Terus aku iseng ikut. Eh, enggak tahunya keterima, Mi. Keren 'kan aku?"


"Kamu serius mau jadi penyanyi? Kalau kamu jadi penyanyi, terus kamu sibuk dan melupakan tugas kuliah kamu. Apalagi nanti enggak ada yang bisa jadi kurir mami. Ya ampun, Argano!"


Sesungguhnya Nia bukan takut jika tidak ada kurir yang mengantar barang-barangnya.  Toh, Nia sangat jarang untuk meminta Arga mengantar pesanan orang. Nia sudah memiliki kurirnya sendiri.   Nia hanya takut Arga memiliki banyak kesibukan di luar dan melupakan keluarga.


"Yah, Mi, aku sudah ikut audisi dan diterima. Bolehin ya, aku jadi penyanyi?" Arga menatapnya dengan tatapan melas. "Aku enggak punya kemampuan apa-apa di bidang bisnis.  Setidaknya sekarang aku punya kemampuan bernyanyi. Kan, lumayan bisa menghasilkan uang, Mi," jelas Arga dengan tampang melasnya.


Nia menarik napasnya kemudian menghembuskannya kembali. "Mami akan dukung semua keputusan kamu. Tapi, kamu harus izin dulu sama papa. Semua keputusan ada di tangan papa."


Arga tersenyum senang mendengar ucapan maminya. Pemuda itu merasa bahagia karena dengan kata lain maminya sudah setuju untuk ia ikut masuk ke dalam band itu.


Jika maminya sudah setuju, papanya pun pasti akan setuju. Arga tahu jika apa yang sudah disetujui oleh maminya, tidak akan pernah bisa ditolak oleh papanya.


"Makasih banyak, Mi. Aku sayang mami." Arga memeluk Nia dengan raut wajah bahagia. Sementara Nia hanya mengangguk kepalanya dan menepuk punggung Arga pelan.


Jillo tidak tinggal bersama mereka. Kini Arga sudah memiliki kesibukan. Nia akan merasa jika rumahnya pasti akan sepi.


Setelah dari kamar Arga, Nia kemudian memilih pergi ke kamar kedua putrinya. Saat memasuki kamar, ternyata kedua anaknya sedang bermain.


Nia tersenyum kemudian menghampiri keduanya. Memberikan kecupan pada kedua anak gadisnya secara bergantian, baru setelah itu Nia mendudukkan dirinya dan menemani mereka bermain.


Sebentar lagi jam makan siang suaminya akan berlangsung. Nia berniat untuk mengantarkan bekal makan siang pada Bima karena pria itu berkata akan makan siang pada pukul 1 usai melakukan pertemuan dengan seseorang.

__ADS_1


Akhirnya di sinilah Nia sekarang berada.


Nia tidak datang sendiri. Ada Arga sebagai sopir dan yang akan menggendong salah satu putrinya saat turun dari mobil.


Nia melangkah masuk bersama Arga yang menggendong Alana sementara Alea berada dalam dekapannya. Sedangkan untuk tas berisi kotak bekal di genggam oleh wanita itu di tangan kiri.


Mereka sedang menunggu pintu lift terbuka hingga tak lama kemudian lift  terbuka dan menampilkan seorang pria  seusia dengan Bima tertegun di dalam lift saat melihat pemandangan di depan matanya.


"Ehem! Permisi." Nia berdeham agar menyadarkan pria di hadapannya untuk segera menyingkir karena rombongan mereka akan segera masuk ke dalam lift.


Tersadar akan apa yang ia lakukan, pria itu kemudian dengan cepat mengalihkan tatapannya dan melangkah keluar diikuti seorang pria yang lebih muda sedikit dari pria pertama.


Nia sendiri mengernyit heran melihat tingkah laku tak biasa dari pria yang melangkah dengan terburu-buru keluar dari lift setelah mendapat teguran secara halus darinya.


"Mi, berat enggak pegang tas makanan itu?" Arga yang tak sadar situasi menoleh menatap maminya di samping. Saat ini mereka sedang berada di dalam lift dan pintu lift siap tertutup, namun pria di hadapannya masih tertegun.


"Bapak mau naik lagi?" Nia bertanya pada pria di hadapannya tanpa menjawab pertanyaan Arga.


Pria itu menggeleng kepalanya kemudian berbalik pergi tanpa sepatah kata. Sementara lift kembali tertutup hingga membawa mereka ke lantai di mana  ruangan Bima berada.


Sementara pria yang berada di dalam lift tadi sudah masuk ke dalam mobil bersama tangan kanannya.


"Kamu lihat itu, Wan, pemuda tadi itu anak saya. Anak saya yang sudah 20 tahun lebih enggak pernah saya temui."


"Saya melihat, Pak. Kita berdoa saja semoga pak Bima segera mempertemukan bapak dengan anak bapak," ucap Ridwan pada Dirman.


Ridwan adalah salah satu saksi perjalanan hidup Dirman  yang hampa meski ada sosok istri yang menemaninya. Dirman selalu merasa kesepian dan tidak memiliki semangat hidup.  Penyuntik semangat hidup Dirman ketika ia melihat foto-foto putranya diambil dari jarak jauh oleh orang-orang Dirman.


Dirman sangat berharap jika Bima mau mempertemukannya dengan Arga.  Pria itu bahkan sudah memohon dan nyaris bersujud di kaki Bima ketika menyampaikan keinginannya untuk bertemu dengan Arga. Bima berjanji akan memberikan pengertian pelan-pelan pada Arga.


"Saya harap begitu." Dirman menghela napas pelan dan berharap dari lubuk hatinya yang paling dalam agar Arga mau memaafkan kesalahannya yang ia perbuat selama ini.


_____


Hidup selama hampir 20 tahun lebih bersama Arga, Bima tahu betapa keras kepalanya putra sulungnya itu. Sangat disayangkan, sebagai papanya, Arga jarang mau mendengarkan omongannya. Namun, ketika berhadapan dengan Nia, Arga akan menjadi anak penurut yang manis. 


Menurut Bima ini benar-benar tidak adil. Nia yang baru 4 tahun bersama mereka bisa meluluhkan ketiga putranya. Sementara Bima bahkan tidak bisa.  Bima terkadang sering bertanya-tanya sebenarnya kepala rumah tangga itu Bima atau Nia? Geli sendiri dengan pikirannya membuat Bima menggeleng pelan kepalanya.


"Mas melamun? Mikirin apa?"


Bima mengerjap pelan matanya ketika mendengar suara Nia. Terlalu asik memikirkan kehadiran Dirman tadi membuat Bima nyaris mengabaikan keberadaan istri dan anak-anaknya.


Bima tersenyum menatap istrinya. Tangannya bergerak mengusap lembut pipi Nia yang duduk tepat di sebelahnya. Sementara di seberang meja ada Arga yang menyantap lahap makanan yang dibawa oleh Nia. Rupanya Arga tidak kenyang meskipun tadi ia sempat makan di rumah.

__ADS_1


Sementara Alana dan Alea duduk dalam diam menikmati biskuit yang diberikan oleh Mami mereka.


Bima tersenyum menatap ketiga anak-anaknya. Hanya Kello dan Jillo yang tidak ada. Ngomong-ngomong masalah putra nomor duanya, Bima berencana untuk mengajak istri dan anak-anaknya ke desa di mana Jillo tinggal.  Tapi, sebelum itu ia harus menceritakan dulu pertemuannya dengan Dirman pada Nia.  Bima ingin meminta solusi istrinya apa yang harus dilakukan  agar ia tidak resah.


Bima percaya Arga tidak akan bisa meninggalkan dirinya dan juga Nia. Mereka meski tidak memiliki ikatan darah, tetap saja mereka memiliki ikatan batin yang kuat.


"Melamun lagi." Nia dengan gemas mencubit lengan suaminya. Suaminya hanya diam sambil mengusap lembut pipinya tanpa mengucapkan sepatah kata.   "Apa yang Mas pikirkan?"


Bima sebenarnya ingin menjawab sekarang, namun setelah dipikirkan lagi ada sosok Arga di sini. Bima tak ingin memperkeruh suasana. Bima ingin ia memberitahu Arga pelan-pelan agar putranya itu tidak syok atau memberontak.


"Nanti malam saja ada yang ingin Mas ceritakan."


Nia menganggukkan kepala. Jika Bima ingin berkata nanti malam, berarti pembicaraan mereka cukup serius dan tidak ingin melibatkan anak-anak.


Nia akhirnya mengambil  inisiatif untuk menyuap suaminya yang sepertinya sedang banyak pikiran.


"Romantis terus. Enggak mikir kalau di sini ada yang jomblo," sindir Arga, mendapat cibiran dari Nia.


"Siapa suruh kamu enggak punya pacar. Enggak laku 'sih."


"Enak aja. Aku laku, Mi. Banyak cewek yang naksir sama aku. Cuma aku yang enggak mau."  Arga menatap maminya tak terima. Meskipun ia jomblo dan tidak pernah pacaran sejak masuk kuliah, Arga tidak pernah kekurangan gadis yang menyukainya.  Sayangnya saja Arga yang menolak kehadiran mereka.


"Yakin? Kok, mami ragu, ya?" Nia mengerut keningnya menatap Arga tidak yakin.  Meskipun saat ini ia sedang bercanda namun Arga menanggapinya dengan raut wajah di tekuk.


"Mami hanya bercanda, Gan. Enggak usah ditekuk gitu mukanya. Jelek," kata Bima, menambah kadar cemberut Arga semakin menjadi.


"Bang Arga jelek, ih."


Arga spontan menoleh dengan mata melotot menatap adik bungsunya tak terima. Alana memang sudah lancar bicara begitu juga dengan Alea. Jadi tak heran jika keduanya bisa berbicara dengan lancar. 


"Kakak ganteng, Lan. Kakak ini yang paling ganteng di antara kakak-kakakmu yang lain." Arga jelas saja tidak terima dengan ucapan Alana.


"Ganteng Bang Jillo."


Bima dan Nia menyemburkan tawa mereka ketika mendengar tiga kata keluar dari mulut Alea yang ikut mengompori Arga.  Tidak mereka sangka jika putri mereka yang tidak banyak bicara, namun sekalinya mengeluarkan kata sungguh menyakitkan telinga. 


"Alea enggak sayang Abang. Alana juga." 


"Sayang, kok."


Alana dan Alea kompak bangun dari tempat duduk mereka dan menghampiri Arga. Kedua bocah 3 tahun itu memeluk Arga dari sisi kiri dan kanan dan mencium pipi pemuda itu secara bersamaan. Hal itu tentu saja membuat Arga tersenyum senang mendapat kasih sayang dari kedua adiknya.


Bima dan Nia tersenyum menatap haru pada ketiganya. Andai Kello ada pasti akan membuat kekacauan karena tidak terima Arga mendapat kecupan dari kedua adik perempuannya.

__ADS_1


__ADS_2